Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 43



Adzan subuh berkumandang, Icha menggeliat dari dalam selimutnya. Ia mengerjakan kedua kelopak matanya, lalu duduk akan tetapi belum beranjak.


Ia mengerutkan keningnya heran, kenapa selimut berpindah padanya.


Melihat suaminya tidur tanpa menggunakan selimut.


“Pasti Mas Fahry yang memindahkannya,” gumamnya dengan suara paraunya.


Tok! Tok!


Suara ketukan pintu yang berulang kali, semakin lama semakin terdengar jelas ketukan tersebut karena ketukan sangat kencang.


“Mas, mas Fahry bangun, ada yang mengetuk pintu.”


Mencoba menggoyangkan lengan suaminya.


Fahry sedikit terkejut, langsung duduk.


“Iya ada apa?” tanya Fahry setengah sadar dengan suaranya yang pelan hampir tidak terdengar.


“Ada yang mengetuk pintu,” ujar Icha.


Suara ketukan itupun kembali terdengar, setelah beberapa menit berhenti.


Fahry langsung beranjak dari duduknya, membuka pintu kamarnya, Icha mengikutinya dari belakang.


Langkah Fahry terhenti, hingga membuat Icha di belakangnya menabrak punggung.


“Astaghfirullah ... kenapa berhenti tiba-tiba mas?” tanya Icha sambil mengelus hidungnya sedikit sakit.


“Maaf. Kalau kamu ikut keluar, kenakan kerudungmu terlebih dahulu,” tutur Fahry mengingatkan, sebab sang istri ingin keluar tanpa mengenakan hijab di kepalanya.


Karena tidak ingin ada yang melihat istrinya tanpa hijab selain dirinya.


“Astaghfirullah ... maaf mas,” Ujarnya Kembali masuk mengambil kerudungnya yang ia gantungkan di belakang pintu semalam.


Fahry melanjutkan langkahnya menuju pintu rumah yang masih tertutup rapat.


“Siapa!” teriak Fahry.


“Fahry ini aku, Ifan.”


“Ifan?” gumamnya.


Fahry langsung membuka kuncinya dan memutar kenop pintu rumahnya.


“Ada apa? Kenapa kamu berkeringat seperti ini?” tanya Fahry sedikit khawatir melihat sahabatnya yang terlihat panik.


“Fahry. Astaghfirullah ... rumah singgah yang masih tahap pembangunan hangus semua terbakar,” ujarnya dengan nafas yang naik turun.


Fahry masih belum mengerti apa yang di bicarakan oleh sahabatnya, karena Ifan berbicara dengan cepat di tambah dengan nafas Ifan yang sedikit susah menghela nafas.


“Masuk dulu Fan,” ajak Fahry.


Ifan masuk ke dalam rumah, Fahry meminta Ifan duduk terlebih dahulu. Sementara Fahry mengambil segelas air putih di dapur.


Fahry melirik kamarnya yang tertutup, ia berpikir Icha marah kepadanya karena melarangnya keluar kamar tanpa mengenakan hijab.


Ia lanjut melangkah untuk menemui Ifan yang duduk di kursi.


“Ini minum dulu,” ucap Fahry menyerahkan gelas yang berisi air putih tersebut.


Tanpa menunggu lagi, Ifan langsung mengambil gelas yang ada di tangan Fahry.


“Bismillah ...” ucap Ifan.


Lalu meminum air putih hingga habis tidak bersisa.


“Terima kasih,” sahut Fahry menyerahkan gelas kosong tersebut.


“Ada apa? Subuh-subuh begini kamu ke rumah. Bukankah kamu bisa menghubungiku,” Ujar Fahry.


“Aku sudah berusaha menghubungimu, tapi tidak di angkat. Akhirnya aku memutuskan datang kemari, beruntung ada yang ojek yang mau mengantarku kemari.”


Sebelum melanjutkan ucapannya, Ifan lebih dulu menghela nafas.


“Rumah singgah yang sedang di bangun, hangus terbakar.”


“Hah! Apa? Kamu serius?” tanya Fahry masih tidak percaya.


“Iya. Demi Allah, tapi saat ini sudah di tangani oleh pemadam dan apinya juga sudah padam.”


“Alhamdullilah kalau sudah padam. Tapi kenapa bisa terbakar? Bukan kan tempatnya agak sepi dari rumah penduduk, bahkan belum di aliri listrik?”


“Aku belum tahu pasti. Yang jelas, material juga hilang semua, termasuk semen.”


“Astaghfirullah ... jika memang benar ada yang mengambilnya, kenapa rumah itu di bakar yang masih setengah jadi.”


Fahry terduduk lemas di lantai, ia bersandar di dinding.


“Apa mungkin warga di dekat situ tidak ingin ada rumah singgah di bangun di daerah situ.”


“Itu tidak mungkin. Karena, aku sendiri yang meminta izin kepada warga setempat dan mereka menerima dengan baik. Jadi itu tidak mungkin!”


