
Sore hari, Fahry dan Icha sudah tiba di bandara.
Begitu banyak mobil untuk mengawal mereka, Icha tahu pasti semua ini suruhan Abangnya.
“Sayang, apa ini tidak terlalu berlebihan?” bisik Fahry tepat di daun telinga Icha.
“Iya sangat berlebihan. Tapi, pasti Abang sangat mengkhawatirkan kita, hingga mengirim banyak pengawal.”
Fahry mengangguk mengerti, jika istrinya Icha sangat istimewa di hati Abangnya Dika, sehingga melindungi adiknya seperti sekarang ini.
Setibanya di rumah, Icha dan Fahry langsung di bawa ke rumah pak Candra.
Menurut pak Candra, di rumahnya lebih aman. Bahkan banyak orang yang mengawasi rumah tersebut.
“Assalamualaikum, Paman.” Icha dan Fahry langsung mencium punggung tangan pak Candra secara bergantian.
“Waalaikumsalam,” sahutnya.
Pak Candra langsung mengajak mereka untuk masuk ke dalam rumahnya, karena terlihat jelas jika wajah Icha terlihat pucat.
Mungkin karena lelah dengan perjalanan yang cukup lama, di tambah dirinya yang saat ini sedang mengandung.
Namun, langkah Icha dan Fahry terhenti ketika melihat anak kecil yang sedang berlari dan bermain di ruang tamu.
Icha masih mengingat wajah bocah kecil tersebut, lalu Adita datang menghampiri putranya yang masih asyik bermain berlarian.
“Eza, jangan bermain seperti in ....” ucapkan Adita langsung terhenti ketika melihat Icha berdiri di hadapannya.
Bahkan Icha masih sangat ingat, bagaimana Adita menghinanya di depan orang banyak.
Mereka saling bertatapan sejenak, terlihat ada buliran air yang mengalir di pipi mulus Adita.
“Nona, maafkan saya!” lirih Adita sambil menundukkan wajahnya.
Icha mengernyit heran, karena ia dan Fahry masih belum mengetahui cerita yang sebenarnya.
Fahry pun tidak kalah bingung, kenapa ada wanita yang pernah menghina Icha dulu, berada di rumah tersebut.
“Paman,” Ujar Icha menatap pak Candra.
“Icha, sekarang kalian beristirahatlah. Dika akan menjelaskan semuanya pada kalian nanti,” sahut Pak Candra mengerti dengan tatapan Icha.
Icha mengangguk.
“Oh iya, Paman. Abang dimana? sejak kami masuk, tidak melihatnya,” tanya Fahry sama halnya dengan Icha, mereka berdua menunggu jawaban dari pak Candra.
“Mm ... itu, Dika ada keperluan di luar. Kalian pasti sangat lelah, istirahatlah.”
Mereka semua tidak ingin menyembunyikan dari Icha, alasan mereka menyembunyikan semuanya dari Icha, karena saat ini Icha sedang hamil muda.
Mereka semua tidak ingin terjadi sesuatu pada Icha dan bayinya.
“Ma, bawa mereka ke kamar,” ujar pak Candra pada istrinya yang baru menuruni tangga.
“Iya,” sahut istrinya.
Wanita paruh baya itu mengajak Icha dan suaminya untuk menaiki tangga, karena kamar yang akan mereka tempati berada di lantai atas.
“Kamu juga masuk lah,” Ujarnya pada Adita yang masih mematung.
“Pak, saya harus meminta maaf pada Nona Icha. Saya sangat ....”
“Sstt ... jangan untuk saat ini. Kami semua masih merahasiakan ini semua padanya,” sela pak Candra.
“Sekarang bawa putramu mandi dan setelah itu beri dia makan. Anggap saja ini rumahmu, jangan pernah sungkan,” ujar pak Candra penuh perhatian pada Adita sama seperti anak-anaknya.
“Terima kasih Pak,” sahut Adita sambil mengangguk.
Setiba di kamar, Icha masih memikirkan yang di ucapkan oleh pak Candra.
“Mas, sebenarnya apa yang terjadi? Apa Mas tahu?”
“Tidak tahu Sayang, kita tunggu Abang sampai kembali. Sekarang kamu istirahat. Bagaimana dengan anak Papa di sana?” tanya Fahry mengalihkan pembicaraan istrinya, sambil mengelus perut rata istrinya.
“Apa yang kamu rasakan Sayang? Apa sakit, setelah melakukan perjalanan jauh?” tanya Fahry, apalagi wajah istrinya terlihat pucat.
“Tidak Mas.”
Cup!
Fahry mencium lembut perut istrinya.
“Sayang, apa kamu tidak ingin makan sesuatu? Biasanya kalau orang hamil pada umumnya, menginginkan sesuatu seperti itu.”
