
Apa yang diinginkan Aza benar-benar di wujudkan oleh Dev "Udah,aku sudah suruh Dimas buat urus semuanya!"kata Dev meletakkan ponselnya di nakas,menatap Aza yang sedang senyum-senyum.
"Puas,hm?!"
Aza menyengir "Hehe,iya lah! dapat hotel plus 5% saham YP Pranata"kelakar Aza.
Dev mendekat mengacak rambut Aza asal membuat sang empu menggerutu "Ih berantakan kan!"desisnya.
"Mau pulang ngak?!"
"Jadi bawa motor? mobil kamu gimana?"tanya Aza saat menyadari nanti bagaimana dengan mobil Dev? apa akan di tinggal dulu di sini?
"Nanti aku suruh Pak Joko biar anter kerumah"
...••¤••...
Aza menatap motor sport yang dulu menjadi saksi bisu kisah keduanya "Ngak ada bedanya sama sekali"gumam Aza menelisik motor itu.
Motor berwarna hitan yang di dominasi dengan warna merah itu tampak masih sama seperti dulu. Masih sangat terawat.
"Naik! kenapa bengong?!"
Aza tersentak menoleh kearah Dev yang sudah naik di atas motor dengan helm yang sudah terpasang rapi menutupi kepalanya.
"Eh-iya"Aza langsung menaikki motor dengan bantuan suaminya "Mau kemana? langsung pulang?!"tanya Aza.
Dev mulai menjalankan motornya meninggalkan perkarangan rumah orang tuanya "Muter-muter dulu mau ngak?"
"Oky"
Menikmati angin malam adalah nikmat yang paling indah mengeratkan pelukannya ke pinggang suaminya "Emang kalau udah halal beda aja rasanya"seru Aza menyandarkan kepalanya di bahu Dev,menatap suaminya dari kaca spion yang tertutup helm.
"Emang kenapa? mau macem-macem kah? hm?"
Layangan cubitan beberapa kali ia dapatkan di pinggangnya "Sakit sayang!"keluh Dev.
"Salah sendiri bicara yang enggak-enggak"
Dev mengerem motornya saat lampu di depannya berganti warna merah memainkan tangannya di paha istrinya yang terbalut dengan celana panjang,sedangkan tangan kanannya menahan tangan Aza yang terus menyubitnya "Berhenti Yang! awas aja nanti hukumannya 10 ronde!"tegas Dev tanpa memperdulikan orang-orang sekitar.
Aza melotot memukul kepala Dev yang terhalang helm "Mulutnya minta di lakban ini mah!"desis Aza kesal.
Dev tertawa "Biarin! kan halal memang beda"sahut Dev menirukan kata Aza tadi.
"Ish...buruan jalan! jangan kebanyakan ngomong kemana-mana"ujar Aza saat lampu sudah berganti warna hijau.
Mengegas motornya pelan,memang inilah tujuan Dev agar berlama-lama dengan posisi seperti ini "Kalau tahu begini mending naik motor terus aja deh,Yang!"
"Hah? gimana maksudnya?"beo Aza.
Aza langsung sadar dengan reflek ia menjauhkan dirinya dari punggung suaminya "Mesum banget sih!"
"Biarin kan udah halal"
"Bodo!"
...••¤••...
"Enak banget ya?!"tanya Aza saat menatap suaminya dengan lahap memakan martabak coklat kesukaannya,bahkan dirinya sampai tak di tawari.
Meletakkan air putih di depan Dev yang sedang lahap,ia duduk di meja pantry dapur depan suami tampannya.
"Tadi sudah aku tawarin ngak mau? di suruh beli yang ada kejunya ngak mau!"
Memang Dev adalah manusia yang sangat di bilang langka mungkin... Jika orang akan menyukai keju maka Dev tidak. Ia sama sekali tidak pernah menyentuh atau bahkan memakannya,alergi? bukan dirinya hanya sangat tidak suka dengan keju.
"Ngak ah! aku buat mie instan aja!"ucap Aza beranjak dari duduknya mengambil mie yang berada di laci meja pantry.
Memasak air,ia membuka bungkusan mie itu hingga menunggu airnya mendidih.
"Ngak baik keseringan makan itu,Sing!"peringat Dev.
"Terakhir makan dua hari lalu"sergahnya enteng.
"Hei...itu jarak pendek! setidaknya seminggu dua kali"
"Hishh...iya iya"
_
_
_
_
Like
Komen
Vote
Hadiah
Tambahkan ke favorit biar kalian tahu kalau author update😚