Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 33



Pagi yang cerah, secerah hati pak Heri pagi ini.


Burung-burung bahkan ikut berkicau seakan bernyanyi ikut bergembira menyambut sang mentari pagi ini. Bahkan sang mentari sudah masuk ke kamar melalui celah-celah jendela, seakan menyapa sang pemilik kamar.


Namun, berbeda dengan Icha yang pagi ini. Bangun dengan wajah yang sembab, untuk menghilangkannya pagi ini Icha berendam dengan air hangat.


Pagi ini, Pak Heri sudah duduk di sofa sambil membaca dokumen di ponselnya di temani kopi panas.


“Pagi Pa,” sapa Dika saat melihat papanya duduk di sofa ruang tamu.


“Pagi,” sahutnya meletakkan ponselnya di meja.


“Bagaimana dengan tidurmu semalam, apa sangat nyenyak?” tanya pak Heri.


Dika mengangguk.


“Lumayan,” sahut Dika.


“Oh oke. Papa sudah meminta Anton menyiapkan semua berkas pernikahanmu dan juga menyiapkan semua yang akan di bawa ke rumah calonmu saat lamaran nanti,” Ujar pak Heri tanpa basa basi.


Anton adalah, orang yang di percayai di dalam tersebut. Anton mengurus semua yang keperluan pak Heri jika ke luar kota.


“Cepat sekali, Pa?”


“Lebih cepat lebih bagus. Ada pepatah mengatakan, jangan menunda-nunda sesuatu yang baik.”


“Iya sih. Benar juga,” imbuh Dika setuju dengan ucapan sang papa.


Bu Sintya baru saja keluar dari kamarnya, ia mengernyit heran melihat pagi ini. Putra dan suaminya berbincang hangat di sofa, tidak seperti biasanya suaminya selalu bersikap dingin terhadap Dika.


“Pagi Ma,” sapa Dika.


“Pagi sayang. Di mana adikmu?” tanya Bu Sintya tidak melihat Icha sejak tadi.


“Icha disini Ma,” sahut Icha yang baru menuruni tangga.


Bu Sintya menoleh ke arah belakangnya.


“Pagi Ma,” sapa Icha.


“Pagi juga sayang,” sahut mamanya.


Mereka semua melangkah menuju ke meja makan, untuk sarapan bersama.


Hari ini, pak Heri begitu perhatian kepada kedua anaknya. Ia mengambil makanan dan melekatkan di piring mereka, karena pagi ini pembantunya memasak nasi goreng untuk sarapan pagi.


Lagi-lagi Bu Sintya mengernyit heran, sama halnya dengan Dika. Ia begitu takjub melihat perubahan papanya pagi ini yang berubah drastis, dari sebelumnya yang selalu cuek dan dingin kepada anak-anaknya, kecuali Anggun.


“Oh iya, Ma. Mulai hari ini, Mama harus menyiapkan semua yang di perlukan untuk lamaran Dika nanti. Mama minta bantuan pada orang-orang ada di rumah ini, jangan melakukannya sendirian.”


Bu Sintya menatap suaminya bingung.


“Lamaran?” tanya Bu Sintya.


“Iya. Sebentar lagi kan putra dan putri kita akan menikah.”


Dika mengernyit heran, sama halnya dengan Bu Sintya. Hanya Icha yang tidak terkejut dan berusaha bersikap tenang.


“Putri? Maksudnya Mas? Aku tidak mengerti putri yang mana kamu bicarakan,” tanya Bu Sintya.


“Jadi begini ... biar Papa jelaskan dulu,” ujar pak Heri.


Dika menatap curiga pada Icha yang masih sibuk menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, tidak sengaja netra mereka saling bertemu. Namun, Icha dengan cepat mengalihkan pandangannya.


“Papa menjodohkan Icha dan Aditya dan rencananya pernikahan Abang dan Icha di laksanakan secara bersamaan.”


“Hah! Kenapa jadi seperti ini? Papa semalam tidak membicarakan ini!” protes Dika.


“Ini Papa mau membicarakannya kepada kalian,” sahut pek Heri santai.


“Ini semua permintaan Icha sendiri ke Papa, semalam ia menceritakan ke Papa. Jika, ia tidak ingin di tinggal oleh Abangnya menikah. Maka dari itu, Icha mengatakan ia ingin di jodohkan. Bukan begitu Icha?” pak Heri menatap putrinya tersebut.


“Icha! Apa benar kamu meminta Papa untuk menjodohkan mu?” tanya Dika menatap adiknya dengan penuh selidik.


Icha menatap Abangnya lalu bergantian dengan Papanya.


Icha mengangguk pelan.


“Icha. Kenapa kamu tidak membicarakan hal ini kepada Mama?” tanya Bu Sintya sedikit kesal dengan putrinya.


“Maafkan Icha, Ma.”


“Sudah. Kalian sudah mendengar, bukan. Ini permintaan Icha sendiri,” sela pak Heri.


Dika meletakkan sendoknya dengan kasar, lalu meninggalkan meja makan tersebut.


“Abang!” panggil pak Heri dengan suara cukup nyaring.


