Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 90



Semua orang menatap kedatangan polisi muda tersebut, karena datang dengan menggendong anak kecil dan di ikuti oleh Adita yang dengan berpenampilan baru.


Berbeda dengan Fahry yang langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Waalaikumsalam,” sahut Icha baru datang dari kamar.


“Kenapa kalian menatapku seperti itu?” tanya Arif pada Dika.


“Hah, tidak. Silakan masuk,” Ujar Dika langsung tersadar.


“Hai mbak Adita, Mbak sangat cantik loh,” bisik Indah pada Adita.


“Sama Nona, anda juga sangat cantik.”


Semua orang ikut memanjatkan doa, dan memberi selamat kepada Fahry dan Icha.


Setelah selesai acara, Fahry dan Icha membagikan amplop kecil yang berisi uang kepada anak-anak yatim piatu dan juga bingkisan kecil untuk mereka bawa pulang.


“Rif, kenapa Adita bisa datang bersama mu? Aku curiga,” tanya Dika menatap Arif dengan tatapan curiga.


Dika dan Arif cukup dekat, setelah menangani kasus adiknya dulu, hingga kini mereka seperti seorang sahabat.


“Adalah,” sahutnya sambil tersenyum.


“Jangan bilang kamu menyukainya.”


Arif hanya tertawa kecil menanggapinya.


“Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah kan, jika aku menyukainya. Apalagi sebentar lagi, dia akan menjadi janda.”


“Iya tidak salah sih. Tapi, bagaimana bisa kalian bisa bertemu?” tanya Dika sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Panjang ceritanya , Dik.”


“Oh, oke-oke.”


Dika menyerah, karena Arif tidak ingin menceritakan pada Dika.


“Dika. Aku harap kamu jangan tersinggung,” ujar Arif menggantungkan ucapannya.


“Tersinggung kenapa?”


“Adita bekerja di rumahku. Ia menceritakan semuanya padaku, jika kamu selalu mengirim uang dan bahan makanan ke rumahnya, bahkan tidak ada yang kurang. Tapi, ia tidak ingin selalu bergantung padamu, hingga ia memutuskan untuk bekerja.”


“Oh itu. Icha dan Istriku yang mengirim semua itu, mereka berdua tidak ingin Adita dan putranya kelaparan bahkan sampai kekurangan apapun. Aku sangat setuju dengan ide mereka, kami akan selalu menafkahi mereka berdua.”


“Terima kasih Dika, tidak salah apa yang di ucapkan oleh Adita. Kalian semua memang berhati malaikat,” puji Arif pada Dika dan Fahry yang duduk bersama.


“Doakan aku, semoga kami berjodoh,” ujar Arif pelan agar tidak terdengar oleh Adita yang tengah berbincang dengan Indah dan Icha.


Fahry terkekeh melihat Arif yang masih malu-malu.


“Aamiin ...” sahut Fahry.


Di tengah perbincangan mereka, Dika menangkap istrinya yang berbicara pada putra adiknya yang ada di gendongannya.


Ia begitu menghayati, seakan bayi tersebut bisa menjawab ucapannya.


Dika menatapnya sambil tersenyum.


🌹🌹🌹


Sepulang dari rumah orang tuannya, Indah hanya menatap ke arah luar mobil, tanpa mengajak suaminya untuk bicara.


“Sayang,” panggil Dika melihat istrinya tidak seperti biasanya.


“Iya Bang,” sahut Indah melihat suaminya.


Tangan kiri Dika menggenggam tangan istrinya, sementara tangan kanannya menyetir mobil.


“Ada apa? Kenapa melamun, apa yang kamu pikirkan?”


Terlihat Indah menghela nafas.


“Tidak ada.”


“Kita menikah sudah cukup lama dan sudah berjanji tidak ada rahasia di antara kita. Jika ada keluh kesahmu yang membuatmu ke pikiran, katakan pada suamimu, Sayang.”


Hening sejenak.


“Kita bicara di rumah saja, Bang,” sahut Indah tanpa melihat suaminya.


“Huft ... baiklah.” Sambil menghela nafas berat.


Sekitar 30 menit, mereka tiba di rumah mereka sendiri. Terlihat Indah langsung keluar dan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu suaminya.


Dika menatap punggung istrinya yang sudah menjauh, ia yakin ada yang di sembunyikan oleh Indah darinya.


“Oh, di kamar mandi,” gumam Dika.


Dika melepaskan semua pakaiannya dan menggantikannya dengan pakaian tidur.


