Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 49



Sudah pukul satu dini hari, Icha baru saja menyelesaikan salat malamnya.


Setelah suaminya berangkat, Icha tertidur dan terbangun tengah malam.


“Mas Fahry belum pulang juga?” gumam Icha terlihat cemas.


Apalagi melihat dari jendela kaca, angin terlihat bertiup sangat kencang beserta hujan turun yang sangat deras, bahkan air hujan menerpa jendela kaca tersebut hingga terlihat air mengalir ke bawah di jendela yang terbuat dari kaca itu.


Icha keluar kamar, menuju dapur. Ia duduk di kursi sambil minum air putih, mukenanya pun masih melekat di tubuhnya.


Tek! Tek!


Ceklek!


Suara orang memutar kunci rumah dan tak lama pintu terbuka.


Icha beranjak dari duduknya, ia sudah menduga jika yang datang membuka pintu adalah suaminya.


“Mas, sudah pulang?” tanya Icha melangkah menghampirinya.


“Loh, kok belum tidur?” tanya Fahry masuk dengan keadaan basah kuyup.


“Belum,” sahut Icha singkat.


Icha masuk ke kamarnya untuk mengambil handuk untuk suaminya, dengan langkah cepat Icha memberikan handuk tersebut pada suaminya yang terlihat kedinginan.


Fahry menelan salivanya, melihat istrinya hanya memakai celana pendek dan juga memakai baju kaos. Karena saat mengambil handuk, Icha lebih dulu melepaskan mukenanya.


“Mas, cepat mandi dulu. Mas terlihat sangat kedinginan,” tutur Icha.


Fahry mengangguk namun, pandangannya tak lepas dari Icha yang melangkah ke dapur meninggalkan dirinya yang sedang mematung.


Icha menyeduhkan teh panas untuk suaminya, agar menghangatkan badannya.


Ia membawanya ke kamar, karena melihat suaminya sudah masuk ke kamar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


Karena, Fahry mandi di kamar mandi belakang, bukan kamar mandi yang berada di kamarnya.


Saat masuk ke kamar, Icha menunduk malu melihat suaminya masih mengenakan pakaiannya.


Ia masuk meletakkan nampan yang berisi teh panas tersebut di meja.


“Mas, teh panasnya. Agar tubuh Mas Fahry hangat,” ujar Icha.


Icha mengambil handuk bekas yang di pakai oleh suaminya dan menggantung di tempat yang seharusnya.


“Mas, bagaimana disana?” tanya Icha duduk di samping suaminya.


Uhuk! Uhuk!


Fahry tersedak, apalagi Icha duduk di sampingnya dengan menggunakan celana pendek di atas lutut.


Terlihat jelas kaki jenjang Icha yang putih mulus.


“Pelan-pelan Mas,” ujar Icha.


“Iya,” sahut Fahry kembali menyeruput tehnya walaupun masih panas.


“Alhamdullilah, semua sudah dapat di evakuasi. Mereka semua sudah mengungsi di tenda pengungsian.”


Icha mengangguk mengerti.


Fahry menghabis tehnya setengah, walaupun teh tersebut panas ia tetap meminumnya. Karena dirinya memang sangat kedinginan.


“Ayo kita tidur,” ajak Fahry melihat jam di dindingnya menunjukkan pukul dua kurang.


Icha mengangguk, ia lebih dulu naik ke tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya.


Fahry melangkah mendekati tempat tidur, tanpa Icha duga Fahry mengambil bantal dan juga guling berniat ingin tidur di sofa panjang yang ada di dalam kamar mereka.


“Mas, mau kemana?” tanya Icha melihat suaminya mengambil bantal.


Fahry tersenyum.


“Aku akan tidur di sofa. Kamu tidur disini,” sahut Fahry lembut.


“Kenapa Mas? Apakah masih ada jarak di antara kita?” tanya Icha bangun dan duduk bersandar di bahu tempat tidur.


“Bukankah, Mas sendiri yang bicara. Jika ...” ucapkan Icha langsung di sela oleh suaminya.


“Maaf Icha. Bukan tidak ingin tidur denganmu, hanya saja ...”


Fahry bungkam.


“Mas. Aku tahu Mas Fahry di minta oleh Abang Dika untuk menikahiku, seharusnya aku sadar diri dan tidak meminta lebih pada Mas Fahry. Maafkan Icha mas,” tutur Icha menunduk.


