Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 39



Prang !


Seperti suara benda jatuh dan pecah dari arah kamar.


Bu Sintya yang kala itu baru tiba di rumah, terkejut mendengar suara tersebut yang begitu nyaring hingga terdengar ke ruang tamu.


“Apa itu Bi?” tanya Bu Sintya pada pembantunya.


Bu Sintya baru saja memasuki rumah miliknya.


“Kurang tahu Nyonya. Sepertinya itu dari arah kamar, Nyonya.”


“Bapak Ada?” tanyanya lagi.


“Ada Nyonya. Baru saja tiba,” sahutnya.


Bu Sintya mengangguk, ia sudah mengetahuinya pasti suaminya yang ada di kamar, sebab ia pergi dalam keadaan marah besar saat di hotel tempat resepsi pernikahan anaknya.


“Baik Bi. Terima kasih,” ujar Bu Sintya berlalu pergi, melangkah menuju kamar miliknya.


Bu Sintya setengah berlari menaiki tangga.


Ceklek!


Bu Sintya membuka pintu kamar, ia melihat vas bunga yang sudah hancur tidak berbentuk lagi yang berserakan di lantai kamar.


“Kenapa ini Mas?” tanya Bu Sintya dengan hati-hati.


Pak Heri hanya melirik sekilas istrinya, lalu duduk di kursi dengan memegang satu buah botol yang berisi air yang beralkohol.


“Jangan tanya apapun sekarang!” pekik pak Heri dengan suara menakutkan.


“Dari mana kamu? Bukankah sejak tadi aku memintamu untuk pulang! Kenapa baru tiba sekarang?” menatap tajam istrinya.


“Tentu saja bersama anakku, mereka menikah hari ini, bukan? Jalanan juga sangat macet,” jawab Bu Sintya tak mau kalah.


“Cih ... tidak Sudi aku punya menantu miskin dan hanya penjual buku, itu! Mau di kasih makan apa? Putriku,” geram pak Heri.


“Aku akan meminta si penjual buku itu menceraikannya. Bagaimanapun caranya, mereka harus berpisah!” bergumam tidak jelas, karena pengaruh alkohol.


Setelah kejadian tadi, pak sempat keluar sejenak untuk menetralkan emosinya. Namun, hal yang tidak terduga, ketika ia kembali dan bermaksud ingin membawa Icha pulang dari tempat tersebut. Ternyata Dika menikahkan adiknya dengan Fahry, di depan mata kepalanya sendiri, Fahry mengucapkan dengan lantang nama putrinya.


Pak Heri mengepal tangannya kuat, lalu beranjak dari tempat tersebut dengan perasaan yang marah.


“Oh ya! Menantu seperti apa yang kamu inginkan mas? Bukankah Aditya pilihan mu dan ternyata dia sudah beristri!” bentak Bu Sintya.


“Jangan pernah mengusik hidup baru putriku! Kalau tidak mau berhadapan denganku!” ancam Bu Sintya.


“Kamu sudah berani dengan suami mu ya! Heh ... biar ku beritahu kamu, laki-laki itu boleh menikah lebih dari satu kali. Terus, apa salahnya jika Icha mau menjadi istri kedua? Dasar kalian saja yang penuh drama!” bentak pak Heri pada istrinya.


“Oh, jadi Mas tahu jika Aditya sudah mempunyai istri?” tanyanya penuh selidik.


“Berarti, mas sengaja?”


Pak Heri bungkam, ia kembali meneguk air beralkohol tersebut langsung dari botolnya.


“Aku tidak menyangka, Mas sejahat itu pada anak sendiri! Icha itu putri kandung kita!”


“Berisik! Apa mau ku lempar botol ini ke wajahmu?” pekik pak Heri.


Pak Heri beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju balkon meninggalkan istrinya yang masih berdiri.


“Huft ... kamu tidak pernah berubah mas! Memang sulit berbicara pada orang yang sedang dalam pengaruh alkohol!” lirih Bu Sintya terduduk di lantai.


🌹🌹🌹


Setelah mengirim sebuah foto mesra dirinya dan Dino pada istri pertamanya.


Pagi itu, Anggun meminta Tiara untuk datang ke kota itu untuk menemuinya.


Tiara menurutinya, karena tidak percaya jika suaminya tersebut memiliki istri lain selain dirinya.


Sore itu, Anggun meminta izin pada Dino ingin bertemu dengan sahabat lamanya karena sudah lama tidak pernah bertemu.


