Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 70



Sementara itu, Pak Heri menyusul istrinya. Namun, mobil yang di kendarai istrinya sudah pergi jauh.


“Sialan!” umpatnya.


Pak Heri masuk ke dalam mobilnya dan mengikutinya dari belakang. Namun, pak Heri malah terjebak macet sekitar lima meter karena terjadinya kecelakaan lalu lintas.


Pak Heri tidak henti-hentinya mengumpat.


“Huft ... dasar bodoh! Kenapa macet sekali?!”


Hampir tiga jam, akhirnya sudah melewati kemacetan.


Pak Heri tahu, jika istrinya pasti sedang berada di rumah putranya Dika. Sebenarnya pak Heri diam-diam kediaman menyelidiki Dika, walaupun dulunya dirinya sangat marah. Entah kenapa, beberapa terakhir membuatnya kesepian.


Ting! Tong!


Pak menekan bel rumah milik Dika.


Ceklek!


Seorang pekerja di rumahnya membuka pintu.


“Dikanya ada?”


“Ada Tuan. Sebentar, saya panggil.”


Pak Heri mengangguk.


Tak lama, terlihat Dika sedang menuruni tangga rumahnya.


“Ada apa Papa kemari? Bukankah kita sudah tidak ada urusan lagi?!”


“Jaga bicara mu Dika. Dimana sopan santunmu? Aku ini masih orang tuamu!”


“Bukankah, Papa sendiri yang tidak menganggapku putra lagi. Jangan salahkan sikapku seperti ini, ini adalah ajaran dari Papa sendiri.”


“Cih ...! dimana istriku?” tanpa peduli perkataan Dika lagi.


“Istri? Di rumah ini, hanya ada istriku. Tidak ada istri Papa,” ujar Dika duduk di depan Papanya.


“Jangan berbohong! Aku tahu dia ada di rumah ini!”


“Silahkan Papa periksa,” tutur Dika.


Pak Heri beranjak dari tempat duduknya, melangkah naik tangga setengah berlari. Memeriksa semua kamar yang ada, akan tetapi ia tidak menemukan istrinya sama sekali.


“Bagaimana? Apa Papa menemukan Mama?” ejek Dika sambil tersenyum.


“Dimana kamu menyembunyikannya?”


“Di tempat yang tidak di ketahui oleh semua orang,” ujar Dika menyeringai.


“Dasar bodoh! Apa rencanamu? Hah! Menyembunyikan istriku!” bentak pak Heri.


“Aku melindungi mereka dari kekejaman Papa! Tega sekali Papa ingin mencelakai anak dan menantu Papa. Dimana hari nuranimu, Pa?” tanya Dika sengaja, karena bisa mencari tahu siapa pelaku yang sudah mencelakai adiknya.


“Jangan bodoh kamu! Aku memang dari dulu tidak menyukai Fahry, bahkan ingin memisahkan mereka. Tapi, aku tidak sebodoh yang kamu pikir!”


“CK ... kita lihat saja nanti. Aku tidak akan pernah memberi ampun, jika aku sudah mengetahui pelakunya!”


“Terserah padamu, percaya atau tidak. Yang jelas, bukan aku pelakunya!”


Pak Heri bergegas keluar rumah putranya meninggalkan Dika yang masih menatapnya.


“Aku sangat tahu Papa. Memang keinginannya untuk menjadikan Icha sebagai sumber keuangannya, tapi dia tidak mungkin mencelakai anak-anaknya, apalagi sampai membunuh!” gumam Dika.


🌹🌹🌹


Tiga bulan sudah berlalu, tiga bulan sudah pak Heri tidak menemukan istrinya. Dika benar-benar tidak memberitahu keberadaan adik dan juga Mamanya.


Hari ini adalah hari pernikahan Anggun, karena sebelumnya mereka melakukan pertunangan terlebih dahulu.


Walaupun menjadi istri kedua, Anggun tetap mau di nikahi. Karena semua demi bisnis mereka, karena Anggun tidak bisa hidup dalam kesusahan begitupun dengan pak Heri.


Pak Heri rela membiarkan putrinya menikah dengan pria yang sudah beristri, memang niat awalnya adalah menikahi putrinya agar menyelamatkan bisnisnya.


Setelah pernikahan selesai, Anggun masuk ke kamar mereka karena cukup lelah. Walaupun tamunya tidak banyak, karena memang tidak ingin mengundang banyak orang.


“Ganti pakaianmu,” ujar pria yang baru saja menjadi suaminya tersebut.


