
Anggun menatap kepergian Icha dan suaminya dari atas balkon kamarnya, entah kenapa hingga sekarang masih ada rasa cemburu pada adiknya tersebut.
Anggun berpikir sejenak, ia berniat ingin mencoba menemui putrinya kembali.
Anggun melangkah masuk ke dalam kamarnya, mengambil tas miliknya dan bergegas keluar dari kamarnya tersebut.
Dari lantai atas, saat hendak menuruni tangga. Terdengar jelas suara tawa bayi tersebut, sehingga tawa itu memenuhi seisi rumah.
Anggun menatap kedua orang tuanya yang terlihat bahagia, mereka berdua berusaha membuat bayi tersebut agar bisa tertawa.
“Anggun. Mau ke mana?” tanya Bu Sintya melihat Anggun menuruni tangga.
“Keluar sebentar, Ma. Ada urusan,” Sahutnya dengan nada sedikit kesal.
“Anggun. Usiamu sudah dewasa, benarkan dulu cara berpakaianmu,” tutur Pak Heri yang melihat Anggun masih dengan pakaian seksinya.
“Aku bukan Icha, Pa!”
Pak Heri mengelus dadanya mendengar ucapan putrinya.
“Lihat hidupku sekarang sudah hancur Pa! Siapa yang patut di persalahkan? Bahkan saat ingin bertemu putriku, aku harus berjuang mati-matian! Kali ini aku memberontak, aku tidak ingin mendengar siapa pun sekarang!”
Pak Heri tampak menunduk, tak dapat di pungkiri, ia yang paling bersalah dalam hal tersebut.
“Papa minta maaf, Nak. Iya, Papa yang harusnya di salahkan. Karena ke egoisan Papa, kalian semua menanggung akibatnya. Papa sangat menyesal,” lirih pak Heri sambil menunduk.
“Dosa ku sudah terlalu banyak. Aku orang tua yang sangat buruk!”
Plak! Plak!
Pak Heri berulang menampar pipi kiri dan kanannya berulang kali.
“Aku sangat berdosa!”
Plak! Plak!
Berulang kali pak Heri menampar pipi, hingga terlihat kemerahan di kedua pipinya.
“Pa, sudah Pa.”
Bu Sintya berusaha menahan lengan suaminya sambil menggendong Azam cucunya.
“Tidak, jangan hentikan aku!”
“Pa, sudah!” sentak istrinya melihat sang suami terus menerus memukul dirinya.
Membuat Azam yang semula tertawa, kini menangis histeris karena terkejut sekaligus takut mendengar Bu Sintya berteriak.
“Sstt ... sayang, maaf Oma ya. Bi ...” panggilnya pada pembantunya.
“Iya, Nyonya.”
“Tolong bawa Azam ke kamar, berikan dia susu botol.”
Pembantunya mengangguk, lalu segera membawa Azam masuk ke dalam rumah.
“Pa, maaf. Aku tidak ingin membentakmu tadi,” Ujarnya mengelus pipi suaminya yang sedikit kemerahan.
Anggun hanya menatap sang Papa, tanpa berniat ingin mencegahnya tadi.
“Anggun, masuk ke kamarmu!” ujar Bu Sintya penuh penekanan.
“Aku tidak mau!” sahutnya langsung berlalu pergi keluar rumah.
Anggun masih belum menerima apa yang terjadi padanya saat ini, hingga emosinya terkadang tidak terkontrol.
“Anggun, kamu mau ke mana?” tanya Bu Sintya setengah berteriak.
Anggun tidak peduli dengan teriakan sang Mama, ia tetap melanjutkan langkah menuju mobilnya masih terparkir rapi di tempatnya.
Bu Sintya menghela napas berat, melihat putrinya tidak menghiraukan panggilannya.
Bu Sintya kembali pada suaminya, pak Heri masih menunduk meratapi kesalahannya.
“Aku contoh orang tua yang tidak baik untuk anak-anakku, apa kesalahanku ini bisa di maafkan? Aku sangat berdosa, aku sangat malu pada Icha dan Dika,” lirihnya.
“Pa, Allah itu maha pemaaf.”
Pak Heri menatap sendu wajah istrinya.
“Astaghfirullah ...” ucapnya pak Heri dalam hati.
“Papa tenangkan dirinya, kita masuk ke kamar,” ajak Bu Sintya mendorong kursi roda milik suaminya.
Karena pak Heri belum kuat untuk berjalan, apa lagi menaiki tangga. Bu Sintya memutuskan untuk tidur di kamar tamu yang ada di lantai bawah.
Di mobil.
Anggun memukul kuat setir mobil, dirinya sebenarnya sangat menyayangi pak Heri. Entah kenapa kata-kata kasar tadi keluar dari mulutnya begitu saja untuk pertama kalinya.
Di dalam mobil ia mengutuk dirinya, karena telah membuat sang papa menjadi merasa bersalah.
“Bodoh! Kenapa denganku?!” umpatnya pada dirinya sendiri.
“Huft ....”
Anggun menghela nafas berulang kali, bahkan ia tanpa sadar meneteskan air mata.
“Maafin Anggun Pa,” lirihnya.
Cukup lama ia di mobil, berperang dengan isi kepalanya.
Disisi lain, ia harus memperjuangkan putrinya yang masih di bawa oleh sang suami.
Disisi lain, ia juga merasa sangat bersalah sudah membentak Papanya. Walaupun benar adanya, jika yang di alami olehnya saat ini itu semua ulah Papanya.
Anggun bergegas pergi dari rumah tersebut, melaju menuju rumah pengacara yang sebelumnya sudah ia hubungi.
Walaupun harus rela menjual mobil mewah yang ia beli dengan uang tabungannya sendiri, untuk membayar pengacara agar memenangkan hak asuh putrinya.
