
Delapan bulan sudah berlalu, hari ini adalah hari paling menegangkan untuk Fahry.
Karena ia harus menemani istrinya di rumah sakit, bertaruh nyawa antara hidup dan mati untuk melahirkan si buah hati mereka.
Suhu badan yang panas dingin melihat istrinya yang menahan sakit, akan tetapi Icha bersikap biasa saja, ia serahkan semuanya pada yang maha kuasa.
“Mas.” Menyentuh lengan suaminya.
Lalu mengusap dahi suaminya yang berkeringat dengan menggunakan telapak tangannya.
“Sayang, aku baik-baik saja,” ujar Icha dengan suara lemahnya.
Terlihat Icha menahan sakit ketika merasakan kontraksi hebat, hingga menggenggam tangan suaminya dengan erat, sambil menutup matanya.
“Sayang, kamu baik-baik saja?”
Icha kembali membuka matanya ketika sudah dirasa sakitnya mulai menghilang.
“Mas, jika nanti harus memilih antara aku dan anak kita. Kamu harus memilih anak kita,” tutur Icha menatap suaminya.
“Sstt ... jangan bicara seperti itu, sayang.”
Berulang kali Fahry mencium punggung tangan istrinya.
Kali ini Icha kembali merasakan kontraksi lagi, dokter yang datang memeriksanya.
“Pak, mohon tunggu di luar Pak.”
“Dok, biarkan suami saya bersama saya,” pintu Icha.
Dokter tersebut mengangguk dan membiarkan Fahry untuk menemani istrinya.
Icha kembali merasakan sakit yang luar biasa, lebih sakit dari sebelumnya.
Dokter juga berusaha membantu agar kepala bayi cepat keluar, apa lagi melihat sang ibu sudah terlihat tidak berdaya lagi.
Oeek ! Oeek !
Suara tangisan bayi yang begitu nyaring, hingga terdengar keluar ruangan.
Setelah bayi tersebut di bersihkan, lalu memberikannya pada sang papa yang terlihat tegang sejak tadi.
Fahry perlahan menggendong bayi tersebut lalu mengazannya, setelah itu ia netranya menatap wajah bayi imut tersebut, matanya yang sedikit sipit, bibir mungil yang sangat mirip dengan bibir Icha ibunya.
Bayi yang berjenis kelamin laki-laki tersebut, membuka mulutnya dan menggerakkan ke kiri dan ke kanan seperti sedang mencari sesuatu yang ingin ia minum.
Fahry berulang kali menciumnya wajah putranya, ia sangat terharu bahkan meneteskan air mata.
Lalu ia menyerahkan putrinya pada istrinya yang sudah di bersihkan oleh perawat, bahkan Icha sudah bisa duduk.
“Sayang, dia sangat mirip denganmu,” ujar Fahry perlahan meletakkan putranya di pangkuan istrinya.
“Iya, Mas.”
Icha meneteskan air mata, butuh perjuangan yang luar biasa untuk mengeluarkan bayinya.
“Terima kasih sudah melahirkannya, sayang kamu Istri dan Ibu yang sangat luar biasa.”
Berulang kali mencium pucuk kepalanya istrinya.
“Aku mencintaimu,” bisik Fahry di telinga istrinya.
Membuat Icha yang menyusui bayinya tersenyum malu.
“Maaf aku terlambat mengatakan ini. Aku mencintaimu dan juga anak kita,” tambah Fahry lagi.
Icha tersenyum sambil mengangguk.
“Terima kasih Mas, sudah menemaniku hingga saat ini.”
“Seharusnya aku yang berterima kasih,” ujar Fahry duduk di samping istrinya sambil melihat putranya menyusu.
“Sayang,” panggil Bu Sintya langsung masuk.
Ia melihat cucu pertamanya, Bu Sintya begitu terharu.
“Cucuku,” ucapnya menghampiri Icha.
“Sayang, dia imut sekali. Maaf Mama dan Indah sayang terlambat. Jalanan begitu macet, Sayang.”
“Tidak apa-apa, Ma. Ada mas Fahry yang menemani Icha,” sahut.
Tidak ada persiapan hari ini yang mereka lakukan, karena dokter mengatakan jika Icha akan lahir sekitar dua Minggu lagi.
Hari ini Icha dan Fahry ingin membeli pelengkapan bayi yang masih kurang, entah kenapa di perjalanan Icha merasakan sakit perut yang luar biasa. Sehingga Fahry harus membawanya ke rumah sakit, saat tiba di rumah sakit dokter langsung memeriksanya dan ternyata Icha sudah pembukaan delapan.
Fahry segera menghubungi Mama mertuanya jika Icha akan melahirkan sekarang di rumah sakit.
Bu Sintya yang panik, langsung menghubungi Indah karena ia bingung harus menghubungi siapa lagi.
🌹🌹🌹
Sementara itu, di rumah sakit yang sama. Anggun berjuang di meja operasi, karena mengalami pendarahan yang hebat, sehingga mengharuskan dirinya untuk di operasi.
Terlihat sang suami yang begitu gelisah, hingga sang istrinya pertama mulai kesal melihatnya.
“Mas, bisa gak sih kamu itu duduk. Aku pusing melihatmu mondar-mandir gak jelas seperti ini!” serunya.
“Kamu diam! Tentu saja aku cemas, aku memikirkan keadaan anakku di dalam sana. Ingat!! Dia juga anakmu, kamu yang menginginkan ini semua!” celetuk suaminya.
“Sesuai kesepakatan kita, setelah anak itu lahir dia milikku. Milik kita, kamu harus meninggalkannya,” Ujar istrinya mengakibatkannya kembali.
