Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 55



Plak!


Tamparan keras mendarat di pipi mulus Anggun, hingga membuat sang pemilik mengaduh kesakitan.


“Kamu berubah sekarang! Sudah berani kamu sekarang!” bentak Dino tanpa merasa bersalah sedikitpun.


“Aku tidak peduli!” murka Anggun sambil memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan keras Dino.


“Kita sudah bukan lagi suami istri. Jadi, mulai sekarang jangan pernah menghubungiku lagi!” pekik Anggun berlalu pergi meninggalkan Dino.


Anggun sangat kesal terhadap Dino yang secara tiba-tiba menamparnya, entah kesalahan apa yang ia perbuat.


“Argghh ...” pekik Dino menendang udara.


Saat tiba di dalam mobil, Anggun langsung melaju dan meninggalkan tempat tersebut.


“Sialan, jadi aku datang kemari hanya untuk menerima tamparan dari dia!” geram Anggun masih mengendarai mobil tersebut.


Dengan perasaan yang sangat kesal, Anggun mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi menuju ke kantor.


Setibanya di kantor, bersamaan dengan sang Papa juga yang baru saja memarkirkan mobilnya.


“Anggun,” gumamnya melihat Anggun baru keluar dari mobilnya dengan tergesa-gesa melangkah menuju lift.


“Dari mana dia?” tanyanya dalam hati.


Pak Heri melangkah menuju lift, lalu menekan tombol lift.


“Dari mana kamu?” tanya pak Heri yang baru saja membuka pintu ruangannya.


Anggun mengernyit heran, dari mana papanya bisa mengetahuinya.


“Maksud Papa? Anggun tidak mengerti,” tanya Anggun.


“Jangan pura-pura bodoh! Apa kamu menemui Mantan suamimu? jawab!” bentak pak Heri.


Anggun mengangguk pelan.


Pak Heri berdecap kesal.


“Kenapa, kamu menemuinya? Apa kamu ingin kembali padanya?!” tanya pak Heri menatap tajam putrinya.


“Ti-tidak Pa, Anggun juga tidak ingin rujuk padanya.”


Pak Heri menghela nafas lega.


“Jangan pernah, berpikir untuk kembali padanya. Jangan mengecewakan Papa, pertunanganmu sudah di tetapkan bulan depan jangan membuat Papa malu seperti Icha!” ujar pak Heri mengingatkan.


“Iya Pa,” sahut Anggun mengerti.


“Bagus,” ujar pak Heri menepuk pelan bahu putrinya dan meninggalkannya keluar dari ruangan.


🌹🌹🌹


Di kantor, Dika mengumpat kesal.


“Astaghfirullah ...” Dika baru tersadar, sambil menghela nafasnya.


Ia baru saja mendapat kabar dari teman lamanya, dan ternyata ayah dari temannya yang akan menikah dengan Anggun adiknya.


“Aku sudah curiga dengan ini. Kok Papa tega, lagi-lagi mengorbankan putrinya.”


“Apa sih yang Papa inginkan,” kesal Dika sambil memijit keningnya.


Dika mengambil ponselnya mencoba untuk menghubungi adiknya.


Tut! Tut!


Suara panggilan terhubung.


“Halo, ada apa menghubungiku?” ketus Anggun.


“Anggun, aku ini Abangmu jaga bicara mu!”


Terdengar suara helaan nafas Anggun dari dalam ponsel miliknya Dika.


“Ada apa?” tanya Anggun pelan.


“Bagaimana kabarmu?”


“Baik,” sahut Anggun singkat.


“Anggun, Abang dengar kamu ingin menikah lagi?”


“Iya,” lirih Anggun.


“Kenapa? Bagaimana dengan suamimu? Bagaimana bisa kamu menikah dengan orang lain, saat masih menjadi status istri orang!”


“Aku sudah bercerai!”


“Oh ya. Benarkah? Apa ini ada hubungannya dengan Papa?”


Anggun terdiam, akan tetapi masih menempelkan benda pipih tersebut di daun telinganya.


“Anggun, kenapa diam? Cepat katakan,” ujar Dika lagi.


“Tidak. Ini kemauanku sendiri, Abang. Papa tidak ikut dalam hal ini, aku dan Dino sepakat untuk berpisah,” sahut Anggun berbohong.


