Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 89



Setelah kesembuhan Pak Heri, walaupun belum sembuh total. Pak Heri saat ini tidak bisa berbuat apa-apa lagi, hanya bisa duduk di kursi roda pasca kecelakaan yang menimpanya. Bahkan untuk berbicara pun masih kesulitan, hanya bisa menyebutkan beberapa kata itu pun kurang jelas.


Setelah keadaan aman, dan pelaku semua sudah mendekam di sel tahanan. Kini mereka kembali ke rumah mereka, Icha pun ikut tinggal bersama orang tuanya atas permintaan Bu Sintya.


Fahry sendiri kini bekerja pada Kakak iparnya Dika, bekerja di kantor milik pak Candra sesuai keahliannya.


Butuh waktu sebulan, untuk Fahry mempelajari semuanya bahkan Dika ikut membantu adik iparnya tersebut agar cepat memahami semua pekerjaannya.


Sedangkan kantor milik pak Heri, suami dari Anggun yang mengambil alih. Hingga Dika mengikhlaskan perusahaan tersebut, karena berdebat pun percuma demi mempertahankan bisnis itu. Karena sebagian dari bisnis itu memang miliknya, karena sebelumnya Papanya bekerja sama dengan suami adiknya tersebut.


Rumah singgah yang mereka bangun kini sudah beroperasi, banyak donatur yang datang ke rumah singgah tersebut.


Ifan sebagai sahabat dari Fahry, kini bekerja di rumah singgah tersebut untuk membantu Dika dan Fahry mengelolanya.


Berbeda pada Dika dan Indah, hingga saat ini mereka belum di karunia sang buah hati. Sebenarnya Dika tidak mempermasalahkan hal itu, karena semua kehendak yang maha kuasa.


Hari ini Fahry mengadakan syukuran atas kelahiran putranya, Fahry mengundang anak-anak panti dan juga Ifal berserta teman-temannya.


“Kak, dedek bayi nya mana?” tanya Ifal karena dirinya belum melihat putranya.


“Sebentar ya, Adek bayinya masih minum susu di kamar.”


“Oh,” sahut Ifal.


“Mana yang lain?” tanyanya hanya melihat Ifal yang datang.


“Masih di jemput kak Ifan.”


“Di jemput. Bukankah kakak meminta Ifan menggunakan mobil untuk membawa kalian? Ifal tadi naik apa kemari?”


“Naik motor sama kak Ifan,” sahutnya polos.


“Ifal duduk dulu, Kaka mau menghubungi kak Ifan sebentar.”


Ifal mengangguk.


Ia mengambil ponsel miliknya yang ada di meja, lalu menekan nomor Ifan.


Tut! Tut! Tanda panggilan masuk.


“Halo, assalamualaikum Fahry. Ada apa? Aku masih di jalan,” ujarnya.


“Kamu naik motor? Bukan kah sopir bersamamu pergi untuk menjemput mereka?” tanya Fahry khawatir, karena sebelumnya ia meminta sopir untuk menjemput anak-anak tersebut.


“Astaghfirullah Fahry, mobilnya mogok. Aku lupa memberitahumu, sekarang sopirnya masih di bengkel untuk memperbaiki mobilnya,” sahut Ifan dari balik ponsel tersebut.


“Astaghfirullah, Baiklah. Hati-hati di jalan,” ujar Fahry.


Setelah selesai berbicara di telepon, ia melangkah menuju ke kamar untuk melihat istri dan putranya apakah selesai bersiap.


“Sayang, apa kalian sudah siap?” tanya Fahry masuk ke dalam kamar.


“Belum mas, aku sedikit kesulitan untuk berpakaian. Karena putramu tidak ingin di letakkan di tempat tidur,” sahut istrinya yang masih menyusui putranya.


Sebelum masuk, Fahry lebih dulu menutup pintu kamar karena melihat istrinya yang tidak menggunakan hijab.


“Anak Papa kenapa?” tanyanya melihat putranya yang masih bersemangat mengisap pu**Ng susu ibunya.


“Sepertinya dia sangat haus sayang.” Menatap putranya.


