Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 110



Cukup lama menunggu akhirnya giliran mereka di panggil, Dika dengan setia mendorong kursi roda istrinya.


Setibanya di dalam ruangan, salah satu perawat meminta Indah untuk berbaring dan mulai mengoleskan jelly di perutnya untuk pelumas.


Lalu mulai memutar alat di tersebut di atas perut bagian bawah, terlihat jelas di layar monitor bentuk masih kecil seperti biji kacang.


Dika dan Indah hanya bisa menatap layar tersebut, tanpa mengerti apa artinya.


“Apa kalian mengerti tanda ini apa?” tanya Dokter tersebut pada keduanya, menunjukkan tonjolan di layar monitor tersebut.


Mereka sama-sama menggelengkan kepalanya.


“Ini adalah anak kalian yang masih sebesar biji kacang di rahim istrimu, sangat kecil karena perkiraan usianya baru menginjak empat Minggu,” tutur Dokter tersebut.


Mereka saling menatap satu sama lain, tanpa sadar Indah meneteskan air mata.


“Bang, aku hamil?” tanyanya dengan suara bergetar.


Dika mengangguk, sembari mengusap air mata istrinya.


Setelah perutnya di bersihkan oleh perawat, mereka duduk di kursi depan dokter.


“Selamat ya Ibu, Bapak. Jaga kesehatan istirahat yang cukup, yang terpenting adalah jangan terlalu banyak pikiran. Saya akan memberi resep obat vitamin untuk Bumil Nya, jangan lupa periksa kandungannya setiap sebulan sekali.”


“Terima kasih Dok. Bagaimana keadaan calon anak kami, apakah dia baik-baik saja?” tanya Indah sedikit cemas, karena dirinya sempat pingsan.


“Janinnya sehat, awal kehamilan pada semua wanita memang berbeda-beda. Ada yang tidak pernah merasakan mual, pusing dan lain sebagainya. Ada juga yang bawaannya mual pusing, jangan khawatir semua itu bawaan bayi yang ada di kandungan. Yang terpenting Nona Indah jaga kesehatan, makan makanan yang bergizi. Seperti kaya akan asam folat, protein, dan makanan tinggi serat.”


“Baik Dok. Terima kasih banyak,” ujar Indah.


“Sama-sama,” sahutnya.


Mereka bergantian mengulurkan tangan kepada dokter tersebut, lalu keluar ruangan dengan senyum yang mengambang.


Tiba di dalam mobil, Dika langsung memeluk erat istrinya karena sangat bahagia.


“Alhamdulillah ... doa kita selama ini di ijabah sama Allah. Sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, Sayang.”


“Iya Bang. Terima kasih sudah setia bersamaku,” tuturnya lembut membalas pelukan suaminya.


“Aku yang sangat berterima kasih, karena kamu sudah mau mengandung anak untukku. Terima kasih Sayang.”


Cukup lama mereka saling berpelukan, karena begitu bahagianya seakan enggan untuk melepaskan dekapannya pada istrinya.


“Sudah. Sekarang kita pulang dan memberi kejutan kabar bahagia ini pada Mama,” usul Indah.


Dika melepaskan pelukannya, lalu berulang kali mengecup kedua pipi istrinya.


“Iya. Kita pulang sekarang,” tuturnya lembut sekali lagi ia mencium istrinya, bukan di pipinya melainkan di bibir ranum istrinya.


“Sayang, sudah! Kita masih di mobil, nanti orang berpikir kita berbuat mesum,” ujar Indah.


“Haha iya, mesum sama istri sendiri tidak ada yang melarang!” pungkas Dika sambil menghidupkan mesin mobilnya.


“Iya, iya aku mengerti. Tapi, tidak di depan umum juga sayang,” tutur Indah lembut mengusap pelan bahu suaminya.


“Iya, maaf ya istriku yang cantik.”


Indah tersenyum, ia mengalihkan wajahnya ke arah luar, agar tidak terlihat oleh suaminya jika wajahnya saat ini sedang merah merona.


🌹🌹🌹


Di ruang persidangan Anggun menangis haru, bahkan ia langsung bersujud syukur. Karena ia memenangkan hak asuh putrinya, Icha yang mendengarkan nya ikut terharu.


“Mas, Alhamdulillah ... Kaka Anggun memenangkannya Mas,” ujarnya terharu.


“Alhamdulillah,” sahut Fahry memeluk istrinya.


Anggun menghampiri adiknya lalu memeluknya erat.


