
Sepulang dari rumah putranya Dika, pak Heri tampak lesu.
“Ma, maafkan aku. Maafkan aku sayang, aku sungguh menyesali perbuatanku!” lirihnya masih di dalam mobil.
Selama tiga bulan ini, dirinya tersiksa akan kerinduannya pada istrinya.
Apalagi sikap Anggun yang berubah padanya, di tambah lagi setelah Anggun menikah tidak pernah menjenguknya.
Ia hanya sendiri di rumah, merenungi akan perbuatannya.
Berulang kali pak Heri menghela nafas kasar.
Setelah itu, ia pak Heri melaju menuju ke rumahnya.
Dalam perjalanan pulang, pak Heri mengendarai sendiri tanpa sopir. Karena hari ini sopirnya izin tidak masuk bekerja, karena ada urusan penting dengan keluarganya.
Saat ingin menginjak rem, entah kenapa rem tersebut tidak berfungsi sama sekali.
Pak Heri berusaha tetap tenang agar tidak terjadi sesuatu pada dirinya dan pengendara lainnya.
Saat jalanan menurun, pak Heri mulai panik. Apalagi melihat jalanan yang cukup ramai dengan pengendara roda dua dan empat.
“Astaga bagaimana ini?” Gumam pak Heri mulai panik.
Tin! Tin!
Pak Heri menekan klakson berulang kali, agar memberinya jalan.
“Minggir kalian bodoh! Remku tidak berfungsi, apa kalian mau mati! Minggir!” teriak pak Heri berharap mereka bisa mendengar teriakannya.
Tin! Tiiinnn!
Menekan klakson berulang kali, hingga terdengar klakson saling bersahutan.
Pak Heri tak mampu lagi menahan mobilnya yang semakin kencang melaju, ia membanting setir ke kiri itu lah jalan satu-satunya agar tidak ada korban dalam kecelakaan tersebut. Walaupun nyawanya belum tentu selamat.
Bruukk !
Tak!
Bruakk!
Pak Heri menabrakkan mobilnya ke pembatas jalan, tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan tersebut, akan tetapi pak Heri yang ada di dalam tidak sadarkan diri.
Ada beberapa kendaraan yang kena dampak kecelakaan tersebut, walaupun tidak terlalu parah.
Mobil bagian depan hancur tidak berbentuk, bahkan kap mobil depan terbuka setengah.
Banyak orang yang turun dari kendaraannya untuk melihat keadaannya, mereka tidak berani menolong karena takut akan membahayakan nyawa pak Heri.
Beberapa orang sudah menghubungi ambulance, tak butuh waktu lama mobil ambulance tiba beruntung ada rumah sakit terdekat dari tempat kejadian.
Pak Heri langsung di evakuasi ke dalam mobil ambulance tersebut untuk di berikan pertolongan pertama sebelum tiba di rumah sakit.
🌹🌹🌹
Selesai salat berjamaah, Bu Sintya dan Icha menyiapkan makan malam untuk mereka.
“Ma, bagaimana kabarnya Abang?”
“Baik, sayang. Mama sudah memberitahu mereka tentang kehamilanmu dan mereka berniat ingin berkunjung kemari,” tutur Bu Sintya.
“Wah, benarkah. Icha sangat merindukan mereka dan juga ...” Icha menggantungkan perkataannya.
“Dan apa Sayang? Papamu ...” sela Bu Sintya.
Bu Sintya tidak pernah meminta Icha untuk membenci Papanya, seburuk apapun suaminya dia tetapnya ayah kandung dari Icha.
“Jangan sekarang Sayang. Mama yakin, jika Papa baik-baik saja.”
Icha mengangguk.
“Sekarang kita makan. Panggil suamimu,” ujar Bu Sintya sambil menarik kursi.
Ia menghela nafas, selama tiga bulan ia tidak mendengar dan melihat suaminya.
Dirinya ingin menghubungi suaminya tersebut, masih ada rasa rindu di hatinya. Namun, jika mengingat perlakuan pak Heri pada anaknya ia semakin membencinya.
“Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu saat ini, berbahagia dengan anakmu dan melupakan anakmu yang lain.”
“Ma, kok melamun?” tanya Icha lembut yang baru datang dengan suaminya.
“Hah, oh tidak kok.”
