Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 103



Seminggu sudah berlalu, Adita menjalani hidupnya layaknya orang-orang.


Sore ini, Adita sedang sibuk melipat pakaian kedua putranya yang baru saja kering.


Ia mendengar ketukan pintu, lalu menghentikan aktivitasnya.


“Siapa yang datang? Apa Pak Arif? Tapi, bukankah ia akan datang tiga Minggu lagi. Nona Icha juga selalu mengirimku pesan, jika dirinya ingin datang kemari,” gumam Adita.


Semenjak Adita membantu keluarga Icha, Adita semakin dekat dengan mereka. Bahkan sudah menganggap mereka keluarganya, Adita sangat bahagia karena kembali mempunyai keluarga lagi.


Ia beranjak dari tempat duduknya, untuk membuka pintu rumah.


Entah apa yang dipikirkan Adita, sehingga ia lupa mengintip ke jendela lebih dahulu seperti yang ia lakukan jika ada orang yang mengetuk pintu.


Ceklek!


“Mas, kok cepat banget kemba-li-nya?” ujar Adita terbata.


Ia membulatkan matanya, melihat mantan suaminya tersenyum kepadanya.


“Kamu!”


Adita langsung menutup pintu rumahnya, akan tetapi terlambat. Aditya lebih menahannya dengan menggunakan kakinya.


“Kenapa di tutup. Aku hanya ingin bertemu putra ku!”


“Untuk apa lagi kamu kemari. Kami tidak ingin mengenalmu lagi!” masih berusaha untuk menutup pintu.


“Aku hanya ingin bertemu putraku! Aku janji tidak akan menyakiti kalian,” bentak Aditya.


“Tolong, aku sangat merindukan putra ku,” Ujar Aditya menatap mantan istrinya dengan tatapan sendu.


Adita menatapnya menjadi kasihan, tapi jika mengingat perkataan suaminya dulu yang akan membunuhnya, Adita kembali murka.


“Aku tidak mengizinkanmu!”


“Tolong Adita, setelah ini aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku hanya ingin bertemu dengan putraku, itu saja.”


“Sungguh Adita, aku tidak berbohong. Aku tahu, kamu sudah tidak mempercayaiku lagi. Aku minta maaf, sudah membuatmu menderita. Adita, maafkan aku,” tutur Aditya dengan tatapan sendu.


Adita sejenak berpikir, ia juga tidak mungkin melarang ayahnya bertemu dengan putra kandungnya.


Adita mengangguk, ia perlahan membuka kembali pintu rumah tersebut.


“Eza,” panggil Adita.


“Eza, ada Papa Eza datang sayang,” panggilnya lagi pada putranya tersebut.


Tak lama, Eza berlari kecil keluar kamar. Langkahnya terhenti sejenak, melihat Aditya yang duduk di sofa tersenyum kepadanya.


“Papa,” panggilnya.


Ia langsung berlari menghampiri Aditya dan memeluknya.


“Sayang,” panggil Aditya langsung memeluk erat putranya, bahkan menciumnya berulang kali.


“Papa sangat merindukanmu, Nak.”


“Papa kok lama sih kerjanya?!” protes Eza menatapnya Aditya yang tengah menatapnya juga.


“Iya, Papa kerja sangat jauh. Sekarang Eza tambah gemuk ya,” ujarnya melihat pipi putranya yang semakin gembul.


Adita menatap mereka yang tengah asyik berpelukan, menatap haru karena beberapa bulan tidak bertemu.


Apa dirinya sangat egois, karena tidak pernah mempertemukan antara ayah dan anak.


“Aku bukan tidak ingin mempertemukan kalian, hanya saja aku bingung harus menjawab apa pertanyaan yang di lontarkan Eza nanti,” gumam Adita dalam hati masih menatap haru mereka.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Aditya melihat mantan istrinya hanya diam berdiri di samping sofa.


“Aku baik. Bagaimana kabarmu juga?” tanya Adita balik.


“Iya, sepertinya yang kamu lihat.”


“Kamu pasti bertanya kenapa aku bisa bebas?”


Adita hanya diam tidak menjawab, karena memang ia sejak tadi berpikir bagaimana bisa Aditya bisa bebas. Sedangkan masa hukumannya masih belum selesai.


“ Aku bebas dengan jaminan dan langsung kemari untuk menemui putraku.”


Adita hanya diam.


“Eza, sudah sore Sayang. Cepat mandi dulu,” ujar Adita pada putranya.


“Oke, Ma.”


“Pa, Eza mandi dulu ya.”


“Iya, Sayang. Setelah mandi temui Papa lagi ya,” ujar Aditya mengusap wajah putranya, lalu memberinya kecupan di pipinya.


“Iya, Pa.”


“Aku permisi, mau memandikan Eza dulu.”


“Silakan.”


Adita berpamitan untuk memandikan putranya ke kamar, sementara Aditya tersenyum penuh maksud melihat punggung istrinya.


Sorot mata tajam, menatap mantan istrinya dari atas sampai bawah.


“Kamu sudah berubah,” gumamnya sambil menyeringai.