“Benarkah? Begitu cepat sekali kamu langsung menikah, belum sampai tiga bulan. Apa ...” ucapan Dika di sela oleh Anggun.


“Ini keputusan Anggun sendiri, Abang tidak perlu ikut campur! Abang urus saja adik Abang itu, yang sudah membuat malu Papa!” ketus Anggun langsung mengakhiri panggilannya.


“Entah apa yang Papa katakan pada Anggun, tentang Icha.”


Dika menghela nafas kasar, entah apa yang di perbuat oleh orang tuanya dulu. Sehingga keluarganya harus seperti ini, sesungguhnya ia tidak menginginkan keluarganya harus terpecah belah seperti ini.


🌹🌹🌹


Siang ini Icha dan Indah sedang memasak cukup banyak, karena ada anak-anak yang ingin datang ke rumah mereka dan juga sang Mama juga ingin berkunjung ke rumah.


“Bagaimana? Apa kamu sudah bertemu dengan orang tuanya Fahry?” tanya Indah di sela masaknya.


“Mas Fahry sudah tidak punya orang tua kak, kalau saudara dari orang tuanya ada. Tapi, ada di luar daerah.”


“Oh.” indah mengangguk mengerti.


Saat pulang dari tenda tempat korban banjir yang mengungsi, mereka mampir di salah satu tempat pemakaman umum.


Dan untuk pertama kalinya Icha melihat suaminya meneteskan air mata.


Flashback On.


“Mas, rumah ibu dimana?” tanya Icha menempelkan dagunya di bahu suaminya dari belakang.


“Iya, sebentar lagi kita akan bertemu Ibu,” sahut Fahry masih mengendarai motornya dengan santai.


Icha mengangguk.


Tidak lama mereka tiba di tempat pemakaman umum, Icha mengernyit heran.


“Mas, ini makam?” tanya Icha masih belum turun dari motor.


“Iya. Ini tempat peristirahatan terakhir Ibuku dan juga Ayahku. Mereka sudah tiada,” sahut Fahry.


“Mas. Maafkan aku, sungguh tidak mengetahuinya Mas,” ujar Icha merasa bersalah.


“Minta maaf kenapa? Kamu tidak salah. Yang salah aku, belum memberitahumu.”


Icha mengangguk, lalu turun dari motor. Mereka bergandengan tangan masuk ke area makam tersebut.


Fahry berjongkok di samping salah satu gundukan makam tersebut, di ikuti oleh Icha.


Mereka memanjatkan doa, tak sengaja Icha menangkap suaminya menghapus air matanya, bahkan berulang kali Fahry mengusapnya.


Icha mengusap pelan bahu sang suami, ia merasakan apa yang suaminya rasakan. Walaupun ia belum pernah merasakan kehilangan orang tua.


Flashback off.


“Icha, Icha!” panggil kakak iparnya sambil menggoyangkan lengannya.


“Astaghfirullah ... Icha, kamu kenapa? Istigfar dek,” ujar Indah melihat adiknya melamun.


“Astaghfirullahalazim ... maaf kak,” ujar Icha langsung tersadar.


Ia segera mematikan kompornya karena mencium aroma gosong.


“Kamu kenapa dek?”


“Ya Allah kak, ikannya gosong,” Ujar Icha melihat ke dalam wajan.


“Astaghfirullah ...” mereka terkekeh melihat ikan yang sangat kering, hampir gosong.


“Alhamdullilah tidak terjadi apa-apa. Icha duduk dulu, biar Kakak yang memasak,” usul Indah.


“Terima kasih, Kak.”


Drrrttt !


Ponsel milik Icha bergetar, memperlihatkan panggilan masuk dari Mamanya.


“Mama,” lirihnya segera menggeser untuk menerima panggilan.


“Assalamualaikum, Ma.”


“Waalaikumsalam, sayang. Mama sudah di depan, tapi Mama bingung rumah Icha yang mana?” tanya Bu Sintya karena melihat ada beberapa rumah yang hampir sama.


“Sebentar Ma, Icha keluar dulu.”


Sambil membawa ponsel miliknya, alhamdullilah Icha selalu mengenakan hijab saat keluar kamar.


Ia melepaskan hijabnya saat di kamar, disaat berdua dengan suaminya saja.


“Ma, Icha disini!” panggil Icha setengah berteriak melambaikan tangannya.


