
Semua orang menatap gundukan tanah yang baru saja di taburi bunga tersebut, Bu Sintya terduduk memegang nisan yang bertuliskan kan nama Heriyanto bin Abdulah tersebut.
Satu persatu orang sudah beranjak dari tempat pemakaman umum tersebut, kecuali Bu Sintya, anak dan menantunya.
Sementara Anggun masih betah dalam selimutnya, tidak mengetahui jika sang Papa sudah pergi untuk selamanya.
Icha sudah berusaha membangunkan kakak perempuannya tersebut, akan tetapi dirinya mendapat perlakuan tidak baik dari Anggun.
Bahkan Icha di tendang oleh Anggun, saat berusaha membangunkannya karena mengganggu tidurnya.
Melihat hal itu, Dika melarangnya untuk memberitahu Anggun lagi dan membiarkan dirinya tidur.
Dika dan Icha mengusap bahu Mamanya dan mengajaknya pulang dari makam itu.
Bu Sintya mengangguk, lalu beranjak dari tempat tersebut.
Setibanya di rumah, suara tangis Azam yang begitu nyaring. Karena sebelumnya Icha menitipkan Azam pada pembantunya di rumah, karena tidak ingin membawa putranya pergi ke makam, apalagi cuaca saat itu hujan gerimis.
Mendengar suara tangis putranya, Icha setengah berlari menaiki tangga untuk menghampiri putranya.
“Kenapa Bi?” tanya Icha masuk ke dalam kamar.
“Azam sejak tadi menangis Nona, Bibi sudah berusaha menenangkannya.”
“Iya, Bi. Icha ganti pakaian dulu sebentar.”
Icha segera menggantikan pakaiannya, lalu dengan cepat mengambil putranya dan memberi air susunya.
Akan tetapi Azam menolak dan terus menerus menangis.
“Azam kenapa Nak? Kangen opa ya,” ujarnya menatap sang putra yang masih menangis.
Icha membawa ke luar kamar dan menuruni tangga perlahan.
“Cup, cup, anak Mama.”
Sambil menepuk punggung Azam pelan agar berhenti menangis.
“Azam kenapa Nak? Kok menangis hingga seperti itu,” tanya sang Mama.
Ia mengambil alih Azam dari gendongan Icha, lalu membawanya ke kamarnya yang ada di lantai bawah.
Karena ada beberapa tamu yang datang ikut berbela sungkawa atas meninggalnya pak Heri, Dika dan Fahry juga ikut berbincang hangat juga menyambut tamu penting tersebut.
Saat di kamar, Azam di baringkan di tempat tidur. Azam langsung berhenti menangis, tampak ia bermain dengan ujung kerudung Bu Sintya.
“Ma, sepertinya Azam merindukan Papa. Pasti ia juga merasakan kehilangan Papa, Ma.”
Bu Sintya dengan cepat menghapus air matanya, berusaha agar tidak menangis.
“Iya, Sayang. Kita harus ikhlas dengan kepergian Papa,” ujar Bu Sintya memeluk putrinya.
“Sepertinya Azam sudah tenang, berikan ia asimu.”
Icha mengangguk, sembari mengusap air matanya.
“Mama mau keluar, nanti menyiapkan untuk tahlilan Papa nanti malam.”
“Iya, Ma.”
Setelah melihat Mamanya keluar, Icha membuka kerudungnya lalu merebahkan tubuhnya untuk menyusui putranya.
Dika dan Fahry baru saja mengantar tamu mereka pulang ke teras, setelah itu mereka kembali masuk ke dalam rumah.
Sesuai keinginan terakhir pak Heri kemarin, ia ingin Dika dan Fahry ikut memandikan jenazahnya.
Sedangkan Dika, ia melihat sekelilingnya tidak melihat adik perempuan satunya lagi.
Karena sudah sangat kesal melihat tingkah Anggun, ia setengah berlari menaiki tangga untuk menemui Adiknya. Sebenarnya dirinya sejak tadi sudah ingin menegur kelakuan adiknya, akan tetapi ia menahannya karena tidak mungkin berdebat di depan jenazah papanya.
Bruakk!
Dika membuka paksa pintu adiknya, hingga pintu tersebut terbentur kuat ke dinding.
“Ada apa sih?! Ribut banget!” geram Anggun merasa terganggu dengan kedatangan Abangnya.
Dika menatap adiknya yang masih dalam selimut, hanya kepalanya yang muncul.
“Kamu minum kemarin?” tanya Dika masih menatapnya.
“Huh ... bukan urusanmu!” ketus Anggun mencoba untuk duduk.
“Apa kamu bilang? Bukan urusan ku! Selama kamu tinggal di rumah ini, itu akan menjadi urusanku!” bentak Dika.
“Oh ya.” Anggun tidak peduli dengan ucapan Abangnya.
“Mau ke mana kamu? Abang belum selesai bicara!” bentak Dika pada adiknya saat melihat Anggun hendak beranjak dari tempat tidur.
“Katakan! Apa kamu minum semalam?” tanya Dika dengan nada suara yang mencekam.
Anggun menelan saliva kasar, melihat Abangnya menatap serius.
“A-aku ... aku hanya minum sedikit. Aku di paksa oleh temanku, sumpah.” Anggun memperlihatkan dua jari telunjuk dan tengahnya.
“Oh ya. Lalu pagi tadi kenapa kamu menendang adikmu?”
“CK ... Icha lagi. Kenapa Abang selalu bertanya padaku tentang Icha? Kenapa tidak bertanya langsung padanya?” decap Anggun kesal.
“Kenapa aku harus bertanya dengannya? Begitukan caramu memperlakukan adikmu?! Bahkan dia berniat baik ingin membangunkan dirimu.”
“Untuk apa membangunku. Tidak seperti biasanya, aku tidak suka di ganggu! Bang, kenapa sih, yang di selalu Icha dan Icha? Apa kalian tidak ada simpati sedikit pun padaku? Aku juga adikmu Bang! Apalagi sekarang Papa sudah tidak peduli dengan ku!” geram Anggun.
“Kalian semua sudah berubah! Yang di utamakan Icha dan Icha. Apa tidak ada yang mau membantuku? untuk memperjuangkan putriku!”
“Papa juga tidak pernah peduli padaku lagi! Aku sudah banyak berkorban untuknya!” Anggun mulai meninggikan suaranya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi mulus adiknya.
“Akhh ... kenapa Abang menamparku?!” kesal Anggun sambil berteriak keras.
Plak! Tamparan tersebut kembali lagi mendarat.
“Aku tidak menyangka mempunyai adik sepertimu!” menggelengkan kepalanya.
“Dimana isi kepalamu sekarang? Hah ?! Papa sudah pergi! Pergi untuk selamanya dan tidak bisa kembali lagi!”
Dika terduduk lemas, sambil memegang kepalanya dengan kedua tangannya.
“Aku habis pikir padamu, adikmu berusaha membangunkan mu lagi tadi, tapi kamu memperlakukannya dengan tidak baik, bahkan menendangnya! Apa yang ada di isi kepalamu itu, Anggun?”
“Kamu bahkan tidak tahu jika Papa sudah di makamkan. Kamu tidak tahu, Bukan? Yang tertanam di hatimu saat ini adalah, kecemburuan dan keegoisan saja! Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri!”
Anggun termangu mendengar perkataan Abangnya.