“Iya Mas.”


“Hei, sisa kan untuk Papa,” celetuk Fahry sambil terkekeh, hingga Icha yang mendengarnya mengulum senyum karena malu.


“Mas, jangan bicara seperti itu di depan anak kita.”


“Haha iya Sayang. Aku hanya bercanda,” sahutnya.


Fahry duduk di samping istrinya, mereka menatap putranya yang tertidur karena kekenyangan.


“Lihatlah, putramu langsung tidur setelah kenyang. Sama sepertimu Mas,” goda Icha.


“Ah masa? Bukannya terbalik Sayang,” goda balik Fahry.


Icha perlahan meletakkan putranya di tempat tidur, lalu menghadap suaminya.


“Mas, kenapa kamu begitu tampan memakai pakaian ini?” pujian itu di lontarkan oleh Icha yang menatap suaminya begitu tampan, apalagi memakai pakaian serba putih.


“Istriku juga sangat cantik, apalagi rambutnya terurai seperti ini.”


Menarik rambut halus istrinya dan menciumnya.


Cup!


Fahry mencium pipi gembul istrinya yang tampak semakin berisi setelah melahirkan.


“Jangan biarkan orang lain melihatmu tanpa memakai hijab, karena aku tidak ingin orang lain sepertiku,” tutur lembut Fahry menatap istrinya.


“Kenapa Mas?” tanya Icha penasaran.


“Ya karena aku jatuh cinta padamu, saat di kamar melihatmu seperti ini. Karena itu aku tidak ingin orang lain sepertiku jatuh cinta padamu juga,” bisiknya.


Icha tersenyum lalu mengangguk, mata mereka saling bertemu bahkan nafas mereka pun saling menghembus satu sama lain.


“Aku mencintaimu,” Ujar Fahry bicara pelan bahkan bibir mereka hampir menyatu, tapi tidak benar-benar menyatu.


Icha mengalungkan tangannya di leher suaminya.


“Aku juga mencintaimu, Mas Fahry,” balas Icha.


Fahry merapikan rambut halus istrinya yang menjuntai, karena menghalangi pandangan istrinya.


“Mas, tetaplah seperti ini, jangan pernah berubah. Sekarang begitu banyak wanita di luar sana yang menginginkan pria yang sudah beristri, aku sangat khawatir jika suamiku tergoda oleh wanita di luar sana.”


Icha meletakan kepalanya di dada bidang suaminya.


“Jika aku ada salah, atau ada yang kurang. Mas katakan padaku langsung,” tambah Icha lagi.


Karena baru kemarin, Icha menghubungi temannya karena sudah lama tidak bertemu.


Diana sang sahabat bercerita, kini suaminya meminta izin padanya untuk menikah lagi.


Setelah mendengar cerita sahabatnya Diana, Icha langsung berpikir jika di kantor suaminya begitu banyak wanita cantik dan seksi.


“Ternyata istriku cemburu,” goda Fahry mendekap erat istrinya.


“Aku tidak cemburu, hanya mengingatkan saja,” pungkas Icha.


“Sayang. Yang melahirkan ku seorang wanita, mana mungkin aku menyakiti wanita apalagi wanita secantik dan sebaik dirimu. Aku tidak mampu, sayang.”


Cup!


Fahry mengecup kening istrinya.


“Selain Ibuku, kamu adalah wanita yang selalu ada di hatiku tidak ada wanita yang lain.” Menatap istrinya.


Icha terharu mendengar ucapan suaminya, yang begitu menyentuh hatinya.


Tok! Tok!


Ketukan pintu berulang kali, mengetuk pintu kamar mereka.


“Sekarang bersiaplah, aku dan anak kita akan lebih dulu turun,” ujarnya.


Icha mengangguk.


“Sayang, tolong letakkan putra kita di tanganku. Aku masih begitu kaku untuk menggendongnya,” ujar Fahry meminta istrinya untuk meletakkan bayi yang terlelap tersebut.


“Oke,” sahut Icha.


