
Mendengar putranya memanggil seseorang, Adita langsung menoleh. Ia melihat Arif tengah berlari kecil ke arah mereka dengan payung besar di tangannya, berlari melewati genangan air akibat hujan hingga membuat sepatu yang ia kenakan basah.
“Kalian kenapa di sini. Ayo masuk mobil,” ajak Arif mengambil alih Eza pada pangkuan Adita yang tengah memeluknya.
“Ayo Sayang. Kita ke mobil,” ujarnya pada Eza.
Adita tidak menolak juga tidak mengiyakan.
Tiba-tiba saja kilat datang begitu saja di susul petir yang langsung bergemuruh begitu nyaring.
Duaar !
Adita langsung berdiri mendekati Arif dan putranya.
“Ayo cepat,” ujarnya.
Mereka melangkah bersama menuju mobil, Eza mengalungkan tangannya di leher Arif memeluknya kuat dan Adita melangkah bersama Arif dengan menggunakan payung bersama.
Arif membuka pintu untuk Adita terlebih dahulu dan membiarkan ia lebih dulu masuk.
Lalu membuka pintu belakang untuk Eza, setelah itu ia menutup pintu mobil kembali.
Ia melihat motor milik Adita yang masih terparkir di depan toko tersebut.
“Kunci motornya,” ujar Arif kembali membuka pintu mobil depan.
Adita segera menyerahkannya, ia menatap wajah Arif masih tampak dingin padanya.
Setelah mendapatkan kunci tersebut, ia kembali merapikan motor Adita agar terparkir rapi.
Adita hanya duduk di dalam mobil, melihat Arif yang merapikan tempat parkir motornya.
Selesai itu, Arif Kembali ke mobil tampak sepatu milik Arif terlihat basah akibat genangan air.
“Om, lihat deh,” ujar Eza memperlihatkan mainan yang baru ia beli bersama Adita di mall tadi.
“Wow, bagus sekali. Eza membeli mobil mainan?” tanya Arif lembut sambil mengendarai mobil miliknya.
“Iya. Eza membelinya sama Mama tadi,” sahutnya sambil berusaha membuka bungkus makanan tersebut.
Adita hanya melirik sekilas Arif yang fokus mengendarai mobil.
“Kalian dari mana? Hujan-hujan begini, kalau terjebak banjir bagaimana?” tanya Arif lembut akan tetapi tidak ingin menatap Adita.
“Dari mall,” sahut Adita.
Di dalam Mobil kembali hening, Adita maupun Arif seperti menunggu di antara mereka saling berucap terlebih dahulu.
Adita tampak menghela napas berat.
“Kali ini apa salahku?” tanya Adita akhirnya membuka suara.
“Kejujuran,” sahut Arif.
Adita menelan saliva kasar, apalagi Arif masih dingin padanya.
“Kejujuran yang mana lagi yang Pak Arif inginkan? Bukankah saya sudah jujur sejak awal.”
“Pak? Kamu kembali memanggilku dengan sebutan itu?”
Adita hanya diam.
“Jawab. Sebelum menikah aku tidak ingin ada yang kamu tutupi dari aku! Aku mau kamu jujur padaku tentang masa lalu kamu.”
“Bukankah aku dari awal sudah jujur. Aku mempunyai masa lalu buruk, yaitu pernah berniat jahat kepada keluarga Icha!”
“Yakin? Tidak ada lagi selain itu?”
“Anda ingin aku jujur yang mana lagi? Aku sudah mengatakan semuanya, sepertinya anda sudah termakan ucapan seseorang!” ujar Adita kembali bertutur formal.
“Apa saja yang Aditya katakan pada anda kemarin?” tanya Adita merasa curiga pada Arif, perubahannya langsung terjadi setelah bertemu dengan mantan suaminya di rumah kemarin.
“Jangan mengalihkan pembicaraan!” celetuk Arif.
“Jadi, aku harus bagaimana? Aku bingung, apa yang harus berkata yang mana lagi.”
Arif menghela napas kasar.
“Apa kamu sering tidur dengan pria di saat masih sah menjadi istri Aditya?” tanya Arif langsung, karena tidak bisa menahannya lagi.
