
Tiba di kos, Fahry yang dibuat heran oleh Ifan sahabatnya. Duduk di teras sambil melihat motor terparkir di teras yang masih terlihat mengkilap.
“Assalamualaikum ... Ifan, apa yang kamu lakukan? kenapa duduk di lantai?” tanya Fahry heran.
“Ada yang mengirim motor ini kemari. Belum sempat aku bertanya, mereka sudah pergi. Apa kamu membeli motor, Fahry?” tanya Ifan.
“Jawab dulu salamnya!”
“Maaf. Waalaikumsalam,” sahut Ifan.
“Ini motor kamu?” tanya Ifan lagi.
Fahry tidak menjawab, ia malah meninggalkan Ifan yang sedang bertanya-tanya siapa pemilik motor tersebut.
“Fahry. Kamu berdosa, aku sejak tadi bertanya kepadamu!” kesalnya mengikuti Fahry dari belakang.
“Iya, maaf. Itu memang motor ku,” sahut Fahry pelan dan hampir tidak terdengar.
“Motormu?” tanya Fahry memastikan lagi.
“Iya,” sahut Fahry.
“Wah, keren dong.”
“Bukan aku yang membelinya.”
“Maksudnya? Ini bukan motormu?”
Terlihat Fahry menghela nafas.
“Itu motornya Abang Icha. Dia memberikannya kepadaku,” sahutnya sambil meregangkan ototnya duduk di kursi.
“Wih, enak banget di belikan calon kakak ipar,” goda Ifan.
“Apaan sih. Aku dan Icha hanya berteman, Abangnya juga sangat baik kepadaku.”
“Ya awalnya hanya teman, lama-lama akan menjadi istri. Aamiinn ...” goda Ifan.
Fahry hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lalu beranjak dari tempat duduknya meninggalkan Ifan di sampingnya.
🌹🌹🌹
Dika baru saja tiba di rumahnya, tidak lama juga pak Heri datang. Namun, ia tidak datang sendirian, melainkan ada Aditya bersamanya.
“Kalian baru pulang juga?” tanya pak Heri keluar dari mobil di susul oleh Aditya.
“Iya, Pa.”
“Kenapa pria ini datang lagi kemari? Pria ini yang menatap Icha dengan tidak sopan waktu kemari dulu!” kesal Dika dalam hati.
Dika membuka pintu mobil yang ada di belakang, mempersilahkan adik dan kekasihnya keluar.
Pak Heri menatap wanita yang baru saja keluar, wanita biasa dan juga memakai pakaian yang sederhana.
Pak Heri mengajak Aditya masuk dan benar saja. Sejak keluar dari mobil, netra Aditya selalu tertuju pada Icha.
Pak Heri mengajak Aditya ke ruang kerjanya. Karena memang ada bisnis yang ingin mereka sepakati.
Sedangkan Dika memperkenalkan Indah kepada Mamanya, mereka berbincang hangat di ruang tamu.
Indah bisa menyesuaikan diri dengan siapa saja, termasuk orang yang baru ia kenal.
“Apa kalian satu pekerjaan?” tanya Bu Sintya pada Indah.
“Iya Bu,” sahut Indah dengan sopan.
“Saya tinggal sebentar ke kamar,” pamit Dika pada Indah.
Indah mengangguk.
Saat Dika beranjak dari duduknya, bersamaan pak Heri juga keluar dari ruang kerjanya dan mengantar Aditya ke teras rumah.
Setelah Aditya tidak terlihat lagi, pak Heri kembali masuk dan bergabung dengan mereka.
“Pa. Ini Indah, kekasihnya putra kita Pa.”
Indah mengulurkan tangannya lalu mencium punggung tangan pak Hari.
“Sudah, sudah!” pak Heri menarik tangannya dengan cepat.
“Kamu kekasihnya putraku?” tanya Pak Heri.
Indah mengangguk.
“Iya om.”
“Oh, baiklah. Kalian lanjut saja berbincang, aku ingin ke kamar dulu.”
Bu Sintya memperhatikan mimik wajah suaminya, yang terlihat tidak senang dengan kedatangan Indah.
Bukan Bu Sintya saja, Icha pun merasakan hal yang sama. Icha mencairkan suasana dengan memberikan Indah minuman.
“Kak Indah, ini di minum dulu.”
Icha menyerahkan gelas tersebut, Indah mengambilnya lalu meminumnya beberapa teguk.
Tak lama, Dika turun dengan pakaian yang berbeda. Karena sudah masuk waktu magrib, mereka salat berjamaah di salah satu kamar yang jarang di pakai.
Saat itu Dika yang menjadi imam mereka, pak Heri yang kebetulan lewat kamar tersebut, melihat mereka dari luar kamar. Hanya berdiri saja tanpa berniat ingin ikut menjalankan ibadah salat lima waktu.
Setelah melihat semua orang sudah selesai salat, pak Heri segera pergi dari tempat tersebut, agar tidak ada yang melihatnya.
“Ada apa sayang,” sahutnya mengusap lembut kepalanya sang putra.
