Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 82



Pagi ini Aditya sudah bersiap, karena harus segera naik pesawat di khawatirkan jejak dirinya di ketahui oleh polisi.


Ceklek!


Saat membuka pintu, di kejutkan dengan beberapa orang pria yang berdiri tepat di hadapannya.


“Selamat pagi. Mau ke mana? Sangat terburu-buru sekali,” tanya salah satu pria tersebut.


“Siapa kalian? Aku tidak mengenali kalian! Jangan menghalangi jalanku, kalian akan tahu akibatnya!” ancam Aditya.


Bukannya takut, beberapa pria itu malah melangkah maju mendekatinya, bahkan Aditya mulai curiga dan perlahan memundurkan langkahnya.


“Apa benar anda yang bernama Aditya?” tanya pria tersebut berpura-pura tidak mengetahuinya.


“Bu-bukan,” sahutnya gugup sambil melangkah mundur.


“Jangan berbohong! Kami sudah tahu identitasmu, Pak Aditya!” ujarnya penuh penekanan.


“Cepat ikut ke kantor polisi dan jelaskan di sana,” ujar pria tersebut menarik tangan Aditya dan memborgolnya.


“Hei, lepaskan!” pekik Aditya.


Ia memberontak untuk di lepaskan, beberapa polisi menahannya agar tidak bisa kabur.


“Lepaskan, kalian salah orang!” sentaknya.


“Jangan berteriak, jelaskan di kantor polisi nanti!” bentak mereka tidak mau kalah.


Melihat polisi tersebut menodongkan senjata pada Aditya, hingga membuat dirinya terdiam.


“Kenapa diam?! Masih mau melawan?! Asal kamu tahu, semua anak buahmu sudah di tangkap dari mereka lah kami mengetahui keberadaanmu! Sekarang jangan mengelak lagi!” bentaknya.


“Cepat jalan!”


Aditya akhirnya menyerah, keinginannya hari ini yang ingin bertemu dengan Icha di halangi oleh polisi yang lebih dulu mengetahui keberadaannya.


Dengan langkah kaki yang berat, terpaksa dirinya harus mengikuti langkah beberapa polisi tersebut.


Sesampainya di mobil, Aditya melihat dua anak buahnya yang sudah dalam keadaan ter borgol.


“Bos,” panggil salah satu anak buahnya.


Aditya menghela nafas berat, rencananya gagal total untuk menemui Icha.


“Aku tidak akan mengampunimu Adita! Lihat saja, kamu tidak akan membiarkan kamu hidup tenang!” geramnya dalam hati.


“Cepat masuk!” bentak polisi tersebut langsung mendorong pelan tubuh Aditya yang hanya berdiri di depan pintu mobil, akan tetapi Aditya menahan kakinya.


Aditya menatap polisi tersebut, lalu tersenyum licik.


“Yakin semua anak buahku sudah di tangkap? Lihat saja apa yang di lakukannya pada Icha dan suaminya, hahaha ... kalian akan menyesal sudah menangkapku!” ujarnya tertawa lepas.


“Banyak bicara!” sentak polisi tersebut mendorong tubuh Aditya agar masuk ke dalam mobil.


🌹🌹🌹


Bu Sintya duduk termenung, ia membiarkan Indah mengurus putranya. Karena merasa gerah, Dika ingin mandi, akan tetapi Istrinya melarangnya karena takut mengenai lukanya yang masih basah.


Namun, Indah hanya membasahi tubuh suaminya dengan kain basah.


“Sayang, Mama ...” bisik Indah pada suaminya.


Karena melihat mertuanya yang duduk termenung.


Ada rasa bersalah yang mendalam pada suaminya, tanpa mencari kebenarannya terlebih dahulu hingga menuduh suaminya tanpa bukti.


Bahkan pergi dari rumah meninggalkan suaminya dengan kemarahan.


“Bang. Aku akan menjenguk Papa setelah ini,” ujar Indah sengaja berbicara sedikit nyaring, agar terdengar oleh ibu mertuanya.


“Iya, pergilah. Aku belum bisa menjenguk Papa, katakan padanya jika putranya sedang di rawat juga di rumah sakit ini. Oh ya, jangan lupa ajak berbicara Papa. Kasihan, sejak kemari pasti Papa kesepian,” sahut Dika dengan wajah sendu yang di buat-buatnya.


“Kamu tenang saja. Tapi, apa Abang bisa jalan ke kamar mandi jika ingin buang air kecil? Sepertinya, Indah akan sangat lama,” ujar Indah.


Tangannya masih beraktivitas membersihkan tubuh suaminya dengan pelan.


“Aku akan berusaha,” sahut Dika.


Dika melirik Mamanya yang tidak bereaksi sama sekali.


“Ada Mama bersamaku. Iya kan Ma?” ujar Dika melihat Mamanya.


“Hah? Eh iya. Eh bukan begitu, biar Mama saja ke ruangan Papa,” sahut Bu Sintya.


