
Sejak kepulangan pak Heri dari rumah putrinya, ia begitu murka dengan Dika.
“Argghh ! kurang ajar kalian! Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kalian hidup tenang!” ancam pak Heri.
“Terutama kamu Dika. Aku sudah melupakan jika aku pernah mempunyai putra sepertimu!” geramnya mencengkeram setir mobil kuat.
Ting !
Suara pesan masuk dari ponsel miliknya.
“CK ... dimana aku mendapat uang sebanyak ini untuk membayar gajih karyawan yang sudah menunggak? Aku juga tidak ingin di penjara!”
Pak Heri tampak berpikir keras, karena usahanya mengalami kebangkrutan.
Niat awalnya datang ke rumah Icha pagi tadi, ingin meminta Icha bercerai dengan suaminya agar bisa menikahkan kembali dengan rekan kerjanya yang lain, demi menyelamatkan bisnisnya.
Namun, di gagalkan oleh Dika yang tiba-tiba datang pagi itu ke rumah adiknya.
Kemarin, ia tidak sengaja bertemu di jalan dengan Icha dan mengikutinya. Akan tetapi Icha tidak mengetahuinya, jika sang Papa mengikutinya dari belakang.
Saat itulah, pak Heri mengetahui alamat rumah putri bungsunya.
“Arrgghh ... Icha!” geramnya.
Pak Heri tampak berpikir, ia memarkirkan mobilnya di bahu jalan.
“Anggun,” lirihnya.
Ia baru ingat jika dirinya tidak mempunyai satu orang putri saja.
“Kenapa aku baru ingat sekarang? Tapi, oh tidak! Saat ini Anggun sedang mengandung, tidak mungkin aku meminta bantuannya.”
“Tapi, tidak ada salahnya mencoba. Dino juga sama mempunyai bisnis,” gumam pak Heri dalam hati.
Pak Heri berulang kali menghela nafas berat. Ia mengambil ponselnya lagi, karena sebelumnya ia meletakkan kembali setelah membaca pesan dari Mira asistennya.
Pak Heri menekan nomor berulang kali menghubungi putrinya akan tetapi tidak di angkat oleh Anggun.
“Ck ... kemana Anggun? Huh ... kenapa panggilanku tidak di angkat?” tanya pak Heri yang mulai kesal.
Ia mencoba lagi untuk menghubungi kembali nomor putrinya, akan tetapi tetap saja tidak di angkat.
“Dino,” gumamnya.
Ia mencari nomor menantunya, beruntung saat itu ia sempat menyimpannya.
Tut! Tut!
Panggilan terhubung.
“Halo,” ujar dari dalam ponselnya.
“Halo, Nak Dino. Ini nomor Papa,” sahut pak Heri.
“Oh, iya Pa. Dimana Anggun? aku sudah berusaha menghubunginya. Namun, tak kunjung di angkat!”
“Ada di rumah Pa. Mungkin Anggun tidak di kamar, Pa. Karena kebiasaan Anggun, ia lah tidak membawa ponselnya ketika keluar kamar,” sahut Dino berbohong.
“Oh begitu. Aku akan ke rumah kalian saja sekarang. Bagaimana, apa kalian berada di rumah?” tanya Pak Heri.
“Iya, pa. Dino saat ini ada di luar kota, tapi Anggun ada di rumah. Perutnya semakin membesar, saya takut membawanya karena akan membahayakan janinnya. Jadi, saya hanya sendirian pergi,” ujar Dino menjelaskan.
“Iya, Dino Papa mengerti. Baiklah, Papa sedang di jalan dan menuju ke rumah kalian.”
“Iya, Pa. Hati-hati di jalan,” ujar Dino.
“Iya,” sahut pak Heri.
Mereka berpamitan untuk menutup panggilannya.
Pak Heri melaju, dengan kecepatan sedang. Tidak butuh waktu lama untuknya di rumah tersebut.
Setibanya di rumah tersebut, pak Heri keluar dari mobil dan langsung menekan bel rumah.
Ting! Tong!
Ceklek, pintu terbuka.
“Iya, Tuan. Mencari siapa?” tanya pembantu rumah tersebut.
“Saya adalah Papa dari Anggun. Apa Anggunnya ada di rumah?”
“Ada Tuan. Silakan masuk,” sahutnya.
Pak Heri mengangguk, ia melangkah masuk.
Sambil menunggu kedatangan putrinya, ia bermain ponselnya.
Sementara itu, Anggun masih meringis kesakitan.
Sejak tadi ia merasakan sakit perut yang luar biasa, bahkan banyak mengeluarkan darah.