Namun naas, Dino mengetahuinya jika Anggun berbohong. Anggun dan Tiara bertemu di sebuah cafe kecil, pertemuan mereka diketahui oleh Dino dan langsung menghampiri kedua istrinya di khawatirkan mereka bertengkar.


Flashback On.


Plak!


Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus Dino.


“Apa ini Dino? Kamu sudah berbohong pada orang tuaku dan juga padaku!” bentak Tiara memperlihatkan foto Anggun dan Dino saat menikah siri.


Melihat pertengkaran antara suami dan istri pertamanya, Anggun pergi dari cafe tersebut dengan perasaan yang senang.


“Aku minta cerai Mas!” pekik Tiara.


“Tiara, aku bisa jelaskan ini. Tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskannya.”


“Tidak! Aku akan mengatakan hal ini pada orang tua mu!” ancam Tiara.


Karena merasa malu di lihat oleh pengunjung cafe, Dino menarik paksa tangan istri pertamanya untuk masuk untuk ke mobil.


“Lepas!” berontak Tiara.


“Diam!” bentak Dino hingga membuat nyali Tiara menciut.


Setelah tiba di dalam mobil, Tiara memasang wajah cemberut.


“Tiara. Sungguh aku bukan ingin menduakanmu, akan tetapi sebelum kita menikah aku sudah menjalin kasih dengan Anggun. Bahkan aku khilaf, sudah menghamilinya. Aku harus menikahinya, demi anakku.”


“Aku mohon, jangan katakan ini pada Mama dan Papa. Aku berusaha adil pada kalian berdua,” ujar Dino memohon.


“Aku tidak mau di madu! Kamu harus pilih salah satu di antara kami,” tegas Tiara.


“Itu tidak mungkin. Anggun sedang mengandung saat ini dan aku juga tidak mungkin menceraikanmu,” tolak Dino.


“Aku memberimu waktu hingga anak itu lahir, aku bahkan mau mengurusnya. Asalkan kamu mau menceraikannya,” usul Tiara.


Dino diam sejenak.


“Bagaimana? Kalau kamu tidak mau, tidak jadi masalah. Aku akan menceritakannya pada orang tua kita dan segera mendaftarkan perceraian kita ke pengadilan,” ancam Tiara lagi.


“Jangan!” ucap Dino cepat.


“Baiklah. Beri aku waktu hingga anakku lahir,” Ujar Dino setuju.


“Oke, baiklah.”


Tiara bersandar di bahu kursi.


“Siapa yang memberitahumu? Jika aku berada di kota ini,” tanya Dino.


“Istrimu,” sahutnya dengan wajah cemberut.


“Oh,” sahut Dino singkat.


“Hanya itu!” kesal Tiara.


Dino menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Baiklah. Kebetulan kamu berada disini, aku sangat merindukan belaianmu. Kita ke hotel dekat sini, apa kamu mau, sayang?”


Tiara berpikir sejenak, lalu mengangguk malu. Sebenarnya dirinya juga sangat merindukan sang suami.


Melihat istrinya mengangguk, tanpa menunggu lagi Dino mengajak istrinya ke hotel mewah terdekat.


Sesampainya disana, Dino memesan kamar dengan fasilitas lengkap untuk istrinya.


Setibanya di kamar, tanpa menunggu lagi. Dino langsung mengajak istrinya ke tempat tidur, karena sangat ingin melakukannya. Semenjak bersama Anggun, ia tidak di layani dengan baik oleh Anggun, Dino memakluminya karena hormon wanita hamil yang suka berubah.


“Aku harus cepat hamil ...” gumam Tiara dalam hati di sela kegiatan mereka.


Sementara itu Anggun baru tiba di rumahnya, senyum dari bibirnya belum sirna semenjak pertemuannya dengan Tiara apalagi melihat pertengkaran antara suami istri tersebut.


Flashback off.


Anggun masih betah dalam selimutnya, sejak kejadian itu Dino tidak membiarkan Anggun menggunakan ponselnya.


Karena sering membantah, sering Anggun dapat tamparan di pipinya, hingga terlihat masih membiru di sudut bibirnya. Bahkan saat ini Dino tidak pernah berkata lembut padanya, seperti sedia kala.


Ceklek!


“Ayo makan,” ucap Dino.


Ia membawa nampan yang berisi makanannya, masuk ke dalam kamar.


“Anggun! Apa kamu bisa dengar atau tidak!” bentak Dino.


Anggun langsung duduk memasang wajah cemberutnya.


“Cepat, habiskan makannya,” ujar Dino sambil menyendokkan nasi.


Bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, Anggun membuka mulutnya.


Anggun menghabiskan makannya, tanpa ada percakapan di antara mereka.