Assalamualaikum Ukhti

Assalamualaikum Ukhti
Bab 53



Seminggu sudah pasangan suami istri ini menepati rumah baru mereka.


Rumah yang tidak terlalu besar, dengan dua kamar. Namun sangat nyaman untuk mereka berdua.


Pagi ini, Fahry lebih dulu bangun untuk salat subuh. Di susul oleh Icha yang baru selesai mandi, karena setiap malam tidak pernah absen untuk melakukan kewajiban Fahry untuk menggauli istrinya.


Bahkan Icha pun sangat bahagia menjalaninya, tanpa dipaksa oleh suaminya atau dirinya terpaksa.


“Kenapa lama sekali mandinya, sayang?” tanya Fahry setelah selesai salat.


“Aku sakit perut, Mas.”


“Oh. Bagaimana sekarang, Apa masih sakit?” tanya Fahry terlihat sedikit cemas.


“Sudah merasa baikkan,” sahut Icha membuka mukenanya, terlihat rambut Icha yang tergerai masih sedikit basah.


“Sayang, rambutmu masih basah. Kemari, aku keringkan” ujar Fahry mengambil handuk yang ada di jangkauannya.


Bagaikan kerbau di cucuk hidungnya, ia mengikuti apa yang di ucapkan oleh suaminya.


Perhatian kecil dari Fahry itu sudah membuat Icha bahagia, benar apa kata pepatah bahagia itu tidak harus punya segalanya.


“Mas hari ini kerja?” tanya Icha masih dengan tangan suaminya yang mengusap rambutnya dengan handuk.


“Iya. Karena masa cutinya sudah habis, masa cuti hanya seminggu,” sahut Fahry meletakkan handuk tersebut, karena dirasa rambut istrinya sudah tidak terlalu basah seperti sebelumnya.


“Kenapa?” tanya Fahry.


“Tidak Mas, hanya bertanya saja. Aku akan membuatkanmu sarapan, sekaligus untuk bekal makan siang.”


“Oke. Aku bersiap dulu,” sahut Fahry.


Namun, bukannya bisa beranjak tangan Fahry masih menempel di area favoritnya, sehingga membuatnya susah untuk beranjak dari tempat tersebut.


“Mas,” Ujar Icha lembut menatap suaminya.


Fahry tersenyum karena melihat wajah Icha ya g sedikit cemberut.


“Iya maaf,” ujar Fahry terkekeh melepaskan tangannya.


Icha membalikkan badannya, tanpa di duga menyatukan keningnya dengan suaminya.


“Ada apa? Jangan memancingku,” ujar Fahry pelan, namun matanya tertuju pada bibir ranum istrinya.


“Memangnya, ikan mas yang harus di pancing,” goda Icha melihat tatapan sendu suaminya.


Karena tidak tahan dengan suara lembut istrinya, apalagi melihat tingkah istrinya yang seakan menantangnya. Ia mengajak istrinya ke tempat tidur dan mengacak-acak tubuh istrinya di atas sana.


Setelah selesai mandi, Fahry mengenakan pakaian untuk dirinya bekerja. Bekerja di tempat sama, dimana tempat dirinya dan istrinya bekerja dulu.


Sedangkan Icha berkutat di dapur, untuk menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk istrinya.


Grep!


Fahry memeluk istrinya dari belakang.


Cup!


Satu kecupan mendarat di pipi kanan istrinya.


“Belum selesai?” tanya Fahry bagaikan perangko masih menempel di tubuh istrinya.


“Belum Mas. Sebentar lagi selesai, sabar ya sayang,” sahut Icha lembut.


“Aku bantu ya,” ujar Fahry pelan.


“Iya, boleh. Terima kasih ya.”


“Sama-sama,” sahut Fahry.


Fahry melepaskan dekapannya, ia mengambil tempat kotak makan yang sudah di bersihkan.


Fahry membantu istrinya memasukkan nasi ke dalam kotak tersebut, lalu di tambah ikan yang sudah di goreng.


“Terima kasih Mas, sebentar sayurnya belum matang.”


“Iya, santai saja.”


Fahry duduk di kursi, sambil meminum teh yang sudah disediakan oleh istrinya di meja.


“Oh iya, sayang. Siang ini, setelah pulang sekolah. Ifal dan teman-temannya ingin ke rumah, sore mereka ingin mengaji kemari dan juga ingin bertemu dengan kita,” ujar Fahry sambil menyeruput tehnya.


“Iya, Mas. Aku malah senang ada yang menemaniku di rumah, Mas.”


“Iya, Sayang.”


Setelah Icha mengambil mangkok untuk tempat sayur yang sudah matang, sedangkan Fahry masih meminum tehnya.


Tok! Tok!


Terdengar suara ketukan pintu.


“Mas, ada yang mengetuk pintu. Mungkin itu Abang yang datang,” tutur Icha.


“Abang ingin datang kemari?”


“Iya, Mas. Icha baru saja ingin memberitahu mu Mas, karena Abang baru saja menghubungi Icha.”


Fahry mengangguk, melangkah menuju pintu.


Ceklek!


Suara pintu terbuka, terlihat Dika dan istrinya yang sedang berdiri di depan pintu.


“Assalamualaikum, Fahry.”


“Waalaikumsalam, masuk bang,” sahut Fahry.


Mereka melangkah masuk ke dalam rumah, aroma wangi masakan tercium oleh Dika dan Indah.


