
Saat kaki Indah hendak melangkah, kalah cepat dengan tangan pria itu. Dengan cepat menangkap kaki Indah, hingga Indah tersungkur ke lantai membuat keningnya kembali ke bentur keras bahkan sedikit mengeluarkan darah.
“Mau ke mana kamu?! Hah ... tidak semudah itu Nona, kamu harus membayar semuanya karena sudah menamparku di depan banyak orang! Kamu sudah mempermalukan diriku!” bentaknya.
Menarik kaki Indah, hingga dirinya terseret.
Indah sudah tidak berdaya, bahkan memberontak pun tidak mampu lagi.
Pria mengangkat tubuh Indah dan melemparnya ke kasur empuk.
Celana Indah tersingkap ke atas memperlihatkan paha mulus yang putih, hingga pria itu yang melihatnya menelan salivanya dan semakin ingin melakukannya.
“Kali ini kamu tidak bisa berlari lagi!” ujarnya tersenyum licik perlahan membuka resleting celananya.
Indah hanya bisa menangis dalam diam, bahkan tidak mampu lagi mengeluarkan suaranya.
Air mata yang terus bercucuran keluar, bahkan membasahi alas kasur.
“Hei, jangan menangis! Bukankah, kamu dengan percaya diri menamparku tadi. Kenapa sekarang kamu menangis? Dimana keberanianmu?”
Setelah berhasil menanggalkan semua pakaiannya, hanya menyisakan celana pendeknya di atas lutut.
Ia naik ke tempat tidur mendekati wajahnya pada Indah.
Indah hanya bisa menutup kelopak matanya.
Pria tersebut bersiap hendak menarik pakaian atas Indah. Namun, terhalang dengan teriakan seseorang orang yang menggelegar memenuhi seisi kamar tersebut.
“Hei! Apa yang kamu lakukan bodoh!”
Indah dan pria tersebut bersamaan melihat ke arah pintu.
Melihat wajah Dika yang marah padam, ia melirik vas bunga yang ada di meja dekat pintu.
Lalu melemparnya ke arah pria tersebut.
Pluk !
Lemparan Dika tepat sasaran, Vas bunga tepat mengenai kepala pria tersebut.
Pyar !
Suara vas bunga itu pecah, jatuh ke lantai karena vas tersebut terbuat dari kaca.
Pria tersebut terjatuh dari tempat tidur, karena tidak seimbang akibat lemparan Dika.
Banyak darah yang mengalir dari kepala pria tersebut.
Dika menghampirinya dan menarik rambut pria tersebut agar berdiri.
“Apa yang kamu lakukan pada istriku, hah!” bentak Dika.
Bug! Bug!
Berulang kali Dika meninju perutnya.
Plak! Plak!
Tamparan keras mendarat di kedua pipinya.
Dika tidak memberi ampun pada pria tersebut, dirinya dengan membabi buta menghajar pria tersebut.
Bug!
Sekali lagi Dika meninju wajah pria tersebut, hingga mengeluarkan darah. Apalagi Dika memakai cincin yang cukup besar di jari tengahnya.
“Aku tidak akan membiarkan mu hidup!” geram Dika menatap pria kemarahan.
Bahkan bola matanya memerah karena marah.
Pria tersebut tidak berdaya, bahkan darah berceceran di mana-mana.
Beruntung ada petugas hotel yang melihat kejadian tersebut, meleraikan perkelahian mereka.
Karena dirinya hanya sendiri, segera ia menghubungi satpam untuk membantunya melerai.
Tak butuh waktu lama, beberapa satpam datang memisahkan mereka.
Dika benar-benar tidak melepaskan pria tersebut, hingga begitu sulit memisahkan pria tersebut dari cengkeraman Dika.
“Sabar Pak. Kita bisa menyelesaikan dengan secara baik-baik,” ujar salah satu satpam hotel tersebut dalam bahasa Inggris.
“Bagaimana bisa dengan secara baik-baik?! Pria ini hampir saja memperkosa istriku!” Bentak Dika tatapannya tidak beralih pada pria tersebut.
“Kita serahkan semuanya kepada pihak yang berwajib,” Ujar satpam membawa paksa pria tersebut.
Ia menghela nafas kasar melihat kepergian mereka, Dika menendang pakaian pria tersebut tergelatak di lantai.
Dika tidak bisa mengontrol emosinya lagi, saat masuk ke dalam kamar ada pria yang hendak memperko*a istrinya.
