
Tengah malam Icha terbangun, merasa tenggorokannya sangat kering.
Icha perlahan melepaskan tangan suaminya yang melingkar di perutnya, ia beranjak dari tempat tidurnya lalu melangkah keluar kamar ingin mengambil air minum ke dapur.
Namun, saat di depan pintu kamarnya, terdengar suara langkah kaki lari di dekat jendela.
“Siapa itu?” gumam Icha.
Karena saat itu dirinya tidak memakai hijab, Icha tidak berani mengintip.
Terdengar gumam suaminya dari tempat tidur, Icha melihat suaminya meraba di samping tempat tidurnya.
Niat awalnya ingin mengambil air putih ke dapur, di urungkannya.
“Mas,” panggil Icha pelan mendekati suaminya.
“Iya,” Sahut Fahry membuka setengah kelopak matanya.
“Ada apa Sayang?” tanya Fahry.
“Tidak Mas,” sahut Icha sembari menggelengkan kepalanya.
“Mau kemana?” tanya Fahry.
“Mau ke dapur, mau ambil air minum. Mas mau?” tanya Icha mengambil kerudungnya.
Karena dirinya penasaran dengan suara kaki yang berlari menjauh, berniat ingin mengintip lewat jendela.
“Tidak. Apa mau aku temani?”
“Enggak, Mas. Tidurlah lagi, aku hanya sebentar.”
“Baiklah,” sahut Fahry kembali menutup kelopak matanya karena dirinya memang sangat mengantuk.
Icha kembali melangkah setelah mengenakkan hijab instannya.
Setelah keluar kamar, Icha lebih dulu mengintip di balik jendala di samping pintu rumahnya.
Ia melihat wanita berlari masuk ke dalam mobilnya, dan mendengar suara decit mobil yang melaju dari dekat rumah.
“Apa ada maling?” gumamnya.
Icha kembali melangkah ke dapur untuk mengambil air minum yang sempat tertunda.
Icha merasa lega, setelah membasahi tenggorokannya dengan air putih segelas.
Namun rasa penasaran yang begitu kuat, hingga membulatkan tekatnya untuk membuka pintu rumah dan berniat melihat sekelilingnya.
Icha melihat sebuah amplop coklat yang tergelatak persis di teras rumahnya.
Mengambil amplop tersebut, melihat amplop tersebut bertuliskan nama dirinya.
“Marissa ...” gumamnya.
“Namaku?” mengernyit heran.
Icha bergegas masuk kaki dalam rumahnya, duduk di kursi di ruang tamu.
Melirik jam dinding, sudah pukul dua dini hari.
Ia membolak-balikkan amplop tersebut, tidak terlalu besar. Namun, terasa tebal.
“Bismilah, aku buka saja. Karena tertera jelas nama lengkap ku disini. Tapi, siapa yang mengirimnya? Tidak ada nama pengirimnya,” gumamnya.
Icha masih bingung mau membukanya atau tidak, dirinya juga tidak ingin membangunkan tidur suaminya.
Akhirnya ia membulatkan tekadnya, untuk memberanikan membuka amplop tersebut.
Srek!
Icha perlahan merobek amplop kertas tersebut, perlahan mengeluarkan isi di dalamnya.
Setelah melihat isi di dalamnya, tanpa sadar menjatuhkannya ke lantai hingga berceceran.
Tangan gemetar, bersamaan dengan air mata yang mengalir begitu saja.
Amplop tersebut berisikan beberapa foto suami dengan wanita lain, sedang berpelukan. Bahkan ada yang sedang tertidur sambil berpelukan di dalam selimut hanya setengah tubuh mereka yang terlihat.
“Ti-tidak, ini bukan mas Fahry kan?” gumamnya dengan suara gemetar, melihat lagi dengan teliti foto tersebut.
Sangat mirip dengan suaminya, bahkan postur tubuh yang juga sama.
Bertuliskan Nama Fahry suaminya dan nama Cindy.
“Cindy love Fahry,” gumam Icha membaca tulisan yang ada di belakang foto tersebut.
“Walaupun kita tidak bisa bersatu. Namun cinta kita selalu bersama selamanya,” gumam Icha dalam hati kembali membaca tulisan tersebut dengan emoji hati.
Icha menutup mulutnya, menangis tanpa suara menangis hingga terisak.
“Tidak, ini bukan mas Fahry. Mas Fahry, tidak pernah mengkhianatiku! Ini pasti salah.”
Icha menggelengkan kepalanya, dengan tangan yang gemetar memasukkan kembali foto tersebut ke dalam amplop coklat lalu beranjak dengan langkah cepat ke dapur membuang amplop tersebut ke dalam sampah.
Icha bersandar di dinding dengan nafas yang naik turun. Mengusap air matanya dengan kasar, terlihat ada kemerahan di hidungnya akibat menangis.
Icha berulang kali menghela nafas, agar dirinya terasa tenang.
Ia mencuci wajahnya di wastafel, setelah itu ia duduk di kursi.
Entah kenapa masih terbayang di benaknya, jika suaminya sedang bercinta dengan wanita lain.