Dika menghentikan langkahnya.


“Papa belum selesai bicara ... Kembali duduk!”


Dika menghela nafas kasar, lalu kembali duduk di kursi tersebut.


“Mama kecewa sama kamu Icha,” ujar Bu Sintya menatap putrinya.


“Ma, sudah! Ini sudah keputusan Papa dan Icha. Jadi jangan menyalahkan putri, Papa!” tegas pak Heri.


“Huft ... baiklah. Jika ini memang benar keputusan Icha sendiri, Mama ikut saja.”


Bu Sintya akhirnya pasrah.


“Nah begitukan enak. Jadi, Papa merencanakan jika resepsi pernikahan Icha dan Dika akan di adakan di tempat yang sama.”


“Bagaimana?” tanya pak Heri.


“Jika ini lebih baik untuk Icha, Abang setuju saja Pa!” masih menatap adiknya yang sejak tadi hanya menunduk.


“Baiklah. Jika semua setuju Papa akan meminta orang yang mengurus semuanya dan kamu Dika, katakan pada keluarga Indah, jika Papa siap ingin bertemu mereka.”


“Iya Pa,” sahut Dika netranya tak lepas menatap adiknya.


“Kalau begitu, Papa mau berangkat ke kantor dulu.”


Dika dan Icha bergantian mencium punggung tangan.


Setelah pak Heri sudah hilang dari pandangan mereka, Bu Sintya dan Dika masih menatap Icha meminta penjelasan.


Dika curiga ada hal yang tidak beres di belakangnya dan ada hubungannya dengan diam adiknya sejak kemarin.


Icha masih menunduk, tidak berani menatap Abangnya.


“Ma, Bang. Icha mau berangkat kerja dulu,” pamit Icha hendak beranjak dari tempat duduknya.


“Tunggu Icha. Mama ingin bicara serius denganmu!”


Mendengar ucapan Mamanya, Icha kembali duduk di kursinya.


“Icha, Mama tidak marah. Tapi, sekarang Icha harus bicara jujur kepada Mama. Apa benar ini semua Icha yang mau?” tanya Bu Sintya masih tidak percaya.


Icha tidak menjawab, hanya menunduk diam.


“Icha, apa kamu tuli? Mama sedang bicara!” bentak Bu Sintya.


Icha memejamkan matanya mendengar bentakan Mamanya.


“Ma ...” panggil Dika.


Bun Sintya melihat Dika, yang menggelengkan kepalanya.


Bu Sintya menghela nafas kasar, lalu beranjak dari tempat duduknya dan melangkah menuju kamarnya.


Terlihat Icha mengusap air matanya.


“Icha, ayo kita berangkat. Abang akan mengantarmu,” ajak Dika.


Icha mengangguk.


Dika lebih dulu beranjak dari tempat duduknya, lalu Icha juga menyusul abangnya.


Di perjalanan menuju ke tempat kerjanya, Icha banyak diam. Ia bersandar di bahu kursi sambil memandang ke arah luar jendela.


“Icha masih ingat! Dulu, jika ada masalah di sekolahan atau Icha di buly. Icha selalu mengadu ke Abang, Icha selalu menangis di pelukan Abang.”


Dika melirik sekilas adiknya yang masih menatap luar jendela.


“Tapi, sekarang Icha sudah dewasa ya. Bahkan mengambil keputusan sendiri, Icha sangat hebat! Abang bangga sama Icha,” tambah Dika lagi.


“Jika beban itu di tanggung sendiri, pasti akan terasa berat. Tapi, jika bersama menghadapinya pasti akan ringan, bahkan bisa menguranginya.”


Dika mengenal nafas pasrah, apalagi melihat Icha hanya diam tidak menjawab.


Sebenarnya Icha bersusah payah menahan air matanya agar tidak turun, apalagi di depan Abangnya.


“Ini sudah keputusan Icha untuk menikah Bang,” sahut Icha pelan, sambil menahan suaranya.


“Tapi, kenapa mendadak, dek?” tanya Dika.


Icha tidak menjawab.


“Huftt ... baiklah, itu keputusan Icha. Abang berharap ini murni kemauan Icha sendiri, bukan dorongan orang lain!”


“Maafkan Icha Bang,” lirih Icha.


Dika melirik sekilas adiknya yang menghapus air matanya, Dika semakin yakin ini bukan kemauan adiknya.


Ada dorongan dari belakang yang memaksanya untuk menikah.


Tak lama, mereka tiba di tempat Icha bekerja.


“Terima kasih Bang. Icha pamit kerja, Assalamualaikum ...”


Icha mencium punggung tangan Abangnya.


“Waalaikumsalam ... hati-hati dek,” sahut Dika.


Icha mengangguk.


Icha membuka pintu mobil pelan, lalu menutupnya kembali. Dika belum pergi dari tempat tersebut, ia masih menatap punggung adiknya. Terlihat jelas jika Icha menghela napas panjang sebelum masuk ke tempatnya bekerja.


“Aku akan mencari tahu. Abang sangat yakin, jika ada orang yang di belakang mu. Kamu bersabar dek, ini tidak akan lama.”