Untuk menunggu Adita mengakui semuanya, sangat sulit pikirnya.
“Astaghfirullah tuduhan ini sungguh tidak perikemanusiaan!” celetuk Adita langsung mengelus dadanya mendengar pertanyaan Arif.
Adita menoleh sejenak menatap Arif, yang sama sekali tidak menatapnya.
Adita berusaha menahan air matanya.
“Aku kembalikan kepadamu. Jika masih mempercayaiku, hubungan kita berlanjut. Tapi, jika tidak cukup sampai di sini saja!” tegas Adita.
“Itu bukan jawaban. Aku ingin kamu tinggal jawab iya atau tidak!”
“Iya. Aku pernah tidur dengan pria, bahkan bukan hanya satu tapi banyak!” kesal Adita.
“Ini jawaban yang ingin kamu dengar, bukan? Jawabannya iya,” sahut Adita menatap Arif bersamaan dengan air mata yang keluar begitu saja.
“Kamu puas?!”
Arif hanya diam, tanpa ekspresi sama sekali bahkan tidak terkejut sama sekali, setelah mendengar pengakuan Adita.
“Aku rasa, hubungan kita cukup sampai di sini. Kamu bisa mendapatkan wanita yang sempurna dan wanita baik-baik,” tutur Adita dengan suara bergetar.
Arif menghentikan mobilnya karena memang mereka sudah tiba di depan rumah Adita.
Tanpa menunggu lagi, Adita membuka pintu langsung keluar mobil. Ia juga membuka pintu belakang dan menggendong putranya untuk keluar dari mobil tersebut.
“Dah Om Arif,” ujar Eza melambaikan tangannya pada Arif.
Arif hanya tersenyum getir, tanpa membalas lambaian tangan Eza padanya.
Arif menatap kepergian Adita dan Eza hingga masuk ke dalam rumah.
“Argh! apa yang aku katakan padanya?” memukul setir mobil pelan.
“Aku akan mencari tahu kebenaran ini,” gumamnya segera pergi dari tempat tersebut.
Melihat Eza tertidur pulas, ia mengambil ponsel miliknya lalu menghubungi Icha.
Tut! Tut! Panggilan terhubung.
“Assalamualaikum Mbak,” Ujar Icha di seberang sana.
“Waalaikumsalam, Icha. Apa kamu sibuk?” tanya Adita.
“Enggak sih. Ada apa?” tanya Icha serius karena mendengar suara Adita terdengar bergetar menahan tangis.
Adita langsung menangis dan menceritakan semuanya, bahwa dia dan Arif sudah tidak punya hubungan apa-apa lagi.
Icha terkejut, apalagi persiapan pernikahan mereka sudah hampir 50% rampung.
Adita menceritakan semuanya, penyebab retaknya hubungan mereka. Adita juga menceritakan jika dia tidak pernah sekalipun tidur dengan pria manapun, selain pada Aditya suaminya dulu dan sekarang sudah menjadi mantan.
Adita menceritakan semuanya pada Icha, karena ia sudah menganggap Icha sebagai adiknya.
“Tenangkan diri dulu, Mbak. Yang sabar ya, ini adalah ujian jika menuju pernikahan,” tutur Icha lembut.
“Aku akan pergi sejenak dari kota ini, untuk melupakan semuanya termasuk Arif walaupun sedikit sulit.”
“Iya mbak. Ada villa di luar kota ini dan kebetulan itu adalah milik papa dulu. Mbak bisa pergi ke sana untuk menenangkan diri, aku akan kirim alamatnya nanti.”
“Iya, Icha. Terima kasih banyak.”
“Iya Mbak. Serahkan semuanya kepada Allah dan kebenaran juga akan terungkap nanti. Mbak yang sabar ya,” Ujarnya.
“Iya, insya Allah.”
Setelah puas berbicara di telepon, mereka mengakhiri panggilan mereka. Terlihat Adita menghela nafas berat, ia tahu jika ini adalah ulah mantan suaminya.