“Astaghfirullah ... Astaghfirullah ....” berulang kali Icha beristigfar dalam hatinya.
Ia menepis semua yang ada di benaknya saat ini, dan berprasangka baik terhadap suaminya.
“Aku yakin, itu bukan Mas Fahry. Pasti ada yang ingin memisahkan kami,” gumamnya lagi.
Sebelum masuk ke kamar, Icha menghela nafas terlebih dahulu.
Membuka pintu kamar, melihat suaminya yang masih terlelap tidur. Dengan nafas yang beraturan, tampak sekali wajah suaminya yang tidur tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Icha menghampiri suaminya, duduk tepat di samping suaminya.
Menatap wajah polos suaminya.
Grep!
Icha memeluk suaminya, bahkan berbaring diatas tubuh suaminya.
“Sayang,” gumam Fahry ia juga memeluk erat istrinya yang berada di atas tubuhnya.
Ia tersenyum, Fahry berpikir jika istrinya ingin bermanja dengannya.
Hingga subuh, Icha masih berada di pelukan suaminya. Hanya bergeser sedikit agar memberi ruang suaminya untuk bernafas, karena di tindih olehnya.
“Sayang, bangun,” bisik Fahry menatap wajah istrinya.
Namun, samar-samar Fahry menangkap wajah istrinya yang tak biasa. Terlihat wajah sembab, terutama di bagian kelopak matanya.
“Sayang, kenapa dengan matamu? Apa kamu menangis?” tanya Fahry melihat wajah istrinya.
Fahry melepaskan dekapan istrinya, lalu menyalakan lampu utama agar lebih leluasa melihat wajah istrinya.
Tek !
Fahry menekan saklar lampu, Icha menarik selimut untuk menutupi wajahnya karena silau oleh pancaran sinar lampu.
“Sayang, bangun. Lihat kemari,” ujar Fahry mencoba menarik selimut yang menutupi wajahnya.
Namun, Icha menahan selimut tersebut dan tidak membiarkan Fahry melihat wajahnya.
“Icha,” panggil Fahry dengan nada lembut dengan penekanan.
Icha melonggarkan selimutnya, kesempatan Fahry menarik selimut tersebut dan menyingkirkannya dari wajah sang istri.
Icha menggelengkan kepalanya.
“Jangan berbohong. Dari awal pernikahan kita, sudah ada perjanjian tidak ada yang di tutupi! Aku suamimu,” ujar Fahry.
“Sebaiknya Mas salat dulu, keburu waktunya habis,” tutur Icha karena memang sudah hampir melewati waktu subuh.
Icha tidak bisa melaksanakan salat, karena ia baru mendapati jika dirinya sedang datang bulan saat keluarganya pulang semalam.
Fahry menghela nafas.
“Baiklah, setelah salat subuh aku meminta penjelasan padamu. Tetap disini!” tutur Fahry menatap istrinya, akan tetapi Icha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Fahry menangkap keanehan pada istrinya, ia yakin ada yang di sembunyikan oleh istrinya.
Fahry mendekati wajahnya, hendak mencium pipi istrinya seperti biasa ia lakukan sebelum mengambil air wudhu.
Namun, belum sempat bibir Fahry mendarat di pipi istrinya, tanpa di duga Icha beranjak dari tempat tidur meninggalkan suaminya yang mematung menatapnya dengan kebingungan.
Icha menghela nafas saat keluar dari kamar, ia bersandar di pintu kamarnya sambil memegang dada yang berdetak kuat.
“Maafkan aku Mas,” lirih Icha mengusap air matanya yang mengalir begitu saja tanpa permisi.
Serasa dirinya sudah tenang, akan tetapi dirinya masih belum tenang jika belum mengetahui kebenaran dari foto tersebut.
Icha melangkah ke dapur, sebelum memasak sarapan untuk suaminya. Icha lebih dulu mencuci tangannya dan mulia memasak untuk sarapan dan bekal makan siang.
Saat sedang sibuk berkutat di dapur, Fahry menghampiri istrinya sudah dengan pakaian rapi.
Cup!
Satu kecupan mendarat di pipi istrinya.
“Sepertinya, cuaca di luar cerah pagi ini. Tapi, entah kenapa suasana di dalam rumah ini seperti mendung?”
Icha hanya diam, masih fokus dengan masakannya. Ia membiarkan suaminya memeluknya.
“Tapi, aku bingung harus bertanya pada siapa? Semua barang di dalam rumah ini tidak dapat bicara, kecuali bidadari cantik dalam rumah ini. Tapi, sepertinya saat ini bidadari surgaku sedang puasa bicara. Apakah ini efek saat sedang datang bulan?” tambah Fahry mencoba mencairkan suasana.
“Jika aku ada salah, katakan sayang. Jangan mendiamkanku seperti ini,” tutur Fahry.
“Icha!” panggil Fahry dengan nada penekanan.
Icha menghentikan aktivitasnya, mematikan kompor. Ia sudah mengerti, jika suaminya sudah menyebut namanya, itu tanda Fahry sedang serius.
Fahry melepaskan dekapannya, lalu menarik pelan lengan istrinya untuk duduk di kursi.
