
Aza menuruni tangga dengan pakaian gamis berwarna merah bertali di perutnya,kerudung pashmina plisket hitam sudah melekat rapi menutupi rambutnya.
Dev yang sedari tadi menunggu istrinya di lantai satu sambil memainkan ponselnya,mengarahkan pandangannya kearah wanita cantik yang terlihat berbeda dari biasanya. Memasukkan ponselnya ke saku celana "Masyallah cantik banget! istri siapa sih?"ucapnya sambil berjalan kearah Aza yang menuruni tangga.
Aza sedikit tersipu mungkin rona merah sudah menghiasi pipinya saat mendengar perkataan suami tampannya,berdehem singkat untuk menetralkan jantungnya yang serasa ingin lompat dari tempatnya "Ya istri Devano lah!"balasnya.
Dev terkekeh mengulurkan tangannya yang langsung di terima oleh Aza,memgecup puncak kepala Aza yang terhalang kerudung "Love You"
"Udah ihh! ayo berangkat nanti kita telat!"Aza membubarkan kegiatan romantis yang memacu jantung dirinya. Padahal sudah lama ia mengenal Dev dari masa pacaran hingga menikah sudah mereka lalui,tapi perasaan yang masih malu-malu sering menghinggap di dirinya. Bahkan ia berpikir apa Dev juga begitu? entahlah ia sendiri tak tahu.
Dev merengkuh pinggang Aza berjalan keluar rumah mengunci rumah agar tidak terjadi apa-apa nantinya,seperti maling mungkin. Karena kalau hari Minggu seperti ini biasanya Bi Asti dan Mang Ujang libur dengan jadwal yang sudah di tentukan oleh Dev.
"Barang-barangnya?"tanya Aza sambil memasang sealbealt-nya.
Dev mengangguk mulai mengemudikan mobil hitam miliknya "Udah di bagasi"
Aza hanya mengangguk,barang-barang yang ia maksud adalah barang yang ia beli kemarin bersama Vio untuk Tania dan bayinya nanti. Yups hari ini mereka akan kerumah Tania dan Bagas yang mengadakan syukuran kehamilan.
Ponsel Aza berdering menandakan ada panggilan di sana,tangan Aza terulur mengambil ponselnya yang ada di pangkuannya. Senyum terukir di wajah cantik berkerudung hitam,tak menunggu lama ia menarik keatas tombol berwarna biru yang langsung terpampang wajah wanita yang sudah melahirkannya.
"Masyallah putri mama? dapet hidayah dari mana bisa pakai kerudung begitu?hah?" celetoh Maya meledek Aza.
"Hishh...jahat banget!"Aza mencibir bibirnya tak percaya dengan ucapan wanita yang sering ia sebut 'Mamay' itu.
"Ini aku akan datang ke syukuran Tania,mah"
"Kehamilan?"
Aza mengangguk "Hkem tujuh bulan!"
"Sampein salam buat dia nanti ya,dari mama! Dev mana?"
Aza langsung mengarahkan ponselnya kearah Dev yang sedang menyetir "Pagi ma"sapa Dev berbasa-basi.
"Pagi juga Dev! gimana kabar kamu?"
"Baik ma"
Dari sebrang sana Maya tampak sedang berbicara dengan seseorang,lalu ia kembali ke ponsel yang sudah menunjukkan wajah putrinya "Za,mama pemotretan dulu ya?!"
Aza mengangguk "Jangan kecapekan ma! jaga kesehatan"perintahnya. Maya mengangguk memberi salam kepada putri semata wayangnya itu,setelahnya panggilan berakhir.
Dan pas waktu itu juga mobil Dev memasuki gerbang rumah besar Tania,jangan salah karena Bagas juga pebisnis yang meneruskan perusahaan orang tuanya. CEO sebagai jabatan untuk ke empat pria itu,tapi di sini Dev lah yang sering memenangkan pebisnis nomor satu sebagai awards.
Di sana sudah banyak orang berkumpul,Tania bahkan mengundang anak yatim piatu dari salah satu panti asuhan untuk mendoakan dirnya dan sang calon bayi.
Memberikan bingkisan yang ia beli kemarin Aza tampak senang mengelus perut buncit sahabatnya "Sehat-sehat ya!"
"Udah dateng aja seneng banget! kenapa harus kasih yang beginian sih?!"ucap Tania sungkan.
"Buat si princess"
Mereka menggeleng "Gue sih baru dateng! Je dulu"ucap Vio.
Acara berlanjut dengan syukuran yang di pimpin seorang ustadz.
...••¤••...
"Ke rumah Bunda yuk!"ajak Aza saat mereka sudah di jalan menuju pulang setalah acara syukuran dari rumah Tania dan Bagas.
Dev mengangguk membelokkan mobilnya menuju rumah orang tuanya "Nanti aku bawa pulang motor sport aku sekalian deh,Sing!"
Aza mengerutkan keningnya bingung "Motor?"tanyanya lagi.
Dev mengangguk "Motor yang dulu saat kita masih SMA! aku ngak jual motor itu! soalnya banyak kenangan sama kamu"terangnya.
"Serius?"
Dev mengangguk menarik punggung tangan Aza di kecupinnya berulang kali "Pengen beli mobil,deh!"rayu Dev hati-hati. Pasalnya Aza akan sangat sensitif jika dirinya menghambur-hamburkan uang untuk membeli barang yang tak terlalu penting.
Aza perempuan pada umumnya akan merasa irit jika menyangkut uang! terlahir dari keluarga yang mampu tak membuat Aza sering berfoya-foya.
Dan benar saja Aza langsung melebarkan matanya mendengar perkataan suaminya "Buat apa lagi? mobil aku aja jarang di gunain,karena dianter jemput kamu!"desisnya tak habis pikir dengan pikiran Dev.
"Buat koleksi lah! pengen punya mobil sport ferrari warna merah,Sing! bagus banget kemarin aku lihat"rengek Dev dengan muka tertekuk memajukan bibirnya.
"Berapa M?"tanya Aza bersedekap dada,mengeluarkan aura emak-emak.
"Ngak mahal palingan cuma berapa doang!"jawab Dev enteng. Bisa saja ia beli tanpa sepengetahuan istrinya,tapi dirinya menghargai kalau sekarang sudah berkeluarga. Saling berpendapat dalam rumah tangga adalah salah satu kuncinya.
"Tapi kan Dev,mobilnya buat apa juga? palingan kamu juga ngak akan di pakai. Dari pada rusak di anggurin!"omel Aza sudah tak memakai nama romantis dalam perkataannya. Merasa masih tak penting dengan keputusan untuk membeli mobil baru.
"Di pakai,bahkan si Bryan aja punya!"ucap Dev masih merayu istrinya.
Aza menatap Dev mengintimidasi "Kamu masih suka balapan?"tuduhnya,soalnya dulu saat masa sekolah Dev sering balap-balap motor dengan teman-temannya dengan motor yang tadi ia bicarakan.
Dev menggeleng reflek "Ngak ada! Berhenti pas kuliah dulu! itupun harus menanggung resiko denger ceramah Bunda yang kaya toa tujuh hari tujuh malem"serkahnya.
Pukulan di lengannya ia dapatkan setelah mengucapkan kata tadi "Mulutnya! benerlah apa yang di lakuin Bunda"
Dev tertawa memgusap lengannya akibat tabokan sang istri "Terpaksa berhenti"ucapnya enteng. Aza menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan suaminya.
_
_
_
_
Like,komennya