Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 25



Sesampainya di depan rumah, Fahry menatap dari luar rumah yang sangat megah. Sangat jauh berbeda dengan dirinya yang hanya tinggal di kosan.


“Ini rumah orang tuaku Fahry,” ujar Icha mengerti apa yang dipikirkan oleh Fahry.


Tin! Tin!


Suara klakson mobil dari arah belakang mereka.


“Abang,” gumam Icha.


“Assalamualaikum...”


“Waalaikumsalam,” sahut Icha dan Fahry.


“Masuk dulu Fahry. Berapa kali aku sudah merepotkan mu,” ujar Dika merasa tidak enak.


“Santai saja Dika. Tidak perlu merasa tidak enak,” sahut Fahry sambil tersenyum.


“Sekarang kamu tidak boleh menolak, kita akan minum kopi bersama di dalam rumah. Ayo,” ajak Dika.


Fahry tersenyum. Sebenarnya, dirinya ingin menolak. Namun, sudah beberapa kali Dika mengajaknya untuk masuk ke rumah ketika mengantar Icha, dirinya selalu menolak.


Icha mengikuti mereka dari belakang.


Saat memasuki rumah utama, terlihat pak Heri sedang menuruni tangga.


“Jam berapa ini?” tanya pak Heri.


Suaranya terdengar sangat nyaring dan suara mencekam.


“Maaf, Pa. Di kantor banyak perkerjaan,” ujar Dika dengan nada lembut.


“Hm...” deham Pak Heri.


Pandangannya beralih ke pria yang ada di belakang Dika.


“Duduk dulu,” ajak Dika.


Sebelum duduk, Fahry mengulurkan tangannya kepada pak Heri. Pak Heri membalas uluran tangan tersebut, ia mengernyit heran melihat Fahry mencium punggung tangganya.


“Silakan duduk,” ujar pak Heri.


Pak Heri dan Fahry duduk di sofa, menyusul Dika.


Sedangkan Icha ke dapur untuk meminta orang dapur untuk membuatkan minum.


Setelah selesai, ia membawa nampan tersebut ke ruang tamu dan meletakkan gelas tersebut di meja depan mereka masing-masing.


“Satu pekerjaan dengan Dika?” tanya pak Heri.


Fahry menggelengkan kepalanya.


“Saya bekerja di salah satu toko buku dan di tempat yang sama dengan Icha bekerja.”


Pak Heri mengangguk mengerti.


“Baiklah, kalian mengobrol saja. Aku ingin ke ruang kerja sebentar, ada pekerjaan sedikit,” ujar pak Heri mengambil gelas kopinya.


Fahry dan Dika mengangguk, pak Heri beranjak dari tempat tersebut meninggalkan Dika dan Fahry.


“Hanya penjual buku!” gumamnya. Beruntung tidak ada yang mendengar gumam tersebut.


“Kamu tinggal di mana?” tanya Dika.


“Saya tinggal di jalan xx, saya tinggal di rumah sewa bersama teman saya,” sahut Fahry.


“Sebelumnya, saya dan almarhum ibuku tinggal di kota xx. Setelah kepergian ibu untuk selamanya, saya merantau kemari dan sudah menetap di sini,” tambahnya lagi


Dika mengangguk mengerti.


“Saya ikut berduka atas meninggalnya Ibumu.”


“Terima kasih,” sahutnya.


Cukup lama Fahry dan Dika berbincang, bahkan Icha dan Mamanya juga ikut bergabung dengan mereka.


Fahry berpamitan pulang, Icha dan Dika mengantar Fahry hingga ke teras rumah.


“Lain kali berkunjung lagi kemari,” ujar Dika.


“Insya Allah,” sahutnya.


“Terimakasih atas jamuannya. Saya permisi dulu, Assalamualaikum...”


“Iya, sama-sama. Waalaikumsalam...” sahut Icha dan Dika bersamaan.


Fahry mengendarai motor bututnya keluar dari rumah besar tersebut.


Setelah melihat kepergian Fahry, Kakak beradik tersebut masuk ke dalam kamar.


“Bang, Fahry itu pria yang luar biasa. Dengan gajih segitu, ia mampu menghidupkan beberapa lansia. Kemarin Icha ikut bersamanya,” ujar Icha sangat kagum dengan kebaikan Fahry.


“Oh ya. Benarkah?”


“Iya Bang.”


“Terlihat jelas Fahry pria yang baik, bahkan tutur katanya pun sangat sopan.” Dika juga ikut mengaguminya.


“Oh iya. Bukankah kak Anggun akan menikah sore ini?”


“Itu yang mau Abang tanyakan, kamu pergi lah ke kamar dan mandi. Sudah sore,” ujarnya kepada adiknya.


Icha mengangguk.


Dika pergi ke ruang kerja Papanya, karena sebelumnya ia melihat sang Papa masuk ke ruang kerjanya tersebut.


Ceklek! Pintu terbuka, terlihat sang papa duduk sambil memandang ke luar jendela.


“Ada apa?” tanya pak Heri melihat Dika yang datang karena terlihat dari pantulan kaca.


