Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 87



Setelah pulang dari pengadilan, Adita langsung masuk ke kamar, tanpa peduli ada keributan di luar karena pak Heri sudah bangun dari komanya.


Hatinya benar-benar hancur, karena menjadi saksi atas perbuatan suaminya.


Bukan menyesal, hanya kecewa dengan sikap suaminya yang sudah berubah sangat berbeda dengan awal pernikahan dulu, yang akan berjanji akan membahagiakannya.


Indah melihat Adita terlihat sangat sedih, ia mengikuti Adita masuk ke dalam kamar.


Hati istri mana yang tidak hancur, Indah merasa sangat kasihan padanya, bahkan ia pun bisa merasakan apa yang Adita rasakan.


Saat di pengadilan, Aditya sama sekali tidak menegurnya, bahkan untuk menatapnya saja tidak mau.


“Mbak,” panggil Indah langsung masuk ke kamarnya.


Karena terkejut, Adita langsung mengusap air matanya.


“Nona Indah. Ada apa Nona? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Adita sembari mengusap sisa air matanya.


Indah menatapnya lalu menggelengkan kepalanya.


“Mbak kenapa?”


Adita menggeleng pelan.


“Mbak, aku tahu. Tidak semudah itu menjadi saksi di pengadilan atas perbuatan Suami sendiri, aku mengerti apa yang di rasakan oleh Mbak.”


“Sabar, Mbak. Ini ujian bagi Mbak,” tambah Indah lagi.


Indah memeluk Adita, yang kembali menangis. Indah membiarkan Adita menangis sepuasnya, hingga terdengar suara tangisan Adita yang tersedu-sedu.


Terlihat, Icha juga masuk ke dalam kamar tersebut.


Ia melihat Adita yang sambil menangis di pelukan Kakak iparnya tersebut.


Icha duduk di samping Adita yang masih menangis dalam pelukannya kakak iparnya tersebut, Icha mengusap pelan punggung Adita.


Setelah puas, Adita melepaskan dekapannya dan sedikit terkejut melihat ada Icha di sampingnya.


Icha melihat mata Adita yang sembab akibat menangis.


“Sabar ya Mbak. Percaya deh, Allah punya rencana indah setelah ini untuk Mbak.”


Adita mengangguk.


“Nona, izinkan aku untuk keluar dari rumah ini. Aku ingin memulai hidup baru bersama putraku, biarkan saya pergi Nona. Semua sudah saya lakukan untuk kalian,” tutur Adita.


“Kenapa pergi Mbak? Bagaimana mana dengan Eza? Lalu kalian ingin tinggal dimana?” tanya Icha terlihat cemas.


“Bukan kah Nona Icha bilang, jika Allah punya rencana indah untukku. Aku akan mengikuti langkah kakiku dan berhenti jika kaki ku berhenti.”


Indah dan Icha saling menatap sejenak.


“Baiklah. Aku akan membicarakan ini pada suamiku, kami tidak bisa menahan mu jika itu keinginanmu untuk pergi. Tapi, jika Mbak ingin kembali ke rumah ini, pintu ini terbuka sangat lebar. Mbak Adita sudah kami anggap seperti kakak kami,” tutur Indah lembut.


Adita merasa terharu dengan ucapan Indah, ia mengangguk.


“Terima kasih Nona. Berkumpul dengan kalian semua di sini, aku merasa seperti punya keluarga kembali.”


“Jangan seperti keluarga. Akan tetapi, sudah menjadi keluarga, kita semua sudah jadi keluarga. Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan pada kami,” ujar Icha menyela pembicaraan Adita.


Adita mengangguk.


Saat sedang berbincang, terdengar suara ketukan pintu.


Tok! Tok!


Semua orang menatap ke arah pintu kamar.


Indah beranjak untuk membuka pintu.


Ceklek!


“Sayang. Sedang apa di sini?” tanya Dika.


“Abang. Mbak Adita ingin pergi, aku tidak bisa menahannya lagi,” Ujar Indah bicara pelan.


Indah mengajak suaminya masuk ke dalam kamar.


“Adita,” panggil Dika memasuki kamar bersama istrinya.


“Iya Pak,” sahut Adita.


“Kamu mau pergi?” tanyanya melihat koper Adita sudah siap.


Adita mengangguk.


