
“Jadi begini Pak Dika, izinkan saya menjelaskan terlebih dahulu.”
“Silakan,” sahut Dika.
“Beliau mempunyai bisnis di tempat lain yang tidak di ketahui oleh orang lain, kecuali saya.
Bisnis tersebut pak Heri dirikan setelah bisnisnya saat ini melonjak naik. Beliau diam-diam membangunnya tanpa di ketahui orang lain, termasuk nona Anggun.
Semua itu memang sengaja beliau dirikan untuk kalian semua, untuk menebus rasa bersalahnya terhadap kalian.”
Dika tercengang mendengar ucapan pengacara tersebut, ia tidak habis pikir selama tiga bulan di tinggal oleh mamanya, membuat pak Heri langsung berubah.
Ia bahkan tidak mengetahuinya, jika pak Heri diam-diam menyantuni anak yatim dan fakir miskin.
“Mungkin ada yang kurang jelas, bisa tanyakan kepada saya. Saya dengan senang hati menjawabnya,” tutur pengacara tersebut.
“Apa ada pesan selain ini untuk kami?” tanya Bu Sintya.
Pengacara tersebut tersenyum lalu mengangguk.
“Ini ada surat tulisan tangan beliau untuk menantu Ibu, yaitu Fahry. Saya tidak mengetahui apa tulisan tersebut, karena beliau hanya ingin Fahry yang membacanya sendiri.”
Fahry mengambil kertas putih yang sudah di lipat tapi tersebut, ia tidak membukanya langsung. Ia berniat akan membuka di kamarnya nanti.
“Baik pak Dika, saya rasa tugas saya sudah selesai. Jika ada yang kurang mengerti, atau ada yang ingin tanyakan bisa langsung hubungi saya. Pak Dika pasti sudah menyimpan nomor telepon saya,” tutur pak pengacara tersebut.
“Iya, Pak. Kami sangat berterima kasih pada Bapak, sudah membantu almarhum Papa saya,” ujar Dika.
“Itu sudah tugas saya dan saya juga sudah berteman lama dengan beliau. Mendengar kabar ini, saya dan istri saya sangat terkejut. Maaf, saya baru bisa datang sekarang, kami baru mendengar kabar, karena kami baru datang dari luar negeri semalam.”
“Iya, Pak. Tidak perlu meminta maaf, kami mengerti dengan kesibukan Bapak.”
“Baik, saya permisi dulu. Karena ada klien yang sudah menunggu saya,” pamitnya.
“Iya, Pak.”
Dika mengulurkan tangannya, begitupun dengan Fahry mereka bergantian untuk bersalaman tangan.
Setelah mengantar pak pengacara tersebut ke teras rumah, Fahry dan Dika kembali masuk untuk duduk di tempat mereka semula.
“Mama tidak menyangka Papa melakukan ini semua untuk kita, Mama merasa sangat bersalah pada Papa.”
Bu Sintya kembali menangis, Anggun yang di samping langsung memeluk sang ibu dengan pelukan hangat.
Tak dapat di pungkiri ia juga merasa sangat bersalah pada papanya, apa yang di pikirkan mereka dulu ternyata tidak benar adanya.
“Papa sudah menebar kebaikan di luar sana Ma, tanpa kita ketahui. Abang merasa sangat bersalah pada Papa pernah marah pada Papa,” tutur Dika tanpa sadar meneteskan air mata, Indah istrinya memeluknya dari samping.
“Kita akan menyumbang uang ini atas nama Papa, Ma. Agar amal Jariyah selalu mengalir di dunia,” usul Icha.
Fahry pun mengangguk, tanda setuju apa yang di ucapkan oleh istrinya.
“Mama setuju sayang,” sahut Bu Sintya.
“Baiklah, sekarang berhenti bersedih. Kehilangan boleh, tapi jangan sampai berlarut-larut, lebih baik kita salat berjamaah dan mengirim doa untuk Papa,” tutur Indah.
Semua orang mengangguk.
“Terima kasih sayang,” ujar Bu Sintya pada menantunya itu.
Mereka semua bergegas beranjak dari tempat duduk, mereka mengambil wudhu karena akan melaksanakan salat berjamaah.
Kali ini Dika yang menjadi imam mereka, bahkan Anggun juga ikut salat berjamaah dengan mereka.
Saat sujud terakhir, Anggun meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya lagi ia melaksanakan salat, setelah bertahun-tahun lamanya.
Malam hari, semua orang baru saja pulang dari rumah mereka. Karena malam ini mereka masih melakukan tahlilan dan mengundang beberapa anak yatim piatu juga.