“Apa kita beritahu pak Dika, sekarang?” tanya Ifan.


“Jangan sekarang. Pak Dika mungkin masih tidur,” tolak Fahry.


Mereka terdiam tanpa bicara satu sama lain, masih memikirkan kejadian kebakaran di rumah singgah yang masih dalam tahap pembangunan.


“Astaghfirullah ... sebaiknya kita melaksanakan salat subuh terlebih dahulu,” usul Fahry, ia hampir lupa melaksanakan salat subuh.


“Iya.”


Fahry melangkah masuk ke kamarnya, melihat Icha duduk di tepi kasur sambil memegang ponselnya.


Duduk dengan tatapan kosong.


“Icha. Maaf tadi aku memarahimu,” ucap Fahry merasa bersalah, karena ia berpikir jika Icha saat ini marah padanya.


Lamunan Icha langsung buyar mendengar suara suaminya.


“Mas,” panggil Icha malah menangis sambil menunduk.


“Ada apa Icha? Maafkan aku Icha, sungguh aku tidak bermaksud ...”


Icha menggelengkan kepalanya.


“Icha tidak marah karena itu Mas, tapi ... hiks!” dengan suara terbata-bata Icha menyerahkan ponselnya kepada suaminya, memperlihatkan pesan dari mamanya.


Fahry mengambilnya dan membacanya dengan teliti.


Pesan Mamanya tersebut, memberitahukan pada Icha jika mereka harus berhati-hati.


Karena papanya sedang sangat marah dan berniat membakar rumah singgah yang mereka bangun.


“Hiks ... hiks ... maafkan Papa Mas,” ujar Icha menangkup kedua tangannya menghadap suaminya, dengan air mata yang terus mengalir.


Fahry menghela nafasnya, ia duduk di samping istrinya dan mengelus pelan bahu istrinya.


“Jangan menangis lagi ya. Kita akan hadapi bersama-sama, itu hanya rumah dan bisa kita bangun kembali.”


Icha mengangguk, masih menunduk sambil menangis.


“Maafkan aku Mas. Karena menikahiku, Mas Fahry jadi ikut terlibat. Bahkan ...”


“Jangan bicara seperti ini. Aku tidak pernah menyesal untuk menikahimu,” sela Fahry lembut.


“Terima kasih Mas,” ujar Icha langsung memeluk suaminya.


Fahry terkejut langsung terdiam, lalu tersenyum dan membalas pelukan istrinya.


“Apa kamu sudah salat subuh?” tanya Fahry.


Icha mengangguk lalu melepaskan dekapannya.


“Maaf,” ujar Icha menunduk malu karena memeluk suaminya.


“Tidak apa-apa. Sekarang, aku ingin salat subuh terlebih dahulu, keburu siang.”


“Iya,” sahut Icha masih menghapus sisa air matanya.


Fahry mengambil alih, menarik pelan wajah istrinya dan mengusap sisa air mata Icha.


“kamu sangat jelek kalau menangis begini,” goda Fahry.


Icha hanya tersenyum menanggapinya.


“Baiklah, sekarang Mas salat dulu.”


Fahry beranjak keluar kamar, untuk mengambil air wudhu terlebih dahulu.


Ia menatap sedih punggung suaminya, ada rasa bersalah terhadap sang suami atas perlakukan papanya.


“Stt ... kok melamun lagi!” Ujar Fahry yang masuk kembali ke kamarnya, melihat istrinya masih duduk di tempat semula.


“Astaghfirullah ... maaf Mas. Icha akan membuatkan sarapan terlebih dahulu,” ujarnya melepaskan mukenanya dan kembali memakai hijabnya.


“Iya,” sahut Fahry lembut.


Melihat sang istri sudah keluar kamar, Fahry segera melaksanakan salat subuh karena waktu sudah hampir habis.


Sedangkan Icha, berkutat di dapur. Ia memasak nasi terlebih dahulu lalu memasak telur dadar untuk sarapan mereka, karena hanya itu yang ada di dapur suaminya.


“Apa aku harus mengatakan kepada Abang ya? Atau Abang sudah tahu tentang ini?” tanyanya dalam hati dengan tangan sibuk mengolah telur dadar, sedangkan pikirannya entah kemana.


“Tidak, sebaiknya aku menyerahkan kepada Mas Fahry saja. Aku takut jika Abang marah besar,” ujarnya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya.


“Ada apa?” tanya Fahry yang tiba-tiba ada di belakang.


Icha langsung menoleh, melihat sang suami sudah rapi.


“Mau kemana Mas. Sarapan dulu, tapi nasinya sebentar lagi masak.”


“Aku mau ke sana sebentar. Apa kamu mau ikut?” tanya Fahry.


Icha berpikir sejenak, lalu mengangguk.


“Tunggu sebentar, Icha ganti baju dulu.”


Fahry mengangguk, lalu Icha bergegas meninggalkan dapur pergi ke kamar untuk menggantikan pakaiannya.