
Keluar dari ruang kerjanya, pak Heri naik ke lantai atas menuju kamar miliknya.
Namun, langkahnya terhenti ketika melihat pintu kamar Icha yang terbuka sedikit.
Ia penasaran apa yang di lakukan oleh Icha, ia mengintip melihat Icha baru saja selesai shalat dan di lanjutkan mengaji.
Di sela ia mengaji, tak sengaja ia melihat Papanya ada di depan pintu kamarnya. Icha menyudahi mengajinya.
“Apa Papa butuh sesuatu?” tanya Icha beranjak dari duduknya dan langsung membuka pintu.
Ia mengajak papanya masuk ke dalam kamar miliknya. Saat masuk ke dalam kamar putri bungsunya, ada rasa yang beda, terasa adem. Apalagi terlihat di dinding kamar milik putrinya yang terpasang Asmaul Husna.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya pak Heri.
“Icha mengaji Pa.”
Pak Heri menatap wajah putrinya yang begitu bersih, wajahnya juga sangat cantik walaupun tanpa menggunakan makeup sama sekali.
“Bagaimana dengan pekerjaanmu?”
“Ba-baik Pa...” sahut Icha tampak gugup.
“Hm... baiklah. Apa pria yang tadi adalah kekasih mu?” tanya Pak Heri penuh selidik.
“Bukan, Pa. Itu teman Icha di tempat bekerja.”
Pak Heri mengangguk mengerti.
“Baiklah. Sepertinya kamu senang bekerja di tempat itu, Papa tidak melarangmu.”
Icha seperti mendapat angin surga.
“Terima kasih Pa,” ujar Icha memeluk Papanya.
Pak Heri mengusap kepala putrinya yang terbungkus mukena tersebut, sambil tersenyum.
“Berapa usiamu sekarang? Sepertinya, usianya sudah cukup untuk menikah.”
“Apakah kamu sudah siap menikah?” tanya Pak Heri lagi masih mengusap kepala putrinya.
Icha hanya diam tidak menjawab ucapan Papanya.
“Baiklah, sekarang lanjutkan mengajinya. Setelah itu turun makan, kita makan bersama.”
Pak Heri tidak melanjutkan pembicaraannya, karena melihat Icha hanya diam.
Icha melepaskan pelukannya. Pak Heri beranjak dari tempat duduknya, keluar dari kamar.
Sambil melangkah, tampak pak Heri sedang berpikir.
“Jika Icha aku jodohkan dengan Aditya, mungkin ini lebih bagus. Terlihat dari pandangannya kepada Icha waktu itu, ia sepertinya menyukainya! Aku akan bertemu dengannya besok,” gumamnya, lalu masuk ke dalam kamarnya.
“Icha juga sangat cantik, hanya pakaiannya saja yang tertutup!” ucapnya dalam hati.
🌹🌹🌹
Tiga bulan sudah berlalu, pernikahan Anggun yang baru saja seumur jagung membuatnya hidup seperti di penjara.
Di kurung tidak boleh keluar rumah, bahkan satu minggu lamanya Dino tidak memberinya kabar sama sekali.
“Hah... kemana Dino?! Aku sudah menghubunginya, kenapa tidak di angkat?!” kesalnya melempar ponselnya ke tempat tidur.
Arrgghh...
Ia merasakan perutnya sangat kencang.
“Sakit sekali...!” merintih kesakitan sambil memegang perutnya.
Ia melangkah perlahan menuju tempat tidur dan duduk di tepi kasur.
Ia mengelus perutnya, semakin lama sakitnya semakin menghilang.
“Kenapa nak? Apa kamu juga merindukan Ayahmu? Sama Mama juga,” ujarnya berbicara sambil mengusap perut yang sudah terlihat membuncit.
Ceklek!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, terlihat Dino menggeret kopernya. Dengan wajah yang kusut, rambut yang sedikit berantakan.
“Dino, kamu baru kembali! Kenapa tidak menghubungiku? Aku sungguh khawatir,” tanya Anggun menghujani suaminya dengan pertanyaan.
“Dino, jawab dong. Aku sungguh sangat khawatir,” tambahnya lagi.
“Ssttt... berisik sekali! Kamu sudah melihatku sekarang, jadi jangan banyak bicara. Aku ingin istirahat!” bentak Dino melempar sepatunya ke sembarang arah, lalu merebahkan tubuhnya.
“Dino, kenapa membentakku? Aku hanya bertanya, aku ini istrimu!” imbuhnya sambil meneteskan air mata.
Selama hamil, Anggun lebih sensitif. Sering sekali menangis tanpa sebab, perihal Dino tidak mau makan bersamanya saja ia menangis hingga yersedu-sedu.
“Ish... huftt! Aku baru pulang kerja Anggun, biarkan aku istirahat. Kemari, berbaring di sampingku.”