Sambil menunggu istrinya, ia keluar menuju balkon. Karena hari sudah malam, ia memandang lampu kota yang berbagai macam warna yang menghiasi kota malam ini.


Grep!


Indah memeluk suaminya dari belakang.


“Maafkan aku, Bang.”


Dika mengernyit heran.


“Kenapa minta maaf, Sayang?” tanya Dika membalikkan tubuhnya dan memeluk istrinya dari depan.


“Sikapku berubah hari ini, bukan aku marah. Tapi, aku kesal pada diriku sendiri.”


“Kesal. Apa yang membuat istriku kesal hari ini?” tanya Dika serius tapi masih enggan melepaskan dekapannya.


Indah mengajak suaminya untuk duduk, bahkan kali ini Indah duduk di pangkuannya. Dika lagi-lagi mengernyit heran pada sikap istrinya yang tidak seperti biasanya.


“Ada apa sayang?” tanya Dika lagi.


“Bang. Aku ikhlas jika ....” Indah menggantungkan ucapannya.


“Apa?” tanya Dika penasaran.


“Sebelumnya jangan marah ya. Aku ikhlas jika Abang ingin menikah lagi,” tutur Indah bicara pelan.


“Benarkah? Wah kebetulan sekali, jika istriku sudah meminta ku izin untuk menikah,” goda Dika.


Ia sudah mengerti, kenapa istrinya hanya diam sepulang dari rumah orang tuanya.


“Bang,” panggil Indah sedikit terkejut.


“Ada apa? Aku tidak salah bukan?”


Indah hanya menggelengkan kepalanya, ia kembali ke dalam dekapan suaminya.


“Kenapa kamu tiba-tiba ingin aku menikah? Jangan bilang ini tentang anak, yang sebelumnya kita sudah membahas ini, bukan!”


Indah mengangguk, melihat istrinya mengangguk Dika mende*ah kuat.


“kenapa membahas ini lagi. Bukankah Abang sudah katakan waktu itu,” tutur Dika malah dengan nada lembut, namun penuh penekanan.


“Bang, hiks! Hiks! Aku hanya takut kamu malu, kita sudah menikah lama bukan.”


“Kenapa harus malu? Ingat! Jika Allah mengizinkan dia ada rahim, kita harus bersyukur. Tetapi jika Allah tidak menginginkan dia lahir dari rahimmu, kamu harus tetap bersyukur. Karena, masih banyak wanita di luar sana yang tidak beruntung. Jangan bersedih, kita bisa mengadopsi anak,” tutur Dika panjang lebar.


“Sayang, aku sudah pernah mengatakan ini, bahkan berulang kali. Jangan meminta ku untuk menikah, karena itu tidak akan berhasil. Kita harus menerima proses yang ada dan berdoa kepada Allah.”


“Maaf, Bang!” lirih Indah dalam dekapan suaminya.


“Jangan iri terhadap kebahagiaan orang lain, mereka juga pernah merasa masa sulit sebelum kebahagiaan itu datang. Sama halnya dengan kita, semua akan indah pada waktunya.”


“Iya Bang. Aku minta maaf,” ucapnya lagi.


Dika tersenyum ia mendekap istrinya semakin erat.


Hening beberapa saat, Dika melihat istrinya ternyata tertidur di dalam dekapannya.


Dika menatap nanar mimik wajah istrinya, wajah yang terlihat putih dan mulus.


Ia melihat di sudut mata istrinya yang terlihat basah, terlihat jelas jika istrinya menangis dalam diam.


“Maafkan aku Sayang. Kamu pasti sedih, bersabarlah.” Mengusap pipi istrinya.


Dika menggendong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar, karena udara di luar balkon terasa sangat dingin apalagi angin yang bertiup cukup kencang.


“Sayang. Aku juga sangat menginginkan anak akan cepat hadir di dalam perutmu, tapi aku tidak mengatakannya. Jika aku mengatakan semua keinginan ku itu, kamu pasti sangat terpukul,” gumam Dika dalam hati setelah berhasil membawa istrinya ke atas tempat tidur.


Dika menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh mereka, ia pun ikut menyusul istrinya yang sudah tertidur pulas. Tapi sebelum itu, ia terlebih dahulu menutup pintu balkon dan mematikan lampu utama, hanya menyisakan satu lampu tidur saja.


Cup!


Dika mengecup kening istrinya.


“Selamat malam Sayang.”


Setelah mengatakan itu, Dika ikut menyusul istrinya ke alam mimpi.


🌹🌹🌹


Terima kasih banyak semuanya atas dukungan kalian.