Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 96



Sepulang dari rumah singgah, mereka beriringan pulang menuju ke rumah orang tua mereka.


Saat mobil berhenti di depan rumah, Icha melihat mobil kakaknya tidak ada di garasi mobil.


“Apa Anggun ada di rumah?” tanya Dika pada Anggun saat keluar dari mobil, karena Dika lebih dulu tiba dari adiknya.


“Tadi pagi ada Bang. Kalau sekarang Icha tidak tahu, tapi mobil Kakak tidak ada di garasi,” sahut Icha.


Dika mengangguk mengerti.


Icha masuk ke dalam rumah, terlihat dalam rumah yang sunyi. Ia tidak mendengar suara putranya.


“Assalamualaikum.”


Icha membuka pintu kamar orang tuanya, terlihat pak Heri tertidur pulas.


“Papa tidur?” tanya Dika melihat Icha menutup kembali pintu kamar tersebut.


“Iya Bang.”


“Kapan lagi jadwal Papa untuk terapi?” tanyanya.


“Sepertinya lusa, bersamaan dengan jadwal Azam imunisasi.”


“Ma,” panggil Dika melihat mamanya menggendong Azam yang menuruni tangga


“Kalian sudah pulang?”


“Iya Ma.”


“Azam sudah mandi ya?” tanya Indah yang langsung mengambil Azam dari gendongan.


Cup!


“Wangi sekali,” tutur Indah mencium pipi gembul Azam yang berat badannya bertambah.


“Icha, Kaka pinjam dulu ya Azamnya?”


“Eh ... iya kak. Hahaha kakak, seperti barang saja, di pinjam,” ujar Icha terkekeh.


Indah juga ikut terkekeh.


Malam hari, semua orang baru saja menyelesaikan salat berjamaah.


Saat semua orang sudah keluar menuju ke meja makan, pak Heri menghampiri Fahry yang baru saja selesai melaksanakan salat sunah selepas magrib.


“Pa. Ayo kita makan malam bersama,” ajak Fahry melihat pak Heri di depan pintu kamar.


“Fahry. Apa boleh Papa bicara denganmu? Ada yang ingin Papa bicarakan denganmu,” Ujar pak Heri tanpa basa basi.


“Tentu saja boleh Pa. Kenapa harus minta izin? Papa mau bicara apa?” tangan Fahry berjongkok agar sejajar dengan papa mertuanya.


“Sebenarnya Papa malu padamu, malu dengan perbuatan Papa dulu pada kalian. Papa minta maaf atas perlakukan tidak baik Papa dulu pada kalian.” Tatapan sendu, tampak jelas dari wajahnya ada penyesalan yang amat dalam.


“Pa. Semua itu sudah berlalu, Fahry tidak pernah menyimpan dendam sama sekali terhadap Papa. Kita mulai dari awal lagi Pa,” tutur Fahry lembut.


“Sekarang kita makan dulu bersama, setelah itu Papa minum obat terus beristirahat. Lusa jadwal Papa terapi bukan? Fahry yang akan mengantar Papa.”


“Tunggu Fahry.” Pak menahan tangan Fahry yang hendak mendorong kursi roda tersebut.


“Fahry itu ....” pak Heri tampak ragu untuk mengatakannya.


“Ada apa Pa? Apa Papa butuh sesuatu? Katakan saja, Fahry berusaha untuk mengabulkannya,” tutur Fahry lembut.


“Iya. Papa butuh sesuatu dari kamu.”


“Katakan saja Pa. Jangan ragu, Fahry juga anak Papa.”


“Mm ... Papa butuh bekal untuk di akhirat kelak, Papa ingin belajar salat dan mengaji. Apa Fahry tidak keberatan untuk mengajari Papa?” tanya pak Heri menunduk malu.


Fahry tersenyum.


“Tentu saja Pa. Ini malah bagus, dengan senang hati Fahry akan mengajari Papa.”


Terlihat pak Heri menghela napas lega, lalu tersenyum.