Sementara dirinya berjongkok lalu mendongakkan kepalanya biar leluasa melihat wajah istrinya.
“Ada apa?” tanya Fahry lembut.
Icha menggelengkan kepalanya pelan, Fahry menangkap basah di sudut mata istrinya.
“Jika kamu hanya diam, aku bingung harus melakukan apa? Sayang, kita sudah berjanji, tidak ada yang kita tutupi.”
“Jujur, aku tidak mengerti cara membujuk wanita. Tolong jangan paksa aku untuk membujuk, aku belum mempelajarinya.”
Icha menghela nafas.
“Siapa Cindy?” tanya Icha yang hampir tidak terdengar.
“Maksudnya? Aku tidak mengerti sayang,” tutur Fahry.
“Sebentar,” ujar Icha beranjak dari duduknya.
Ia melangkah menuju tempat dimana ia membuang semua foto semalam.
Fahry mengernyit bingung, melihat Icha membawa amplop coklat tersebut.
“Ini,” ujar Icha menyerahkan kertas yang berwarna coklat tersebut.
Fahry berdiri dan mengeluarkan isi amplop tersebut.
Fahry membulatkan matanya melihat foto tersebut adalah dirinya, dirinya yang terlihat mesra dengan seorang perempuan.
Fahry baru mengerti, kenapa istrinya mendiamkan dirinya.
Icha menatap suaminya yang masih melihat foto tersebut satu persatu.
“Astaghfirullah ... sayang, jadi ini yang membuatmu marah?”
Meletakkan foto tersebut di meja makan.
“Aku bingung harus menjelaskannya bagaimana? Karena jika aku menjelaskannya kamu pasti tidak mungkin percaya, sayang,” tutur Fahry santai.
Melihat suaminya begitu santai, membuat Icha semakin kesal, bukan menjelaskan padanya.
“Siapa dia Mas?” tanya Icha menatap suaminya, mencoba mengontrol emosinya.
“Aku mengenali wanita itu. Tapi, aku sangat yakin jika pria di dalam foto itu bukan aku,” sahut Fahry.
Bahkan dirinya tidak habis pikir, kenapa ada yang memfitnahnya dengan foto tersebut.
“Benarkah?” tanya Icha lagi seakan tidak percaya.
Fahry mengangguk.
“Coba lihat mataku. Apakah kamu melihat ada kebohongan?” tutur Fahry mendekatkan dirinya dan memegang kepalanya istrinya.
Icha menunduk tidak berani menatap suaminya.
“Aku tahu kamu pasti tidak akan percaya. Demi Allah, aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun selain kamu. Itu pun setelah kita menikah,” tutur Fahry lembut mencoba meyakinkan istrinya.
“Aku ingin kamu tahu satu hal, sebenarnya aku juga ingin mengatakan ini. Tapi, waktunya selalu tidak tepat.”
“Apa mas?” tanya Icha penasaran.
Fahry mengajak istrinya duduk di kursi, Fahry menggenggam erat tangan istrinya sesekali ia menciumnya.
“Namanya memang Cindy ...” ujar Fahry menggantungkan ucapannya.
Mendengar nama itu, Icha menarik pelan tangannya. Namun, Fahry menahannya.
“Dia bukan siapa-siapa aku. Dia hanya teman, bahkan tidak akrab. Hanya teman sebatas sebangku sekolah,” tutur Fahry.
“Aku juga tidak yakin jika Cindy ada di dalam foto itu, bisa saja itu editan foto orang lain. Jaman sekarang lebih mudah menjatuhkan orang lain, contohnya sepertinya ini.”
“Apa kamu percaya pada suamimu?” tanya Fahry.
Icha tampak ragu untuk mengangguk. Fahry mengerti, tidak mudah untuk percaya begitu saja.
“Aku tahu jika saat ini kamu masih belum percaya. Tapi, aku akan membuktikan padamu, jika itu adalah fitnah!” gumam Fahry dalam hati.
“Sekarang aku mau tanya. Dari mana kamu mendapatkan semua foto ini?”
“Sayang, aku bertanya. Dari mana foto ini?” tanya Fahry lagi melihat istrinya tampak diam.
Icha berkali-kali menghela nafasnya, sebelum menceritakan pada suaminya.
Icha mulai bercerita saat ingin bangun dari tempat tidur, ia mendengar suara langkah kaki berlari menjauh.
Icha hanya melihat punggung wanita itu saja, ia berlari cukup cepat menuju mobilnya.
“Apa wanita itu memakai topi dan masker?” tanya Fahry memastikan.
“Aku hanya melihat punggungnya dan sepertinya ia memakai topi. Aku tidak melihat ia memakai masker,” sahut Icha.
“Sepertinya wanita itu adalah wanita yang sama dengan aku lihat malam kemarin,” batin Fahry.
“Mas. Apa Mas mengenalinya?” tanya Icha melihat Fahry tampak berpikir.
“Aku belum tahu pasti. Tapi, jika wanita itu memakai topi. Kemungkinan besar wanita yang sama sedang memperhatikan ke rumah kita, saat kita mengantar Mama dan Abang Dika pulang ke depan teras kemarin.”