Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 30



Hingga jam dua dini hari, Icha masih betah di depan sajadah.


Bahkan matanya sampai sembab, karena banyak menangis dan mengadu kepada sang kuasa.


Tanpa sadar dirinya tertidur di atas sajadah, hingga terdengar suara adzan subuh berkumandang.


Icha mengerjapkan kedua kelopak matanya, baru sadar jika dirinya tertidur di sajadah miliknya.


“Astaghfirullah ... aku tertidur di sini,” gumamnya dengan suara serak khas bangun tidur.


Ia duduk sejenak, lalu beranjak dari tempat duduknya masuk ke kamar mandi.


Cukup lama Icha di kamar mandi, karena mulai subuh ini dan seminggu ke depan ia tidak menjalankan ibadah salat. Karena pagi ini Icha kedatangan tamu bulanannya.


Jam 7 kurang, Icha keluar dari kamar dengan menggendong tas kecil miliknya yang menempel dibelakannya.


Ia menuruni tangga, terlihat dari tangga orang tuanya sedang sarapan bersama. Namun, ia tidak melihat Abangnya sarapan bersama.


Sesampainya di meja makan, Icha mengernyit heran melihat orang tuanya tidak berbicara, hanya sibuk dengan sarapan mereka.


“Ma, Pa. Icha berangkat dulu,” pamitnya.


“Kenapa tidak sarapan dulu, nak?” tanya sang Mama.


“Icha sudah hampir terlambat, Ma. Tapi, Icha pasti sarapan di tempat kerja.”


Icha mengerti kecemasan sang Mama.


“Baiklah. Jangan sampai tidak sarapan, nak.”


Icha mengangguk.


Ia mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan sang Mama bergantian dengan Papanya.


“Pa, Icha berangkat dulu.”


“Hm ... “ deham Pak Heri.


Icha juga mengambil punggung tangan sang papa lalu menciumnya.


“Assalamualaikum ...”


“Waalaikumsalam ...”


“Oh iya Icha. Tadi pagi Abang buru-buru berangkat, Abang menitipkan pesan meminta Icha di antar sopir.”


“Icha membawa motor sendiri saja, Ma.”


“Kenapa tidak mau di antar sopir?” tanya Bu Sintya karena tidak pernah melihat Icha naik mobil bersama sopir.


“Bukan tidak mau Ma. Tapi, Icha lebih nyaman jika membawa motor sendiri,” sahut lembut Icha.


“Oh begitu. Baiklah, hati-hati di jalan.”


Icha mengangguk, lalu melangkah menuju pintu keluar. Meninggalkan orang tuanya yang sedang menatapnya hingga dirinya menghilang dari pandangan.


Sepasang suami istri ini masih belum berbicara, bahkan masih betah dalam diamnya masing-masing. Walaupun begitu, Bu Sintya tetap melayani suaminya dengan baik termasuk menyiapkan sarapannya.


🌹🌹🌹


Di perjalanan, Icha hampir saja menabrak orang menyeberang jalan zebra cross.


Beruntung ia cepat menarik rem tangan, hingga kecelakaan tidak terjadi.


“Fokus dong kalau membawa motor! Kalau tertabrak bagaimana? Apa kamu mau masuk penjara kalau saya mati!” bentak seorang ibu-ibu yang marah terhadap Icha.


“Iya, saya minta maaf. Saya tidak sengaja,” ujar Icha merasa bersalah.


Tampak ibu tersebut menghela nafas dan membiarkan Icha pergi karena kasihan melihat Icha yang sedikit pucat karena takut.


Setibanya di depan toko, Icha menghela nafas. Ia melangkah berat masuk ke dalam toko, Santi memerhatikan dirinya sedikit lesu.


“Assalamualaikum ... bidadari cantik,” sapa Santi dengan salam.


“Waalaikumsalam ...” sahut Icha memperlihat senyumnya walaupun sedikit di paksa.


“Kenapa nih? Cuaca hari ini cukup cerah, kenapa wajahmu terlihat mendung tanpa bercahaya,” goda Santi.


“Kamu bisa saja bercandanya,” sahut Icha.


Tidak sengaja Fahry mendengar percakapan mereka, ia melirik sekilas wajah Icha yang tidak seperti biasanya.


Siang ini, sesuai janji mereka dengan Abang Dika kemarin. Mereka bertemu di lokasi tempat yang akan di bangun rumah singgah.


“Icha, aku lagi tidak ada perkerjaan di rumah. Apa aku boleh ikut dengan kalian?” tanya Santi.


Karena sebelumnya ia tidak sengaja mendengar jika Icha dan Fahry akan pergi ke lokasi rumah singgah.


“Boleh. Dengan senang hati,” sahut Icha.


“Terima kasih ya,” ujar Santi.


Icha mengangguk sambil tersenyum.