“Lebih baik terlambat bertobat, dari pada tidak sama sekali Pa.”


“Terima kasih Fahry. Tapi, bagaimana cara Papa salat. Keadaan Papa tidak bisa berdiri seperti ini.”


“Pa ... Orang yang sakit bahkan tidak bisa untuk duduk, mereka bisa melaksanakan salat sambil berbaring. Papa juga bisa salat sambil duduk, Allah tidak mempersulit hambanya untuk beribadah Pa.”


Pak Heri mengangguk antusias, lalu menyentuh kedua pipi Fahry dengan air matanya yang tiba-tiba mengalir di pipinya.


“Fahry. Sekali lagi, Papa minta maaf Nak. Jika Papa meninggal nanti, Papa ingin kamu dan Dika yang ikut memandikan jenazah Papa.”


“Papa jangan bicara seperti itu. Apa Papa tidak ingin melihat Azam tumbuh besar? Papa harus yakin, Papa akan sembuh.”


“Iya, Nak.” Mengangguk pelan sembari mengusap air yang mengalir di pipinya.


“Pa, Fahry. Kok masih di sini?” tanya Bu Sintya menghampiri mereka.


“Iya, ini mau ke sana Ma.” Perlahan Fahry mendorong kursi roda Papa mertuanya.


“Oh.” Bu Sintya membalikkan badannya menuju ke dapur, setelah melihat suami dan menantunya menuju ke dapur.


“Icha, di mana Azam? Apa sudah tidur?” tanya Bu Sintya sambil menyendokkan nasi ke dalam piring untuk suaminya.


“Sudah Ma,” sahut Icha yang juga sibuk menyajikan untuk suaminya.


“Ma, Anggun di mana? Abang tidak melihatnya sejak tadi.”


“Mama tidak tahu, entah ke mana adikmu pergi. Mama sudah berulang kali menghubunginya, akan tetapi di tolak terus.”


“Ke mana anak itu,” gumam Dika dalam hati.


“Sayang, coba Abang hubungi Anggun. Aku takut terjadi sesuatu dengannya,” bisik Indah pada suaminya.


Dika mengangguk.


“Dika, mau ke mana? Oh ya, Mama mau menanyakan ini padamu.”


“Apa Ma?” tanya Dika kembali ke tempat duduknya, karena sebelumnya ia ingin beranjak untuk menghubungi adiknya tersebut.


“Kamu pasti sudah tahu, apa yang terjadi dengan adikmu? Anggun belum mau cerita pada Mama semuanya,” ujarnya sambil menyuapi suaminya.


“Dika akan tanyakan pada Anggun, Ma.”


“Oh, oke.” Bu Sintya mengangguk.


Hingga Adzan isya berkumandang, Anggun juga belum Kembali.


Seperti janji Fahry pada pak Heri, ia mengajarkan Papanya salat setelah itu mengaji.


Semua orang menatap haru, karena melihat pak Heri ikut melaksanakan salat.


Di lanjut, setelah salat Fahry mengajarkan Papa mertuanya untuk mengaji.


“Bang, Papa ingin kamu menginap di rumah. Papa ingin berkumpul bersama kalian,” ujar pak Heri terlihat napasnya naik turun, seperti susah untuk bernapas.


“Pa, Papa baik-baik saja? Kita ke rumah sakit sekarang.”


“Tidak. Papa baik-baik saja, Papa hanya ingin beristirahat.”


“Iya, Pa. Biar Abang antar ke kamar.”


“Ma, Icha khawatir melihat keadaan Papa. Bagaimana kita panggil Dokter saja? Atau kita paksa papa ke rumah sakit.”


“Kita bicarakan ini pada Abang dulu nak,” sahut Bu Sintya.


Bruuk!


Semua orang menatap Anggun yang tersungkur di depan pintu rumah utama, Anggun terjatuh dan tidak sadarkan diri.


“Kakak.”


Icha dan Indah setengah berlari setelah melihat Anggun yang terjatuh di depan pintu.