“Iya,” sahut Anggun pergi ke kamar mandi untuk menggantikan pakainya dengan pakaian tidur.


Setelah itu, ia keluar kamar mandi dan melihat suaminya sedang berbaring di kasur.


“Apa istri Mas tahu? Jika Mas sudah menikah lagi,” tanya Anggun sembari memoleskan body lotion lengannya.


“Iya, sangat tahu.” Menghampiri Anggun dan memeluknya dari belakang.


“Oh, apa dia tidak marah?” tanyanya lagi.


“Oh,” ujar Anggun mengangguk mengerti.


Pria itu membalikkan tubuh Anggun agar menghadapnya, ia menelan saliva kasar setelah melihat belahan dada Anggun apalagi bagian dada yang padat dan berisi.


Tanpa menunggu lagi, pria itu membuka paksa pakaian Anggun, karena sudah tidak sabar ingin melakukan malam pertama mereka.


Pria itu menggendong istrinya, bahkan tidak melepaskan pangutan mereka.


Di tempat tidur, pria itu membuang semua pakaian mereka ke sembarang arah.


Mereka melakukan malam yang Indah di hotel ternama, milik suaminya Anggun.


🌹🌹🌹


Di desa kecil itu, Fahry memutuskan untuk jualan sayuran keliling dengan menggunakan motor.


Karena di desa itu, sangat jarang orang jualan sayur. Kalaupun ada dari desa tetangga yang jualan.


Sedangkan Bu Sintya dan Icha di rumah merumah kue untuk di jual dan Alhamdulillah kue yang mereka buatkan selalu habis terjual.


Pagi ini, Icha merasakan mual yang sangat luar biasa bahkan di sertai pusing.


“Kenapa denganku?” gumam Icha.


“Ada apa Sayang?” tanya Bu Sintya yang baru saja keluar dari kamar, melihat putrinya terlihat pucat.


“Entahlah Ma. Kepala Icha sangat pusing,” ujarnya memijat keningnya.


“Mual juga?” tanya Bu Sintya snagat berharap jika putrinya hamil.


Icha mengangguk.


“Sayang, kapan kamu terakhir datang bulan?” tanya Bu Sintya antusias.


Icha berpikir sejenak.


“Lupa, Ma.”


“Kalau suamimu nanti datang, kamu pergi ke tempat bidan. Siapa tahu, kamu hamil sayang.”


Icha terdiam, mencerna ucapan mamanya barusan.


Lalu mengangguk antusias.


“Iya, Ma. Semoga Allah mempercayakan Icha untuk merawatnya,” ujarnya melihat perutnya yang masih rata.


Siang itu, Fahry baru pulang berjualan sayur.


Icha membantu suaminya membawa sayur sisa yang masih belum laku terjual.


“Alhamdullilah, hari ini walaupun masih tersisa sedikit. Tapi, cukup banyak yang laku terjual,” ujarnya menyerahkan uangnya pada istrinya.


“Alhamdulillah Mas. Mau makan?” tanya Icha.


“Aku sudah makan Sayang, saat ke RT sebelah. Ternyata ada hajatan dan aku di paksa untuk masuk dan makan. Sebenarnya aku tidak mau, tapi pak RT memaksaku.”


“Pak RT selalu begitu padamu mas, dia sudah menganggap Mas seperti adiknya.”


“Iya Sayang,” sahut Fahry lembut.


Tiga bulan mereka di desa itu, mereka sudah akrab dengan tetangga dan warga sekitar.


Fahry yang mudah bergaul dengan warga, begitupun dengan Icha dan Bu Sintya.


Tak jarang, Icha membawa anak tetangga ke dalam rumahnya, apa lagi dirinya sangat menyukai anak kecil.


Bahkan sering ia membawa anak tetangganya diam-diam ke dalam rumahnya, hingga sang ibu panik mencarinya.


“Apa hari ini kamu tidak menculik Sifa lagi?” tanya Fahry yang sangat tahu kelakuan istrinya sering membawa anak tetangga masuk ke dalam rumahnya.


“Haha ... enggak Mas. Sifa tidur siang,” sahut Icha.


“Oh, begitu.”


“Tapi, Mas harus mengantarku ke tempat bidan.”


Fahry mengernyit heran.


“Kenapa? Apa kamu sakit?” tanya Fahry begitu cemas.


Icha mengangguk.


“Keluhanku, mual dan pusing. Bahkan aku sudah tidak datang bulan selama sebulan ini,” tutur Icha.


“Astaghfirullah ... sayang. Kamu sakit?”


Fahry baru memperhatikan wajah istrinya yang terlihat pucat.