
Mentari pagi ini tidak malu-malu untuk menampakkan dirinya, kicauan burung begitu merdu menyambut sang Surya.
Pagi yang cerah, tanpa di selimuti awan hitam sedikitpun. namun, tidak secerah wajah wanita berusia sekitar 32 tahun tersebut.
Adita, hampir semalam penuh ia tidak dapat memejamkan matanya. Meratapi nasibnya saat ini, tidak ada keluarga yang dapat ia kunjungi apalagi seperti saat ini.
Adita sudah menjadi anak yatim piatu saat ia menginjak usia 18 tahun.
Adita masih meringkuk di tempat tidur, tanpa memejamkan matanya.
Tampak jelas mata cekung, terdapat warna hitam di bawah kantung matanya.
Suaminya di penjara, semalam penuh memikirkan nasib mereka berdua. Anak yang masih berusia tiga tahun lebih, harus tanpa sang ayah.
Entah bagaimana ia menjelaskan pada putranya, jika putranya bertanya keberadaan ayahnya.
Saat ini, Aditya sudah mendekam di sel tahanan, karena harus mempertanggung jawabkan perbuatannya.
“Mama, susu ...” Ujar Eza putranya langsung duduk meminta susu.
Seketika Adita langsung tersadar setelah mendengar suara putranya, ia melirik jam dinding sudah pukul 07.01 pagi.
“Astaga, sudah jam tujuh pagi?” gumamnya baru tersadar.
“Mama, huhuhu ... susu, huhuhu,” Eza menangis tersedu-sedu.
“Iya, sayang,” sahutnya lembut lalu beranjak dari tempat tidur, mengambil susu botol yang sudah ia siapkan.
“Ini sayang,” Ujarnya menyerahkan botol susu tersebut, Eza langsung merebahkan tubuhnya lalu menempelkan botol susu tersebut ke mulutnya.
Adita menatap wajah putranya yang tidak berdosa itu, di usia yang masih balita harus ikut menanggung semua perbuatan ayah kandungnya.
“Kita pasti kuat Sayang, Mama akan berjuang demi kamu dan masa depanmu. Kita akan memulai hidup baru, hanya ada Eza dan Mama.” Mengusap pelan rambut putranya.
Eza hanya tersenyum melihat Adita berbicara padanya, tanpa mengerti apa yang mamanya katakan.
“Hari ini kita pergi dari rumah ini sayang, kita sudah lama berada di sini. Meskipun Mama tidak tahu harus pergi ke mana?”
Melihat putranya sudah menghabiskan susunya, ia memangku putranya dan mengajaknya mandi.
“Eza mandi ya, sayang.”
Eza mengangguk.
Ia melepaskan semua pakaiannya dan membawanya ke kamar mandi.
Setelah mandi, Adita mengenakan pakaian putranya dan setelah itu ia mengemasi pakaian.
Pakaian yang di belikan oleh istri pak Candra untuk mereka berdua, karena sebelumnya ia hanya membawa pakaian yang hanya ada di tubuhnya saja waktu kabur dari rumahnya.
🌹🌹🌹
Anak buah Aditya yang paling setia padanya sebut saja namanya Diki, hingga saat ini masih belum tertangkap juga.
Bahkan ia mempercayai ucapan wanita yang berada di desa itu, jika Icha saat ini berada di China.
Setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam 10 di atas udara, kini ia sudah tiba di Sanghai China.
Saat tiba di sana, ia melihat nomor ponsel Icha sudah kembali aktif.
Namun, ia melihat titik lokasi Icha bukanlah di China, melainkan berada di Indonesia.
“Bodoh! Ternyata aku di tipu oleh wanita itu! Sialan!” umpatnya.
“Awas saja kau! Aku tidak akan membiarkan kalian hidup, karena sudah mempermainkanku! Kalian tidak tahu sudah berhadapan dengan siapa!” ancamnya mengepal tangannya kuat.
Lalu ia menekan nomor bosnya Aditya.
“Kenapa nomornya bos bisa di hubungi sejak kemarin?” gumamnya, ia mencoba menghubungi berulang kali semua nomor ponsel bosnya.
“Apa jangan-jangan ...” gumamnya.
“Tidak, pasti mereka semua baik-baik saja,” gumamnya.
Sebelumnya Diki di minta oleh Aditya untuk terlebih dahulu pergi ke desa itu, karena jaringan sangat sulit sekali di desa itu. Hingga nomor Diki sangat sulit di hubungi, hingga keberadaannya sedikit sulit di ketahui oleh polisi.
Kini Diki harus kembali ke kota itu dan memesan tiket kembali. Ia harus menemui bosnya kembali, yaitu Aditya.
Tanpa ia ketahui jika saat ini Aditya sudah di tahan oleh polisi.
🌹🌹🌹
Dika sudah bersiap untuk pulang ke rumah Hari ini, ia sudah bersiap untuk pulang.
