
Aza tampak kesal sedari tadi menunggu seseorang yang sudah dua puluh menit semenjak jam pertemuan tidak kunjung datang.
"Ck! lama banget sih tuh orang. Awas aja nanti kucincang-cincang kalau datang"gerutunya kesal dengan memasang wajah mode on.
Melirik jam tangan berwarna coklat di tangannya sekilas Aza mengotak-atik ponselnya,tapi tangannya terhenti tak kala orang yang ia tunggu duduk di depannya.
"Huh huh"mengatur napas akibat berjalan agak cepat karena sadar ia terlambat dari jam yang sudah di tentukan.
Adik dari Aditya ini tampak memasang wajah mode galak "Lama banget! lo yang ngajakin ketemuan ya Vi!"
Vio meringis mengangkat tangannya kearah Aza "Sabar...tadi gue ada pasien dadakan!"jelasnya.
Aza bersedakap di dada menatap wanita yang tengah mengandung dua bulan dengan perut yang masih belum terlihat itu,sebal "Ya udah buruan gih,kita cari barang buat Tania besok"ucapnya langsung berdiri dari duduknya yang langsung di ikuti Vio.
Kedua wanita ini menyusuri Mall besar ini dengan sangat antusias. Mereka kesini dengan acara membuat janji terlebih dahulu,untuk mencari barang buat Tania dan bayinya karena besok adalah hari syukuran tujuh bulanan kehamilannya. Mereka sudah tahu kalau jenis anak Tania adalah perempuan jadi,mereka sudah tahu barang yang akan di beli agar tidak kebingungan.
Walau Vio hamil perempuan itu juga tampak antusia saat memasuki toko perlengkapan bayi,ia sendiri sudah membayangkan semenggemaskan apa anaknya nanti jika memakai baju-baju mungil ini.
"Gila lucu-lucu banget! jadi pengen borong semua"ujarnya dengan senang.
Aza tersenyum dan menganggukkan kepalnya tanda setuju tangannya terulur memegang satu baju laki-laki "Iya ih!"
"Anak gue nanti perempuan apa laki-laki ya?kira-kira menurut lo apa,Za?!"
Aza menoleh menatap Vio "Baru dua bulan,Vi! lo sendiri maunya apa?"Tanyanya dengan hati sedikit gundah,pasalnya sudah dua bulan Aza menjalani pernikahan dengan Dev tapi tak kunjung juga ada tanda-tanda kehamilan.
Ia berpikir padahal juga dulu Vio dua bulan sudah hamil,tapi dirinya? sudah tiap malam ia selalu melakukan hubungan suami istri dengan Dev yang selalu di sertai doa agar cepat-cepat mendapat momongan untuk menambah keharmonisan keluarga mereka.
Aza menepis prasangka buruk dirinya,menggelngkan kepalanya Apaan sih! tetep optimis,Za! lagian juga baru dua bulan,ngak-papa pasti Allah kasih di waktu yang tepat batinnya.
"Kenapa? lo mikirin itu lagi?"Tanya Vio saat menyadari sikap Aza.
"Dua bulan masih di hitung waktu yang singkat dalam pernikahan,jadi ngak usah di pikirin! banyak yang hamil diusia pernikahan lima bulan,enam bulan,bahkan ada yang lebih,Za! Ngak usah mikirin itu terlalu dalam,nanti lo malah stres dan bisa mempengaruhi untuk proses kehamilannya sendiri"ujar Vio bijak karena dirinya sudah tahu bagaimana cara-cara tentang kehamilan. Karena dirinya adalah dokter kandungan kalau kalian lupa!
Aza tersenyum menghangat "Ngak Vi! aku ngak mikirin apa-apa kok"terangnya gar Vio lebih rileks tidak memikirkannya lagi.
Vio mengangkat satu alisnya "Ya udah lanjut aja yuk"Aza mengangguk memilih-milih baju disana.
Mereka terus bercanda gurau saat memilih-milih baju hingga beberapa stel baju sudah menghiasi tangan mereka. Berjalan kearah kasir membayarnya,setelahnya mereka keluar dari toko baju. Memasuki satu-persatu toko saat dirasa menarik perhatian mereka.