Bu Sintya menoleh ke sumber suara, netranya tertuju pada putrinya yang melambaikan tangannya.


“Maaf, sayang. Mama merepotkanmu,” ujar Bu menghampiri Icha.


“Tidak apa-apa Ma. Ayo masuk, kak Indah sudah menunggu kita.”


“Iya, sayang.”


Bu Sintya menggandeng tangan putrinya masuk ke dalam rumah, Bu Sintya menatap sekeliling rumah Icha.


Rumah yang tidak terlalu besar, sederhana namun nyaman. Saat masuk ke dalam rumah, suasana yang begitu sejuk.


“Assalamualaikum Ma,” sapa menantunya Indah.


“Waalaikumsalam Sayang. Apa kabar?”


Bu Sintya memeluk menantunya tersebut.


“Alhamdullilah baik, Ma. Mama dan Papa sehat?” tanya Indah.


“Alhamdullilah, seperti yang Indah lihat.”


“Alhamdulillah,” ujar Icha dan Indah bersamaan.


“Mama duduk dulu, biar Icha yang buatkan teh hijau.”


“Icha tidak perlu. Kamu dan Mama mengobrol saja, biar Kakak yang membuatkan teh dan melanjutkan memasaknya.”


“Tapi, Kak ...”


“Icha, jangan menolak ya,” ujar Indah lembut.


Karena ia tahu, jika ibu mertuanya sangat merindukan putrinya.


“Terima kasih, Kak.”


Indah mengangguk.


“Terima kasih sayang. Mama sayang beruntung mempunyai menantu yang begitu perhatian, dan lebih beruntung lagi putranya Mama. Sudah mendapatkan istri yang cantik, baik hati lagi,” tutur Bu Sintya.


“Yang sangat beruntung adalah, Indah mempunyai keluarga yang baik hati Ma. Serasa Indah mempunyai Ibu kembali,” tutur lembut indah.


Dengan secara tiba-tiba, air menetes keluar dari netranya.


Bu Sintya langsung memeluk menantunya, berulang kali mencium pucuk kepalanya.


Bu Sintya melepaskan pelukannya, lalu menatap netra yang hitam legam menantunya yang terlihat basah.


“Sayang. Jika Indah merindukan Orang tuamu, datanglah ke rumah Mama. Mama adalah orang tuamu juga sekarang,” tutur lembut Bu Sintya lembut, sambil mengusap sisa air mata.


Indah mengangguk.


“Iya, Ma.”


Icha tersenyum melihat antara mama dan kakak iparnya, terasa hangat melihat mereka yang saling berpelukan.


Namun, senyum itu langsung luntur ketika teringat Papanya.


“Aku sangat bahagia sekarang aku bisa memeluk Mama, tapi akan terasa lengkap jika Papa dan kak Anggun juga berada disini. Apa aku begitu serakah hingga menginginkan semuanya,” gumam Icha dalam hati.


“Icha, kok melamun?” tanya Bu Sintya melihat tatapan kosong putrinya.


“Hah, enggak kok Ma,” pungkas Icha.


“Sejak tadi, Kakak perhatikan Icha banyak melamun. Apa yang Icha pikirkan?” tanya Indah.


“Tidak ada kak,” sahut Icha memperlihatkan senyumnya.


“Jika ada sesuatu yang membuat Icha jadi ke pikiran, jangan di pendam sendiri. Sebaiknya bicarakan saja, siapa tahu kami bisa membantu.”


“Iya, kak. Untuk saat ini tidak ada yang Icha pikirkan,” tutur Icha lagi.


“Baiklah, sekarang kamu dan Mama mengobrol saja.”


Icha mengangguk.


Melihat Kakak iparnya pergi ke dapur, Icha membawa sang Mama ke kamar tamu. Untuk mengajak Mamanya beristirahat.


Saat Bu Sintya mendaratkan tubuhnya di kasur empuk, karena usia yang sudah tidak muda lagi, membuatnya begitu cepat terasa lelah.


“Ma,” ujar Icha menghampiri Mamanya dan memeluknya sambil berbaring.


“Iya, sayang.”


“Bagaimana kabar Papa dan Kak Anggun? Aku sangat merindukan mereka,” ujar Icha masih mendekap tubuh sang Mama.


Bu Sintya menghela nafas.