
Siang ini setelah melakukan shalat, Icha duduk di kursi yang terletak di belakang toko. Karena tempat itu biasa di gunakan untuk karyawan duduk dan beristirahat. Entah apa yang di pikirkannya, hingga tidak menyadari jika Fahry berdiri di depannya.
“Assalamualaikum Icha,” sapa Fahry.
“Waalaikumsalam,” sahutnya.
“Tidak baik melamun. Apa kamu sudah makan siang?” tanyanya.
Icha menggelengkan kepalanya.
“Ini untukmu, aku membawa dua kotak makan.”
Icha menatap kotak makanan yang di tangan Fahry.
“Jangan menolak rezeki,” ujar Fahry lagi.
“Terimakasih banyak,” sahut Icha mengambil kotak makan tersebut.
“Apa aku boleh duduk di sini?” tanya Fahry.
Melihat kursi kosong yang ada di depannya.
“Iya silakan.”
Fahry duduk di kursi tersebut, di meja tersebut bukan ada Icha dan Fahry saja. Melainkan ada karyawati satu lainnya, yang baru datang dan ikut bergabung bersama mereka.
Mereka makan bersama di meja tersebut, Fahry tampak lahap makan makanannya.
“Fahry,” panggil Icha di sela makan mereka.
“Apa aku boleh bertanya sesuatu?” tanya Icha.
“Iya. Kenapa harus meminta izin? Tanyakan saja, semoga aku bisa menjawabnya.”
Icha tampak mengeluarkan buku yang pertama kali ia beli pada Fahry, sekaligus pertemuan pertama mereka.
“Apa buku ini adalah karya mu?” tanyanya.
Fahry melihat buku yang ada di tangan Icha, lalu mengangguk.
“Kenapa?” tanya Fahry.
“Bukunya sangat bagus,” puji Icha karena buku tersebut menceritakan perjuangan seorang ibu sekaligus sebagai Ayah.
“Alhamdullilah, kalau Icha suka.”
“Buku itu menceritakan perjuangan seorang wanita. Banyak di luar sana yang ku temui, tidak menghargai perjuangan kedua orang tuanya. Mereka sungguh beruntung mempunyai orang tua,” Ujar Fahry tidak melanjutkan ucapannya.
Icha langsung teringat kepada orang tuanya, bagaimana dia kabur dari rumah demi masuk pesantren. Dirinya juga tidak mendengar ucapan orang tuanya saat itu.
“Ya Allah. Apakah aku salah satu anak durhaka kepada orang tua?” batin Icha.
“Icha,” panggil Santi salah satu karyawati yang duduk bersama mereka makan.
“Iya,” sahut Icha.
“Kenapa tidak di makan? Habiskan makannya, sebentar lagi kita masuk jam kerja.”
Icha mengangguk lalu kembali makan makanannya.
“Fahry. Apakah hari ini kamu akan ke tempat kemarin lagi?” tanya Icha.
“Insya Allah, sepulang kerja aku ke sana. Ada apa?” tanya Fahry.
“Ekhem...” deham Santi karena sejak tadi dirinya jadi obat nyamuk.
“Ada apa Santi? Apa kamu mau minum?” tanya Icha sambil membuka tutup botol untuknya.
“Terimakasih Icha.”
Santi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena sedikit malu.
Pembicaraan mereka terhenti, ketika bosnya datang memang Fahry untuk datang ke ruangannya.
“Maaf, bos memanggilku, aku masuk duluan. Assalamualaikum...” pamitnya.
“Waalaikumsalam...” sahut Icha dan Santi.
“Icha, sepertinya Fahry menyukaimu,” ujar Santi.
“Santi, jangan bergosip! Tidak baik,” ujar Icha kembali melanjutkan makannya yang hanya tersisa sedikit.
“Aku tidak bergosip. Tapi ini fakta,” ujar Santi lagi meyakinkan Icha.
“Aku dan Fahry sudah sangat lama bekerja di toko ini, aku sedikit banyak mengenalnya.”
Icha hanya tersenyum.
“Kok tersenyum sih. Aku serius dan aku juga sangat tahu Fahry.”
“Assalamualaikum ganteng,” ujar Icha memberi salam kepada bocah tersebut.
Karena belum bisa menjawab, bocah tersebut hanya tersenyum kepadanya.
“Waalaikumsalam aunty cantik,” sahut Diana.
“Aku mencarimu sejak tadi, kebetulan bertemu Fahry dia mengatakan kalian di sini.”
“Iya,” sahut Icha.
“Bu, Fahry itu sangat tampan dan sangat cocok dengan Icha yang cantik. Iya kan Bu?” tanya Santi kepada istri dari bosnya.
“Iya, cocok banget.”
Icha hanya tersenyum.
“Cantik dan tampan itu bonus dari Allah, semua di ciptakan dalam kekurangan pasti ada kelebihan,” sahut Icha.
“Iya kamu benar.”
Karena sudah habis waktu jam istirahat, Icha dan Santi kembali bekerja.
🌹🌹🌹
Sore itu, Fahry bersiap ingin pulang. Begitu pula dengan Icha, karena hari ini tidak membawa motor terpaksa ia harus menunggu Abang menjemputnya.
Icha menunggu duduk di kursi yang ada di luar toko, sedangkan Fahry baru keluar dari toko sambil mengenakan jaket miliknya.
Netranya tertuju pada Icha yang duduk sendirian.
“Icha, Apa Abangmu belum datang?”
“Sepetinya Abang banyak pekerjaan,” sahutnya.
“Jika Abang mu belum bisa menjemputmu, aku bisa mengantarmu.”
Ting!
Pesan masuk dari ponselnya.
“Assalamualaikum dek. Abang sedikit terlambat, karena ada meeting mendadak. Apa bisa Icha naik taksi saja? Karena kasihan Icha harus menunggu Abang terlalu lama.”
Pesan cukup panjang tersebut Abangnya Dika.
“Fahry, Apa aku tidak merepotkanmu?” tanya Icha merasa tidak enak selalu merepotkan Fahry.
“Tidak sama sekali,” sahut Fahry.
Icha mengangguk.
“Terimakasih Fahry.”
“Sama-sama,” sahutnya.
Icha naik ke atas motor milik Fahry, tentunya dengan Icha selalu memberi jarak agar mereka tidak bersentuhan.
“Maaf Fahry, ini bukan jalan menuju rumahku.”
Fahry mengernyit heran.
“Oh begitu. Jadi... kalian sudah pindah rumah.”
“Iya. Kami tinggal bersama kedua orang tua ku. Sebelumnya kami menyewa di rumah kemarin,” sahut Icha sedikit memajukan kepalanya saat berbicara, agar Fahry dalam mendengarkannya.
Fahry mengangguk.
Masih di atas motor, Icha bertanya pada Fahry.
“Fahry.”
“Iya,” sahutnya.
“Apa kamu sudah lama mengenal mereka, di tempat kemarin?”
Fahry langsung mengerti arah pertanyaan Icha, ia langsung menangguk.
“Aku sudah sangat lama mengenal mereka. Mereka sudah ku anggap sebagai keluargaku,” sahut Fahry.
“Ada apa?” tanya Fahry.
“Tidak. Aku hanya melihat mu begitu sangat akrab kepada mereka. Kapan-kapan, ajak aku jika kamu bertemu mereka lagi.”
Fahry tersenyum lalu mengangguk.
Fahry, kembali merasakan debaran jantungnya, apalagi melihat senyum Icha dari kaca spion motor miliknya.
Hingga ia berulang-ulang menghela napasnya, agar menetralkan kembali jantungnya yang terasa hampir saja copot.