
Tiba di rumah sakit, dokter sedang sibuk memeriksa keadaan pak Heri.
“Sayang, bagaimana dengan Papa?” tanya Dika.
“Bang, Papa tadi sempat kritis.”
“Astaghfirullah ....”
Dika duduk di kursi yang sudah di siapkan oleh pihak rumah sakit, di dekat pintu ruang ICU.
Indah duduk di samping suaminya, mengusap pelan bahu suaminya.
“Sabar Mas. Kita harus memberitahu ini pada Mama,” usul Indah.
“Aku sudah berkali-kali menghubunginya. Akan tetapi ponselnya tidak bisa di hubungi.”
“Aku akan coba meminta anak buahku untuk menjemput mereka.”
Dika hendak mengambil ponselnya, akan tetapi di urungkannya ketika melihat ada beberapa polisi yang datang menghampirinya.
“Selamat siang. Apa anda keluarga dari pak Hariyanto?” tanyanya.
“Selamat siang, Pak. Ya benar sekali, saya putra beliau.”
“Apa bisa saya minta waktunya sebentar, ada yang ingin kamu sampaikan. Ini menyangkut kecelakaan tunggal yang di alami oleh Pak Heri.”
“Bisa Pak,” sahut Dika.
Polisi mengajak Dika untuk berbicara di taman yang ada di depan rumah sakit.
“Pak Dika, kamu sudah menyelidiki penyebab kecelakaan yang di alami oleh pak Heri.”
Dika masih setia mendengarkan penuturan pak polisi tersebut.
“Jadi, dari hasil penyelidikan. Mobil tersenyum tersebut sudah di sabotase, hingga menyebabkan kecelakaan itu tidak terhindarkan lagi.”
“Di sabotase? Itu artinya, ada yang sengaja ingin Papa celaka?”
“Mungkin bisa di katakan seperti itu. Apa anda mempunyai musuh sebelumnya?”
Dika berpikir sejenak.
“Apa semua ini ada hubungannya dengan apa yang di alami oleh Fahry?” gumamnya dalam hati.
“Pak Dika,” panggil polisi tersebut.
“Iya, Pak. Saya belum memastikan ini musuh kami atau bukan. Tapi, beberapa bulan terakhir, begitu banyak kejadian yang menimpa kami.”
“Bisa sebutkan salah satunya, Pak.”
“Awal pernikahan adikku, rumah singgah kami yang sedang berlangsung, terbakar habis. Di lanjut dengan ada yang ingin mencelakai adik ipar saya, lalu malamnya rumah mereka sengaja di bakar, hingga ada pengancaman.”
“Saat ini, adik saya dan suaminya saya amankan di sebuah desa terpencil, demi keselamatan mereka.”
“Kenapa tidak mencoba melaporkannya kepada polisi, Pak?”
Dika terdiam. Ia memang tidak melaporkannya kepada polisi, saat itu ia berpikir jika melakukan itu semua adalah Papanya.
“Bukan tidak ingin melapor, tapi saya masih memastikan siapa pelakunya.”
“Oh begitu, baiklah Pak Dika. Jadi, bagaimana? Apa kasus ini di lanjut atau di hentikan?”
“Ini sudah tindak kejahatan, Pak. Saya serahkan semua kepada bapak,” ujar Dika.
Karena sudah di pastikan jika ini bukan lah ulah Papanya.
“Baik, Pak. Terima kasih atas kerja samanya, jika suatu saat kami membutuhkan informasi dari anda. Kami mohon anda harus siap di panggil ke kantor kami,” tutur polisi tersebut.
“Iya, Pak. Saya siap,” sahutnya.
“Kalau begitu, kami permisi. Terima kasih atas waktunya,” pamit polisi tersebut.
Dika menghela nafas berat.
“Siapa pelaku itu?” gumamnya bertanya-tanya.
Niatnya Ingin menghubungi adik dan Mamanya untuk kembali, di urungkannya karena kota tersebut belum aman untuk mereka.
Dika mengirim pesan pada anak buahnya, untuk pergi ke desa tersebut untuk mengawasi keluarganya dari orang yang jahat.
Dika kembali ruang ICU, melihat Anggun masih berdiri di tempatnya semula.
“Sayang. Apa kata polisi?” tanya Indah terlihat cemas.
“Tidak apa-apa. Ia mengatakan jika, mobil yang Papa kendarai sudah di sabotase. Itu artinya, ada yang sengaja ingin Papa kecelakaan,” tuturnya sambil melirik adik perempuannya tersebut.
“Kenapa Abang melihat ku seperti itu?!” ketus Anggun.
“Memangnya, aku pelakunya?”
