
Dika menatap tajam pria tersebut, meminta penjelasan. Apa yang terjadi hingga istrinya semarah itu.
“Maaf, Pak Dika. Saya tidak sengaja dan saya juga tidak mengetahui jika Nona adalah istri anda.”
“Memangnya, apa yang anda lakukan? Sehingga istriku menamparmu! Ia tidak mungkin marah terhadap anda, tanpa sebab?!” tanya Dika lagi penuh selidik.
“Maaf, Pak. Sekali lagi saya minta maaf, sungguh saya benar-benar tidak sengaja.”
“Nona, Indah. Saya bersungguh-sungguh minta maaf,” Ujarnya menatap Indah.
Indah langsung memalingkan wajahnya, karena tidak Sudi menatap pria tersebut.
“Sayang, apa yang terjadi? Dia tidak sengaja dan sudah meminta maaf.”
Dika menggenggam tangan istrinya, Indah menghela nafas kasar.
Ia juga tidak ingin menceritakan yang sebenarnya pada suaminya, takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan.
“Ya sudah, lupakan. Aku sudah memaafkannya,” ujar Indah pada suaminya.
Dika tersenyum menatap istrinya.
“Istriku sudah memaafkanmu,” Ujar Dika pada pria tersebut.
“Benarkah. Terima kasih banyak, sudah mau memaafkan saya.”
Hendak mengambil tangan Indah lagi.
“Jangan menyentuhku!” tatapan tajam Indah pada pria tersebut.
Membuat nyali sang pria langsung menciut.
“Maaf,” lirih pria tersebut.
“Sudah. Ayo kita kembali duduk, setelah ini selesai kita akan kembali ke kamar kita.”
Menarik tangan istrinya. Namun, sebelum itu, ia melirik tajam pria tersebut. Karena sudah mengerti pasti ada sesuatu yang terjadi, kenapa istrinya semarah itu pada pria tersebut.
Mereka kembali duduk di tempat yang sebelumnya.
“Maaf, terjadi salah paham,” ujar Dika.
“Okey, saya mengerti,” sahut pria setengah baya yang sebelumnya berbicara dengannya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut, mereka berpamitan untuk kembali ke kamarnya. Akan di lanjutkan makam malam bersama di restoran yang berada di hotel tersebut.
Setibanya di kamar, Indah tampak diam sejak naik lift tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Dika setelah menutup pintu kamar mereka.
“Tidak apa-apa,” sahut Indah lembut.
Ia melangkah ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya, ia menatap wajahnya di wastafel. Mengingat pelecehan yang baru saja ia alami, membuatnya semakin murka terhadap pria yang tadi.
Tok! Tok!
“Sayang, kamu sedang apa? Kenapa lama sekali di kamar mandi?” tanya suaminya menggedor pintu kamar mandi.
Tanpa sadar dirinya sangat lama di kamar mandi, karena terhanyut dengan pikirannya.
“Iya,” sahut Indah.
Segera ia mencuci wajahnya kembali dan mengeringkan wajahnya dengan handuk.
Ceklek!
Pintu tersebut terbuka.
Dika menatapnya.
“Ada apa? Kenapa di kunci? Apa yang sedang kamu lakukan hingga begitu lama di dalam?” tanya Dika menghujani istrinya dengan pertanyaan.
“Maaf Bang,” sahut Indah.
Dika menghela nafas kasar, karena istrinya masih belum berbicara.
“Baiklah. Bersiaplah, kita akan makan malam lagi bersama mereka.”
“Apa pria yang tadi juga ikut?” tanya Indah.
Dika mengernyit heran, mengingat pria yang dikatakan oleh istrinya, lalu mengangguk.
“Huh ... Apa boleh aku tidak ikut. Ini hanya makan malam bersama bukan? Please ...!” menatap suaminya dengan menangkup kedua tangannya.
Dika tersenyum.
“Baiklah,” ujarnya mengelus lembut pipi istrinya.
“Terima kasih sayang,” ujar Indah senang langsung memeluk suaminya.
“Sebahagia itu?” tanya Dika.
“Tentu,” jawab Indah asal.
“Kenapa? Apa kamu tidak ingin menemani suamimu?”
Membuat Indah melepaskan pelukannya, seketika senyumnya langsung luntur dari bibir ranumnya.
“Baiklah aku akan menemanimu!” Lirih Indah berbalik badan mendekati kopernya, karena ingin mengganti pakaiannya.
Dika terkekeh.
“Sayang. Aku hanya bercanda,” tutur Dika melihat punggung istrinya.
“Benarkah?” tanya Indah langsung berbalik badan.
“Iya,” sahut Dika sambil mengangguk.
“Sekarang, aku mau mandi dulu setelah itu salat dan di lanjut makan malam bersama mereka,” tutur Dika menghampiri istrinya menyelipkan rambut halus yang menjuntai, karena sedikit menghalangi pandangan istrinya.
Dika mengangguk.
Setelah mengatakan itu, Dika masuk ke dalam kamar mandi. Untuk membersihkan badannya. Di lanjut dengan salat bersama istrinya, lalu mengaji beberapa lembar.
Sebelum pergi turun, Dika lebih dulu memesan makan malam untuk istrinya. Sedangkan dirinya akan makan malam bersama kolega penting.