🌹🌹🌹
Mereka sudah tiba di rumah singgah mereka yang sudah berdiri, bahkan sudah lumayan banyak penghuninya.
Bahkan korban banjir pun, untuk sementara di tepati di rumah singgah tersebut. Karena kondisi rumah mereka yang rusak parah akibat terjangan derasnya air.
Bahkan pemulung dan orang jalanan yang masih belum mempunyai tempat tinggal, juga ada di tempat tersebut.
Banyak donatur yang ikut menyumbangkan sandang dan pangan.
Dika bisa menghela nafas lega, karena keinginannya sejak dulu saat ini sudah tercapai, yaitu ingin membangun rumah singgah.
“Bang, sukses selalu ya Bang. Sukses dalam membantu kesusahan orang lain, Icha ikut bahagia.”
“Iya, Sayang. Semuanya berkat kalian juga, tanpa bantuan kalian Abang juga tidak mampu.”
“Ya walaupun, rumah ini sempat tertunda pembangunannya. Karena ada yang sengaja membakarnya,” tutur Dika dengan senyum yang tidak luntur.
Icha menelan salivanya dengan kasar, ia melupakan itu. Hingga saat ini, Dika belum mengetahui siapa dalang di balik pembakaran rumah tersebut.
Sejenak Icha dan suaminya saling bertatapan.
“Assalamualaikum ...” ucap Ifan mengucap salam.
Icha menghela nafas lega, melihat kedatangan Ifan.
“Waalaikumsalam ...” sahut mereka bersamaan.
“Kalian kenapa berdiri di sini? Ayo masuk,” ajak Ifan.
Ifan ikut mengelola rumah singgah tersebut, karena dirinya di percaya oleh Dika.
“Iya. Ayo masuk,” ajak Dika pada mereka.
Mereka masuk ke dalam rumah, di dalam sudah di sediakan oleh Ifan untuk para tamu yang datang berkunjung ke rumah singgah tersebut.
“Bagaimana Ifan? Semuanya aman?” tanya Dika setelah mendaratkan bokong di sofa.
“Alhamdulillah. Tapi, ada sedikit masalah. Masalahnya tidak terlalu serius.”
“Masalah apa?” tanya Fahry dan Dika bersamaan.
“Sepertinya kita harus membangun tembok dan pagar. Karena ada beberapa orang di sini kehilangan uang, aku sudah melihat rekaman cctv dan yang mengambil uang mereka bukan orang berasal dari sini melainkan orang dari luar.”
“Oh ya. Kalau begitu, tunggu apa lagi? Keamanan nomor satu.”
“Iya, Pak. Aku akan meminta tukang yang lain agar segera membangunnya.”
“Iya. Aku akan mentransfer uangnya besok pagi, setelah itu ku serahkan kepadamu. Lebih cepat lebih bagus,” tuturnya.
“Iya, Pak.”
“Hai Tante cantik,” sapa bocah yang berusia sekitar tujuh tahun tersebut.
Semua orang menatap ke arah sumber suara.
“Hai,” sahut Icha.
Ia melangkah mendekati bocah tersebut yang berdiri di ambang pintu.
“Nama kamu siapa?” tanya Icha yang berjongkok di depan anak kecil yang berjenis kelamin wanita tersebut.
“Nama aku Sifa. Nama Tante siapa?”
“Sifa,” gumamnya dalam hati.
Icha langsung teringat anak kecil yang bernama Sifa, sangat lama ia tidak mendengar suara Sifa yang mengoceh tidak jelas, bahkan merindukan bocah tersebut.
“Tante kok melamun sih?” protes bocah tersebut.
Icha langsung tersadar.
“Eh maaf sayang. Dimana orang tuamu?” tanyanya.
“Itu,” ujarnya menunjuk ibunya yang sedang menggendong adiknya.
“Tante, badan adikku panas sekali. Apa boleh, antarkan adikku ke rumah sakit? Tapi ....” Sifa mengantungkan ucapannya.
“Tapi apa Sayang?”
“Tapi, Mama ku tidak punya uang. Uangnya habis di bawa air hanyut, karena rumah kami kebanjiran.”
“Oh. Sebentar,” ujar Icha.
Ia melangkah mendekati suaminya yang tengah duduk berbincang pada Ifan dan Abangnya.
“Sayang,” Panggil Icha.
“Iya, ada apa?” tanya Fahry.
Icha membisikkan sesuatu di telinga Fahry, hingga ia mengangguk mengerti.
Icha dan Fahry berpamitan terlebih dahulu kepada Dika dan yang lainnya.
Icha melihat adiknya Sifa yang sangat rewel, apa lagi suhu tubuhnya yang sangat tinggi.
“Bawa ke rumah sakit saja, Bu. Jangan memikirkan masalah biaya, semua biaya kami yang akan menanggung. Ibu tidak perlu cemas, yang terpenting anak ibu bisa di tangani oleh Dokter dulu,” tutur Fahry.
“Tapi Pak. Kami belum ...”
“Bu, kasihan putranya. Sekarang cepatlah bawa ke rumah sakit,” sela Icha yang tidak kalah cemas melihat bayi tersebut menangis histeris.
Ibunya Sifa mengangguk.
Fahry meminta sang sopir untuk mengantar mereka ke rumah sakit dengan menggunakan mobilnya.
“Aku akan mengusulkan kepada abang, jika di lahan kosong yang tersisa itu untuk di bangunkan klinik pengobatan gratis. Agar orang-orang yang ada di sini, tidak terlalu jauh untuk berobat, apalagi di saat mendesak seperti ini.”
“Aku setuju mas,” sahut Icha meletakkan dagunya di bahu suaminya.