“Dek, alhamdulillah. Kita akan jemput Naura sekarang Dek,” ujar Anggun masih memeluk adiknya.


Mereka saling melepaskan pelukannya, setelah persidangan selesai tanpa menunggu lagi mereka langsung pergi ke rumah mantan suaminya untuk menjemput putrinya.


Setibanya di sana, rumah mantan suaminya tertutup rapat bahkan tirai jendela pun tidak ada yang terbuka.


Ting! Tong!


“Apa tidak ada orang, Kak?” tanya Fahry.


“Ada. Mobilnya juga ada,” sahutnya.


“Huftt ... susah sekali ingin bertemu dengan putri ku sendiri,” keluh Anggun terduduk lemas di depan pintu.


“Jangan menyerah Kak. Kita cari cara untuk masuk ke dalam rumah,” ujar Icha.


Fahry melangkah ke samping rumah, ia melihat salah pintu yang terbuka sebagian.


“Kak, apa pintu jalan menuju masuk ke rumah ini juga?” tanya Fahry.


Anggun baru tersadar.


“Oh iya. Kenapa aku melupakan itu.”


“Ayo kita masuk melalui pintu itu,” ajak Anggun lebih dulu melangkah ke pintu tersebut.


Saat tiba di depan pintu, Anggun terkejut melihat perempuan paruh baya berdiri di depan pintu tersebut.


“Bi,” panggil pelan.


“Nona, Bibi sengaja membuka pintu ini hanya sebagian. Maaf, Bibi tidak di perbolehkan untuk membuka pintu.”


“Aku mengerti Bi. Terima kasih ya,” tutur Anggun langsung memeluk wanita paruh baya tersebut.


“Sekarang cepatlah jemput putrimu, Nona. Tuan akan berangkat sebentar lagi,” tuturnya.


“Iya, Bi.” Melepaskan pelukannya.


Mereka melangkah ke lantai atas, dimana kamar mantan suaminya berada.


Ceklek! Anggun langsung pintu kamar.


Mantan suaminya yang sedang bersiap sedikit terkejut melihat kedatangan Anggun.


“Dimana putriku. Kamu jangan curang, pengadilan sudah memutuskan jika Naura akan ikut bersama ku!” seru Anggun.


Naura yang sedang tertidur pulas, langsung terbangun dan duduk.


“Hei! Pelankan suaramu!” bentaknya.


“Apa begitu sikapmu meminta Naura?! Kamu bisa meminta dengan cara baik-baik.”


“Oh ya. Lalu kenapa kamu tidak membuka pintu rumah, kamu pasti mengetahui jika aku sudah tiba di depan rumah!”


“Aku tidak mendengar suara bel berbunyi.”


“Ini semua pakaian Naura. Aku sudah mempersiapkan semuanya, bawa lah dia ikut bersamamu. Aku tidak menghalanginya, aku hanya minta satu syarat saja darimu.”


“Syarat?”


“Iya. Syaratnya, jangan melarang ku untuk bertemu putriku. Walaupun bagaimanapun, Naura adalah putriku. Aku minta maaf sudah pernah memisahkan kalian,” tuturnya menyerahkan tas besar tersebut.


Anggun mengernyit heran.


“Aku minta maaf pernah menyakitimu. Sepertinya aku sudah menerima karmanya, saat ini istri pertama ku sudah pergi meninggalkan ku dengan pria lain.”


Anggun menatap suaminya yang terlihat bersedih.


“Aku memang berniat ingin membawa Naura ke luar negeri, karena hanya dia yang akan menemaniku. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain Naura. Tapi, aku baru sudah menyadari jika Naura juga butuh kasih sayang Ibunya.”


Anggun hanya bungkam mendengar curahan hati mantan suaminya.


“Ini, bawalah dia bersamamu. Aku akan datang jika aku merindukannya,” Ujarnya.


Anggun mengambil putrinya dari gendongan mantan suaminya.


Sebelum berpisah, ia mencium seluruh wajah putrinya terlebih dahulu.


Tanpa menunggu lagi, Anggun langsung membawa putrinya pergi dari rumah tersebut.


Terlihat pria yang pernah singgah di hatinya tersebut meneteskan air matanya, karena harus berpisah dengan putri tercintanya.


“Aku sudah menerima karmanya sekarang, wanita yang ku banggakan bahkan aku rela meninggalkan kamu. Tapi, ia justru berkhianat sekarang,” gumamnya dalam hati melihat kepergian Anggun dan putrinya dari balkon rumahnya.