Bu Sintya hendak mengambil nasi untuk anaknya di tahan oleh Icha.
“Ma, biar Icha saja. Icha hamil jangan terlalu di manja, Ma,” tutur Icha lembut.
Bu Sintya tersenyum, mendengar ucapan putrinya yang ada benarnya.
“Iya, baiklah Bumil.”
“Sudah, kalian duduk saja. Biar aku yang menyajikan kalian makanan,” sela Fahry menarik pelan tangan istrinya.
“Loh, Mas.”
“Sstt ... duduk yang benar, aku akan mengambilkan mu makanan.”
“Tapi Mas ...”
“Sudah, jangan banyak bicara,” tutur Fahry sambil menuangkan nasi dan lauknya pada piring istri dan ibu mertuanya.
“Terima kasih, Fahry.”
“Sama-sama, Ma.”
Mereka makan malam bersama berbincang dengan hangat, makan dengan lahap. Bahkan Icha makan hingga menghabiskan sayur yang Bu Sintya masak, hingga suaminya tidak kebagian.
“Maaf Sayang, sayurnya habis. Mas jadi tidak kebagian,” ujar Icha melihat sayurnya sudah tidak bersisa.
“Tidak perlu meminta maaf , Sayang. Jika kamu menyukainya, besok aku akan membelikan mu yang banyak.”
“Iya, Mas. Aku sangat suka,” sahutnya.
“Oke, besok Mas akan pilih sayur yang segar-segar untuk Ibu dan anaknya di dalam sini.”
Mengelus pelan perut istrinya yang masih rata.
Selesai makan bersama, Icha membantu suaminya menghitung uang hasil penjualannya hari ini.
“Sayang, insya Allah jam 3 dini hari nanti aku pergi ke pasar.”
Icha langsung menghentikan aktivitasnya.
“Pagi sekali Mas. Apa tidak bisa agak siang seperti sebelumnya?” tanya Icha sedikit cemas.
“Mas sering kehabisan yang segar-segar Sayang. Makannya itu, Mas harus pagi-pagi sekali agar tidak kehabisan.”
“Tapi, Mas. Aku takut terjadi sesuatu denganmu, jika perginya terlalu pagi. Mas tahu, jika jalanan yang di lewati itu cukup rawan penjahat.”
Fahry melihat wajah istrinya begitu cemas.
“Iya, baiklah.”
Icha tersenyum mendengar jawaban sang suaminya.
“Kalau belum dapat yang segar, berarti belum rezeki Mas.”
Namun, Fahry mengernyit heran, melihat wajah istrinya yang cemberut.
“Mas marah?”
Fahry menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak marah Sayang.,” tuturnya lembut menarik istrinya ke dalam dekapannya.
Dekapan lembut Fahry membuat Icha begitu nyaman, apalagi mencium aroma tubuh suaminya.
“Mas, wangi banget,” ujarnya mendekatkan wajahnya pada leher suaminya, menciumnya berulang kali.
“Apa ini hormon wanita hamil yang suka berubah-ubah?” gumamnya dalam hati.
“Oh ya, wangi? Padahal aku memakai sabun yang sama,” ujarnya sangat senang dengan perlakuan istrinya.
Fahry malah melepaskan pakaiannya, agar istrinya bisa leluasa menghirup aroma tubuhnya.
“Kenapa di lepas Mas?” mengernyit heran.
“Katanya wangi, aku melepaskannya agar istriku bisa lebih nyaman mencium aroma tubuhku.”
“Alasan saja!” serunya.
Fahry terkekeh, walaupun begitu Icha tetap menghirup aroma tubuh suaminya mencium beberapa titik yang begitu sensitif bagi suaminya.
“Sayang, jangan disitu. Jangan salahkan aku jika kamu tidak bisa tidur malam ini!” ancam lembut Fahry karena Icha bertindak agresif.
“Sayang,” Fahry lagi melihat istrinya tidak bergeming.
Fahry menarik pelan tubuh istrinya dan menggendong ke tempat tidur dan mengacak tubuh istrinya disana.
🌹🌹🌹
Dirumah.
Anggun melirik jam sudah pukul 10.08, akan tetapi suaminya tidak kunjung pulang.
Ting! Tong!
Seseorang menekan bel, Anggun menyungging senyum dia menebak jika yang datang adalah suaminya.