“Kenapa? Apa kamu tidak betah berada di rumah ini?” tanya Dika.


“Bukan begitu Pak. Tapi, saya ingin memulai hidup saya bersama putraku. Pak, biarkan kami pergi, kalian semua begitu baik pada kami. Saya sangat bersyukur bertemu dengan orang-orang baik seperti kalian.”


Dika menghela nafas.


“Jika itu keputusan mu, aku tidak menghalangimu. Terima kasih sudah membantu kami, dan berani mengungkap kebenaran. Kami ikut prihatin atas apa yang menimpamu, tapi kejahatan tetaplah kejahatan, hukum tetap berjalan.”


“Saya paham Pak. Terima kasih, sudah mau memaafkan kesalahan saya dan Suami saya. Saya tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian.”


“Tidak perlu meminta maaf. Wajar, manusia tempatnya salah. Asal kesalahan itu tidak di ulang lagi.”


“Iya Pak.”


“Oh ya. Saya sudah menyiapkan ini untuk kebutuhan kamu dan putra mu,” ujar Dika mengeluarkan salah satu kartu kredit dan memberikannya kepada Adita.


Ia melihat kartu tersebut di tangan Dika, lalu menatap Indah.


Indah mengangguk sambil tersenyum, tanda bahwa ia meminta Adita untuk menerima kartu tersebut.


Adita tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


“Maaf, Pak. Saya tidak bisa menerima kartu itu, bukan berarti saya tidak butuh. Tapi, sudah saya katakan sebelumnya. Jika saya ingin menghidupi anak saya dengan hasil keringat saya sendiri. Sekali lagi, saya menolak kartu kredit itu.”


“Mbak Adita. Tolong jangan menolak pemberian suami saya, kami memikirkan Eza. Ini untuk kebutuhan Eza Mbak.”


“Maaf Nona. Saya sangat-sangat berterima kasih pada kalian. Kalian sudah memberi kasih sayang pada putraku dan memberi kesempatan untukku, itu semua sudah cukup, aku tidak ingin yang lain lagi.”


Adita bersikeras menolak pemberian mereka.


“Baiklah, jika kamu menolak. Saya juga tidak memaksa, semua itu keputusan kamu. Tapi, saya mohon jangan menolak ini,” Ujar Dika meletakkan kunci rumah tersebut di meja.


“Apa ini Pak?” tanya Adita heran.


“Pak, saya tidak butuh itu semua. Saya mengatakan tentang kejahatan suami saya pada kalian, itu semua murni dari hati saya. Tapi, saya tidak butuh imbalan!” seru Adita.


“Ini bukan imbalan, tapi ini saya berikan untuk putramu. Itu sebagai hadiah ulang tahunnya dari kami. Eza ulang tahun bukan, seminggu lagi?”


“Mbak, tolong jangan menolak,” sela Icha menyentuh pelan bahu Adita.


“Mbak, tolong jangan berpikir buruk. Ini bukan bentuk kasihan, atau imbalan. Tapi, ini untuk hadiah ulang tahun dari kami untuk putramu,” tutur Indah.


Adita baru menyadari, jika putranya seminggu lagi akan berulang tahun. Kali ini ia akan berulang tahun tanpa ayahnya.


Adita mengangguk.


“Terima kasih,” lirihnya tanpa sadar kembali meneteskan air mata.


“Jika Mbak Adita butuh sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungi kami,” ujar Icha.


“Iya, Nona,” sahutnya.


Dika bernafas lega, karena Adita menerima rumah tersebut.


Adita memeluk Indah dan Icha secara bergantian, karena akan berpamitan untuk keluar dari rumah itu.


Ia bertekad tidak ingin memberi kesempatan lagi pada suaminya, bahkan untuk kembali ke rumah mereka yang sebelumnya ia tempati bersama suaminya dulu.


Ia sangat hancur, saat mendengar pengakuan suaminya di pengadilan tadi. Jika Aditya juga berniat ingin membunuhnya, jika ia melaporkan tindak kejahatannya pada polisi.


Adita sudah bertekad akan menghidupkan putranya tanpa sepersenpun uang dari suaminya, ia pun akan mendaftarkan diri untuk berpisah dengan suaminya ke pengadilan agama.


“Pak, apa boleh saya bertemu dengan pak Heri?” tanya Adita.