“Iya, Icha baru saja selesai memasak.”


“Oh,” ujar Indah melangkah menuju dapur menemui adik iparnya.


“Apa kamu bekerja hari ini, Fahry?” tanya Dika.


“Iya, Bang.”


“Oh, kalau begitu ikut lah pergi bersamaku. Sore nanti aku akan menjemputmu, karena ada yang aku bicarakan kepadamu.”


“Kebetulan Indah hari ini juga tidak masuk bekerja, biar dia disini bersama Icha.”


“Iya, Bang. Sebelum itu kita sarapan dulu, Icha sudah memasak untuk sarapan.”


“Boleh, karena memang rencananya aku dan Indah memang ingin sarapan kemari,” sahut Dika.


“Wah, dengan senang hati Bang.”


Mereka melangkah ke dapur, melihat istri mereka sedang menyiapkan makanan sambil bercerita.


“Masak apa dek?” tanya Dika pada adiknya yang sibuk menyajikan makanan.


“Masak enak pokoknya,” sahut Icha sambil tersenyum.


“Icha dan kak Indah sudah menyiapkan bekal makan siang,” ujar Icha lagi.


“Oke,” sahut Dika singkat.


Dika duduk di samping Fahry, sedangkan Icha dan Indah duduk di sebelah suami mereka.


“Icha, apa kamu butuh asisten rumah tangga? Jika kamu mau, Abang bisa mencarikannya dan masalah gajihnya kamu tidak perlu khawatir.”


Icha dan Fahry saling menatap sejenak, lalu Icha menggelengkan kepalanya.


“Maaf, Bang. Sepertinya Icha tidak butuh asisten rumah tangga. Kalau Icha hanya duduk diam di rumah pasti akan bosan. Maaf ya Bang,” sahut Icha Lembut.


“Iya. Tidak apa-apa Icha, jika Icha butuh sesuatu kamu jangan sungkan untuk meminta pada Abang atau Kakak iparmu.”


“Tapi, maaf sebelumnya Fahry. Bukan bermaksud merendahkanmu, jangan pernah kamu berpikir seperti itu. Aku hanya ingin membantu saja,” Tutur Dika melihat Fahry.


Fahry tersenyum.


“Iya, Bang. Aku tidak pernah memikirkan itu, itu berarti Abang sangat menyayangi adiknya.”


“Terima kasih Fahry, kamu sudah mengerti.”


Mereka kembali makan sarapan mereka sambil berbincang hangat.


Setelah selesai, Icha dan Indah mengantar suami mereka ke teras rumah.


Setelah itu, dua bidadari Fahry dan Dika itu masuk ke dalam rumah dan menguncinya.


Selesai membereskan semuanya, mereka berdua berbincang hangat di kamar.


Di dalam mobil.


“Fahry, apa kamu sudah melihat berita?” tanya Dika.


“Berita apa?” tanya Fahry.


Karena memang dirinya jarang sekali menonton berita.


“Oh, kamu belum mengetahuinya rupanya.”


“Ada apa Bang?” tanya Fahri penasaran.


“Papa ...” ucap Dika menjeda ucapannya.


“Kenapa dengan Papa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Fahry terlihat cemas.


“Tidak terjadi apa-apa. Entah ini berita baik atau buruk.”


Fahry mengernyit bingung.


“Dari berita beredar yang aku lihat, perusahaan Papa kini kembali seperti dulu.”


“Alhamdullilah Bang. Aku ikut senang mendengarnya,” sahut Fahry.


“Bukan itu Fahry. Tapi, entah kenapa aku curiga. Coba kamu pikir, bisnis yang hampir bangkrut dan tiba-tiba menjadi naik drastis dalam seminggu. Entah apa yang di lakukan Papa hingga seperti sekarang ini?”


Fahry tersenyum.


“Kita harus berpikir positif Bang. Mungkin ini nasib baik Papa, kita ikut bahagia atas kembalinya perusahaan Papa seperti dulu,” tutur Fahry tidak ingin berpikir negatif. Walaupun dirinya sempat meragukan, atas kesuksesan Papa mertuanya yang secara tiba-tiba.


“Iya. Astaghfirullah ... semoga ini menjadi pertanda baik.”


“Dan tidak ada korban lagi setelah Icha,” tambah Dika lagi.


“Iya, Bang.”


Setelah perbincangan, tak lama mobil mereka tiba di tempat Fahry bekerja.


Untuk pertama kalinya masuk bekerja setelah cuti selama seminggu.


“Terima kasih Bang. Aku masuk dulu,” pamit Fahry.


“Iya, Fahry. Sore nanti aku akan menjemputmu, kamu tidak perlu naik taksi. Tunggu aku jam lima sore nanti,” ujar Dika mengingatkan.


“Iya, Bang. Insya Allah, assalamualaikum ...” Ujar Fahry.


“Waalaikumsalam ...” sahut Dika.


Setelah adik iparnya keluar, Dika masih berada di situ, melihat punggung Fahry yang menjauh.


“Maaf, Fahry. Bukan ingin berpikir negatif tapi, aku sangat tahu bagaimana sifat Papaku. Aku sangat yakin, jika ada sesuatu di balik bisnis yang sedang naik daun tersebut,” gumamnya.


Dika menghela nafas kasar, lalu pergi dari tempat tersebut menuju ke kantornya.