Seorang pekerja rumahnya membuka pintu, akan tetapi bukan suaminya yang datang melainkan suara perempuan.
Tak!
Tak!
Suara high heels menggema saat wanita itu memasuki rumah.
Anggun mengernyit heran, karena tidak mengenali wanita itu.
Wanita tersebut menghentikan langkahnya melihat Anggun menatapnya dari lantai atas.
“Siapa wanita ini?” gumam Anggun dalam hati.
Karena penasaran, ia melangkah menuruni tangga dengan pelan.
“Siapa Kamu?” tanyanya.
“Oh, begitu cara menerima tamu dengan sopan?!” ejek wanita tersenyum dengan menaikkan bibirnya sebelah.
“Dimana suamiku?” tanyanya langsung.
“Suami?” tanya Anggun bingung.
“Huftt ... pria yang menikah dengan mu beberapa hari yang lalu!” kesalnya.
“Oh, Kamu istrinya. Wanita yang tidak bisa memberikan suaminya anak itu!” ketus Anggun.
“Diam kamu!” benaknya.
“Tidak sopan! Kamu ini baru menikah beberapa hari, sudah tidak sopan terhadap istri pertama dari suamimu!”
“Memang benar adanya!” ujar Anggun tidak mau kalah.
“Aku kemari tidak ingin mencari ribut! Aku hanya bertanya dimana suamiku? Ada hal penting yang ingin ku bicarakan.”
“Dia sedang tidak ada di rumah! Kenapa tidak kamu hubungi saja? Repot-repot sekali kemari.”
Melangkah meninggal istri pertama dari suaminya untuk duduk di sofa.
“Hei tidak sopan sekali orang tua bicara! Jika saja ponsel suamiku bisa di hubungi sejak tadi, aku tidak mungkin datang kemari!”
“Aku juga tidak tahu dimana suamiku berada! Sejak tadi belum pulang!” ketus Anggun sambil bermain ponsel.
“Jangan berbohong!”
“Aku sungguh. Jika tidak percaya, kamu bisa memeriksa semua kamar yang ada di rumah ini.”
“Huft ... kemana dia?” gumamnya dalam hati.
Terdengar suara deru mobil yang baru datang.
Wanita yang mengaku istri pertama dari pria yang menikah dengan Anggun tersebut, melangkah cepat untuk keluar rumah.
“Sayang,” panggilnya melihat suaminya baru keluar mobil.
“Sinta,” gumamnya.
Istri pertamanya itu langsung memeluknya setelah lama tidak bertemu.
“Kamu kemari? Aku bahkan ke rumahmu sore ini, tapi dirimu tidak ada ternyata kemari. Kenapa kemari? Bukankah sudah aku katakan jangan kemari!”
Pria itu mengajak istri pertamanya untuk masuk ke dalam mobil.
“Aku merindukanmu Mas. Kenapa lama sekali di rumah ini, aku sudah rela pindah ke apartemen. Tapi kamu berbohong ingin datang ke sana!” protesnya.
Rumah yang Anggun tempati saat ini adalah, rumah dari istri pertamanya.
Ia rela pindah dari rumah tersebut ke apartemen, demi sebuah kesepakatan antara mereka.
“Aku sudah ke apartemen, tapi dirimu tidak ada. Ya sudah aku kembali ke sini,” sahutnya sambil memeluknya.
Anggun yang mengintip dari jendela, ia sangat kesal melihat kemesraan antara suami dan istri pertamanya.
“Aku harus segera hamil,” gumamnya pergi meninggalkan tempat itu untuk ke kamarnya.
“Sekarang ayo kita ke apartemen lagi,” ajaknya.
Suaminya terlihat menimbang permintaan istrinya tersebut, ia membisikkan sesuatu di telinga istrinya
Terlihat Sinta tersenyum sambil mengangguk.
“Baiklah, kalau begitu aku pulang.”
Mengecup bibir suaminya sekilas, begitupun dengan sang suami yang tidak tahan dengan sikap manis istrinya.
Ia menarik istrinya dan membenamkan bibir mereka.
“Tunggu aku di apartemen,” bisiknya dengan nafas yang tersengal.
Sinta mengangguk tersenyum, lalu keluar dari mobil tersebut menuju mobilnya.