Sebelum ia melangkahkan kakinya keluar dari rumah itu, ia ingin meminta maaf kepada pak Heri terlebih dahulu.


“Boleh, silakan. Papa sudah sadar dari komanya, dan sekarang sedang makan,” sahut Dika.


“Terima kasih.”


“Sayang, temani Adita.”


“Iya, Bang.”


Indah membawa Adita ke kamar papa mertuanya, setiba di kamar terlihat Bu Sintya sedang menyuapi suaminya makan bubur.


“Ma,” panggil Indah.


“Iya, Sayang.”


Bu Sintya menoleh ke sumber suara.


“Ma, Adita ingin berpamitan.”


“Berpamitan? Memangnya mau ke mana?” tanya Bu Sintya bingung.


“Maaf Nyonya. Saya ingin kembali memulai hidup baru bersama putra saya, maaf jika selama ini saya sudah pernah berbuat jahat pada kalian.”


Bu Sintya tersenyum, lalu berdiri dan memeluk Adita.


“Jangan meminta maaf, kita sudah jadi keluarga. Lupakan masa lalu,” sahut Bu Sintya memeluk erat Adita.


Setelah berpelukan, Bu Sintya melepaskan dekapannya. Adita beralih mendekati pak Heri yang masih terlihat lemah.


“Pak, kesalahan kami terlalu besar. Hingga aku tidak yakin pak Heri mau memaafkan kami. Tapi, aku akan tetap meminta maaf terus menerus hingga kalian memaafkan ku. Saya meminta maaf atas perbuatan suami saya,” ujar Adita dengan suara bergetar menahan tangis.


“Saya juga hanya manusia biasa yang tidak luput dari kesalahan, mohon maafkan saya Pak.”


Pak Heri menatap Adita dengan mata yang masih sayu, ia terlihat tersenyum lalu mengangguk.


“Sudah, Sayang. Aku yakin, suamiku sudah memaafkan mu. Saat ini kesehatannya masih belum pulih total, sehingga pak Heri tidak terlalu bisa banyak bicara,” tutur Bu Sintya mengusap punggung Adita.


“Kamu hati-hati ya. Jaga diri kalian baik-baik, jangan pernah sungkan untuk menghubungi kami.”


“Iya, Nyonya.”


Setelah berpamitan, Adita dan Indah keluar kamar.


Tampak pekerja rumah sudah membawa koper miliknya ke mobil, terlihat Eza putranya berada di gendongan Fahry.


Terlihat mereka sangat akrab, Eza banyak bicara pada Fahry entah apa yang mereka bicarakan.


“Hati-hati Mbak,” Ujar Icha kembali memeluk Adita saat hendak masuk ke dalam mobil.


“Kamu juga. Sehat terus ya Dede,” ujar Adita mengelus perut Icha yang masih rata.


“Kamu anak kuat dan sehat Sayang,” tambahnya lagi.


“Iya, Tante,” ujar Icha menirukan suara anak kecil, hingga membuat semua orang yang ada di teras tersebut tertawa kecil.


Adita memeluk Indah dan juga istri dari pak Candra secara bergantian. Setelah itu ia masuk ke dalam mobil, lalu membuka kaca mobil.


Terlihat Eza sangat antusias melambaikan tangannya pada mereka.


“Dadah Papa,” ujarnya pada Fahry.


Membuat Adita yang ada di dalam mobil membulatkan matanya.


“Sayang, itu om!” ujar Adita mengajarkan anaknya agar memanggil Fahry dengan sebutan om.


“Papa!” seru Eza.


“Biarkan saja Mbak. Eza sudah kami anggap sebagai putra kami sendiri,” tutur Icha lembut.


Adita tersenyum kembali mengangguk.


“Dadah Papa, dadah Mama, dadah Oma opa dadah Tante,” ujar Eza menyebutkan semua yang ada di teras tersebut, sehingga semua orang terkekeh dan gemas melihat tingkah Eza.


Setelah mobil menjauh, Adita kembali menutup pintu mobilnya.


“Aku tidak akan melupakan kalian orang-orang baik,” gumam Adita dalam hati.


“Ma, kita ke mana?” tanya Eza dengan polosnya.


“Kita akan ke rumah baru, Sayang.”


“Rumah baru? Di mana?” tanyanya lagi.


“Ada deh,” sahutnya memeluk putranya dan menciumnya beberapa kali.