
“Abang serius ingin membawa mereka?” tanya Fahry.
“Iya,” sahut Dika melenggang masuk, di ikuti oleh Fahry.
Sambil menunggu Ifal memanggil temannya, mereka duduk makan bersama beralaskan tikar.
Makan bersama, di sertai canda dan tawa mereka, seakan lupa masalah dan musibah yang mereka hadapi saat ini. Dika dan istrinya saling suap-suapan.
“Kak Fahry,” panggil Ifal lagi.
Fahry hendak beranjak, di tahan oleh Dika.
“Biar aku saja,” tutur Dika.
Dika melangkah keluar, ia mengajak Ifal dan temannya masuk duduk makan bersama.
Kebetulan Dika memesan makanan banyak, piza dan ayam goreng krispi.
Saat masuk, Ifal menelan salivanya melihat ayam goreng tersebut.
Karena belum pernah makan ayam tersebut, hanya melihat fotonya saja.
“Ayo makan,” ujar Dika.
Semua orang menatap Ifal dan temannya sambil tersenyum.
“Ifal. Duduk kemari, kita makan bersama,” ujar Fahry juga mengambil tangan Fahry.
Ifal mengangguk. Icha beranjak untuk mengambil piring lagi di dapur.
Fahry menatap netra Ifal yang tertuju pada ayam goreng tepung tersebut.
Icha datang membawa beberapa piring lagi, lalu dengan telaten mengambil nasi beserta ayam tersebut dan meletakkannya di depan anak-anak tersebut.
“Mereka siapa, Fahry?” tanya ibu mertuanya.
“Mereka tinggal tepat di belakang rumah ini, Ma. Mereka semua anak yatim,” sahut Fahry menatap Ifal yang kasihan pada anak-anak tersebut.
“Kalian sekolah dimana?” tanya Bu Sintya.
Ifal hanya diam, makan perlahan karena masih malu.
Bu Sintya menatap Fahry.
“Ifal kelas enam, sedangkan mereka bertiga kelas lima.”
“Oh. Katakan pada orang tuanya, biar Mama yang membiayai sekolah mereka.”
Fahry menatap Icha sejenak lalu beralih ke Kakak iparnya.
“Mama serius?” tanya Fahry.
“Iya, Mama serius. Jangan sampai Papa mengetahui hal ini,” tutur Bu Sintya.
“Alhamdullilah ...” sahut Fahry.
Setelah berbincang hangat sambil menghabiskan makan pagi menjelang siang itu.
Mereka semua baru selesai makan, Dika menepati janjinya untuk mengajak Ifal dan temannya untuk jalan-jalan.
Sebelum itu, Fahry lebih dulu meminta izin kepada orang tua Ifal, Andi dan dua teman lainnya.
Dika mengajak mereka bermain di mall, juga berbelanja pakaian untuk mereka.
Setelah puas bermain mereka kembali jalan-jalan ke pantai.
Fahry terlihat bahagia melihat canda dan tawa mereka, begitupun dengan Icha.
“Kenapa tersenyum sendiri Mas?” tanya Icha melihat suaminya.
“Enggak. Aku hanya bahagia melihat tawa mereka,” sahut Fahry melihat Ifal berlari dan bermain di pantai.
“Iya, Mas.”
Icha ikut tersenyum senang.
🌹🌹🌹
Di rumah, pak Heri baru mengerjapkan kedua matanya. Ia memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
“Sintya!” teriaknya lagi.
Namun, istrinya tak kunjung datang.
“Kemana dia?!” kesal pak Heri.
Ia beranjak dari tempat tidur, berjalan gontai sambil memegang kepalanya menuju pintu kamar.
“Ma!” teriak pak Heri lagi, setelah membuka pintu kamar.
“Bi, dimana istriku?” tanya pak Heri pada pembantunya yang sedang membersihkan jendela kaca.
“Saya tidak tahu tuan. Saya belum melihat Nyonya sejak pagi tadi,” sahut pembantunya.
“Cih ... kemana dia?!” kesal pak Heri kembali masuk ke kamarnya.
Ia mengambil ponsel berniat ingin menghubungi istrinya.
Namun, ia melihat begitu banyak panggilan masuk dari kantornya.
“Kenapa begitu banyak sekali panggilan dari kantor?” gumamnya.
Niat awalnya ingin menghubungi istrinya, diurungkannya karena melihat panggilan tidak terjawab dari kantor.
Tut! Tut! Tut!
Tanda panggilan masuk.
“Halo, Mira. Ada apa?” tanya pak Heri.
“Pak. Di kantor sedang melakukan demo. Mereka menuntut hak mereka, dan gajih mereka bulan lalu dan bulan sekarang harus segera di bayar, pak!”
“Huh!”
“Pak, uang yang ada tidak cukup untuk membayar semua gajih karyawan.”
“Kamu katakan pada mereka, beri waktu dua hari dan segera persiapan meeting sore ini!” imbuh pak Heri.
“Iya, pak.”
Ia mengakhiri panggilannya.
“Sialan! Kenapa jadi kacau begini?!” bentaknya melempar ponselnya ke tempat tidur.
Pak Heri bergegas ke kamar mandi, walaupun kepalanya masih terasa pusing. Hingga ia melupakan keberadaan istrinya.
🌹🌹🌹
Sepulangnya bermain di pantai dan berjalan-jalan di mall. Dika kembali mengantar mereka, hingga di depan rumah Fahry.
Setelah itu Dika berpamitan pada Fahry dan Icha untuk pulang.
Begitupun dengan Indah dan Bu Sintya, mereka saling berpelukan pada Icha.
“Hati-hati Bang,” ucap Fahry dan Icha. Lalu Icha melambaikan tangannya pada keluarganya, setelah melihat mobil abangnya tak terlihat lagi suami istri ini masuk ke dalam rumah.
“Cape?” tanya Fahry melihat wajah istrinya yang terlihat lelah.
Icha tersenyum lalu mengangguk kecil.
Besok paginya, Fahry mengambil cuti liburnya. Icha dan Fahry mengemas semua pakaian mereka dan beberapa barang lainnya.
Kebetulan, besok pagi sudah habis masa sewa rumahnya.
Fahry menyewa mobil untuk membawa semua barangnya.
Ifal datang dan menghampiri Fahry yang sedang berkemas.
Ia menangis terisak-isak saat mengetahui jika Fahry ingin pindah dari rumah tersebut.
“Kak ... ka-kami tidak bisa bertemu deng-an kak Fahry lagi!” ujarnya sambil terisak menangis.
Fahry tersenyum, ia menarik lengan Ifal agar duduk di pangkuannya.
“Kak Fahry hanya pindah rumah. Bukan pergi selamanya dan rumahnya tidak jauh dari tempat ini,” ujar Fahry lembut.
Sejak dulu, Icha selalu mengagumi kebaikan suaminya kepada orang lain, bahkan tutur katanya selalu lemah lembut apalagi terhadap anak kecil. Tidak salah, jika anak-anak tersebut selalu cepat akrab dengannya, karena Fahry bisa mengambil hati anak tersebut.