Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 56



Sore hari, setelah pulang dari kantor Dika menjemput adik iparnya terlebih dahulu.


“Fahry, mulai besok kita sudah mulai kembali membangun rumah singgah kita,” ujar Dika saat mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menembus padatnya kota tersebut saat di sore hari.


“Iya, Bang. Alhamdulillah, semoga bermanfaat bagi orang-orang yang membutuhkan,” sahut Fahry.


“Aamiinn ....”


Setibanya di rumah, Fahry melihat anak-anak yang selalu mengaji bersama sedang duduk makan camilan bersama istrinya.


Di temani oleh Icha di samping mereka, sedangkan Indah berbincang di kursi lain bersama Ibu mertuanya.


“Assalamualaikum ...” ucap Fahry memberi salam.


Semua orang yang ada di rumah tersebut, terutama anak-anak yang antusias menyahut salam mereka.


“Waalaikumsalam ...” sahut mereka bersama.


Mereka bergantian mencium punggung tangan Fahry dan Dika, tak terkecuali Icha.


Bergantian dengan Fahry dan Dika mencium punggung tangan Bu Sintya.


“Wah, kalian sudah datang rupanya.”


“Iya, kak Fahry.”


“Sebentar ya, Kak Fahry mandi dulu.”


“Iya, kak.”


“Bang. Jika Abang ingin mandi, pakai pakaian Fahry saja kalau Abang tidak membawa baju. Kurasa ukuran baju kita sama Bang,” ujar Fahry menawarkan kakak iparnya pakaian.


“Iya, Fahry terima kasih. Tapi, istriku sudah menyiapkan pakaianku saat hendak kemari. Mungkin, bisa lain kali aku meminjam pakaianmu.”


Fahry mengangguk.


“Baiklah, aku pamit sebentar. Ma, Fahry mandi dulu,” pamit Fahry.


“Iya nak Fahry.”


Fahry melangkah memasuki kamarnya, di ikuti oleh Icha di belakangannya.


“Bagaimana pekerjaanmu Mas hari ini?”


“Alhamdulillah ... oh ya, Bu Diana titip salam padamu,” ujar Fahry meletakkan tas kecil miliknya.


“Waalaikumsalam ... aku lupa menghubungi Diana, Mas. Aku akan menghubunginya besok,” ujar Icha memberikan handuk untuk suaminya.


“Iya. Aku mandi dulu,” pamit Fahry sembari memberi ciuman di pipi kanan istrinya.


Seminggu lebih sudah pernikahan mereka, Icha sudah biasa dengan sikap Fahry begitupun sebaliknya.


Icha tersenyum melihat kepergian suaminya, Icha melangkah mendekati lemari dan mengambil pakaian suaminya untuk ia pakai.


Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Icha menutup jendela dan tirai karena hari sudah mulai gelap.


Terdengar suara kamar mandi terbuka, melihat suaminya keluar dengan handuk melilit di pinggangnya.


Sebenarnya dirinya masih malu jika Fahry keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk saja, akan tetapi ia mencoba bersikap seperti biasa saja.


“Ini pakaianmu, Mas.”


Memberikan pakaian tersebut pada suaminya.


“Terima kasih sayang.” Menyambut pakaian tersebut dari tangan istrinya.


“Kamu sudah mandi?” tanya Fahry.


“Sudah Mas,” sahut Icha.


“Oh, pantesan.”


“Kenapa Mas?” tanya Icha bingung.


“Kamu sangat cantik sore ini,” goda Fahry sembari memakaikan pakaiannya.


“Hm ... memangnya kemarin aku tidak cantik?” dengan sengaja memasang wajah cemberutnya.


“Hm ... bagaimana ya?”


Fahry terkekeh, lalu menarik tangan istrinya masuk ke dalam dekapannya.


“Ada dua wanita yang paling cantik di dunia ini. Yaitu, kamu dan almarhum ibuku.”


Fahry menatap netra istrinya yang hitam legam, di tambah pipi yang sedikit gembul membuat Fahry semakin gemas untuk mencubitnya. Namun, tidak ia lakukan di ganti dengan menciumnya gemas.


Cup! Cup! Cup!


Ciuman tersebut berulang mendarat di pipi gembul istrinya.


“Mas, semua orang menunggu kita.”


Icha mengingatkan suaminya, yang sejak tadi tak hentinya bermain dengan pipinya.


“Semoga dia segera hadir,” ucapnya mengelus pelan perut istrinya.


“Aamiinn ...” sahut Icha.


“Ayo,” ajak Fahry menarik pelan lengan istrinya keluar kamar.


Sambil menunggu masuknya waktu magrib, mereka berbincang hangat di ruang tamu. Sambil meminum teh hangat dan beberapa camilan yang di buatkan oleh Icha dan Indah sore tadi.


Fahry tersenyum melihat Icha yang duduk bersama Ifal dan temannya, mereka begitu cepat akrab. Entah apa yang mereka bicarakan hingga begitu serius.