“Tidak perlu Ma. Mama pasti cape, biar Indah saja,” sahut Indah berpura-pura menolak sang Mama mertua untuk bertemu Papanya.


“Kamu harus merawat suamimu dan Mama juga akan bertemu suami Mama,” sahut Bu Sintya yang mulai memasukkan ponselnya ke dalam tas kecil miliknya.


“Baiklah, Ma. Jika Mama memaksa,” sahut Indah lembut.


“Mama pamit dulu,” pamit Bu Sintya mengusap pipi putranya.


“Iya, Ma. Hati-hati,” sahut Dika lembut.


Bu Sintya mengangguk.


Dika dan Indah, menatap kepergian Bu Sintya hingga keluar dari pintu tersebut. Lalu mereka tersenyum dan saling menatap satu sama lain.


“Semoga ini awal yang baik untuk Mama dan Papa kembali seperti dulu lagi, sayang.”


“Iya, bang.”


Indah masih membersihkan tubuh suaminya dengan menggunakan handuk yang kering, membersihkan sisa air yang masih menempel.


“Sayang, ini masih sakit?” tanya Istrinya melihat bahu suaminya yang sedikit ada noda darah di perban putih tersebut.


“Iya, karena efek obat biusnya mungkin sudah hilang, jadi sedikit sakit.”


“Muach ... muach ... cepat sembuh ya,” ujar Indah mengecup bahu Suaminya yang pelan.


“Ini,” ujar Dika menunjuk pipinya.


Cup! Cup!


Dua kali Indah memberi ciuman di pipi suaminya.


“Ini juga,” ujar Dika lagi menunjuk bibirnya.


“Abang, ini di rumah sakit,” bisik Indah takut akan terdengar orang.


“Tidak ada orang di ruangan ini selain kita berdua,” sahut Dika sambil memainkan kedua alisnya.


Memang di ruangan tersebut hanya Dika sendiri di rawat, karena pak Candra menyewa satu ruang rawat inap untuk merawat suami dari keponakannya tersebut.


“Tapi, Bang.”


Terlihat Dika menghela nafas.


“Baiklah jika kamu tidak mau, aku tidak memaksa,” sahutnya dengan suara sendu.


Indah merasa bersalah melihat wajah suaminya karena menolak permintaan suaminya.


Tanpa menunggu lagi Indah langsung mengecup bibir suaminya. Tanpa di diduga, Dika menahan tengkuk leher istrinya dan membenamkan bibir mereka sedikit memberi luma*an di sana.


Dika melepaskan istrinya, karena melihat istrinya seperti kesulitan bernafas.


“Abang! Katanya sakit!” protes Indah dengan nafas yang tersengal.


Dika terkekeh melihat wajah istrinya yang cemberut.


“Yang sakit bahuku, bukan bibirku.”


Dika mengusap bibir istrinya dengan menggunakan jarinya, menghapus sisa Saliva mereka yang masih menempel di bibir istrinya.


“Sayang. Aku ingin kita berkumpul seperti dulu lagi, bersama dengan adikku. Semoga masalah ini cepat berlalu,” ujar Dika menatap istrinya.


“Iya Bang. Aku sangat merindukan Icha, di saat sedang mengandung ia harus seperti ini. Begitu berat cobaan yang mereka hadapi,” ujar Indah tanpa sadar menitikkan air matanya.


“Kita berdoa, semoga Aditya cepat tertangkap beserta anak buahnya!” geram Dika saat menyebut nama Aditya.


Indah mengangguk sambil mengusap bahu sebelahnya suaminya dengan pelan.


Tok! Tok!


“Dika,” panggil pak candra yang langsung masuk.


“Paman, Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Dika sedikit cemas melihat pak Candra yang tergesa-gesa masuk dengan nafas yang naik turun.


“Huft ... kalian tenang. Ini berita baik. Sebentar,” Ujar pak Candra berulang kali menghela nafas.


Sebenarnya ia bisa memberikan kabar ini melalui telepon, akan tetapi ia ingin mengatakannya langsung dengan pada Dika dan Indah.


“Paman sudah mendapatkan kabar jika Aditya sudah di tangkap, bersama beberapa anak buahnya. Namun, masih ada satu yang belum di temukan karena belum terdeteksi keberadaannya. Aditya tidak mau mengatakan dimana keberadaan anak buahnya tersebut,” ujar pak Candra.


“Berarti adikku sudah aman, Paman. Aku akan meminta Darwin membawa mereka untuk kembali kemari,” sahut Dika.


“Ini belum aman sebenarnya, tapi Icha akan lebih aman jika berada di kota ini. Kita akan beri keamanan ketat, masalahnya satu lagi anak buah Aditya yang masih berkeliaran di luar sana.”


“Iya, Paman. Itu lebih baik, aku akan segera menghubungi Darwin.”


Pak Candra mengangguk.