
“Pa, tahan Abang Pa. Jangan biarkan mereka pergi!” ujar Anggun menggoyangkan lengan Papanya.
“Biarkan saja mereka pergi. Agar rumah ini tidak sial, karena ulah Icha! CK... entah kenapa aku bisa mempunyai anak seperti dia? Ini akibat tidak pernah mendengarkan perkataan orang tua!” kesalnya masih dengan amarah.
“Pa, tapi Abang dan Icha tidak salah! Hiks...”
“Kamu masih membela dia?!” menatap putrinya dengan tajam, sehingga nyali Anggun menciut.
“Sekarang pergi masuk kamar!” perintah Papanya berlalu meninggalkannya.
Di dalam kamar, pak Heri melihat istrinya yang duduk di tepi kasur sambil mengusap air matanya.
“Untuk apa kamu tangisi anak seperti dia?! Sudah membuat malu keluarga ini!” bentaknya.
“Dia darah daging ku juga, aku yang mengandung dan melahirkannya. Tega kamu memintanya pergi! Apa tidak punya hati nurani? kamu tega mengusirnya dalam keadaan hamil seperti itu!” geramnya menarik kerah baju suaminya.
“Lepas! Jangan kamu tangisi anak yang tidak berguna itu! Atau kamu mau pergi Bersama mereka?!” bentaknya melepas paksa tangan istrinya.
“Lihat, hasil didikanmu itu? Bahkan ia mengandung, entah anak siapa?!” geramnya pergi meninggalkan istrinya masuk ke kamar mandi.
Bu Sintya terduduk lemas di lantai, sambil menangis tidak henti-hentinya.
Sementara Anggun, ia masuk ke kamar dan menguncinya. Lalu meringkuk di tempat tidur, memikirkan bagaimana dengan bayi yang ia kandung. Apalagi papanya sampai mengetahui hal ini nanti.
Drrttt! Drrttt!
Suara getar ponselnya membuyarkan lamunannya.
Terlihat nama Dino di layar ponsel tersebut, kemarin sangat berharap nama itu menghubunginya saat ini bahkan sangat benci dengan nama itu.
Karena sebelum Icha masuk ke kamarnya, Anggun menghubungi Dino kembali. Beruntung panggilannya pagi itu di angkat oleh Dino dan ia memperlihatkan hasil testpack nya
Dino mengelak bahkan tidak mengakui anak yang di kandung oleh Anggun tersebut, ia malah menuduh Anggun tidur dengan pria lain, hingga membuat hatinya Anggun hancur seketika. Ia sangat tahu, jika dirinya hanya pernah tidur dan melakukan hubungan itu hanya dengan kekasihnya saja yaitu Dino.
“Halo, ada apa lagi menghubungiku?!” ketus Anggun.
“Aku hanya ingin bertanya sekali lagi! Apakah benar janin itu adalah anakku? Kamu jangan berbohong dan menjebakku untuk menikahimu!” pekiknya.
“Kenapa? Bukankah kamu tidak mengakuinya?! Kenapa lagi bertanya?!” bentak Anggun karena sudah merasa sangat kesal.
“CK... kamu tinggal jawab saja!” bentak Dino hingga membuat Anggun menjauhkan ponsel tersebut dari daun telinganya.
“Aku sudah katakan, bukan?! Jika anak ini adalah anakmu, aku tidak pernah tidur selain denganmu!” bentak Anggun lalu menutup panggilannya.
Ia menghela napas kasar.
Ponsel tersebut kembali bergetar dengan nama yang sama.
“Halo, kenapa lagi?! Bukankah kamu sudah mendengarnya!”
“Berani sekali kamu menutup panggilanku, hah?! Melihat tingkahmu itu, aku ragu jika itu benar-benar anakku!”
“Terserah kamu kalau tidak percaya. Aku akan gugurkan janin ini!” ancam Anggun.
“Berani sekali kamu ingin membunuh anakku! Kita akan bertemu di Cafe xx, aku tunggu jam satu siang nanti,” ujar Dino.
“Jangan berani-berani menggugurkannya, aku akan membunuhmu juga!” ancam Dino lalu menutup panggilannya.
Ada senyum melengkung di bibir Anggun.
“Berguna juga, kenapa aku tidak kepikiran dari tadi?! Dasar bodoh,” umpatnya.
“Huftt... akhirnya, kamu diakui oleh Ayah kamu Nak,” ujarnya mengelus perutnya yang rata.