“Fahry, ini uang tabungan Mama. Sesuai janji Mama waktu itu, menyekolahkan Ifal dan yang lainnya. Mama serahkan uangnya padamu biarkan kamu mengatur bagaimana baiknya.”


“Alhamdullilah ... terima kasih Ma.”


“Oh, ya. Mama akan berikan uangnya setiap bulan padamu, Fahry.”


“Iya, Ma.”


Terdengar suara Adzan magrib, mereka bergantian mengambil air wudhu. Lalu lanjut salat magrib bersama, di imami oleh Fahry.


Setelah itu di lanjut dengan anak-anak yang mengaji pada Fahry, tak terkecuali Bu Sintya.


Saat ini Bu Sintya tidak di bantu oleh Icha lagi untuk mengaji, bahkan ia sudah hafal beberapa surah. Karena setiap malam ketika suaminya tertidur lelap, ia belajar mengaji dan menghafalnya di kamar lain.


Di lanjut, dengan makan malam bersama. Dika selalu memesan makanan yang berlebihan.


Beruntung Icha dan Indah memasak tidak terlalu banyak, karena ia tahu pasti Abangnya memesan makanan untuk mereka.


Ifal makan dengan lahap, tak terkecuali Andi dan dua lainnya.


Bahkan Dika memesan makanan khusus untuk di bungkus, agar Ifal dan yang lainnya membawa pulang untuk orang tua dan adiknya di rumah.


Selesai makan, Dika berbincang dengan Mamanya di susul Fahry yang ikut bergabung.


“Ma, bagaimana keadaan Papa?” tanya Dika.


Bu Sintya menghela nafas berat, ia sebenarnya tidak ingin membebani anak-anaknya. Akan tetapi, ia harus menceritakan agar mereka mengetahuinya.


“Papa belum berubah.” Tatapan sedih Bu Sintya.


“Papa masih sama sepertinya yang dulu, bahkan lebih parah. Mama bingung harus menghadapinya bagaimana lagi,” ujarnya.


“Ma, serahkan semua kepada-Nya. Dia yang maha mengetahui segalanya,” sahut Dika.


“Saat ini, kami tidak bisa berbuat apa-apa Ma.”


“Mama hanya meminta doa pada kalian semua, semoga Papa terbuka hatinya untuk bertobat.”


“Aamiinn ...” ujar Fahry dan Dika bersamaan.


“Kamu mungkin sudah mengetahui ini Dika, jika adikmu Anggun sudah bercerai dengan suaminya. Mama tidak habis pikir, kenapa Papa melakukan ini Pada Anggun. Hiks! Hiks!”


“Otak Anggun sudah di cuci oleh Papamu, dan saat ini dirinya sangat membenci Icha.”


Bu Sintya menangis hingga terisak.


“Sudah Ma. Saat ini fokus dengan kehidupan Mama, lebih khusuk lagi menjalankan ibadahnya. Masalah Papa dan Anggun, Dika akan mencoba berbicara nanti.”


Bu Sintya mengangguk.


“Ma, serahkan semuanya kepada Allah.”


“Iya, Nak Fahry. Jangan biarkan Icha mengetahui hal ini, karena Icha begitu sangat menyayangi Kakaknya. Mama hanya tidak ingin ada yang tersakiti di antara keduanya.”


Dika dan Fahry mengangguk.


Setelah lama berbincang, Dika dan istrinya berpamitan pulang tapi setelah melaksanakan salat isya tentunya.


Begitupun dengan Mamanya, Bu Sintya pulang dengan membawa mobilnya sendiri.


Dika dan Indah menawarkan diri untuk mengantar Ifal dan temannya.


Karena terlihat rintik hujan yang mulai turun, jika Fahry mengantar mereka dengan menggunakan motor pasti mereka akan kehujanan.


Fahry dan Icha mengantar mereka hingga ke teras rumah, setelah mereka menghilang dari pandangan, Icha lebih dulu masuk karena perutnya yang tiba-tiba sakit dan hendak ke kamar mandi.


Fahry melihat seseorang wanita yang sejak tadi tidak pergi dari tempat tersebut. Menatap ke arah rumahnya, akan tetapi ia tidak dapat mengenali wanita tersebut karena memakai topi dan menggunakan masker.


“Siapa wanita itu? Kenapa memandang ke arah kemari? Ku perhatikan mobil ini sejak sore berada disini?” gumam Fahry.


Ia ingin menghampiri wanita tersebut, berniat ingin bertanya apakah dia butuh sesuatu.


Namun, baru beberapa langkah. Mobil tersebut langsung tancap gas dengan cepat meninggalkan tempat tersebut.


Fahry mengernyit kening heran, bahkan bertanya-tanya siapa wanita tersebut.


“Mungkin sedang mencari alamat, atau menunggu seseorang!” gumam Fahry lagi melangkah masuk ke dalam rumahnya.


Ia hanya berpikir positif, tidak ingin berpikir buruk tentang wanita itu.