Perlahan mengangkat tubuh bayinya tersebut dari tempat tidur dengan hati-hati, agar tidak mengganggu tidurnya yang tertidur pulas.


“Sudah pas begini Mas?” tanya Icha ketika sudah meletakkan putranya di lengan suaminya.


“Iya sayang,” sahut Fahry masih terlihat kaku.


“Baiklah, sekarang aku bersiap dulu.”


“Tunggu,” ujarnya menahan istrinya.


Icha mengernyit heran.


“Berikan aku ini, sebelum pergi,” ujarnya menunjuk bibirnya.


Icha hanya tersenyum, lalu menuruti apa yang di inginkan oleh suaminya.


Cup!


Cup!


Cup!


Icha memberi tiga kali kecupan, dua kali pada bibir suaminya yang terakhir satu kali pada pipi putranya.


“Sudah semua, sekarang turun lah aku ingin bersiap! Kapan aku akan bersiap jika kalian masih di sini!” protes Icha.


“Iya, Iya,” sahut Fahry, membuat Icha terkekeh.


Ceklek!


Fahry membuka pintu, melihat mama mertua yang sudah menunggunya di depan pintu kamar mereka.


“Lama sekali! Semua orang sudah datang,” protes Bu Sintya.


“Maaf Ma.”


“Cepat lah, dimana Icha?”


“Masih bersiap, Ma.”


“Huftt ....kalian ini. Tahan ya Fahry, Icha masih belum bisa di sentuh!” goda Bu Sintya.


“Tahan apa Ma? Fahry tidak melakukan apapun,” ujarnya.


“Ya, ya. Cepat lah turun. Huh cucu Oma,” tutur Bu Sintya melihat gemas cucunya yang masih tertidur pulas di gendongan Fahry.


Saat menuruni tangga, Fahry melihat anak-anak yatim yang mereka undang sudah datang. Ifal beserta teman-temannya dan juga keluarganya juga sudah hadir.


Namun, ia tidak melihat pak Heri, selaku papa mertuanya di ruang tengah tersebut.


“Papa dimana Ma?” tanyanya sambil menuruni tangga perlahan.


“Itu, Papa. Papa sudah ada kemajuan, sekarang bicara sudah banyak dari kemarin-kemarin,” ujar mertuanya menunjuk suaminya yang terlihat tengah mengobrol dengan para ustadz yang juga hadir, karena di undang oleh Fahry.


“Oh, Fahry tidak melihatnya. Alhamdullilah, Papa sudah lebih baik dari kemarin.”


“Iya, Mama sangat bahagia melihat kalian semua berkumpul. Tapi, masih kurang satu,” lirihnya, karena anak perempuan satunya tidak ada di tengah kebahagiaan mereka.


“Aku yakin, hati kak Anggun pasti akan luluh dan kembali seperti dulu lagi. Serahkan semuanya pada Allah,” tutur Fahry lembut.


“Iya.”


Setibanya di anak terakhir tangga, Fahry melangkah menuju Papa mertuanya yang terlihat berbincang walaupun masih duduk di atas kursi roda.


“Pa,” panggil Fahry.


Pak Heri menoleh, ia melihat cucu pertamanya yang tengah tidur pulas di gendongan Fahry.


“Cu-CuKu,” Ujarnya berusaha berbicara.


Karena lidahnya terasa kelu menyebabkan ia sedikit kesulitan bicara.


“Iya, Opa.”


Dengan tangan yang masih bergetar, ia mengusap pipi mulus sang bayi yang masih terlihat merah.


Bahkan ia menitikkan air mata, teringat akan perbuatannya yang ingin memisahkan Icha pada suaminya.


Fahry hendak membuka obrolan pada papa mertuanya, teralihkan dengan kedatangan Dika dan Istrinya beserta Pak Candra dan keluarganya.


“Assalamualaikum,” sapa polisi Arif lebih dulu mengucap salam dengan Adita juga datang bersama polisi Arif.


Semua orang menoleh ke sumber suara, tak terkecuali Dika yang menatap curiga dengan hubungan pak Arif dan Adita yang terlihat begitu dekat.