Sambil bersiul, Aditya merebahkan tubuhnya di sofa panjang dengan satu lengan yang menjadi bantalan.


“Hah ... beberapa bulan di penjara, akhirnya aku bisa menghirup udara bebas.”


Sambil memejamkan mata, Aditya Kembali bersiul. Tanpa ia sadari jika ada yang menatapnya tajam di ambang pintu, sambil melipat tangannya bersandar di pintu.


“Om datang?” teriak Eza yang sudah selesai mandi, melihat Arif berdiri di depan pintu masih dengan pakaian dinas yang lengkap.


Aditya langsung terbangun dari tidurnya dan bergegas duduk.


Adita yang baru saja keluar kamar, terkejut mendengar Eza setengah berteriak memanggil Om tiada lain adalah Arif kekasihnya.


Arif menatap Adita, tatapan meminta penjelasan. Adita hanya tertunduk, karena mengerti akan tatapan Arif padanya.


“Om, gendong.” Eza merentangkan kedua tangannya, meminta di gendong oleh Arif.


“Huh, Sayang wangi sekali. Eza sudah mandi?”


Arif mengangkat tubuh Eza, lalu langsung mencium pipi gembul Eza.


“Sudah dong,” sahutnya mencoba menghindar, karena merasa geli di cium oleh Arif.


“Om, ada Papa Eza. Tuh,” ujar Eza menunjuk Aditya yang duduk di sofa yang tengah menatap mereka.


“Oh, iya Sayang.”


Arif melepaskan sepatunya, lalu masuk ke dalam rumah.


“Om membawakan pizza kesukaan Eza. Mau?”


Eza antusias mengangguk.


Arif menyerahkan kotak pizza tersebut pada Adita, akan tetapi pandangannya tidak beralih pada Aditya.


Adita mengajak putranya untuk ke dapur, membawa kotak pizza tersebut.


“Untuk apa kamu kemari? Apa lagi yang kamu rencanakan?! Belum puas menyakiti Adita dan Eza?!” sorot mata yang tajam, menatap Aditya yang tersenyum licik yang juga tengah menatapnya.


“Aku memang sudah pernah melakukan kejahatan, itu bukan berarti aku bertemu mereka ingin melakukan kejahatan. Berpikir positif, malu sama pakaian yang kamu kenakan!” ketus Aditya yang kesal melihat kedatangan Arif.


“Oh, ya. Lalu apa kepentingan mu datang kemari?!”


“Aku hanya ingin bertemu putraku!” kesal Aditya.


“Yakin hanya itu?”


“Dan juga bertemu dengan istriku! Puas!”


“Biar aku per jelaskan! Mantan istri!” ujar Arif penuh penekanan.


“Oh iya aku lupa!” menyeringai jahat.


“Lalu, apa kepentingan mu kemari? Eza bukan putramu! Apa di sini kamu sedang menangani kasus?!” tanya Aditya tidak mau kalah.


“Tentu saja aku punya kepentingan, aku bertemu calon istriku. Eza memang bukan putraku, tapi, aku memberikannya kasih sayang sebagai ayah dan memberinya contoh yang baik!”


“Sombong sekali!” gerutu Adita.


“Huftt ... aku ingin memberitahu kamu satu rahasia, setelah aku mengatakan ini terserah kamu mau menikahinya atau tidak!” ujar Aditya setengah berbisik agar tidak terdengar oleh Adita yang tengah menyuapi putranya makan pizza.


“Asal kamu tahu. Calon istrimu itu, sering tidur dengan laki-laki demi mendapatkan uang lebih. Padahal aku selalu memberinya uang lebih tiap bulan, tapi dia belum puas!” ujarnya masih setengah berbisik.


Adita menatap curiga pada mantan suaminya yang berbisik pada Arif, sialnya dirinya tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.


“Jaga bicaramu! Tega sekali memfitnah wanita yang sudah melahirkan anak untukmu!” geram Arif mengepalkan kedua tangannya.


“Aku tidak asal bicara. Itu terserah kamu jika tidak mempercayainya,” tutur Aditya yang beranjak dari tempat duduknya.


“Eza, Papa pulang dulu ya. Besok Papa akan bermain kemari lagi,” ujarnya setengah berteriak melihat putranya yang tengah asyik makan pizza.


“Dadah Papa,” ujar Eza melambaikan tangannya.


“Salim dulu sama Papa,” ujar Adita pada putranya.


Eza berlari menghampiri Aditya, lalu mencium punggung tangannya begitupun Aditya mencium pucuk kepala putranya.


Setelah itu, ia melangkah keluar rumah. Namun, langkahnya terhenti ketika di depan pintu, melihat Dika dan juga Icha bersama istri dan suami mereka.


Untuk pertama kalinya, Aditya dan Icha bertemu lagi. Mereka sama-sama berhenti di tempat mereka berdiri saat ini, Icha langsung bersembunyi di belakang suaminya sambil menggendong putranya.


Begitupun dengan Aditya, ia segera pergi dari tempat tersebut tanpa menghiraukan Dika dan Fahry yang tengah menatapnya.