
“Iya, kita pindah.”
“Pindah kemana?” tanya Icha.
Setelah berpikir lama, Fahry memutuskan untuk pindah dari kosan tersebut. Ia juga kasihan melihat sang istri seperti tersiksa tidur semalam.
Sebelum subuh, Fahry sempat terbangun karena ingin buang air kecil.
Saat dirinya terbangun, melihat dirinya memakai selimut. Sedangkan Icha tidur tanpa memakai selimut sambil meringkuk kedinginan, di tambah lagi melihat tangan putih Icha banyak bekas gigitan nyamuk.
Fahry juga melirik di bawah ranjang tempat tidurnya, ada obat nyamuk bakar yang sudah hampir habis terbakar.
“Kita akan pindah ke rumah baru.”
Sebenarnya, Fahry mampu saja menyewa rumah besar waktu dirinya masih belum menikah dengan Icha.
Akan tetapi ia sangat nyaman ada di lingkungan tersebut, ditambah lagi rumah Fahry berdekatan dengan rumah anak yang belajar mengaji dengannya.
Fahry mengajak istrinya untuk duduk di tepi kasur.
“Aku harus meminta pendapat padamu. Abang Dika bicara padaku saat di teras, jika ia memberikan hadiah rumah untuk kita. Bagaimana, apa kita tinggal di rumah pemberian Abang atau kita cari rumah sewa yang lain?”
“Kenapa harus pindah? Aku nyaman tinggal di rumah ini, walaupun baru sehari.”
“Sayang, aku tahu kamu nyaman. Tapi, aku tidak mau melihatmu di siksa oleh nyamuk yang menggigitmu.”
“Sayang. Mas Fahry memanggilku sayang?” gumamnya dalam hati, hingga membuat wajahnya bersemu merah.
“Mas, aku sudah biasa dengan gigitan nyamuk. Tapi, jika Mas Fahry memang ingin pindah, Icha bersedia ikut bersamamu.”
Fahry tersenyum.
“Iya, baiklah. Terima kasih,” ujar Fahry seraya memberi senyuman.
“Huh! Mas, sejak kemarin sudah banyak meminta maaf dan berterima kasih.”
Keduanya terkekeh.
“Sekarang ganti pakaianmu, sepertinya Mama sudah datang.”
“Mama kemari?” tanya Icha serius.
“Iya,” sahut Fahry.
“Sedang di jemput Abang,” tambah Fahry lagi.
Icha mengangguk antusias.
Setalah mengatakan itu, Fahry keluar kamarnya untuk menemui ibu mertuanya, karena terdengar suara mobil Dika datang.
Saat keluar kamar, Fahry melihat dua koper di depan pintu.
“Fahry,” sapa Bu Sintya.
“Iya, Tante eh Bu, Mama maksudnya!”
Fahry seperti salah tingkah, karena belum terbiasa dengan panggilan itu.
Semua orang terkekeh mendengarnya.
“Apa kabar Ma?” tanya Fahry membuang malu.
“Baik, kamu juga bagaimana kabarnya?”
“Alhamdullilah, Ma.”
“Dimana Icha?”
“Sedang berganti pakaian, Ma. Sebentar lagi kemari,” sahut Fahry.
Tak lama, Icha keluar kamar dengan pakaian yang berbeda.
“Sayang, anak Mama.”
Bu Sintya menghampiri
“Mama,” ujar Icha membalas pelukan sang Mama.
“Sayang, bagaimana kabarmu? Sungguh, Mama sangat kesepian di rumah,” ujar Bu Sintya masih memeluk erat putrinya.
“Icha baik. Seperti yang Mama lihat,” sahutnya melepaskan pelukan mereka.
Mereka berbincang hangat di rumah tamu, ya walaupun hanya duduk di lantai beralaskan tikar. Tapi tidak mengurangi keharmonisan mereka.
Perut Fahry berbunyi, karena sejak pagi dirinya dan Icha belum sarapan.
Fahry berpamitan sebentar, ia ke dapur berinisiatif ingin memasak. Ia melihat barang belanjaan di dapur beserta sayuran dan lauk pauknya.
“Icha sudah berbelanja? padahal sore ini aku baru mau mengajaknya,” gumamnya merasa bersalah.
“Mas, sedang apa?” tanya Icha menghampiri suaminya.
“Mas, lapar?” tanya Icha lagi.
Fahry mengangguk pelan.
“Sebentar Icha masak dulu. Maaf ya, Mas Fahry jadi kelaparan. Mas Fahry makan buah saja dulu untuk pengganjal perut, sambil menunggu Icha memasak.”
Memberikan potongan buah apel di dalam piring, yang sebelumnya ia membelinya di minimarket bersama kakak iparnya.
“Terima kasih,” sahut Fahry mengambil piring tersebut.
Ia duduk di lantai, sambil melihat punggung istrinya memasak.
Disela masaknya, Icha ikut duduk bersama suami, sambil menunggu masakannya matang.