Anggun duduk di balkon dengan mukena yang masih melekat di tubuhnya, ia memandang ke arah langit yang penuh bertaburan bintang.
“Anggun, apa boleh Abang duduk?” tanya Dika yang tiba-tiba datang ke kamarnya.
Anggun yang fokus memandang ke arah langit, langsung teralihkan dengan kedatangan Abangnya.
“Iya, Bang. Silahkan,” sahutnya.
“Kenapa melamun?”
“Abang sudah menyewa pengacara untuk memenangkan hak asuh putrimu dan kamu tidak perlu menjual mobil untuk membayar pengacara,” ujar Dika tanpa basa basi.
Anggun tercengang mendengar perkataan yang di ucapkan oleh abangnya tersebut, bahkan ia belum mengatakannya sama sekali pada Dika.
Anggun baru ingat, jika Dika mempunyai anak buahnya yang bertebaran di mana-mana.
“Abang, ini ....”
“Sstt ... jangan tanya apapun, Abang ingin yang terbaik untuk adik-adikku,” sela Dika.
Anggun merasa terharu dan langsung memeluk Abangnya.
“Terima kasih Bang. Maafkan Anggun selama ini ....”
“Sstt ... semua itu masa lalu, Abang ingin kamu benar-benar berubah.”
Anggun mengangguk.
“Iya, Bang.”
Masih dalam dekapan Abangnya.
“Ekhem ... kalian di sini ternyata, aku mencari kalian sejak tadi.”
“Eh iya Sayang kemari,” ujar Dika mengulurkan tangannya.
“Kakak, biarkan aku pinjam suamimu sebentar saja. Aku sangat merindukan pelukan hangat Abang.”
“Iya, Kaka mengizinkan. Asalkan kembalikan dia padaku saat ingin tidur, aku tidak bisa jauh darinya saya tidur malam,” Ujarnya terkekeh.
“Hahaha kakak, tenang saja. Aku memeluknya hanya untuk beberapa menit saja,” sahut Anggun.
Mereka tertawa bersama, apalagi Dika terlihat dari wajahnya yang terlihat bahagia karena adiknya sudah kembali.
Sementara di kamar Icha dan Fahry, mereka juga duduk di balkon bersiap ingin membuka kertas tersebut.
Sebelumnya mereka harus menidurkan putra mereka terlebih dahulu.
“Kita buka ya?”
“Iya, Mas. Buka saja,” sahut Icha dengan daku yang menempel pada bahu suaminya.
Perlahan Fahry membuka kertas yang terlihat rapi tersebut, mereka mulai membacanya perlahan hanya dalam hati.
Assalamualaikum wr ... wb.
Teruntuk menantu ku Fahry, kesalahan Papa mungkin sulit untuk di maafkan. Tapi, Papa akan selalu minta maaf terutama pada mu dan Icha. Kesalahan terbesar ku adalah, pernah berniat ingin memisahkan kalian dan pernah mencelakaimu. Tapi, semua itu tidak jadi aku lakukan, setelah pertemuan kita di kantor itu.
Fahry, kamu pria pertama yang pernah Papa temui, berani menerjang badai untuk melindungi istrimu, Papa bangga padamu.
Fahry, mungkin kamu membaca surat ini, Papa sudah tiada.
Fahry, satu pesan Papa untukmu, tolong jaga putri ku Icha untukku. Jangan sakiti berlianku, dialah malaikat kecilku yang paling terakhir, dia pelita hidupku.
Papa sangat menyayangi kalian semua, Fahry Papa pernah mengikuti kalian berdua yang begitu bahagia membagikan makanan untuk para lansia, fakir miskin dan anak yatim piatu, bahkan Papa pernah memotret kalian dari kejauhan.
Terima kasih sudah mengajarkan Papa pentingnya kebaikan terhadap orang lain, Papa meletakkan foto kalian berdua di dalam laci meja yang paling bawah.
Papa menyayangi kalian semua.
Wassalamu’alaikum.
Setelah membaca itu, Icha langsung beranjak dari tempat duduknya. Ia mencari foto letak tersebut, ia memeriksa semua laci akan tetapi ia tidak menemukannya.
Ia melihat satu lemari kecil yang belum ia buka, dan benar saja ia menemukan amplop coklat di dalamnya.
“Sayang, sudah ketemu?” tanya Fahry menyusul istrinya.
Icha mengangguk.
Mereka membuka amplop coklat tersebut dan benar saja ada begitu banyak foto mereka berdua yang sedang membagikan sembako pada orang-orang.
Icha menangis memeluk suaminya, ternyata selama ini papanya membuntuti mereka.