Sebelum itu, Dika juga mengurus meminta izin kepada dokter untuk merawat pak Heri di rumah saja.
Tentu ia harus menyewa perawat untuk merawat papanya di rumahnya.
“Ma, kita akan berkumpul lagi di rumah Ma,” ujar Dika ketika melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit menuju mobil mereka yang terparkir.
“Iya, Sayang. Walaupun Papa masih koma, tapi setidaknya kita sudah berkumpul kembali Sayang.”
“Iya, Ma.”
“Pagi tadi, Icha menghubungi Mama. Ia nekat ingin ke rumah sakit, tapi Mama melarangnya. Takut terjadi sesuatu padanya, kota ini masih tidak aman untuknya,” tutur Bu Sintya.
“Iya, Ma. Jangan biarkan Icha keluar rumah Ma.”
Pak Heri di bawa oleh mobil Ambulance untuk ke rumahnya bersama Bu Sintya dan beberapa perawat, sedangkan Dika pulang dengan mobilnya karena tidak ingin ikut mobil ambulance.
Setibanya di rumah, Icha dan Fahry sudah menunggu kedatangan keluarganya di rumah pak Candra.
Pak Candra meminta Dika mereka semua tinggal di rumahnya, karena tidak ingin terjadi apa- apa pada mereka. Karena situasi saat ini masih belum begitu aman untuk mereka.
Saat membuka pintu rumah, tangannya di gandeng oleh istrinya Indah untuk masuk ke dalam rumah.
Icha mengernyit heran melihat Abangnya di gandeng oleh Indah, karena saat ini Dika memakai pakaian yang kebesaran agar menutupi luka di bahunya. Sehingga Icha tidak melihat luka abangnya tersebut.
“Abang sakit?” tanya Icha melihat wajah Abangnya yang terlihat sedikit pucat.
Dika menggelengkan kepalanya.
Sedangkan pak Heri langsung di bawa ke kamar khusus untuknya, Icha menatap wajah Papanya yang di bawa tersebut yang masih terbaring di bangsal.
Ia mengikuti perawat yang membawa pak Heri ke kamar, begitupun dengan Fahry.
Mereka semua berkumpul di kamar tersebut, kecuali Dika. Ia harus beristirahat karena merasa sangat nyeri di bahunya.
“Sakit Bang?” istrinya terlihat cemas.
“Sedikit,” sahutnya.
Indah perlahan membuka pakaian suaminya, ia melihat luka di bahu yang sedikit mengeluarkan darah.
“Bang, berdarah.”
Indah mulai panik.
Indah mengangguk, terlihat tangannya gemetar memegang kapas untuk membersihkan darahnya.
“Kamu takut melihatnya?”
“Ti-tidak,” sahut Indah terlihat gugup.
Walaupun sebenarnya ia sangat takut melihat darah, tapi ia berusaha untuk menutupi rasa takutnya demi membantu suaminya.
Di kamar lain.
Icha duduk di kursi, sembari memegang tangan pak Heri.
“Pa, kenapa Papa jadi seperti ini?” dengan suara bergetar menahan tangisnya.
“Pa, Icha minta maaf ya. Icha banyak salah pada Papa, Icha ingin berkumpul lagi Pa. Papa pasti sembuh,” ujarnya menatap lembut sang Papa tanpa sadar meneteskan air mata.
“Bangun dong, Pa. Marahi saja Icha, Icha rela kok. Icha merindukan suara Papa, apa Papa tahu? Sebentar lagi Papa akan menjadi Kakek.”
Mengusap perutnya yang rata.
Fahry memberi ruang untuk istrinya dan Papa mertuanya, begitupun dengan yang lainnya.
“Pa, bangun dong.”
Dengan suara tangis yang terisak-isak, bahkan Icha berulang kali mencium lengan Pak Heri.
“Papa pasti merindukan Mama kan? Mama sudah pulang Pa, jangan marahi Mama ya. Papa marahi Icha saja, karena Icha yang membawa Mama pergi ikut bersama Icha.”
Adita yang sebelumnya ingin berpamitan pada pak Candra, di urungkannya karena melihat Dika sudah pulang dari rumah sakit.
Apalagi melihat situasi sekarang ini, hingga ia menunda niatnya untuk pergi dari rumah itu.
Sore hari, semua orang berkumpul di ruang tamu.
Icha dan Fahry sangat terkejut mendengar Dika penjelasan Abangnya Dika, bahkan dia di tembak oleh suruhan Aditya.
Fahry menggelengkan kepalanya, ia bahkan sempat menuduh papa mertuanya waktu itu jika ia Papa mertuanya lah mengirim pesan yang bernada ancaman tersebut.
Saat ini ia baru mengerti, jika Aditya memanfaatkan semua itu untuk mengelabui semua orang, agar pak Heri lah yang terlihat bersalah.
“Bi, panggil Adita,” ujar Dika.
