Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 15



Sementara itu, Fahry mengendarai motor bututnya dengan santai menyusuri keindahan kota yang cukup padat dengan kendaraan yang berlalu lalang.


Tidak butuh waktu lama, ia sudah tiba di kosnya. Karena dari kos dan tempat bekerjanya tidak terlalu jauh.


“Assalamualaikum,” ujar Ifan memberi salam.


Fahry sedikit terkejut, karena Ifan tiba-tiba saja ada di belakangnya.


“Waalaikumsalam... Astagfirullah, kenapa kamu tiba-tiba ada di belakangku?” tanya Fahry.


“Sebenarnya, aku sudah sejak tadi duduk di kursi itu. Masalahnya, pikiranmu tidak disini. Memikir apa sih?” tanya Ifan penasaran.


“Tidak ada,” sahut Fahry singkat.


Mereka beriringan masuk ke dalam rumah, lalu duduk di kursi kayu.


“Masa. Terlihat dari wajahmu hari ini, sepertinya ku sedang senang? Lihat saja, senyum tidak luntur sejak tadi.”


“Tidak baik jika berpikir yang tidak-tidak. Aku tersenyum karena tersenyum adalah sebagian dari ibadah.”


“Ya, memang benar. Jika kamu tersenyum kepada orang itu memang sebagian dari ibadah. Tapi, kalau kamu senyum-senyum sendiri itu disangka orang gila!” ejek Ifan tertawa lepas.


“Hahaha... puas sekali tertawanya!” Fahry menirukan tertawa temannya tersebut.


“jadi... bagaimana?”


“Bagaimana apanya?” tanya Fahry balik.


“Apa kamu sudah bertemu dengan wanita itu?”


Fahry mengangguk.


“Serius?” tanya Ifan antusias.


Fahry kembali mengangguk.


“Dimana?” tanya Ifan penasaran.


Terdengar suara adzan berkumandang.


“Shalat,” ujar Fahry menepuk pundak Ifan dan beranjak dari tempat duduknya.


“Hm...” deham Ifan lalu masuk ke kamarnya.


Fahry dengan terburu-buru mandi, sedangkan Ifan menggantikan pakaiannya dengan pakaian yang sopan karena akan melakukan Shalat berjamaah di masjid.


Dengan langkah yang terburu-buru, mereka melangkah ke masjid yang ada di dekat itu. Karena mendengar sudah selesai iqamah, berarti sudah mau menjalankan Shalat magrib.


Fahry dan Ifan melakukan Shalat berjamaah dengan khusyuk.


Setelah selesai mengerjakan Shalat, Fahry mengarahkan kedua tangannya sambil berdoa.


“Ya Allah, jika Ukhti tersebut memang jodohku. Permudah kan jalanku untuk mendapatkannya. Aamiinn...” ucap Fahry dalam hati.


Fahry menyapu kedua tangannya ke wajahnya, setelah selesai memanjatkan doa-doa bahkan mengirim doa untuk kedua orang tuanya yang sudah tiada.


“Fahry,” panggil Ifan yang setengah berlari mengejarnya.


Karena Ifan masih berdoa, Fahry sudah keluar duluan meninggalkannya.


“Iya, ada apa?” tanya Fahry tapi tidak berniat menghentikan langkahnya.


“Tidak. Aku hanya memanggilmu saja,” ujar Ifan nyengir kuda.


Fahry menggelengkan kepalanya.


Mereka melanjutkan langkahnya menuju ke kos mereka, seperti biasa selepas magrib Fahry dan Ifan pasti memasak untuk mereka makan malam ini.


“Fahry, bagaimana? Aku penasaran dengan cerita mu, kamu belum melanjutkannya.”


“Cerita apa?” tanya Fahry mengernyitkan keningnya.


“Bagaimana kamu bisa bertemu dengan gadis itu,” ujar Ifan mengingatkan.


“Oh itu. Namanya Marissa, ternyata kami bekerja di tempat yang sama. Gadis itu baru bekerja mulai hari ini.”


“Hati-hati, jika dia bersuami. Kamu akan berdosa mendekati wanita yang sudah bersuami,” ujar Ifan kembali mengingatkannya.


“Insya Allah, aku tidak akan mencintai wanita yang sudah bersuami.”


“Memangnya kamu sekarang mencintainya?” tanya Ifan.


Fahry tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.


“Aku hanya mengaguminya saat ini, ternyata gadis itu wanita yang lemah lembut dan sangat sopan,” ujar Fahry tersenyum.


Ifan mengangguk mengerti, setalah selesai perbincangan mereka Fahry dan Ifan makan bersama. Walaupun makan sederhana akan terasa nikmat jika di syukuri.


