
Sesampainya di rumah adiknya, Dika melongo melihat rumah tersebut hangus terbakar.
Bahkan sudah di pasang garis polisi di tempat tersebut.
“Sayang, ini rumah Icha bukan?” tanya Indah menatap rumah adik iparnya.
Dika tidak bisa berkata-kata lagi, saat ini ia malah berpikir buruk.
Ia keluar dari mobil, melangkah cepat ke arah rumah yang terbakar.
“Maaf, Pak. Anda tidak boleh melewati garis polisi.”
Langkah Dika terhenti, saat melihat ada polisi di tempat kejadian tersebut.
“Pak, dimana adik saya? Apa yang terjadi?” tanya Dika terlihat cemas.
“Bapak tenang. Adik anda semua selamat, hanya rumahnya saja yang terbakar.”
Dika menghela nafas lega.
“Lalu dimana mereka, Pak?”
“Saya kurang tahu, sejak pagi tadi saya tidak melihat keberadaan mereka.”
Dika mengangguk.
Dika mengambil ponselnya dan menghubungi sang Mama.
Tut! Tut!
“Assalamualaikum, Bang. Kamu sudah di rumah?”
“Ma, rumah Icha kebakaran. Apa mereka di rumah Mama?”
“Hah, Apa? Astaghfirullah, dimana adikmu nak?” tanya Bu Sintya bersamaan dengan suara tangisnya.
“Mama tenang ya. Icha dan Fahry selamat dalam kebakaran ini, akan tetapi rumahnya terbakar hangus, Ma.”
“Mama akan kesana sekarang,” ujar Bu Sintya.
“Iya, Ma. Hati-hati,” ujarnya mengakhiri panggilannya.
“Bapak mencari siapa?” tanya seorang pria paruh baya yang menolong Icha dan Fahry.
“Saya dengan mencari adik saya. Maksud saya, pemilik rumah yang terbakar ini,” ujar Dika pada pria tersebut.
“Mereka ada di rumah saya. Pagi tadi melihat istrinya gemetar, jadi saya usul untuk membawa ke rumah saya. Kasihan istrinya,” tutur pria itu.
Dika menghela nafas lega.
“Pak, apa bapak bisa antar saya? Saya ingin bertemu dengan adik saya.”.
“Bisa Pak. Mari saya antar ke rumah,” ujarnya.
“Bang, bagaimana dengan Icha. Apa dia baik-baik saja?”
“Aku tidak tahu. Kita ikuti bapak ini, Icha dan Fahry ada di rumahnya.”
Indah mengangguk.
Dika dan Indah melangkah mengekori belakang pria itu, mereka hanya berjalan kaki. Karena rumah pria itu jaraknya hanya beberapa meter dari rumah Icha.
Saat tiba di rumah tersebut, Icha dan Fahry sudah bersiap ingin pamit dari rumah pria itu.
Karena sudah beristirahat beberapa jam, Fahry ingin mengajak istrinya untuk mencari rumah sewa terdekat.
“Abang,” ujar Icha melihat Dika melangkah mendekati rumah tersebut.
Fahry menoleh mengikuti netra istrinya.
“Icha, Fahry. Kalian baik-baik saja?” tanya Dika begitu khawatir.
“Kami baik, Bang. Alhamdulillah.”
“Syukur lah. Abang sangat khawatir, apalagi melihat keadaan rumah kalian. Saat itu, Abang berpikir buruk.”
“Alhamdullilah kami selamat. Tapi, semuanya habis terbakar, Bang. Kami tidak bisa menyelamatkan apapun,” ujar Fahry merasa bersalah.
“Jangan pikirkan itu, yang terpenting kalian berdua selamat.”
Fahry mengangguk, Icha dan Indah saling berpelukan.
Mereka berpamitan pada pria paruh baya yang menolong mereka, karena Dika mengajak adiknya untuk tinggal di rumahnya dan Indah.
Di dalam mobil Fahry menceritakan kejadian yang dialaminya, hingga ancaman sebelum kebakaran terjadi.
“Apa ini perbuatan Papa?” tanya Dika merasa curiga.
“Sepertinya bukan. Aku yakin, Papa tidak mungkin ingin mencelakai putrinya sendiri,” tutur Fahry.
“Aku juga berpikir seperti itu,” gumam Dika.
Indah dan Icha duduk di kursi belakang, hanya diam mendengar percakapan suami mereka berdua.
🌹🌹🌹
Di rumah kediaman kebesaran pak Heri, Bu Sintya mengemaskan semua pakaiannya.
Pak Heri baru saja keluar dari kamar mandi mengernyit heran.
“Mau kemana kamu?!” menatapnya tajam.
“Mau kemana aku, itu bukan urusanmu!” ketus Bu Sintya.