“Aku pergi dulu ya. Jangan lupa makan makananmu,” ucap Dika yang tengah bersiap.
“Iya, Sayang.”
Selesai bersiap, Dika melangkah ke pintu di ikuti oleh Indah di belakangnya.
“Aku pergi dulu sayang, jangan lupa kunci pintunya. Assalamualaikum,” pamit Dika sembari mencium kening istrinya.
“Iya, Sayang. Hati-hati, Waalaikumsalam.”
Setelah berpamitan, Dika melangkah meninggalkan istrinya. Tanpa mereka sadari ada yang menatap mereka dari kejauhan dengan tersenyum licik.
Setelah melihat suaminya melangkah menjauh, Indah masuk dan menutup kembali pintunya.
Ia menggantikan pakaiannya dengan pakaian tidur, walaupun tidak terlalu terbuka akan tetapi terlihat menawan saat Indah memakainya.
Saat hendak memakan makanan yang suaminya pesan, ia mendengar ketukan dari pintunya.
Tok! Tok!
“Loh, Abang balik lagi. Apa ada yang ketinggalan?” melihat sekelilingnya.
Netranya menangkap ponsel milik suaminya yang tertinggal di nakas.
“Astaghfirullah ... ponsel Suamiku tertinggal,” gumamnya.
“Pasti ingin mengambil ponselnya.”
Ia melangkah mendekati nakas mengambil ponsel milik suaminya tergeletak disana.
Tok! Tok!
Ketukannya kembali terdengar.
“Sebentar Sayang,” ujar Indah setengah berteriak.
Ia melangkah besar menuju pintu.
Ceklek!
“Sayang, Pasti mau ...” ucapannya langsung terhenti, melihat yang datang bukanlah suaminya, melainkan pria yang ia benci.
“Kamu! Sedang apa kemari? Suamiku sudah turun!” ujar Indah dalam bahas Inggris.
Dengan tatapan murka menatap pria tersebut, Indah hendak menutup kembali pintunya. Namun, di tahan oleh pria tersebut menggunakan satu tangannya.
“Tunggu sebentar, Nona Indah. Aku kemari bukan mencari suamimu, melainkan dirimu,” ujarnya menatap Indah dari atas sampai bawah.
“Maaf, perkerjaan sudah selesai. Jika ada hal yang ingin anda bicarakan, katakan langsung pada suamiku. Saat ini suamiku sudah berada di bawah!” ketus Indah.
“Maaf, aku harus menutup pintunya!”
Mendorong pintu tersebut agar tertutup. Namun, kalah cepat dengan tangan pria tersebut, ia mendorong kuat pintu hingga ujung pintu tersebut mengenai kening Indah.
“Argghh ... Astaghfirullah, sakitnya!” gumam Indah mengusap keningnya yang sakit.
“Kenapa terburu-buru, Nona?” Ujarnya melangkah masuk perlahan.
“Apa maumu?! Keluar!” bentak Indah.
Bukanya takut dengan bentakan Indah, pria tersebut semakin mendekati Indah.
“Keluar!” bentaknya lagi.
“Mari kita bersenang-senang dulu, Nona Indah. Suamimu tidak ada, bukan?” menatap Indah dengan tatapan nafsunya.
Ia membuang jasnya yang melekat di tubuhnya ke sembarang arah, lalu membuka ikat pinggang yang melekat di celananya.
Indah membulatkan matanya melihat hal tersebut, ia mengambil pisau untuk memotong daging yang ada di meja.
“Apa maumu? Keluar dari kamarku sekarang!” geram Indah dengan tangan gemetar mengarahkan pisau tersebut pada pria itu.
“Tidak semudah itu, Nona. Kamu harus membayar semua perbuatanmu tadi sore, kamu sudah mempermalukan diriku!” Ujarnya mengambil pergelangan tangan Indah.
“Lepaskan!” Indah memberontak.
Pria tersebut menarik Indah, lalu memeluknya dari belakang dan membuang pisau tersebut ke sembarang arah.
Indah masih memberontak kuat.
“Lepaskan! Suamiku tidak akan membiarkanmu hidup!” ancamnya.
Pria tersebut hanya tersenyum kecut, mendengar ancaman Indah.
“Mana suamimu? Sekarang dia sedang bersenang-senang dengan wanita di sana. Jadi, marilah kita bersenang-senang disini,” bisik pria tersebut, ia mencium leher jenjang Indah.
Indah merasa jijik di sentuh oleh pria tersebut, bahkan ia menangis sambil memberontak. Namun, percuma kekuatan pria terbaik lebih besar darinya.
“Lepaskan bodoh!” umpat Indah.
Pria tersebut membalikkan tubuh Indah agar menghadap padanya, netra pria tersebut tertuju pada bibir Indah yang begitu menggoda.
Saat hendak memajukan bibirnya, Indah dengan cepat menendang keras area sensitif pria tersebut menggunakan lututnya. Hingga pria tersebut melepaskan dekapannya dan mengaduh kesakitan.
Pria tersebut tertunduk lemas kesakitan, sambil memegang area sensitifnya.
“Arrgghh ... sialan!” umpatnya mengerang kesakitan.
Melihat pria tersebut kesakitan, kesempatan Indah untuk berlari, ia melihat pintu kamar yang masih tertutup setengah.