Awalnya ia ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di kamar, akan tetapi ia merasa curiga dengan pintu yang terbuka sedikit. Sebelumnya ia sudah berpesan kepada istrinya harus mengunci pintu ketika dirinya sudah pergi.
Dika baru ingat dengan istri, akibat amarahnya yang memuncak hingga melupakan istrinya.
“Sayang, bangun.”
Mencoba membangunkan istrinya yang tidak sadarkan diri, begitu banyak luka di wajah istrinya dan juga di pergelangan tangannya yang memerah akibat cengkeraman kuat.
“Sayang, maafkan aku. Seharusnya aku tidak pergi tapi meninggalkanmu sendiri,” Ujar Dika merasa bersalah.
Dika menggendong istrinya, ingin membawanya ke rumah sakit.
Sebelum itu, ia meminta pihak hotel menghubungi taksi untuk membawa istrinya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Indah langsung dapat penanganan cepat.
Dika langsung menghubungi Pak Candra, yaitu Paman dari istrinya.
Ia juga menghubungi sang Mama, meminta sang Mama datang untuk menjaga istrinya.
Ia sudah mengetahui, jika dirinya pasti di panggil ke kantor polisi. Walaupun dia membela kebenaran, akan tetapi dirinya main hakim sendiri hingga pria tersebut babak belur penuh luka.
Setelah mengabarkan kejadian tersebut, pak Candra dan istrinya langsung terbang malam itu juga dengan menggunakan pesawat pribadinya.
Sedangkan sang Mama akan berangkat besok pagi, karena Dika tidak membiarkan sang Mama pergi di malam hari.
Indah sudah di pindahkan ke ruangan rawat inap, lukanya pun sudah di bersihkan. Ada beberapa jahitan di keningnya.
Indah mulai mengerjapkan kedua matanya, melihat begitu asing di sekelilingnya.
“Sayang, kamu sudah bangun?”
“Hah ... jangan sentuh aku! Pergi kamu!” racau Indah ketakutan.
Ia menutup matanya dengan kedua tangannya, dengan suara bergetar akibat menangis.
“Sayang ini aku, suamimu.”
Dika perlahan menarik tangan istrinya.
“Sayang, kamu sudah aman. Jangan takut,” ujar Dika lembut.
Indah langsung membuka kelopak matanya, mendengar suara suaminya.
“Bang,” lirih Indah bersamaan dengan air mata yang terus mengalir.
Dika langsung memeluk istrinya.
“Bang, hiks! Hiks! Maafkan aku mas, aku sudah kotor,” ujar Indah ingin melepaskan dekapan suaminya. Namun, di tahan oleh Dika.
“Sstt ... jangan bicara seperti itu, kamu tetaplah istriku. Semua ini salahku, meninggalkanmu sendirian di kamar. Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri!” ujar Dika merasa sangat bersalah.
“Maafkan aku sayang,” Ujar Dika memeluk erat istrinya.
“Maafkan aku Bang!” lirih Indah.
“Tidak perlu meminta maaf sayang, jangan takut lagi. Kamu sudah aman dan aku tidak pernah meninggalkanmu lagi.” Janji Dika pada istrinya.
Ia tahu, atas kejadian ini pasti istrinya mengalami trauma yang cukup berat.
“Aku tidak akan membiarkan menghirup udara bebas!” gumam Dika dalam hati mengepal kuat tangannya.
Tidak terdengar lagi isak tangis istrinya, Indah tertidur dalam dekapannya.
Perlahan ia meletakkan istrinya, membaringkan tubuhnya di bangsal rumah sakit.
Hendak melepaskan tangan Indah yang menggenggam kuat bajunya, malah membangunkan istrinya.
“Bang, mau kemana? Aku takut,” ujar Indah dengan suara seraknya.
“Aku tidak pergi ke mana-mana,” sahut Dika membaringkan tubuhnya di samping istrinya.
Beruntung bangsal tersebut cukup besar, sehingga muat untuk mereka berdua.
Indah memiringkan tubuhnya, masuk ke dalam pelukan suaminya.
Sementara pria tersebut mendapatkan perawatan terlebih dahulu, setelah itu ia di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggung jawab kan perbuatannya.
Dengan adanya rekaman cctv, sebagai bukti yang memperkuat atas perbuatannya. Tanpa menunggu lagi, dirinya langsung di masukkan ke dalam sel tahanan.