“Apa maksudmu? Kamu mau pergi dari rumah ini?!”
“Kalau iya memangnya kenapa? Kali ini aku pastikan tidak akan pernah kembali lagi ke rumah ini!”
“Aku tidak mau mempunyai suami yang kejam sepertimu! Kejam ingin membunuh darah dagingmu sendiri!” bentak Bu Sintya.
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipi Bu Sintya.
“Jaga bicaramu itu! Aku tidak pernah berniat ingin membunuh putriku sendiri! Jangan asal kalau bicara!”
“Oh ya?!” ujar Bu Sintya memegang pipinya yang panas bekas tamparan bersamaan dengan air matanya keluar.
“Bagaimana dengan berniat mencelakai suaminya. Apa itu termasuk bukan rencana pembunuhan?!” menatap tajam suaminya.
“Membakar rumahnya, apa itu namanya bukan rencana pembunuhan juga?!” ujar istrinya lagi dengan penuh penekanan.
“Heh, aku tidak sekeji itu!” mengimpit dagu istrinya dengan kuat menggunakan tangannya, karena tidak terima dengan tuduhan istrinya.
“Tapi, aku mendengar sendiri dengan telingaku! Jika kamu memerintahkan orang untuk mencelakai Fahry!” teriak Bu Sintya melepaskan dagunya.
“Heh, kamu dengar baik-baik sekali lagi. Aku memang benar ingin mencelakai Fahry, akan tetapi Anggun melarangku! Maka dari itu aku tidak jadi memerintahkan orang! Soal kebakaran itu, aku tidak tahu sama sekali!” bentak pak Heri.
“Ck ... pria sepertimu memang sulit untuk mengaku, suatu saat nanti kamu akan menerima akibatnya! Jika maling mengaku, sel tahanan penuh dengan penjahat!”
Bu Sintya langsung meninggalkan pak Heri, dengan menggeret koper miliknya keluar rumah.
“Satu kali kamu melangkahkan kakimu keluar rumah ini! Aku pastikan Kamu tidak akan pernah bisa masuk lagi!” ancam pak Heri.
Bu Sintya menghentikan langkahnya menoleh ke belakang.
Bu Sintya tersenyum kecut.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan! Aku tidak akan pernah kembali ke rumah ini, walau apapun yang terjadi,” ejek Bu Sintya menyeringai sambil tersenyum kecut.
Tanpa ragu Bu Sintya keluar kamar.
“Arrgghh ... sialan!” melempar vas bunga.
Pyaar!
Terdengar hingga keluar kamar.
Bu Sintya menghentikan langkahnya sejenak, ia menutup matanya mendengar suara benda pecah dari dalam kamarnya.
Sudah bisa ia pastikan, suaminya melempar sesuatu dari kamar miliknya.
Ia kembali melanjutkan langkahnya.
“Siapa yang berbuat kejahatan ini?! Sepertinya ada yang melakukannya dan mengatas namakan diriku! Kurang ajar!” geram pak Heri mengepal tangannya kuat.
Bu Sintya keluar rumah, sambil menghapus air matanya. Membuka bagasi mobilnya, dan meletakkan koper miliknya.
“Aku tidak pernah percaya lagi padamu Mas!” dengan suara bergetar menangis di dalam mobilnya.
Setelah puas menangis, ia menghapus air matanya melaju mobilnya ke tempat putranya Dika.
Karena Dika baru saja mengirim pesan, jika Icha dan Fahry sudah berada di rumahnya.
🌹🌹🌹
Di tempat lain.
Suara pria tertawa puas memenuhi seisi ruangan tersebut.
“Hahaha ... aku bahagia sekali hahaha. Bagaimana Pak Heri? Anda puas sekarang, menjadi kambing hitam ku!” ujarnya merasa puas karena berhasil menjalankan rencana tanpa mengetahui bahwa dirinya yang melakukannya.
“Aku tidak akan membiarkanmu menghirup udara bebas Pak Heri!
“Nikmati lah hidup mu dalam beberapa hari ini. Setelah itu, kamu akan merasakan bagaimana rasanya di permalukan!” gumamnya.
“Dono, bagaimana? Kamu sudah menghilangkan bukti rekaman cctv saat terjadi pembakaran itu?”
“Aman bos. Semua orang pasti curiga pada Pak Heri dan menganggap Pak Heri lah pelakunya.”
“Bagus. Aku akan memberikanmu bonus,” ujarnya melempar amplop tebal pada pria tersebut.
“Terima kasih bos,” ujarnya menangkap amplop tersebut lalu mengecup kertas berwarna coklat itu sekilas.
“Hm ...” dehamnya mengibaskan tangannya meminta anak buahnya keluar.