“Bukankah Anggun akan menikah sore ini? Lalu di mana dia?” tanya Dika karena memang tidak melihat adiknya sejak masuk ke rumah.


“Ikut bersama suaminya tinggal di sana! Mereka sudah menikah siang tadi,” sahut pak Heri sambil menyeruput santai kopinya.


“Oh, Anggun sudah menikah! Kenapa cepat sekali, bukankah ijab kabul nya akan di laksanakan sore ini?” tanya Dika heran.


“Dino meminta secepatnya. Karena sore ini dia ada perkerjaan penting dan harus ke luar kota,” sahut Pak Heri santai.


“Lalu Anggun di tinggal sendirian, di rumahnya? Kenapa tidak tinggal di rumah untuk sementara waktu, karena Dino keluar kota?” protes Dika.


Ia bahkan masih tidak mempercayai jika Dino itu bersungguh-sungguh kepada adiknya tersebut.


“Kenapa kamu protes baru sekarang. Di saat adikmu menikah, kamu malah pergi bekerja!”


“Aku hanya bertanya saja Pa, aku mempunyai firasat buruk tentang Dino. Aku sedikit pun tidak mempercayai ucapannya,” ujar Dika karena menaruh curiga terhadap Dino saat ia datang ke rumah kemarin.


“Papa kok mau sih! Menikahkan Anggun hanya dengan nikah siri saja, apa papa tidak memikirkan nasib anak yang di kandung oleh Anggun, cucu Papa sendiri!” tambahnya lagi.


“Justru bagus menikah siri dulu saat ini. Jika semua orang tahu, Anggun itu hamil di luar nikah! Bagaimana nasib perusahaan? Bagaimana jika semua orang tahu yang bekerja bersama dengan kita, mereka akan menarik kerja samanya dan kita jatuh miskin. Mau di kasih makan apa anak itu kelak,” ujar pak Heri menatap putranya tersebut.


“Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran Papa! Bagaimana jika Dino itu berbohong, bahkan aku tidak yakin dengan pria itu!”


“Aku yakin dengan pilihan Anggun,” ujar pak Heri kembali membela putrinya.


“Tidak seperti dirimu, keluar dari kantor Papa tanpa sebab dan bahkan bekerja di tempat orang lain!” ketus pak Heri.


“Itu karena Papa sudah mengusir anak sendiri jika sedang marah.” Ingin Dika berkata seperti itu terhadap Papanya.


Namun, di urungkan nya karena berdebat dengan Papanya tidak akan pernah menang pikirnya.


“Papa benarkan?”


“Aku sudah tanda tangan kontrak, dan tidak mungkin memutuskan kontrak tersebut secara sepihak. Mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas, di anggap melanggar aturan, apalagi Dika mendapat jabatan yang cukup tinggi di sana,” ujarnya.


“Cih... bilang saja kamu sekarang sudah merasa hebat dan tidak mau bergantung dengan Papa lagi! Iya... iya... Papa hargai,” ujar Papanya beranjak pergi menepuk bahunya pelan lalu melangkah menuju pintu.


Dika menghela napas kasar, sejak dulu dirinya dan Papanya tidak pernah akur dan selalu berselisih paham.


Apalagi dulu sering sekali Icha jadi korban karena Anggun selalu berbohong dan menyalahkan Icha.


“Huft... semua ini demi kamu Icha, demi kamu Abang harus kembali ke rumah ini lagi. Papa tidak akan pernah berubah,” ujarnya dalam hati.


Ting!


Terdengar suara pesan masuk di ponselnya.


Ia menggeser layar tersebut, ternyata Indah yang mengirimnya pesan.


“Ternyata dia sudah membuka blokirnya,” Ujarnya dalam hati.


“Aku akan melamarmu secepatnya, agar kita tidak terpisah lagi. Aku tidak mau kehilanganmu,” gumamnya melihat pesannya Indah yang belum ia balas.


Ia mengingat perbincangan mereka saya di mobil tadi.


Flashback On.


Jam pulang bekerja, Dika dan Indah belum pulang karena ada sedikit pekerjaan, bahkan Dika sudah mengirim pesan jika ia tidak bisa menjemput adiknya.


Icha membalas pesan tersebut, jika ia meminta izin untuk Fahry yang mengantarnya pulang.


Lalu Dika kembali membalas pesan tersebut, jika dirinya mengizinkan.


“Kenapa tersenyum sendiri? Siapa yang mengirim pesan?” tanya Indah yang selalu posesif kepada Dika sejak dulu.


Namun, posesifnya Indah masih dalam batas wajar.


“Adikku,” sahut Dika meletakkan ponselnya dan meneruskan pekerjaannya.


“Oh,” sahut Indah.


Setelah selesai semua, Indah membantu Dika membereskan berkas-berkas yang sedikit berantakan dan menyimpannya di tempat yang seharusnya.


“Kamu pulang bersama siapa? Apa bersama Pak Candra?” tanya Dika.


“Sepertinya Pak Candra sudah pulang. Karena Pak Candra harus menjemput Bibi yang baru pulang dari rumah orang tuanya,” sahut Indah.