“Bisa saja! Karena yang ada di pikiranmu saat ini hanyalah uang,” kesal Dika pada adiknya.
“Jangan menuduh tanpa bukti Bang. Papa sendiri yang ingin menjodohkan Anggun, bahkan Anggun rela di nikahkan dengan pria yang sudah beristri, demi menyelamatkan bisnis Papa yang sedang bangkrut! Jadi untuk apa Anggun melakukan itu?” kesal Anggun tidak mau kalah.
“Tapi kamu mau, bukan? Bahkan kamu sangat senang,” ujar Dika.
Karena tidak ada melihat rasa sedih di wajah adiknya.
“Memang aku harus bagaimana? Aku tidak ingin mengecewakan Papa, tidak seperti Icha! Yang selalu menyusahkan orang tua!”
Dika menghela nafas berat, di kala melihat istrinya menggelengkan kepalanya.
“Maaf, pasien butuh ketenangan. Jangan membuat keributan disini,” ujar perawat yang datang menghampiri mereka.
“Iya, maaf. Bagaimana dengan keadaan Papa saya?”
“Sudah stabil,” sahut nya.
Dika dan istrinya menghela nafas lega.
Dika masuk menghampiri Papanya dan duduk di kursi, begitupun dengan Anggun yang ikut masuk menyusul Abangnya.
Anggun menatap wajah Papanya yang terlihat pucat, dan ada beberapa luka kecil di wajahnya.
Teringat beberapa hari yang lalu, ia membentak Papanya. Karena saat itu dirinya memang sedang kesal, hingga melampiaskan amarah pada papanya.
“Maafkan Anggun Pa, seharusnya masa tua Papa kami semua berkumpul bersama Papa. Tapi, ini juga keegoisan Papa,” gumamnya dalam hati.
Setelah mengatakan itu, Anggun keluar dari ruang ICU tersebut.
“Anggun, mau kemana?” tanya Indah melihat Anggun keluar dari ruangan tersebut.
“Mau pulang,” jawabnya tanpa beban.
“Apa tidak bisa, Anggun untuk lebih lama disini? Papa sangat membutuhkan anaknya,” tutur Indah lembut.
“Aku punya suami yang menungguku di rumah, Kak. Disini ada Kakak dan juga Abang, kurasa itu sudah cukup!” imbuhnya.
“Bukankah, ada Icha. Dimana dia, kenapa Abang menyembunyikan? Seperti berlian saja!” ketus Anggun berlalu pergi.
“Baiklah,” sahut Indah membiarkan adik iparnya pergi.
🌹🌹🌹
Aditya kehilangan jejak istrinya, bahkan istrinya mengajak putranya juga.
“Sialan, cepat sekali mereka pergi!” umpatnya.
Aditya mengambil kunci mobilnya, ingin mengejar istrinya yang sudah berlari jauh beserta anak buahnya.
Namun, siapa sangka jika istrinya masih di dalam rumah bersembunyi di tempat yang tidak di ketahui oleh suaminya, sambil menggendong putranya yang terlelap tidur.
Setelah dirasa semua aman Ia bergegas keluar, tidak lupa ia membawa tas miliknya yang berisi beberapa lembar uang.
Ia perlahan meletakkan putranya di kursi mobil, lalu melajukan mobilnya keluar dari rumahnya.
Mengendarai mobil sambil melihat arah belakang, karena takut suaminya mengejar dari arah belakang.
Setibanya di hotel, ia memarkirkan mobilnya. Lalu memesan taksi untuk melanjutkan perjalanannya. Tidak akan aman jika ia pergi dengan memakai mobil, karena mobil tersebut adalah milik suaminya. Sementara mobilnya sendiri sedang di Service.
“Bos, Nyonya ada di hotel,” ujar salah satu anak buahnya, karena mendapat titik lokasi jika istri dari bos ada di hotel terdekat.
“Hah, cepat kejar! Tunggu apa lagi?!” bentaknya.
Mereka melaju dengan kecepatan penuh ke hotel tersebut.
Setibanya disana, mereka hanya menemukan mobil milik Aditya dan juga ponsel milik istrinya yang masih menyala di dalam mobil tersebut.
“Ini mobilku, bukan mobil istriku? Kenapa bisa mobilku berada disini” tanyanya heran pada anak buahnya.
“Bukankah, mobil Nyonya masih di Service.”
“Astaga!” Aditya meninju kaca mobilnya.
Ia lupa jika mobil istrinya sedang di Service, ia baru mengingatnya jika mobilnya tersebut masih terparkir sebelum ia mengejar istrinya dan menyangka jika istrinya sudah kabur dengan menggunakan mobilnya.
“Sialan!” umpatnya.