
Kabar tentang Devano dan Raini yang akan di umumkan oleh Raini di media sosial tengah ramai di berpincangkan. Masalahnya kabar itu di bantah mentah-mentah oleh Raini.
Para awak media yang sudah mengetahui desas-desus itupun mencoba mengorek informasi lebih dalam dan detail dengan mendatangi keduanya. Termasuk Aza,dia adalah orang yang paling di cari awak media karena dia adalah sasaran para warganet tentang masalah ini.
Seperti sekarang ini,saat dia sudah melangkahkan kakinya keluar dari perusahaan para wartawan sudah berkerumun di kantornya untuk meminta pendapat Aza.
Tapi Aza tampak acuh mengabaikannya,di dampingi Riski ia terus berjalan kearah parkiran ke mobilnya.
Dirinya hanya menjawab pertanyaan wartawan dengan senyuman "Maaf ya saya ngak bisa kasih tanggapan apa-apa!"itulah kata-kata yang keluar dari mulutnya sambil menundukkan kepalanya agar rambutnya menutupi wajahnya.
"Huffttt"helaan napas lega keluar dari mulut Aza saat ia sudah ada di dalam mobil dan keluar dari perusahaan.
Melajukan mobilnya ke perusahaan papanya Hardinata Corp karena ia ada janji ingin menemui papanya. Benar-benar anak tak tahu diri! papanya saja ingin bertemu harus janji terlebih dahulu,siapa lagi jika bukan Azalea Cavabila.
Aza berlari kecil saat di lobi perusahaan,membalas sapaan orang-orang yang menyapanya dengan senyum. Mereka sudah mengetahui siapa perempuan yang tengah berlari kecil itu. Putri dari pemilik perusahaan ini putri Wahyu Hardinata.
"Pa"sapa Aza sambil menyembulkan mukanya di pintu ruangan papanya.
"Kenapa di situ?sini masuk!"titahnya.
Aza melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu,memdekati papanya dan memeluknya saat Wahyu merentangkan tangannya.
"Dasar kalau di suruh menemui papa aja harus buat janji!"ucap Wahyu.
Aza terkekeh lalu melepaskan pelukannya "Aza wanita karir Pa! kalau di jam-jam kerjakan sibuk"
Wahyu hanya tersenyum dan menuntun putrinya untuk duduk di sofa "Bagaimana perusahaan?"Tanyanya.
Aza mengangguk "Baik,malah lebih baik karena pendapattan meningkat!"
"Papa bangga sama kamu"
Aza tersenyum menundukkan kepalanya "Ini juga berkat didikan Papa buat Aza"balas Aza sambil menatap lekat manik papanya.
"Terima kasih sudah mau merawat Aza,mendidik Aza,menjadi Ayah sekaligus Ibu buat Aza"imbuhnya.
Wahyu mengusap rambut kepalanya lembut "Ngak usah sedih! kamu sudah gede malu lagi!"kekehnya.
Aza hanya membalas perkataan papanya dengan senyum dan memeluk papanya "Aza sayang sama papa"
**
"Ngak usah ngehindarin perkataan gue Vi!"tegur Aza sambil menunjuk-nunjuk Vio dengan sedotan minumannya kearah wajah sahabatnya itu.
Vio benar-benar geram dengan Aza yang sedari ia baru datang sudah menanyakan pertanyaan begitu vulgar "Lo tuh ya kalau ngomong vulgar banget,mana keras lagi!"bisik Vio sambil mencondongkan dirinya.
Aza mencibik kesal "Tinggal jawab doang susahnya beribu alasan lo!"
"Kalau udah ngak! lo mau apa?hah?"celetuk Vio tanpa sadar karena kesal dengan apa yang sedari tadi keluar dari mulut Aza.
Aza menganga tak percaya mendengar jawaban sahabatnya "Woww gasss polll"kekeh Aza.
Vio langsung memukul lengan sahabatnya dengan keras hingga rintihan sakit ia dengarkan dari mulut Aza.
Aza menatap Vio horor dengan tatapan tajam "Tak berperikesahabatan!!"
"Apaan itu?ngak jelas bet dah"
"Kapan Vi?dia seliar di luarnya ngak?"Tanya Aza beruntut tanpa memperdulikan wajah merah Vio.
Vio langsung memalingkan wajahnya,malu menatap Vio pikirannya menjadi liar mengingat-ngingat dirinya dan Bryan Sial jadi kotor nih pikiran gue batinnya.
Aza tertawa keras hingga membuat pengunjung menatapnya heran,tak bisa di pungkiri gimana sekarang wajah Vio. Sangat-sangat merah "Ya elah blushing"
"Mulut lo itu ya"ucap Vio sambil melemparkan kentang goreng kearah Aza.
"Sory-sory Vi! gue terlalu ikut campur masalah rumah tangga lo. Tapi mau gimana lagi namanya juga kepo ngak bisa di tahan"
Vio hanya mendengus kesal menatap sahabatnya ini. Ya tadi pagi ia berjanji akan bertemu di salah satu cafe,setalah sekian abad tidak bertemu karena kesibukan sendiri-sendiri.
Tak bisa di pungkiri,jika orang yang selalu berkata lebih baik memiliki satu sahabat yang menerima apa adanya dari pada punya banyak sahabat yang ada apanya.
Begitupun persahabatan mereka yang sudah terjalin lama,kebohongan-kebohongan yang di tutupi akan terendus dengan sendirinya saat melihat wajah ekspresi keduanya saat bercerita.
Bayangkan saja bahkan ekspresi wajah saja mereka sampai hapal apalagi kebiasaan masing-masing.
_
_
_
_
...Like,komen...