“Aku akan naik taksi saja,” tambah Indah lagi.


“Oh begitu. Aku akan mengantarmu, jalan rumah kita searah. Jadi... biar aku yang akan mengantar mu, aku tidak menerima penolakan!”


Indah hanya diam sambil mengulum senyumnya.


“Kenapa diam?” tanya Dika.


“Iya, aku mau.”


“Hm, anak pintar!”


Selesai mematikan komputernya, mereka keluar dari ruangan tersebut. Kantor sudah tampak sepi, karena sebagian karyawan sudah pulang.


Sesampainya di mobil, Dika membuka kan pintu untuk Indah. Lalu melaju dengan kecepatan sedang, menembus kemacetan kota di sore hari. Tampak sang Surya juga sudah mulai bersembunyi, karena akan bergantian dengan munculnya rembulan malam.


Tidak ada percakapan di antara mereka, terlihat Indah menyenderkan punggungnya di bahu kursi.


“Kamu cape?” tanya Dika.


“Sedikit,” sahut Indah.


Tak butuh waktu lama, mereka tiba di depan rumah Pak Candra.


“Terimakasih Bang, Indah masuk dulu. Assalamualaikum...” pamit Indah dengan memberikan salam.


“Indah tunggu dulu. Ada yang ingin aku katakan,” ujar Dika menahan lengan Indah karena sudah membuka pintu mobil setelah.


“Iya, Bang. Ada apa?” tanya Indah melihat wajah serius Dika.


“Mmm... itu. Aku tidak tahu ini terlalu cepat atau tidak bagimu. Usia ku sudah sangat dewasa dan sudah cukup untuk menikah, Apakah kamu bersedia jika aku melamarmu untuk ku jadikan istri?”


“Tapi, jika kamu belum siap aku akan setia menunggumu lagi,” tambah Dika.


Indah terdiam sejenak, tampak ia berpikir dan mencerna ucapan kekasihnya tersebut.


“Indah, aku serius. Aku akan berusaha membahagiakan mu,” Ujar Dika takut Indah akan meragukan dirinya.


“Aku percaya sama Abang. Buktinya hingga sekarang Abang masih setia menungguku, aku bersiap jika Abang ingin melamarku. Aku akan bicara ini dengan Paman,” ujar Indah memperlihatkan senyum di bibir ranumnya.


“Benarkah?” tanya Dika memastikan.


“Iya,” sahut Indah mengangguk antusias.


“Terima kasih,” ujar Dika refleks mengambil tangan Indah.


Dengan cepat indah menarik tangannya, hingga membuat Dika mengernyit heran.


“Ada apa?” tanya Dika.


“Bukan muhrim,” ujar Indah.


Karena memang dari dulu, dirinya dan Dika sangat jarang berpegangan tangan. Apalagi melihat Dika sekarang yang tidak pernah meninggalkan shalat, membuat hati Indah adem melihatnya.


“Maaf,” lirih Dika karena malu.


“Jangan meminta maaf Bang. Sabar ya, tunggu kita menikah sepuasnya Abang memegang tanganku,” ujar Indah.


Dika terpaksa tersenyum menyembunyikan rasa malunya.


“Seharusnya aku yang berterima kasih kepada Abang dan juga meminta maaf. Terima kasih sudah menunggu dan masih setia menunggu ku Bang, dan aku juga meminta maaf karena sudah memblokir nomor Abang selama ini. Sungguh, niat ku saat itu ingin fokus dan cepat menyelesaikan kuliahku!” ujar Indah berbicara panjang lebar.


“Iya. Aku percaya, aku paham dan sekarang jangan pernah mengulangi seperti itu lagi,” tutur Dika memberi peringatan.


Icha mengangguk.


“Jadi... bagaimana Nona? Apakah lamaran saya di terima?” tanya Dika sambil memainkan kedua alisnya.


“Memang nya pernyataan tadi itu lamaran?” tanya Indah bingung.


“Tentu saja bukan. Aku akan melamar mu kepada Paman,” sahut Dika.


“Iya Baiklah, aku terima. Tapi, aku harus bicara dulu dengan Paman. Setelah itu aku akan menghubungi Abang.”


“Iya, baiklah terima kasih.”


Setelah itu Indah berpamitan masuk ke dalam rumah, setelah memastikan kekasihnya masuk Dika langsung melaju ke rumahnya.


Ia menambah kecepatan mobilnya, karena ia baru ingat jika sore ini adalah pernikahan adiknya tersebut.


“Astaghfirullahalazim... kenapa aku bisa lupa...” menepuk keningnya berulang kali.


Setelah mendekati rumahnya, ia melihat adik bungsu nya yang di bonceng oleh Dika. Terlihat jelas oleh Dika, jika Icha duduk di motor memberi jarak bagi mereka bahkan tasnya di letakkan nya di tengah-tengah mereka.


“Maafkan aku Icha. Abang, tidak bisa menjemputmu tadi,” gumamnya dari dalam mobil.


Ia juga memperhatikan motor Fahry yang terlihat sudah sangat butut, bahkan warna aslinya pun sudah mulai pudar.


Flashback off.