Anggun mengingat kejadian tadi, melihat Papanya menampar pipi adiknya dengan begitu keras. Ia bergidik ngeri, ia tidak bisa membayangkan jika dirinya di posisi Icha.
🌹🌹🌹
Mereka melangkah keluar dari rumah tersebut, Icha mengekori belakang Abangnya.
Dika mengeluarkan mobil yang jarang ia pakai, karena setiap harinya ia selalu memakai mobil yang Papanya berikan sebagai hadiah ulang tahunya beberapa tahun lalu.
Namun, saat ini sudah ia kembalikan tadi ketika Papanya meminta kembali apa yang pernah berikan kepadanya.
Sedangkan membeli mobil ini adalah, uang dari hasil tabungannya beberapa bulan.
“Ayo masuk,” ajak Dika melihat adiknya diam mematung.
“Icha,” panggilnya dengan lembut.
“Iya, Bang.”
Icha pasrah dan masuk ke dalam mobil.
“Kita akan mencari rumah,” sahutnya mulai mengendarai mobil miliknya keluar halaman rumah besar milik orang tuanya.
“Tapi sebelum itu, kita akan obati dulu lukamu.”
Dika melihat sudut bibir adiknya yang mulia membiru, bahkan darah kering pun masih menempel di situ.
“Bang, Icha harus berangkat bekerja.”
“Ck... Icha, disaat seperti ini kamu masih memikirkan pekerjaan?!”
“Bukan begitu Bang. Hari ini adalah hari pertama Icha bekerja, Icha tidak mungkin mengecewakan sahabat Icha sendiri,” ujar Icha pasrah bersandar di bahu kursi.
Dika menghela napas.
“Baiklah. Sebelum itu, obati lukamu terlebih dahulu.”
Akhirnya Dika melemah, ia tidak mampu menolak keinginan adiknya tersebut.
“Benarkah, Bang?” tanya Icha menatap Abangnya tersebut.
Dika mengangguk.
“Alhamdullilah,” imbuhnya.
Sesampainya di depan apotek, Dika keluar. Ia meminta adiknya untuk menunggu di mobil saja.
Ia melihat punggung Abangnya yang menjauh dan sudah masuk ke dalam apotek.
Icha mengingat kemarahan Papanya tadi, untuk pertama kalinya ia di tampar oleh tangan papanya sendiri.
Bahkan belum mencari tahu yang sebenarnya, ia sampai meneteskan air matanya.
Ia menghapus air matanya, saat melihat Abangnya sudah keluar dari apotek.
“Menghadap kemari, Abang obati dulu.”
Bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, Icha mengikuti apa yang di katakan oleh Abangnya.
“Pasti ini sangat sakit,” Ujar Dika mulia membersihkan luka adiknya dengan kapas.
Icha hanya diam.
“Kamu menangis dek?” tanya Dika melihat mata adiknya sedikit basah.
Icha menggelengkan kepalanya. Dika sangat tahu jika adiknya baru menangis, namun ia hanya sengaja bertanya.
“Maaf, kakak terlambat datang tadi. Kalau tidak, kamu tidak akan seperti ini.”
“Kakak melihatmu tidak menangis saat Papa menamparmu? Pasti sangat sakit dek, hingga tidak mengeluarkan air mata sama sekali,” ujar Dika menatap adiknya yang saat sudah selesai membersihkan lukanya.
“Pasti Bang. Apalagi Icha di tuduh yang tidak pernah Icha lakukan. Tapi, apapun yang di lakukan orang tua kita. Jangan pernah membencinya ataupun berniat balas dendam.”
Dika mengenal napas.
“Hati mu terbuat dari apa, dek?” ujar Dika melihat tidak ada kebencian dari Icha kepada papanya, berbeda dengan dirinya yang sejak tadi sangat kesal.
Icha hanya tersenyum menanggapi ucapan Abangnya tersebut.
Dika mengendarai mobilnya, menuju tempat adiknya bekerja.
“Bang. Abang masih ingat dengan Diana?” tanya Icha.
Dika berpikir sejenak, mengingat nama yang di sebutkan oleh adiknya, lalu mengangguk.
“Diana sahabatmu, bukan?”
“Iya Bang. Sekarang Diana sudah menikah dan pemilik toko tempat Icha bekerja adalah milik suaminya,” ujar Icha menjelaskan.
“Oh ya. Beruntung sekali Diana.”
“Iya Bang,” sahut Icha.
Setelah itu, tidak ada lagi percakapan mereka hingga tiba di depan toko buku yang lumayan besar tersebut.
.
.
.