"Gila lo beli semua itu?!"ucap Aza tak percaya dengan belanjaan yang dibeli oleh wanita itu.
Vio menyengir "Ya habisnya bagus-bagus semua,ih! lagian kita jarang belanja begini"
"Biasanya juga lo hemat"Aza menggelngkan kepalanya tak habis pikir.
"Bryan kaya ngapain ngak di manfaatin. Udahlah yok pulang!"
Mereka berpisah karena membawa mobil masing-masing di parkiran.
Aza yang terkadang memakai mobil sendiri saat ke kantor dengan alasan "Nanti kalau mau ketemu klien di luar ribet,Ay" Walau tak mudah sebenarnya merayu Dev untuk berangkat dengan mobilnya sendiri.
Lagian mobilnya akan bagaimana jika tidak di pakai,masih baru masa di anggurin kan bisa-bisa mesinnya rusak.
Aza langsung membuka pintu ruangan Dev,disana ada Dimas yang sepertinya sedang membicarakan masalah kantor dengan suaminya.
"Udah dateng,Sing?"tanya Dev saat menyadari wanita cantik yang tengah mengenakan blazer coklat itu mendekat.
"Iya! Dim"sapa Aza.
"Siang Bu!"balas Dimas ramah pada istri atasannya.
Dev melirik Aza dengan kode dagunya untuk duduk di kursi depannya,di sebelah Dimas. Aza menurut mendudukkan dirinya disana.
"Berarti 97% sudah selesai?"tanya Dev kepada asistennya.
"Iya Tuan"
"Baiklah,kamu bisa kembali bekerja"
"10 menit lagi kita ada meeting Tuan"ingat Dev sambil berdiri dari duduknya.
Dev mengrenyitkan dahinya bingung,pasalnya disini ada Aza kenapa bisa ia lupa kalau ada meeting "Ya udah siapin aja!"final Dev karena tak mungkin ia batalkan meeting yang setiap bulan ia adakan untuk melihat perkembangan perusahaan dan memantau keaktifan pegawainya.
Setelah Dimas menghilang di balik pintu,Dev menatap Aza yang duduk anteng di depannya "Udah selesai belanjanya?"
Aza mengangguk antusias "Iya...tadi pas waktu masuk di toko baju bayi gemes-gemes banget"curhat Aza menceritakan apa yang ia rasakan tadi.
"Si Vio akja sampai bilang pengen borong semuanya,tapi belun tahu jenis kelamin anaknya"lanjutnya.
Dev mengulas senyum melihat kebahagian istirnya "Beli apa aja,hm?"tanyanya sambil duduk di samping Aza.
"Hehe ada banyak sih,udah lama ngak shoping jadi kerasa pengen beli semua"
"Beli aja! uang kamu masih ada kan bulan ini? atau habis buat belanja tadi? Aku suruh Dimas buat transfer sekrang!"ucap Dev mengambil ponselnya di meja.
Aza tercengang menggelengkan kepalanya reflek menepis tangan Dev yang akan mengambil ponsel "Ngak ada! uang aku masih banyak,yakali 70 juta habis dalam sekali shoping. Lagian balckcard yang kamu kasih aja belum aku pakai"desisnya.
"Kenapa? ngak usah pakai uang kamu! apalagi uang papa?!"
Aza mencibik "Aku udah ngak pake kartu yang di berikan papa kok"jelasnya pasalnya kartu yang di berikan papanya untuk dirinya saat sebelum menikah masih ada di-dirinya karena,papanya menolak untuk di kembalikan. Jadinya kartu itu terbengkalai tak di pakai oleh Aza.
"Aku juga ngak pakai uang aku! kamu kasih aku sebulan berapa? 70 juta...toh itu setiap bulan ngalir terus sampai aku bingung harus habisinnya"keluh Aza saat menyadari uang bulanan yang di kasih oleh suami terus melonjak di rekiningnya.
"Itu nafkah dari aku! kan tinggal belanja atau ngak buat apa gitu! biasanya perempuan kebutuhannya banyak"Dev menarik kursi Aza untuk mendekat,mengelus surai rambut Aza yang masih berwarna green di ujung rambutnya yang bergelombang.
_
_
_
_