“Rencana aku akan melamar Indah dalam waktu dekat ini,” Ujarnya menatap mamanya.
Sedangkan Icha dan Indah sudah keluar dari kamar tersebut, setelah salat mereka ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
“Apa Mama setuju?” tanya Dika.
Bu Sintya tersenyum.
“Mama sih sangat setuju. Selain cantik, Indah juga ternyata wanita yang Sholeha. Bahkan sangat sopan kepada orang tua,” puji Bu Sintya pada calon istri putranya.
“Yang terpenting adalah kalian bahagia sayang, itu sudah cukup untuk Mama.”
“Terima kasih, Ma. Apa Mama mau membicarakan ini dengan Papa?”
“Iya, sayang. Mama akan bicara ini dengan Papa nanti malam,” Ujar Bu Sintya sembari melepaskan mukenanya.
Dika merebahkan kepalanya di kaki sang Mama, Bu Sintya menatap wajah sang putra yang menutup matanya.
“Ajarkan anak dan istrimu kelak, jangan biarkan keluargamu minim dalam hal agama, jangan contohi seperti Mama. Mama sangat menyesal, kenapa baru sekarang mempelajari hal agama.”
Dika membuka kelopak matanya, tampak Bu Sintya menyeka air matanya yang hampir saja terjatuh.
“Ma, tidak ada kata terlambat untuk mempelajari itu semua. Selama kita masih bernafas, bahkan jantung masih berdetak. Allah memberi kesempatan kita untuk bertobat,” ujar Dika.
“Semua ini berkat Icha, Ma. Dia membawa keberkahan dalam rumah ini, setelah Icha pulang dari pesantren.”
“Kamu benar Nak. Mama sangat menyesal telah melarangnya dulu,” ujarnya dengan rasa penuh penyesalan.
“Semua sudah berlalu Ma. Jangan mengingatnya lagi,” tutur Dika ia duduk dam mengusap air mata sang Mama.
“Terima kasih sayang, sudah memaafkan Mama.”
Dika tersenyum.
“Jadi ... bagaimana? Kapan kamu akan melamarnya?” tanya Bu Sintya setelah merasa lega sehabis menangis.
“Seminggu lagi Ma.”
“Baiklah, Mama akan mempersiapkan semuanya dan Mama juga akan berbicara kepada Papa nanti malam.”
“Terima kasih Ma.”
“Sama-sama sayang,” sahutnya.
“Ayo kita makan malam, Indah dan Icha pasti sudah menyiapkan semuanya.”
Dika mengangguk, ia menggandeng tangan wanita yang melahirkannya, sesekali mereka bercanda saat menuruni tangga.
Di meja makan, tidak ada percakapan. Makan malam itu terasa mencekam, apalagi pak Heri tak sepatah kata pun mengeluarkan kata-kata.
Dika dan Mamanya saling melirik satu sama lain, sedangkan Icha sibuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Karena dirinya memang sangat lapar, sejak siang tadi dirinya memang belum makan.
Pak Heri lebih dulu menyelesaikan makan malamnya, tanpa basa basi ia beranjak dari tempat duduknya setelah menghabiskan makan malamnya.
Namun, pak Heri menghentikan langkahnya.
“Icha ...” panggilnya.
“Iya Pa,” sahut Icha sejenak menghentikan makannya.
“Setelah makan, buatkan Papa kopi dan antar ke ruang kerja Papa,” ujarnya.
“Iya Pa,” sahut Icha.
Setelah mengatakan itu, Pak Heri kembali melangkah menuju ruang kerjanya.
Sebenarnya ada rasa takut salam diri Indah, apa lagi melihat Papanya Dika begitu sangat dingin dan wajahnya pun datar.
Namun, ia berusaha menyembunyikan ketakutannya.
“Indah, makan yang banyak. Biar seperti Mama, besar!” guraunya untuk mencairkan suasana.
Semua orang terkekeh mendengar ucapan Bu Sintya.
“Terima kasih Bu. Tapi, Indah sudah kenyang.”
“Jangan panggil Ibu dong. Panggil, Mama saja sama sepeti Icha dan Dika. Karena sebentar lagi, kamu akan menjadi menantu Mama.”
Indah tersenyum.
“Iya, Ma.”
“Nah, gitu dong. Kedengarannya lebih baik,” Ujar Bu Sintya sembari tersenyum.
Setelah makan, Bu Sintya dan Indah ke ruang tamu untuk mengajaknya berbincang. Sedangkan Icha masih di dapur berbicara dengan para pekerja dapur, Dika masuk ke kamarnya karena mengambil dompet dan ponselnya karena akan mengantar kekasihnya untuk pulang ke rumah Pak Candra.
.
.
.
Terima kasih banyak sudah memberi dukungan kepada Author.
Jika ada salah dalam penulisan mohon jangan di buly😊🙏 karena disini Author masih belajar.
Maaf jika masih ada kekurangan dalam penulisan, harap di maklumi nanti akan Author revisi ulang.