
Pagi ini, pak Heri melangkah dengan senyum yang mengambang.
Tentunya dengan Anggun putrinya yang melangkah di sampingnya.
Walaupun Anggun tidak terlalu senang, ia memaksakan senyumnya kembali.
Mereka masuk ke dalam lift, menuju dimana ruangan mereka berada.
Ting!
Suara pintu lift terbuka.
“Anggun. Kamu pergilah ke ruangan terlebih dahulu, Papa akan menyusulnya. rekan Papa ingin bertemu, di restoran terdekat.”
“Iya, Pa.”
Pak Heri kembali masuk ke dalam lift, karena sebelumnya saat di dalam lift, pak Heri mendapatkan pesan dari rekannya.
“Hutf ... malas sekali ke kantor lagi,” gumam Anggun duduk di kursi.
Ia baru mengetahui jika bisnis Papanya yang hampir bangkrut, ia tidak habis pikir jika Dino tidak memberitahunya.
Walaupun sempat bertengkar dengan kedua orang tuanya, tapi dirinya masih tetap menyayangi mereka.
Dia sudah mendengar dari cerita Papanya adik kandungnya sendiri yaitu Icha mempermalukan Papanya di acara pernikahan Icha sendiri. Sehingga kebencian pada Icha semakin bertambah.
“Siapa yang menghubungi ku lagi?” kesal Anggun melihat sejak kemarin panggilan baru tanpa nama selalu menghubunginya.
“Halo!” ketus Anggun.
“Apa kamu tidak mempunyai pekerjaan sehingga selalu menggangguku?!” geram Anggun.
“Anggun, ini aku. Aku kesulitan menghubungimu, kamu sudah memblokir nomorku! Sekarang aku ingin bertemu denganmu,” ujar Dino dari dalam telepon.
“Tidak!” ketus Anggun.
“Anggun, sekarang aku masih suamimu. Aku belum menalakmu, temui aku sekarang!” bentak Dino.
“Aku bilang tidak ya tidak!” pekik Anggun.
“Baiklah, jika kamu tidak datang. Aku yang akan datang ke kantormu, jangan kita aku tidak mengetahui keberadaan mu sekarang! Aku tidak peduli jika disana aku membuat keributan!” ancam Dino.
“Kurang ajar! Dia mengancamku!” geram Anggun dalam hati.
“Bagaimana? Aku akan meluncur sekarang ke kantor mu,” ujar Dino.
“Tidak. Biar aku yang datang,” ujar Anggun mengalah.
“Bagus, aku ada di rumah kita. Cepat kemari!” Ujar Dino sedikit membentak.
Dino menutup panggilannya mendengar Anggun yang ingin berbicara, sehingga membuat Anggun di seberang telepon.
“Ck! Keterlaluan, aku belum selesai bicara!” geram Anggun mengepal kuat tangannya.
Dengan langkah cepat dan mulut yang berhenti menggerutu, Anggun keluar dari ruangannya.
“Mira, katakan pada Papa nanti. Jika, aku keluar sebentar,” ujarnya melangkah tanpa menatap Mira saat bicara.
Mira menggelengkan kepalanya saat melihat punggung Anggun yang menjauh.
“Dasar anak jaman sekarang, tidak ada sopan santun terhadap orang tua. Memang dia anak dari pemilik kantor ini, tapi aku juga lebih tua darinya!” ketus Mira.
Di dalam lift, Anggun tidak berhenti berdecap kesal. Karena Dino terus menerus mengirimnya pesan.
Akhirnya ia mengabaikan pesan tersebut, hingga berulang kali Dino menghubunginya Anggun tetap tidak mau mengangkatnya.
Anggun melihat sekeliling dimana mobilnya terparkir, ia takut jika sang papa tiba-tiba muncul.
“Sepertinya aman,” gumamnya lalu melaju ke tempat yang ingin ia tuju.
Tak butuh waktu lama, Anggun sudah tiba di rumah Dino.
Berulang kali menekan bel, karena sejak tadi tidak dibuka.
Ceklek!
“Ternyata pintunya tidak di kunci,” kesalnya pada dirinya sendiri, karena sejak tadi menekan bel ternyata pintu tersebut tidak terkunci.
Dengan langkah cepat ia melangkah menuju kamar, karena pasti Dino ada di kamar yang pernah ia tempati dulu.
Ceklek!
Anggun membuka pintu, tanpa mengetuk.
“Ada apa? Memanggilku!” ketus Anggun melihat Dino sedang melipat kedua tangannya menghadap kearah balkon.
“Kamu sudah datang?” tanya Dino membalikkan badannya dan melangkah menuju Anggun yang sedang berdiri di ambang pintu.
“Tentu saja. Memangnya siapa? Cepat katakan ada apa? Aku tidak punya banyak waktu,” ujar Anggun menatap ke arah lain dengan melipat kedua tangannya.
Dino melihat perut yang Anggun sudah rata, dulu terlihat jelas sekali perut istrinya yang terlihat sedikit membuncit.
“Kenapa menatapku seperti itu?! Cepat katakan!” kesal Anggun menatapnya tajam, karena sedikit kesal pada Dino yang tidak ingin berbicara.
“Siapa yang memintamu pergi dari rumah ini?” tanya Dino.
“Siapa katamu? Kamu sendiri yang menceraikanku, jadi untuk apa aku berada di rumahmu!” Bentak Anggun tidak mau kalah.
“Papamu itu meminta aku untuk menceraikanmu, dan memaksaku, bukan aku!”
“Papaku melakukan hal yang benar, aku tidak ingin bersamamu. Sekarang tidak ada lagi yang perlu di pertahankan dalam pernikahan ini, kamu sudah bahagia dengan kehamilan istri pertama mu itu.”
“Tiara tidak hamil,” lirih Dino.
Anggun mengernyit heran.
“Setelah di periksa oleh Dokter, ternyata itu adalah kista yang sudah membesar.”
Anggun tersenyum licik, dengan menaikkan sudut bibir atas sebelah kirinya.
“Aku tidak peduli! Jika kamu meminta ku datang kemari, hanya untuk mengatakan itu. Itu tidak penting sekali!”
Saat hendak melangkah pergi, tangan Anggun di tahan oleh Dino.
“Anggun tunggu. Aku ingin bicara serius denganmu,” ujar Dino lagi.
“Bicara apa lagi?! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semua sudah selesai!” bentak Anggun menatap tajam mantan suaminya.
Plak!
Suara tamparan keras mendarat di pipi Anggun.