“Iya, kamu ini berisik sekali! Apa tidak bisa membahas ini di rumah saja?!” seru suaminya sedikit kesal.
Istrinya hanya menatap kesal pada suaminya, bahkan ia juga cemburu melihat sang suami lebih perhatian pada dirinya selaku istri pertama.
Tak lama terdengar suara tangisnya bayi, terlihat mereka berdua menghela nafas lega.
Cukup lama mereka menunggu, akhirnya Anggun di pindahkan ke ruang rawat.
Bayi Anggun berjenis kelamin perempuan, bayi tersebut masih berada di inkubator karena di lahirnya belum waktunya.
Sang suami melangkah masuk ke dalam ruang rawat inap, untuk melihat keadaan istrinya.
“Anggun, apa kamu baik-baik saja?” tanyanya pada istrinya.
Anggun hanya bisa mengangguk, karena ia juga sudah mulai merasakan nyeri di bagian perutnya.
“Cepat sembuhnya. Selamat atas kelahirannya putrimu, aku ikut berbahagia!” ujar istri pertama dari suaminya tersebut.
“Iya, Mbak. Terima kasih doanya,” sahut Anggun.
Ia merasakan ada yang aneh pada madunya tersebut, tidak seperti biasanya yang selalu berkata lembut kepadanya.
Namun, berbeda dengan hari ini, bahkan tidak ada wajah kelembutan yang terlihat.
🌹🌹🌹
Delapan bulan sudah berlalu, kini hidup Adita benar-benar berubah. ia bekerja paruh waktu untuk menghidupi dirinya dan putranya.
Flashback on.
Dua bulan setelah kepergiannya dari rumah pak Candra, Adita rela berpanas panasan untuk mencari lowongan pekerjaan patuh waktu, bahkan boleh membawa anaknya untuk bekerja.
Akan tetapi sangat sulit mencari pekerjaan seperti itu.
Namun, ketika hendak pulang ke rumahnya, pak Arif tidak sengaja melihat mereka yang berjalan kaki saat matahari sedang di atas kepala.
“Adita,” gumamnya, lalu menepikan mobilnya dan berhenti tepat di depan mereka.
“Adita,” panggilnya menurunkan kaca mobilnya.
“Pak Arif,” gumamnya.
Pak arif adalah Polisi yang menangani kasus suaminya, karena Adita pernah melihat nama Arif di baju dinasnya.
“Mau ke mana? Cepat masuk, aku akan mengantar kalian,” ajaknya.
“Maaf, Pak. Saya sedang terburu-buru, saya permisi.”
“Tunggu Adita.”
Pak Arif keluar dari mobilnya, mendekati Adita yang siap hendak melangkah kembali.
“Ayo, masuk. Di luar sangat panas,” ajak Arif lagi.
“Aku mohon. Lihat, putramu kepanasan,” ujar Arif memohon, karena sangat kasihan pada putranya yang kepanasan.
Adita menatap putranya penuh dengan keringat, apa ia begitu egois hingga membiarkan putranya kepanasan karena tersengat matahari.
Adita mengangguk.
Arif membukakan pintu depan untuk Adita, lalu ia memutar mobilnya untuk masuk ke dalam.
“Kalian mau ke mana?” tanya Arif.
“Mau mencari pekerjaan Pak,” sahutnya.
“Pekerjaan. Pekerjaan apa?”
“Pekerjaan apa saja, yang penting halal dan bisa membawa anak untuk bekerja. Aku tidak mungkin meninggalkan putraku di rumah sendirian,” sahutnya.
“Jika kamu mau, aku sedang membutuhkan orang di rumahku. Pekerjaannya tidak berat, kamu bisa membawa putramu untuk bekerja. Kamu hanya memasak makan siang untukku,” ujar Arif menawarkan pekerjaan.
Adita hanya diam, belum menjawab tawaran pekerjaan yang ditawarkan oleh Arif.
“Bagaimana? Apa kamu mau?” tanya arif melirik sekilas pada Adita, lalu fokus mengendarai mobilnya.
“Sebenarnya, tidak ada yang kurang di rumah kami. Setiap bulannya Pak Dika selalu mengirim uang dan juga bahan makanan ke rumah. Akan tetapi, aku juga tidak ingin terlalu banyak berharap pada mereka. Karena aku ingin mandiri,” tutur Adita lembut.
Karena ia tidak mau, arif berpikir jika keluarga Dika lepas tangan padanya, apa lagi Pak Arif cukup dekat pada pak Candra dan Dika.
“Iya, aku mengerti,” sahut Arif.
“Jadi,” tanyanya lagi.
“Iya Pak. Saya mau,” ujar Adita tanpa pikir panjang lagi, ia menerima pekerjaan itu.
Arif tersenyum mendengar jawaban Adita.
“Oke baiklah. Besok kamu sudah mulai bekerja dan aku akan menjemputmu.”
“Tidak perlu Pak, saya bisa pergi sendiri,” tolak Adita.
“Memangnya kamu sudah tahu rumahku?”
Adita berpikir sejenak, lalu menggelengkan kepalanya.
Pak Arif kembali tersenyum melihat Adita menggelengkan kepalanya.
Flashback off.
Semenjak Adita bekerja di rumah Arif, mereka semakin dekat. Apalagi Eza yang terlihat sangat akrab pada arif, bahkan hampir setiap hari Arif membelikannya hadiah untuk Eza.
Sejak kedatangan Adita dan Eza di rumah itu, rumah itu terasa berwarna penuh canda dan tawa Eza bersama Arif.
🌹🌹🌹