“Tidak ada sih, Mas. Aku hanya ingin memelukmu saja. Apa boleh?” tanya Icha.
Icha mengangguk.
Setelah selesai mengganti pakaian mereka, Icha lebih dulu mengunci pintu kamar karena takut ada masuk tangan mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tidak Fahry pun keluar dari kamar mandi, ia melirik sekilas istrinya yang berbaring di kasur sambil memainkan ponselnya.
“Mas,” panggil Icha melihat suaminya hendak mengenakan pakaiannya.
“Iya, ada apa Sayang?” tanya Fahry melihat sang istri.
Icha menghampiri suaminya dan langsung memeluknya. Aroma tubuh Fahry sangat menggoda saat ini, bahkan tidak peduli dengan Fahry yang belum mengenakan pakaiannya.
“Mas, Kamu wangi sekali.”
Masih menghirup aroma tubuh suaminya, terutama bagian lehernya. Entah keberanian dari mana Icha memalukannya, tanpa peduli dengan suaminya yang masih mematung di tempatnya.
“Apa ini salah satu hormon wanita yang sedang mengandung?” gumam Fahry dalam hati.
Ia melihat jelas wajah istrinya dari cermin besar yang ada di hadapannya, wajah yang tersenyum tanpa beban yang masih mendekap tubuhnya yang polos tanpa menggunakan pakaian.
🌹🌹🌹
Di rumah sakit, Dika sudah mendapatkan kabar dari Darwin jika adiknya sudah tiba di rumah pak Candra.
Dengan bersusah payah, Dika memohon kepada dokter untuk di rawat di jalan saja.
Karena merasa dirinya sudah baik-baik saja, hanya sedikit nyeri saja di bagian bahunya.
Dokter mengizinkannya untuk rawat jalan, dengan catatan Dika harus istirahat total di rumah tanpa melakukan aktivitas lainnya.
Dika menyetujuinya dan ia akan di perbolehkan pulang besok siang, karena dokter harus melihat kondisi Dika sebelum pulang dari rumah sakit besok.
“Abang yakin ingin pulang?” tanya Indah.
“Iya, aku sangat yakin. Aku sangat merindukan adikku dan juga ingin menjaganya. Kita tidak tahu kapan anak buah Aditya datang, walaupun dalangnya sudah di sel tahanan ternyata anak buahnya masih berkeliaran. Sialan! Aku tidak menyangka ternyata dia pria yang sangat berbahaya, kejahatannya tertutup oleh wajah tampannya. Cih ...!” murka Dika jika teringat wajah Aditya.
“Istighfar sayang,” tutur Indah.
“Astaghfirullah ... maaf Sayang, aku sungguh sangat kesal.”
Indah hanya tersenyum.
“Tidak apa-apa. Semoga semuanya kembali seperti sedia kala, Bang. Papa juga sehat dan tidak ada lagi kejahatan setelah pelakunya di tangkap,” sahut lembut Indah.
“Aamiin ... semoga ini memberi efek jera padanya,” ujar Dika.
“Bang, lukamu berdarah.”
Melihat bahu suaminya yang terlihat mengeluarkan darah.
“Aku akan panggilkan perawatnya.”
“Tidak perlu Sayang, ini tidak terlalu sakit Kok ... jangan khawatir ya.” Mengelus lembut pipi sang istri.
“Yakin?”
Dika mengangguk.
“Baiklah,” sahutnya pasrah.
🌹🌹🌹
Di ruangan ICU.
Bu Sintya tidak henti bercerita pada sang suami, walaupun tidak ada yang mengajaknya berbicara.
Tanpa sengaja Bu Sintya melihat hari sang suami bergerak sejenak, kemudian Bu Sintya langsung menekan bel yang ada ruangan itu untuk memanggil perawatnya.
“Ada apa?” tanya perawat tersebut dengan lembut saat masuk ke dalam.
“Saya melihat jari suami saya bergerak,” sahutnya.
“Ada kemajuan Nyonya. Semoga ini adalah pertanda baik,” tuturnya.
Tidak lama datang seorang dokter untuk memeriksa keadaan pasien, Bu Sintya sedikit menjauh agar memberi ruang untuk dokter memeriksa suaminya.
“Bagaimana keadaan Suami saya Dok?” tanya Bu Sintya terlihat sangat cemas.
“Jangan cemas Bu, banyak berdoa untuk kesembuhan pasien. Untuk saat ini, belum ada perubahan apa pun dari beliau, semuanya sama seperti sebelumnya. Jangan putus asa Bu, kami akan melakukan yang terbaik untuk beliau.”
“Terima kasih Dok,” sahut Bu Sintya, Bu Sintya menatap sendu wajah suaminya yang masih menutup mata.