Anggun hanya bisa pasrah sambil menangis, saat ini ia berada di dalam kamar mandi dalam posisi berdiri.
Ia mencengkeram kuat ujung pakaiannya, apalagi melihat darah yang begitu banyak keluar.
“Nona,” panggil pembantunya langsung masuk ke dalam kamarnya.
Karena sebelumnya, pembantu tersebut sudah berulang kali mengetuk pintu. Akan tetapi tidak ada sahutan, karena Dino sudah menitipkan istrinya padanya.
“Nona, dimana? Apa ada di dalam kamar mandi?” tanya pembantunya.
“Bi,” lirihnya masih menahan sakit.
Beruntung pembantu tersebut samar-samar mendengar suara memanggilnya dari dalam kamar mandi.
Dengan langkah cepat, pembantu tersebut membuka pintu kamar mandi.
Ia membulatkan matanya, melihat Anggun yang menahan sakit. Apalagi melihat darah yang cukup banyak keluar, terlihat jelas dari celana Anggun.
“Nona,” ucapnya sambil melangkah masuk.
“Bi, sakit. Tolong aku Bi,” lirih Anggun dengan keadaan sudah pucat.
Pembantunya membantunya melangkah agar keluar dari kamar mandi, Anggun masih meringis kesakitan.
“Kita akan ke rumah sakit, aku akan menghubungi ambulance.”
Dengan gerak cepat, pembantu tersebut menghubungi Ambulance.
“Apa masih sakit Nona?”
Anggun mengangguk, masih memejamkan matanya.
Tak lama datang petugas rumah sakit, mereka segera membawa Anggun ke rumah sakit, pembantunya tidak tega melihat Anggun yang begitu kesakitan.
Pak Heri yang berada di ruang tamu heran, bahkan panik melihat putrinya di bawa masuk ke dalam mobil ambulance.
“Ada apa Bi?” tanya pak Heri sedikit cemas.
“Astaga ...” gumam pak Heri.
Ia melangkah keluar dan naik ke mobilnya. Mengikuti mobil ambulance tersebut.
Setibanya di rumah sakit, Anggun langsung di tangani oleh dokter ahlinya.
Dokter mengatakan jika janin Anggun tidak bisa di selamatkan, bisa di bilang keguguran.
Dengan berat hati, Dokter mengatakan jika janjinya harus di kuret.
Anggun hanya pasrah mendengar penuturan dokter tersebut.
Pak Heri masih setia menunggu putrinya, cukup lama menunggu akhirnya Anggun di pindahkan ke ruang rawat inap.
“Anggun,” panggil pak Heri pada putrinya yang terbaring di bangsal rumah sakit.
“Iya, Pa.”
Melihat papanya dengan tatapan lesu.
“Apa suamimu mengetahui ini?” tanya pak Heri.
Anggun menggelengkan kepalanya.
“Jangan beritahu dia Pa. Dino akan menceraikan ku jika mengetahui anaknya sudah tidak ada,” tutur Anggun.
“Kenapa begitu? Ya lebih baik kamu berpisah saja dengannya, dari pada kamu berbohong!” usul pak Heri.
“Tidak mungkin Pa. Aku masih mencintai suamiku!”
“Cinta kamu bilang? Jika dirinya cinta padamu, tidak mungkin Dino meninggalkanmu apalagi dalam keadaan hamil begini. Apa jangan-jangan disana ia bersenang-senang dengan perempuan lain.”.
Anggun terdiam.
Ia sangat tahu, jika saat ini suaminya sedang bersama istri pertamanya. Apalagi beberapa hari lalu, Anggun mendengar jika istri pertama Dino positif hamil.
“Anggun, sebaiknya kamu bercerai saja dengan Dino. Papa tidak yakin jika dia itu mencintaimu.”
Anggun membenarkan perkataan sang Papa, ia juga merasakan jika Dino sudah berubah sejak pertemuan terakhirnya dengan istri pertamanya tempo hari.
Bahkan Dino sering sekali mengucapkan kata-kata kasar padanya.
“Papa akan mencari pria yang lebih kaya untukmu.”
“Tapi, Pa. Dino masih sah suami Anggun,” tutur Anggun masih dengan suara lemahnya.
“Suami siri, Bukan? Jika ia memang benar menganggap kamu istrinya, tidak mungkin ia mengajakmu hanya menikah siri dan sekarang saat kamu terbaring lemah saat ini, dimana dia sekarang?!”
Anggun menggelengkan kepalanya.