Santi mengendarai motor dan membonceng Icha di belakangnya, sedangkan Fahry mengendarai motor sendiri dengan motor yang di berikan oleh Dika kemarin.


Tidak lupa Icha memberi salam dan mencium punggung tangan Abangnya dan Indah bergantian.


Tanpa di duga, ada Ifan juga di lokasi tersebut.


“Loh, kamu kok di sini?” tanya Fahry melihat sahabatnya berada di tempat yang sama.


“Iya. Aku di hubungi oleh pak Dika, untuk membangun tempat ini.”


“Ooh ...” Fahry mengangguk mengerti.


Pekerjaan Ifan memang tukang kuli bangunan dan kebetulan Dika dapat rekomendasi dari temannya jika Ifan adalah kuli bangunan dengan pekerjaan yang sangat rapi.


“Sepertinya kalian saling mengenal?” tanya Dika yang datang menghampiri mereka.


“Iya, Dika. Ini Ifan, teman dan kebetulan kami tinggal di tempat yang sama.”


“Alhamdulillah kebetulan sekali.”


Mereka berbincang sambil berdiri, membicarakan tentang sketsa bangunan yang akan di bangun.


Di tengah perbincangan mereka, Dika menangkap adiknya sedang melamun. Sejak datang di lokasi tersebut, Icha hanya banyak diam.


Tak terkecuali Fahry sendiri, saat di toko pun Icha lebih banyak diam.


Sedangkan Santi dan Indah berbincang hangat, baru pertama bertemu mereka langsung akrab dan membicarakan kehidupan mereka.


Hingga sore hari, mereka di tempat tersebut. Setelah selesai Dika mengajak mereka untuk makan bersama di salah satu restoran.


Dika memesan makanan untuk mereka sesuai makanan yang mereka inginkan.


“Apa itu yang namanya Icha?” Bisik Ifan melirik Icha yang duduk di samping Dika.


Fahry mengangguk.


“Cantik banget. Masya Allah,” refleks Ifan, beruntung tidak ada yang mendengarnya karena ia langsung menutup mulutnya.


Fahry menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


Lalu Ifan beralih kepada Santi yang masih berbicara dengan Indah, entah apa yang mereka bicarakan seperti sangat serius sekali.


“Kalau itu, nama Santi!” ujar Fahry seakan mengerti dengan tatapan Ifan pada Santi.


Ifan terkekeh karena ketahuan oleh Fahry.


Beralih pada Dika dan Abangnya.


“Cuaca cukup cerah hari ini, kenapa wajah adikku terlihat murung?” tanya Dika.


Icha hanya tersenyum menanggapinya.


“Ada dek? Apa ada masalah?” tanya Dika.


Ingin sekali Icha berbicara kepada Abangnya, menumpahkan keluh kesahnya. Namun, melihat kebahagiaan Abangnya dengan kekasihnya membuat iya mengurungkan niatnya.


“Sudah saatnya aku akan membahagiakan Abang,” ujar Icha dalam hati sambil menatap Abangnya.


“Icha ... Icha ...” panggil Dika melihat adiknya malah melamun.


“Hah! Astaghfirullah, maaf kak.”


Indah mendengar Dika berulang kali mendengar memanggil adiknya tersebut.


“Ada apa?” tanya Indah.


“Tidak apa-apa Kak,” sahut Icha.


Entah kenapa, Fahry melihat ada yang di sembunyikan oleh Icha.


Namun, ia tidak berani untuk bertanya. Ia tidak mau Icha berpikir jika dirinya ikut campur dalam urusan pribadinya.


Tidak lama, pelayan restoran tersebut membawa makanan yang mereka pesan sesuai menu makanan mereka.


Selesai makan, Fahry dan Ifan berterima kasih sudah mentraktir mereka makan, begitupun dengan Santi.


Setelah itu, mereka berpamitan untuk pulang ke arah rumah masing-masing. Tak terkecuali Santi, ia di antar oleh Icha terlebih dahulu untuk pulang ke rumahnya.


“Icha, maaf. Aku malah jadi merepotkanmu,” ujar Santi yang merasa tidak enak.


Niat awalnya ingin mengusir rasa jenuhnya karena sendirian di rumah, malah merasa tidak enak karena merepotkan Icha.


Ia sudah bersikeras untuk pulang naik taksi, akan tetapi Icha juga memaksa untuk mengantarnya karena jalan menuju rumah mereka searah.


Di dalam mobil.


“Kenapa dengan Icha hari ini? Tidak seperti biasanya, hari ini Icha banyak melamun,” tutur Indah kepada Dika.


“Entahlah. Aku merasa ada yang di sembunyikan olehnya, aku akan mencari tahu.”


Indah mengangguk.


“Akupun merasa seperti itu.”


“Iya, kamu tenang saja. Aku yang sangat mengerti dirinya, ia tidak akan menyembunyikan lama masalahnya dariku.”