🌹🌹🌹


Di kediaman pak Heriyanto.


Di kamar Anggun meringkuk di lantai, terasa hembusan angin yang menyeruak masuk menerpa bulu halus yang ada di tubuh Anggun.


Anggun mulai mengerjapkan kedua matanya, karena merasa sangat dingin.


Anggun melihat ke arah balkon, pintunya terbuka lebar. Rupanya ia lupa menutup pintu saat ia pergi bertemu Dino siang itu.


Ia beranjak dari tempatnya, menutup pintu balkon. Sebelum menutup pintu, ia lebih dulu melihat keluar balkon. Hujan deras membasahi kota itu, beserta kilat yang menyambar.


Di kamar lain, pak Heri duduk termenung di balkon yang terhubung dengan kamarnya.


Ia sudah menghabiskan beberapa batang rokok, tampak puntung rokok yang berserakan di lantai.


Ia juga mengeluarkan beberapa botol minuman keras, berbagai merek dengan harga yang tidak murah tentu.


Namun, botol tersebut masih tertutup rapat, belum di sentuh sama sekali.


Walaupun usianya yang sudah tidak muda lagi, ia masih kuat minum. Karena sering bertemu dengan klien penting yang mengajaknya minum hingga dirinya menjadi terbiasa.


Hari ini ia sangat kecewa pada putrinya Anggun, yang sudah tega berbohong demi menutupi kehamilannya.


Arrgghh! Mengacak rambutnya prustasi.


Melihat tangannya yang cukup keras menampar pipi mulus putri bungsunya, bahkan ia tidak melihat air mata yang keluar dari mata Icha.


“Tangan ini, sungguh kejam!” ujarnya melihat telapak tangannya.


Plak!


Ia memukul pipinya sendiri dengan tangan yang sudah memukul Icha.


Plak!


Tamparan kembali mendarat di pipinya.


“Maafkan Papa Icha,” lirihnya melihat telapak tangannya yang memerah.


Ia mengingat jelas perlakuannya terhadap Icha dulu, sering sekali membandingkan Icha dan Anggun.


Saat masih sekolah dulu tidak pernah mendapatkan peringkat, sudah naik kelas saja Icha sangat bersyukur.


Berbeda dengan Anggun yang selalu mendapat nilai bagus dan peringatan, sejak ia duduk di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas.


Itu sebabnya Icha selalu di bandingkan oleh Papanya dengan kakaknya sendiri.


Bahkan dirinya sering memarahi Icha karena hal sepele.


Hari ini ia sudah kehilangan kedua anaknya dan juga istrinya, hanya dirinya dan Anggun yang berada di rumah.


Ia tidak mampu menahan istrinya agar tidak pergi, karena sudah tahu sifat istrinya yang tidak mudah di bujuk.


“Maafkan aku Ma,” lirihnya.


Pak Heri terdiam sejenak, ia seperti mengingat sesuatu.


Pak Heri mengambil ponselnya yang tergelatak di meja, lalu menghubungi seseorang.


Tut! Tut!


Panggilan tersambung.


“Halo,” ujarnya.


“Iya, bos.”


“Tolong kamu cari dimana sekarang istriku dan kedua anakku! Cari alamat mereka sampai ketemu, setelah itu beritahu aku!” perintahnya kepada salah satu anak buahnya.


“Siap, bos.”


Mereka mengakhiri panggilannya.


Cukup lama pak Heri menunggu di balkon, menunggu anak buahnya menghubunginya. Hampir jam satu dini hari, dirinya masih terjaga menunggu informasi dari anak buahnya.


Drrttt ponselnya bergetar.


“Halo, bagaimana?”


“Siap bos. Kami sudah menemukan alamat Nyonya besar, Tuan muda dan Nona.”


“Benarkah?”


“Iya, Tuan. Mereka tinggal di rumah kontrakan,” sahutnya.


“Baiklah. Kirim alamatnya, aku akan datang menemui mereka besok,” Ujarnya.


Lalu menutup panggilannya, ia menghela nafas lega karena sudah menemukan alamat mereka.


Ia harus membuang egonya, demi untuk kembalinya istri dan kedua anaknya.


Ia kembali merasa bersalah, mengingat perlakuannya kepada istrinya, yang selalu menyalahkan istrinya dalam segala hal.


“Apa mereka akan memaafkan ku? Apa aku pantas di maafkan?” batinnya.


“Icha, maafkan Papa nak.”


Ia mengusap foto Icha yang masih kecil, yang tersimpan di galeri ponsel miliknya.


Untuk pertama kalinya pak Heri meneteskan air matanya.