Karena sejak ia pulang tidak melihat Adita sama sekali, wanita yang malang harus merelakan suaminya mendekam di sel tahanan demi membongkar semua kebusukan suaminya.
Bahkan ia tidak tahu nasibnya setelah ini.
“Iya,” sahut pekerja rumah tersebut.
Tak lama, Adita keluar dengan Eza yang mengekorinya, ia perlahan melangkah mendekati orang yang ada di ruang tamu tersebut.
“Eza, ikut Bibi yuk. Kita mainan,” ajak pembantu rumah tersebut.
Eza mengangguk, lalu mengikuti langkah pembantu rumah tersebut.
Adita langsung duduk di lantai sambil menunduk persis di hadapan Icha.
“Nona, mungkin aku sudah terlambat untuk mengatakan ini. Tapi, dari hati yang paling dalam. Aku meminta maaf pada Nona, atas apa yang aku katakan terhadapmu waktu itu.”
“Aku sungguh menyesal Nona, entah apa yang aku ucapkan dulu padamu. Itu murni karena aku sangat mencintai suamiku, bahkan aku mengeluarkan kata-kataku tanpa sadar.”
Terlihat Adita berulang kali mengusap air matanya yang mengalir di pipinya.
“Mbak, Adita ya namanya?” Adita mengangguk.
Icha menarik pelan bahunya, lalu mengajaknya untuk duduk di sofa empuk, semua orang menatap mereka.
Tidak terlihat sedikit pun dari wajah Icha mempunyai rasa dendam.
“Mbak, aku tidak pernah memasukkan ke hati perkataan mbak waktu itu. Bahkan aku yang berterima kasih, karena berkat Mbak Adita kami semua Kembali berkumpul.”
“Terima kasih Nona.”
“Jangan berterima kasih, anggap saja semua di rumah ini adalah keluargamu.
“Iya, Nona. Saya juga ingin pamit, karena tugas saya sudah selesai. Saya sudah menceritakan semuanya pada pihak kepolisian dan saya harus pergi. Saya juga siap akan bersaksi di pengadilan nanti.”
“Pergi. Pergi ke mana?” tanya Icha.
“Saya harus memulai hidup saya yang baru bersama putra saya, Nona.”
“Tidak. Kamu tidak di izinkan untuk keluar dari rumah ini sebelum semuanya aman,” tutur Dika menyela ucapan Adita.
“Iya, Dika benar,” tambah pak Candra.
“Adita. Sudah saya katakan kemarin, jangan sungkan di dalam rumah ini. Semua ini adalah keluargamu,” sela istrinya pak Candra.
“Tapi, Nyonya. Saya sudah banyak merepotkan kalian, biarkan saya pergi, Nyonya.”
“Mbak. Tetaplah di sini untuk sementara waktu, sampai semuanya aman,” tutur Icha lembut.
“Tapi, Nona. Apakah saya dan putraku tidak merepotkan kalian?”
“Tidak sama sekali,” sela istrinya pak candra.
“Justru saya senang. Di rumah ini berkumpul semua keluarga saya, termasuk kamu. Kadang aku kesepian jika suami dan anakku pergi berangkat bekerja, dengan rumah sebesar ini aku hanya sendirian.”
“Adita. Kami salut dengan keberanianmu untuk mengatakannya, walau saat ini kamu tidak tahu nasib kalian berdua. Tapi, kamu tidak perlu khawatir ada kami selalu bersamamu,” tutur istri pak Candra mengelus lembut punggung Adita.
Adita Kembali menangis, ia tidak menyangka. Suaminya sudah mencelakai mereka, akan tetapi mereka tetap baik padanya.
“Terima kasih Nyonya. Aku tidak menyangka bertemu dengan orang yang sebaik kalian, setelah apa yang telah di lakukan oleh suamiku.”
“Iya, Sama-sama.”
“Nona, Icha. Sekali lagi, maafkan saya. Aku tidak tahu harus membalas dengan apa perbuatan baik kalian.”
Icha langsung memeluk Adita yang masih terlihat menunduk, Adita membalas pelukan dari Icha.
“Kamu tenang. Semua akan baik-baik saja,” bisik Icha yang mengerti akan kecemasan Adita.
Adita mengangguk.
Semua orang tersenyum melihat Adita dan Icha yang saling berpelukan.
Pak Candra merasakan getar ponsel miliknya di saku celananya.
Ia merogoh ponsel tersebut dan tertera jelas nama polisi di layar ponselnya.
Dika juga tidak sengaja melihat nama di layar ponsel milik pak Candra, karena mereka duduk bersebelahan.
“Sebentar Dika, aku menerima telepon Dulu,” pamit pak Candra pada Dika.
Dika mengangguk, ia bahkan ikut cemas melihat polisi yang menghubungi Pak Candra.
“Semoga ada kabar baik,” gumam Dika dalam hati.