🌹🌹🌹
“Siapa yang menghubungi mu, sayang?” tanya Fahry yang baru masuk ke dalam kamar.
“Mbak Adita,” sahutnya sembari meletakkan ponselnya di meja.
“Oh, tumben. Ada apa?” tanya Fahry melihat putranya yang sedang terbangun, lalu menggendongnya.
Icha menghela napas, lalu menceritakan pada suaminya tentang masalah yang di alami oleh Adita, bahkan di fitnah oleh mantan suaminya dan menceritakan hal buruk tentangnya pada Arif calon suaminya.
“Kita bantu Mbak Adita. Kasihan, baru saja mau memulai hidup, harus di terjang masalah sebesar ini.”
“Iya, Mas. Aku akan mengatakan ini pada Abang, biar Abang yang memberitahu pada Pak Arif. Mereka kan berteman baik,” tutur Icha.
“Iya, itu ide bagus. Tunggu apa lagi? Cepat hubungi Abang sekarang, jangan menunda hal yang baik.”
“Iya,” sahutnya.
Dengan segera Icha menghubungi Dika dan menceritakan permasalahan antara Adita dan Arif.
Dika yang mendengarnya tidak habis pikir, Aditya tega melakukan itu pada Adita.
“Aku akan mengurusnya besok, kamu tenang saja,” ujar Dika pada adiknya.
“Iya, Kak. Kalau begitu, Icha tutup dulu teleponnya. Assalamualaikum,” pamitnya.
“Waalaikumsalam,” sahut Dika dari dalam ponsel.
Klik!
Panggilan mereka berakhir.
Tok! Tok!
Terdengar ketukan pintu, Icha segera melangkah dan membuka pintu.
Ia tercengang melihat kakak perempuannya yaitu Anggun, ia menghampiri adiknya dengan pakaian syar’i dan berhijab panjang.
“Kenapa begitu wajahnya? Jelek ya?” tanya Anggun melihat ekspresi Icha yang melihatnya dengan mulut sedikit terbuka.
“Hah. Tidak kak, Kaka sangat cantik. Masya Allah, bidadari dari mana ini?” pujinya langsung memeluk Kakaknya.
“Apa sih dek? Biasa saja dek,” ujarnya terkekeh melihat adiknya yang bahagia dan membalas pelukan Icha.
“Sudah. Aku kemari bukan bertemu denganmu, tapi aku ingin bertemu dengan jagoanku,” tuturnya lembut melepaskan pelukan pada adiknya.
Anggun langsung masuk ke dalam kamar, ia melihat Azam yang berbaring di kasur dengan mata terbuka lebar.
“Azam. Bangun ya, malam ini kita bergadang lagi?” ujarnya mengangkat tubuh Azam.
Azam yang melihatnya hanya tertawa, seakan dirinya di ajak berbicara.
“Kakak bawa sebentar ya ke kamar?”
“Iya Kak,” sahut Icha.
Anggun segera membawa putra adiknya tersebut ke kamarnya, hampir setiap malam Anggun mengajak Azam ke kamarnya karena Azam selalu terbangun di malam hari.
“Siapa Sayang?” tanya Fahry yang baru keluar dari kamar mandi.
“Kak Anggun.”
“Oh,” sahut Fahry mengangguk.
“Kak Anggun sudah berubah. Sekarang kak Anggun sudah memakai hijab,” tuturnya pada Fahry yang tengah duduk membuka laptop miliknya.
“Alhamdulillah,” sahut Fahry tersenyum pada istrinya.
“Semoga kak Anggun memenangkan hak asuh putrinya Mas.”
“Aamiin ... Abang juga sedang berusaha membantu Kak Anggun untuk memenangkan hak asuh Naura,” tutur Fahry lembut.
“Iya, Mas.”
“Sekarang, kamu istirahat lah. Seharian penuh sudah mengurus Azam, pasti sangat lelah.”
Icha mengangguk, ia segera naik ke tempat tidur untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Sementara, Fahry mengerjakan tugas kantornya. Karena dirinya di minta oleh Dika untuk mengurus bisnis yang di berikan almarhum papanya, sementara Dika fokus dengan bisnis pak Candra.