“Icha, jangan bicara seperti itu. Aku sudah ikhlas menerimamu sebagai istriku,” sahut Fahry melihat wajah istrinya yang terlihat sedih.


“Lalu kenapa Mas Fahry seperti masih menjaga jarak denganku?” lirih Icha.


“Aku ikhlas jika Mas Fahry ingin melepaskanku, dari awal pernikahan kita hanya terpaksa.”


“Kamu bicara apa, Icha?! Aku sudah katakan kemarin, bahwa pernikahan kita sah di mata agama dan hukum. Tidak mudah untuk melepaskannya begitu saja, aku hanya ingin menikah sekali seumur hidup!”


Fahry meletakkan kembali bantalnya, lalu naik ke tempat tidur mendekati istrinya.


“Tolong jangan bicara seperti itu lagi. Jujur, aku tidur di sofa bukan menjaga jarak denganmu. Tapi, aku takut tidak bisa mengendalikan diriku. Jujur, untuk pertama kalinya aku berdekatan dengan wanita. Apalagi melihat pakaianmu seperti ini,” tutur Dika lembut menatap istrinya.


Icha melihat pakaiannya memang sedikit tidak sopan, memakai baju kaos dan celana pendek. Namun, ia tidak melanggar batas, karena hanya berpakaian seperti itu hanya di depan suaminya.


“Maaf, Mas. Icha akan ganti baju sekarang.”


“Tidak perlu. Jangan pernah keluar kamar dengan pakaian seperti ini.”


Icha mengangguk.


“Maaf, Mas!” lirih Icha menunduk malu.


“Tidak perlu meminta maaf.”


Fahry mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya, nafas mereka saling bertabrakan.


Cup!


Bibir mereka hanya menempel.


Fahry tersadar langsung menjauhkan wajahnya.


“Icha, maafkan aku. Aku sudah lancang,” ujar Fahry merasa bersalah.


Icha merasa sangat gugup, sama halnya dengan Fahry.


“Mas. Icha sudah bersedia, jika Mas Fahry menginginkannya. Icha ingin menjadi istri yang sesungguhnya dengan memberikan hak suami dan melayaninya,” tutur Icha lembut.


Fahry menghela nafas.


“Baiklah, tapi sebelumnya aku minta maaf jika menyakitimu. Karena ini untuk pertamanya bagiku dan begitupun denganmu, bukan?”


Icha mengangguk.


Fahry menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya, lagi-lagi Fahry menelan salivanya.


Mereka melewati malam indah berdua, untuk pertama kalinya. Walaupun awal menikahnya atas permintaan Dika, Icha dan Fahry akan menjalaninya dengan niatan ibadah karena Allah.


Setelah selesai dengan aktivitas mereka, Fahry menarik selimut untuk menutupi tubuh istrinya.


Fahry mencium pucuk kepala istrinya berulang kali, yang sudah tertidur dengan nafas yang sudah beraturan di dalam pelukannya.


“Terima kasih, sayang. Malam ini adalah malam saksi untuk kita. Saksi dimana aku sudah menjadi suamimu seutuhnya, aku tidak akan pernah melepaskanmu,” lirih Fahry sambil menatap wajah sang istri.


“Ibu pasti bahagia, keinginan Ibu adalah ingin mempunyai menantu Sholehah.”


“Aku akan memperkenalkan mu pada Ibu besok,” tambah Fahry lagi.


Ia mengelus lembut dengan menggunakan jarinya pada pipi mulus istrinya.


“Hm ... mas,” deham Icha karena merasa terganggu dengan tidurnya.


“Ada apa Mas?” tanya Icha dengan suara paraunya tanpa membuka kelopak matanya.


“Tidak. Tidur lagi, kamu pasti cape.”


Tidak ada sahutan dari Icha, ia malah mendekatkan tubuhnya pada suaminya hingga tubuh mereka semakin menempel sempurna.


Fahry tersenyum simpul melihat istrinya yang sangat lucu, tanpa sadar Fahry mencubit pelan pipi istrinya yang sedikit gembul tersebut karena gemas melihatnya.


Fahry menguap berulang kali, ia membenarkan tubuhnya lalu menyusul istrinya untuk tidur.


Dan di antara tanda-tanda kebesaran-Nya, ialah dia yang menciptakan pasangan-pasangan untukmu dan jenismu sendiri. Agar kamu cenderung merasa tenteram kepada-Nya dan Dia menjadikan di antaramu merasakan kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi kaum yang berpikir.