Anggun menurutinya, ia berbaring di samping suaminya. Namun, Dino tidak ingin memeluknya. Ia malah langsung tidur tanpa memedulikan Anggun yang ada di sampingnya.
“Kamu kenapa sih? Apa ada orang lain di belakang ku sekarang? Kamu berubah setelah tiga bulan pernikahan kita,” gumam Anggun dalam hati sambil menatap suaminya yang sudah tidur pulas dengan posisi telentang.
Di tempat lain, tiga bulan ini Icha dan Fahry semakin hari semakin dekat. Begitu pun hubungan Fahry dan Dika juga semakin akrab.
Mereka membagikan makanan yang mereka pesan kepada pemulung dan pengemis juga para lansia.
Bahkan Icha dan Dika berencana membangun rumah singgah untuk para lansia atau bagi orang-orang yang terlantar.
Dika meminta Icha dan Fahry yang mengelolanya, sedangkan dirinya hanya memberi dana saja setiap bulannya.
Setelah selesai Icha dan Fahry duduk istirahat di sebuah warung sambil menunggu Dika datang.
Entah apa yang mereka bicarakan hingga Icha tertawa tanpa beban.
Lagi-lagi, ada yang memotret mereka dari kejauhan tanpa di sepengetahuan oleh Icha dan Fahry.
“Maaf aku terlambat,” ujar Dika.
Fahry dan Icha menoleh ke arah belakang. Icha melihat Abangnya tidak datang sendirian, melainkan bersama wanita di belakangnya.
“Assalamualaikum Abang...” Ujar Icha.
“Waalaikumsalam, maaf Abang lupa.”
“Icha, dia Indah. Wanita yang selalu Abang ceritakan pada Icha,” ujarnya.
Icha mengulurkan tangannya, lalu mencium punggung tangan Indah.
“Assalamualaikum kak Indah,” sapa Icha.
“Waalaikumsalam,” sahutnya.
“Nama kamu siapa?” tanyanya.
“Marissa kak, biasa Abang memanggilku dengan nama Icha.”
Indah mengangguk.
“Kamu sangat cantik.”
“Kaka juga,” sahut Icha.
“Bagaimana Fahry, apa kamu setuju dengan rencana kita waktu itu?” tanya Dika.
“Aku sangat setuju. Ini sangat bermanfaat bagi orang,” sahut Fahry.
“Baiklah, besok hari Minggu kita akan bertemu di tempat lokasi yang akan kita bangun rumah singgah tersebut.”
Fahry mengangguk.
“Oh ya Fahry, aku ada sesuatu untukmu.”
Dika mengeluarkan kunci dari dalam sakunya.
“Ini untukmu.”
Fahry meletakkan kunci motor tersebut di tangan Fahry.
“Apa ini? Maaf Dika, aku tidak bisa menerima ini,” ujarnya mengembalikan kunci motor tersebut.
“Aku tidak menerima penolakan. Ini hadiah dari Allah, karena kamu orang baik.”
“Berbuat baik kepada orang itu harus, tapi aku tidak sedikit pun meminta balasan,” imbuhnya.
“Iya aku tahu. Tapi, anggap saja ini sebagai tanda jadi kita sudah bekerja sama. Tolong jangan di tolak,” ujar Dika memohon.
Fahry diam, ia sejenak menatap Icha. Terlihat Icha mengangguk pelan.
Fahry menghela napas, lalu mengangguk.
“Nah gitu dong,” tutur Dika tersenyum, lalu menyerahkan lagi kunci tersebut.
“Terima kasih Dika. Sungguh, aku tidak menginginkan ini. Tapi, kamu memaksa...”
“Jangan pikirkan itu, aku sudah menganggap mu seperti saudaraku sendiri,” sela Dika.
Membuat Fahry terharu, mendengar Dika menganggapnya saudara.
“Baikah, sudah sore. Kita akan bertemu besok, Fahry.”
“Iya, aku akan menghubungi mu setelah pulang bekerja.”
“Iya,” sahut Dika.
Mereka saling berpamitan dan tidak lupa mengucapkan salam. Icha masuk ke dalam mobilnya, bersama Indah kekasih Abangnya.
“Icha, rencana Abang akan memperkenalkan Indah kepada Mama dan Papa dan secepat nya kami akan menikah,” ujar Fahry sambil fokus menyetir mobil.
“Alhamdullilah. Iya Bang, Icha sangat setuju.”
“Kalau kakak Indah bagaimana?” lontar Icha pada calon kakak iparnya.
“Maksudnya, aku tidak mengerti apa yang Icha katakan?” tanya Indah karena dirinya memang tidak mengerti.
“Hahaha maaf kak, Icha hanya bercanda. Karena kak Indah sedang melamun, jadi aku bertanya. Tapi, ternyata kakak sedang menyimak,” ejek Icha.
Indah tersipu malu mendengar itu, ia mengalihkan pandangannya menghadap keluar jendela menyembunyikan rasa malunya.