Fahry menyuapi buah tersebut ke dalam mulut istrinya dengan menggunakan garpu.
“Lagi?” tanya Fahry.
Icha menggelengkan kepalanya, karena masih mengunyah makanan.
Indah yang ingin menghampiri adik iparnya tersebut, diurungkannya melihat kebersamaan Fahry dan Icha yang sedang duduk bersama memakan buah.
Setelah itu, Fahry membantu sang istri untuk memasak. Terlihat Icha seperti kesusahan, hingga berinisiatif membantunya.
Fahry sudah biasa jika memasak, karena semenjak almarhum sang ibu masih ada, Fahry sering membantu ibunya memasak. Hingga dirinya tahu semua nama dan jenis bumbu dapur.
“Mas,” panggil Icha.
“Ini jahe atau kencur? Kok warnanya sama?” tanya Icha memperlihat kedua benda tersebut pada Fahry.
Karena dirinya ingin membuat teh jahe untuk semua orang.
Fahry mengambil dua benda tersebut dari tangan istrinya dan mendekatkan ke hidungnya untuk mengendus aromanya.
“Ini kencur,” sahut Fahry.
“Ini juga, semuanya kencur.”
Icha terdiam lalu nyengir kuda memperlihatkan gigi putihnya yang rapi.
“Sepertinya aku salah beli, Mas.”
Fahry menahan senyumnya.
“Tidak apa-apa, kita akan sama-sama belajar,” tutur Fahry lembut.
Di ruang tamu, Indah kembali sambil tersenyum.
“Kenapa sayang?” tanya Dika melihat istrinya kembali hanya sendiri.
“Aku tidak mau merusak kemesraan mereka,” imbuhnya dengan suara pelan.
Sebelumnya, Dika meminta Indah untuk menghampiri Icha agar tidak memasak. Karena dirinya sudah memesan beberapa makanan.
Tak lama Icha dan Fahry datang menghampiri mereka, dengan membawa beberapa makanan untuk mereka makan bersama.
Tak lama datang juga beberapa pengantar makanan, karena sebelumnya Dika sudah memesan makanan untuk mereka, tanpa memberitahu adiknya tersebut.
“Abang pesan makanan?” tanya Icha.
“Hehe ... iya. Abang lupa memberitahumu,” sahut Dika menggaruk kepalanya.
Icha tersenyum, apalagi melihat makanan yang begitu banyak, pasti bingung menghabiskannya.
“Kak Fahry,” panggil Ifal yang kebetulan lewat depan rumahnya.
“Iya, Ifal. Ada apa?” tanya Fahry keluar dari rumah.
“Nah, Kakak Fahry ketahuan berbohong,” ejek Ifal terkekeh menunjuk Fahry.
Fahry mengerutkan keningnya bingung.
“Kaka berbohong apa?” tanya Fahry bingung.
“Bukannya kakak bilang kemarin, kalau hari ini kak Fahry bekerja!”
“Astaghfirullah ... kakak Fahry lupa,” ujar Fahry menepuk keningnya pelan.
Sebenarnya, Fahry berjanji mengajak Ifal beserta temannya yang lain untuk jalan-jalan menggunakan motor dan mengajak mereka jalan-jalan sore hari, karena hari Minggu dirinya bekerja setengah hari
Namun, pernikahan mendadak kemarin membuatnya harus izin tidak masuk bekerja.
“Hm ... jadi, sore nanti apakah kak Fahry berjanji mengajak kami jalan-jalan?”
“Sepertinya, hari ini kak Fahry tidak bisa. Nanti kalau kakak tidak sibuk, kakak janji akan membawa kalian.”
Percakapan mereka tidak sengaja terdengar oleh Dika.
“Ada apa Fahry?” tanya Dika.
Ifal menatap Dika dengan sesama.
“Hai. Siapa namamu?” tanya Dika pada Ifal.
“Ifal, Om.”
“Maaf, katanya mau jalan-jalan? Abang tidak sengaja mendengarnya.”
Ifal mengangguk.
Sebelumnya, Dika sering kali melihat Fahry dengan anak kecil yang sama sedang membonceng Ifal beserta anak yang lainnya.
Cukup lama Dika menyelidiki Fahry, karena waktu itu ia cukup dekat dengan adiknya. Hingga ia mengetahui jika Fahry benar-benar orang yang jujur dan baik.
“Kalau begitu, ajak temanmu yang lainnya kemari. Om akan mengajak kalian jalan-jalan,” tutur Dika.
Fahry heran, dari mana Dika mengetahui jika Ifal mempunyai teman.
Ifal menatap Fahry, dari tatapannya ia tahu jika Ifal menunggu persetujuannya.
“Apa yang kamu tunggu, Ifal? Ayo cepatlah, panggil mereka.”
Fahry mengangguk.
Melihat Fahry menganggukkan kepalanya, Ifal tersenyum senang.
.
.
.