“Pokoknya, Papa tidak peduli. Kamu harus pulang bersama Papa, kita akan kembali seperti dulu mengelola bisnis kita. Lupakan suamimu yang tidak bertanggung jawab itu,” ujar pak Heri murka.
Anggun masih bungkam, ia membenarkan ucapan Papanya. Sejak awal Dino sudah berbohong pada orang tuanya.
“Anggun, apa kamu dengan perkataan Papa?!” tanya pak Heri menatap putrinya.
Anggun mengangguk.
“Bagus. Papa bisa mencarikanmu suaminya yang tidak kalah tampannya pada Dino, bahkan lebih kaya,” tutur kak Heri tersebut sambil mengusap kepala putrinya.
“Baiklah, sekarang Papa harus mengurus administrasinya dulu. Karena Dokter mengatakan jika kamu boleh pulang sore ini.”
“Iya, Pa.”
Pak Heri tersenyum, lalu keluar dari rumah rawat inap, menuju ke meja kasir.
Pak Heri keluar dengan senyum yang mengambang.
“Anggun bisa menjadi penyelamat perusahaanku, dan semuanya pasti akan kembali normal,” tuturnya dalam hati.
Setelah membayar administrasinya dan menebus obat, pak Heri kembali ke ruang rawat inap.
Saat hendak membuka pintu, terdengar suara ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
“Dino, kenapa lagi dia menghubungi ku?” tampak murka melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
“Halo, ada apa?!” ketus pak Heri.
“Pa. Apa Papa sudah bertemu dengan Anggun?” tanya Dino yang belum mengetahui jika istrinya masuk ke rumah sakit.
“Sudah,” sahut pak Heri singkat.
Pak Heri melangkah menjauh dari ruangan tersebut, agar tidak terdengar oleh Anggun jika dirinya sedang berbicara pada Dino.
“Mulai sekarang pergi dari kehidupan putriku!”
“Maksud Papa apa? Aku tidak mengerti. Kenapa aku harus pergi dari kehidupan istriku?”
“Aku sudah tahu semuanya. Kamu itu pengecut! Saat ini Anggun mengalami keguguran dan kamu akan menceraikan, bukan?”
“Apa? Anggun keguguran?” tanya Dino yang sangat terkejut.
“Lihat, istri mu mengalami keguguran saja kamu tidak mengetahuinya. Kemana saja kamu, hah? Meninggalkan istrimu yang sedang hamil?”
Dengan sengaja pak Heri mengatakan, jika putrinya keguguran. Karena sebelumnya Anggun melarangnya untuk tidak mengatakan pada suaminya. Namun, perkataan putrinya, tidak di hiraukan oleh pak Heri.
Yang dipikirkan pak Heri saat ini adalah, cara menyelamatkan bisnisnya.
“Aku sedang keluar kota, pergi bekerja. Aku ...”
“Bekerja dengan wanitamu disana!” sela pak Heri asal bicara.
Namun, benar adanya. Jika saat ini Dino sedang bersama istri pertamanya.
“Aku tidak mau tahu! Anggun aku bawa pulang, mulai saat ini kalian bukan suami istri lagi!” bentak pak Heri.
Pak Heri langsung menutup panggilannya, dengan tersenyum licik.
Seminggu sudah berlalu, semenjak kepulangan putrinya. Anggun hanya mengurung diri di kamar.
Bu Sintya menatap putrinya dengan rasa kasihan, melihat putrinya yang baru kehilangan bayinya.
Bu Sintya mencoba memberi dukungan pada putrinya, agar tidak berlarut dalam kesedihan.
Berbeda dengan pak Heri, yang terlihat bahagia. Seminggu yang lalu, bisnisnya hampir bangkrut. Namun, saat ini kembali naik.
Semua itu terpaksa pak Heri lakukan dengan Anggun yang bersedia menikah kembali dengan rekan kerjanya, yang sejak dulu menginginkan Anggun menjadi istri keduanya.
Dulu pak Heri memang tidak mengizinkan Anggun dengannya, karena saat itu Anggun lebih menguntungkan baginya.
Anggun yang pintar dan berwawasan luas, ditambah lagi bentuk tubuh Anggun yang bagus, apalagi wajah Anggun yang begitu cantik.
Sehingga lebih mudah untuk pak Heri mendapatkan kembali kerja sama dengan rekan kerjanya, tentunya dengan jaminan putrinya menikah dengannya.
“Dari mana Pa?” tanya Bu Sintya menatap curiga, apalagi melihat pak Heri terlihat bahagia.
“Bukan urusanmu!” kesalnya pak Heri meninggalkan istrinya yang masih diam mematung menatap kepergiannya.