
Indah berulang kali menghubungi nomor ponsel Anggun, akan tetapi tidak di angkat olehnya.
“Kemana Anggun?” gumamnya.
Ia mencoba lagi menghubungi kembali nomor Anggun.
Namun, dengan hasil yang sama, tidak di angkat oleh adik iparnya tersebut.
Karena berulang kali di angkat, akhirnya Indah memutuskan untuk mengirim pesan saja.
Menceritakan apa yang terjadi dengan ayah mertuanya, serta memberikan tahu alamat rumah sakit dimana tempat pak Heri di rawat.
Indah kembali menyusul suaminya yang berada di ruang ICU.
“Bang,” panggil Indah pelan.
Dika menoleh ke sumber suara, segera menghapus air matanya agar tidak terlihat oleh istrinya.
Dika melangkah mendekati istrinya yang berada di depan pintu.
“Bagaimana? Apa Anggun bisa di hubungi?”
Indah menggelengkan kepalanya.
“Tapi, aku sudah mengirimnya pesan.”
Dika menghela nafas berat.
“Kamu jaga Papa, biar aku datang ke rumahnya.”
Indah mengangguk.
Sebelum pergi, lengannya di tahan oleh istrinya.
“Jangan emosi, bicaralah dengan baik-baik.”
Indah sangat mengerti, apa yang di rasakan oleh suaminya saat ini.
Dika tersenyum lalu mengangguk.
“Jaga, Papa.”
“Iya, Sayang.”
Setelah melihat kepergian suaminya, Indah masuk ke dalam ruang ICU tersebut melihat keadaan ayah mertuanya.
“Pa, cepat sembuh ya Pa. Apa Papa tahu, jika saat ini Icha sedang mengandung. Itu artinya, Papa sebentar lagi akan mempunyai cucu.”
“Kita akan berkumpul sebentar lagi Pa, Indah tahu jika Papa sudah menyadari kesalahan Papa,” tambah Indah.
Tanpa Indah sadari, ada pria yang menyamar sebagai perawat dan mendengar jelas ucapan Indah.
Di perjalanan, Dika juga berulang kali menghubungi Mamanya yang berada di desa.
Namun, panggilan selalu saja operator yang menjawab jika di luar jangkauan.
“Ya Allah, kenapa semua jadi kacau begini. Astaghfirullah ...” gumam Dika.
Sesampainya di rumah, Dika tidak melihat ada mobil Anggun di rumah. Sudah bisa di pastikan jika, Anggun tidak ada di rumah.
“Pak, apa Anggun pernah pulang ke rumah?” tanyanya pada penjaga rumah.
“Setahu saya, tidak ada Tuan.”
“Apa kamu tahu alamat rumah Anggun?”
Penjaga tersebut mengangguk.
“Berikan padaku alamatnya.”
Penjaga tersebut menulis di layar ponselnya dan mengirim pada Dika.
“Terima kasih,” ujar Dika bergegas meninggalkan rumah tersebut.
Ia melaju ke rumah adik bersama suaminya.
Begitu mudah bagi Dika mencari alamat rumah Anggun, hanya butuh setengah jam waktunya untuk tiba di alamat tersebut.
Dika melangkah ke depan pintu rumah yang terbuka lebar, melihat adiknya tengah berdebat dengan suaminya.
“Anggun,” panggil Dika berdiri di depan pintu.
Suami istri yang tengah berdebat tersebut, bersamaan menoleh ke sumber suara.
“Abang,” lirih Anggun.
“Siapa dia? Apa dia selingkuhanmu?!” bentak suaminya.
“Jaga bicara mu! Aku adalah Kakak kandungnya!” sentak Dika.
Anggun tersenyum kecut melihat suaminya.
“Ada apa Abang kemari?” tanya Anggun sedikit ketus.
“Dimana ponselmu? Hah ... aku tidak punya waktu berdebat denganmu! Papa sedang koma karena mengalami kecelakaan, sekarang sedang di rawat di rumah sakit. Abang minta kita temani Papa,” Ujar Dika.
Anggun tidak langsung menjawab, karena masih mencerna ucapan Abangnya.
“Apa? Papa kecelakaan?” tanya Anggun memastikan.
Dika mengangguk.
“Kita ke rumah sakit sekarang, Bang.”
“Aku tidak akan mengizinkan mu pergi!” teriak suaminya.
“Aku tahu kamu sekarang yang berhak atas Anggun, aku mohon! Papa sedang kritis di rumah sakit, dan sedang berjuang.”
“Haha ... ternyata Pak tua yang serakah itu ternyata bisa sakit juga.”
“Jaga bicaramu! Dia Papa mertuamu!” ujar Dika.
“Hm ... baiklah, kali ini aku akan mengizinkanmu. Tapi, dengan satu syarat. Kemarikan ponselmu, kamu tidak di perbolehkan untuk membawa ponsel!”
Anggun yang murka mendengar tuduhan suaminya, memberikan paksa ponselnya. Sebab, sejak semalam suaminya cemburu buta padanya dan mengatakan jika Anggun mempunyai selingkuhan.
Setelah itu, mereka pergi menuju mobil Abangnya dan segera melaju ke rumah sakit.
🌹🌹🌹
Prang!
Pyar!
Suara benda jatuh dan hancur berkeping-keping.
“Bagaimana bisa Icha sudah hamil?! Mereka bukannya tidak saling mencintai!” bentaknya, karena mendapat kabar dari anak buahnya.
Sebenarnya Aditya meminta orang suruhannya memantau pak Heri yang terbaring di rumah sakit, jika perawat lengah ia akan memberi cairan berbahaya di selang infusnya.
Namun, ia malah mendapat kabar jika Icha saat ini sedang mengandung.
“Argghh ... Dimana mereka menyembunyikan Icha?! Kurang ajar kamu Dika, setelah Ayahmu yang serakah itu sudah aku buat celaka! Tunggu giliranmu!” geramnya sambil menyeringai jahat.
“Ada apa lagi ini, Mas?!” pekik istrinya yang tanpa sengaja mendengar percakapan mereka, yang kebetulan saat itu ia baru melintas di depan kamarnya.
“Siapa yang mengizinkanmu masuk ke ruanganku?!” sentak Aditya pada istrinya.
“Kenapa memangnya? Kamu mau marah?”
“Keluar dari ruanganku!”
“Baik, aku akan keluar dari kamar ini! Bahkan dari rumah ini!” ancamnya.
“Kamu dengar baik-baik, aku tidak akan mau hidup bersama orang jahat sepertimu! Aku akan melaporkanmu ke polisi!” ancamnya berlari keluar rumah.
“Hei, Berani kamu melapor polisi, kamu tidak akan selamat!” ancam balik Aditya pada istrinya setengah berteriak melihat istrinya berlari meninggalkan kamar.
“Apa yang kamu lihat? Kejar dia!” kesalnya pada anak buahnya yang hanya diam seperti patung.
“Sialan!” umpatnya.