Dari kejauhan, Dika melihat Fahry yang baru datang.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil Dika, Fahry menoleh ke sumber suara.


“Dika,” gumam Fahry melihat mobil Dika masih terparkir di bahu jalan depan tempatnya bekerja.


Dika membuka setengah kaca mobilnya, lalu mengeluarkan sedikit kepalanya.


“Fahry, kemari sebentar.”


Dika setengah berteriak.


Fahry mengangguk, dengan langkah besar Fahry menemui Dika.


“Iya, ada apa?” tanya Fahry sedikit membungkuk.


“Masuk ke mobil sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan,” ujarnya.


Fahry mengangguk, lalu membuka pintu mobil. Setelah mendaratkan bokongnya dengan sempurna, Fahry menutup kembali pintunya.


“Ada apa? Kelihatannya sangat serius,” tanya Fahry.


“Fahry. Apa kemarin Icha ada bertemu dengan seseorang?” tanya Dika.


Tampak Fahry berpikir, ia mengingat Icha bertemu dengan siapa saja kemarin.


“Maaf, aku bertanya kepadamu. Aku hanya memastikan, Icha bertemu dengan siapa saja kemarin.”


“Sepertinya Icha tidak bertemu dengan siapapun yang mencurigakan. Kemarin hanya ada pelanggan yang datang, untuk melihat buku,” sahut Fahry.


Fahry mengatakan apa adanya, jika Icha memang tidak bertemu dengan siapapun kecuali pelanggan toko.


Dika mengangguk mengerti.


“Baiklah kalau begitu. Apa aku boleh meminta bantuanmu?” tanya Dika


“Boleh. Semoga saja aku bisa membantu,” sahut Fahry.


“Tolong awasi adikku, katakan padaku jika ia bertemu dengan seorang yang mencurigakan.”


Fahry mengerutkan kening.


“Maaf jika aku bertanya hal ini. Ada apa dengan Icha?”


“Entahlah. Dua hari ini adikku berubah, lebih pendiam dari biasanya.”


“Insya Allah aku akan selalu menjaganya dari kejahatan, jika ada sesuatu yang mencurigakan aku akan langsung menghubungimu.”


“Terimakasih banyak Fahry. Maaf aku selalu merepotkanmu,” tutur Dika.


“Tidak apa-apa Dika. Aku yang sangat berterima kasih kepadamu, sudah membantumu.”


“Baiklah. Jika tidak ada lagi yang di bicarakan, Aku masuk bekerja,” pamit Fahry.


“Iya, Fahry. Maaf mengganggu waktumu.”


“Tidak perlu meminta maaf,” sahut Fahry.


“Assalamualaikum ...” pamit Fahry mengucapkan salam.


“Waalaikumsalam ...”


Setelah berbincang sebentar di mobil Dika, Fahry masuk ke dalam toko tersebut.


Setelah masuk ke dalam, Fahry ingin meletakkan tas kecil miliknya di lemarinya.


Lemari tersebut terletak di belakang, terdapat satu kamar khusus untuk karyawan toko. Namun, langkahnya terhenti ketika samar- samar mendengar suara Isak tangis dari arah kamar mandi.


"Siapa yang menangis?" tanyanya dalam hati.


Seingatnya ia tidak melihat Icha saat masuk ke dalam tadi, ia hanya melihat Santi dan beberapa karyawan lainnya.


"Ini sepertinya suara Icha," gumamnya lagi.


"Ada apa Fahry?" tanya Diana istri dari pemilik toko tersebut.


"Astaghfirullah ... ibu," ujar Fahry sedikit tersebut sambil mengelus dadanya.


"Sedang apa kamu?" tanya Diana lagi.


"Maaf, Bu. Tadi aku mendengar suara isak tangis dari dalam toilet, maka dari itu saya berhenti Bu."


"Siapa yang ada didalam toilet?" tanya Diana pemasaran.


karena sebelumnya, ia mencari Icha akan tetapi tidak menemukannya. Ia melihat Fahry yang sedang berdiri di depan pintu kamar mandi.


"Sejak tadi aku tidak melihat Icha. Apa Icha yang ada di dalam?" tanya Diana pada Fahry dan saat itu Fahry juga menduga yang di dalam toilet tersebut adalah Icha.


"Icha," Panggil Diana.


"Icha, apa kamu ada di dalam?" teriaknya lagi.


Tidak lama terdengar suara sahutan dari dalam toilet.


"Iya, ini aku. sebentar ya," sahut Icha.


Diana mengeha nafas lega, akan tetapi tidak dengan Fahry yang masih mematung denga perasaan yang bertanya-tanya.


Ceklek!


Pintu kamar mandi terbuka, terlihat mata Icha yang sembab.


"Icha. kamu menangis?" tanya Diana langsung.


Icha menggeleng kepalanya pelan.


"Kamu jangan berbohong. Kita sudah bersahabat lama, kamu tidak bisa berbohong."


mendengar perkataan sahabatnya, Icha langsung memeluk tubuh Diana dan kembali menangis.


melihat itu, Fahry pergi dari tempat tersebut, tidak ingin mengganggu.


.


.


.