After The Breakup

After The Breakup
BAB 89 Pekerjaan




"Ihh mulutnya"desis Aza tak terima mendengar perkataan suaminya.


Dev hanya tertawa kecil mendemgar balasan istrinya.


"Ay kalau aku nglakuin dosa berarti dosa aku ditanggung sama kamu ya? kan secara kamu itu sudah jadi suami aku"


Dev mengerutkan keningnya "Hm,jadi sebisa mungkin jauh dari yang namamya dosa"


"Tapi ngak-papa juga lah nglakuin,kan kamu yang nanggung"balas Aza sambil menaik turunkan alisnya.


Dev bangun dari tidurannya di paha Aza,menatap tajam istrinya "Kalau aku masuk surga ngak usah ngajak kamu lah ! kan simpel"


Aza melotot memukul lengan suaminya yang berotot "Jahat banget"


"Ridho suami sangat berarti buat kamu yang notabennya istri ! Jadi baik-baik ! jangan jadi istri durhaka,jangan berani bantah,kalau aku bilang tidak ya tidak kalau iya ya iya"tutur Dev.


"Iya iya yang jadi kepala keluarga"


"Sini peluk"titah Dev merentangkan tangannya agar Aza mendekat untuk di dekapnya.


Aza mengangguk mendekatkan tubuhnya kearah Dev,menelusupkan kepalanya di dada bidang Dev. Satu kata buat Aza sekarang,Nyaman ! sangat nyaman.


...***...


Aza menatap mamanya yang sedari tadi duduk anteng di hadapannya,menghela napasnya kasar "Mama mau pulang sekarang?"


Maya mengangguk "Iya baik-baik ya ! apalagi sekarang udah jadi istri,turutin apa kata suami kamu,jangan nge-bantah"nasehatnya.


Aza memutar bola matanya "Udah berapa kali mama bilang begitu? iya mama sayang"ucapnya sambil menampilkan senyum semanis-manisnya.


Maya berdecak kesal "Di bilangin juga!"


Suara derap kaki yang melangkah kearah anak ibu itu membuat dua wanita menoleh untuk melihat siapa yang datang.


"Udah lama ma?"tanya Dev sambil menyalami tangan mertuanya.


"Ngak juga kok Dev!"


Dev mendudukkan dirinya di sebelah Aza,menatap wanita yang sedang memasang wajah tak bisa ia baca.


Dev yang baru saja pulang dari rumah Ayahnya karena ada urusan dengan berkas-berkas yang tertinggal di sana. Karena besok mereka berdua sudah mulai bekerja,jadi lebih baik di siapkan sekarang yang tertinggal-tinggal pikirnya.


"Udah mau pulang ma?"


Maya mengangguk "Dev kalau Aza bikin salah di tegur aja ! ngak usah sungkan-sungkan kalau keras kepala pukulin di tembok aja biar normal !"ujarnya enteng.


Aza meringis mendengar perkataan mamanya yang terlewat sadis "Mama mau anak mama gagar otak"desisnya.


"Kamu kan memang gitu"


"Kalau memang gitu mau mama,mama mau anak mama satu-satunya yang cantik ini pergi"katanya tak percaya dengan apa yang di katakan wanita paruh baya yang notabennya ibu kandungnya sendiri.


"Masih ada mantu mama kok!"


"Dasar wanita tak tahu umur"gumam Aza menatap sinis Maya. Maya tampak acuh dengan mengangkat bahunya,menyeruput minuman yang di sajikan Bi Asti tadi.


Orang-orang selalu bilang kalau memang Maya itu awet muda,secara dia model ternama yang memiliki wajah paripurna dan body yang pas seperti anak-anak muda. Bahkan saat mereka berdua sedang jalan untuk bertemu teman mamanya,Aza selalu emosi karena dianggap sebagai teman Maya ! bagaimana tidak "Temen kamu,May?" seperti itulah kata-kata yang keluar dari mulut teman-teman mamanya.


Memang dipikir muka Aza tua banget!!


"Udahlah pergi aja sana!"usir Aza.


"Sing"tegur Dev merasa tak enak dengan mertuanya.


"Kan-kan belum apa-apa udah nglunjak"balas Maya mengambil paper bag berwarna coklat yang ia bawa tadi saat ingin kesini.


"Mama beliin baju ! lebih tepatnya endors"ucapnya sambil menyodorkan paper bag kearah Aza.


Aza mengambilnya melihat baju yang ada di dalam sana,sebuah dress berwarna hitam "Mama ihh baju Aza udah banyak banget!"


Inilah kebiasaan Maya yang selalu memberikan baju-baju dengan brand ternama. Menurut Aza ini sangat tidak bermanfaat. Jika terkadang Maya memberikannya secara endors tapi lebih sering membelikannya dengan uang mamanya sendiri.


"Itu endors couple sama mama ! cuma punya mama warna merah. Terima aja"titahnya.


"Kemarin aja di rumah Dev,Bunda beliin baju banyak banget dan sekarang mama penuh dah penuh tuh lemari"


Maya terkekeh "Mama ngak bisa ngasih apa-apa buat kamu,sayang. Karena semua kebutuhan kamu di tanggung papa kamu,kamu juga selalu nolak secara materi dari mama"


"Ma! Aza ngak pernah meminta apapun dari mama agar mama bisa lebih terjamin. Aza fine-fine aja kok! Aza tercukupin dari papa dan juga Aza sudah bekerja ma! jadi jangan pernah merasa begitu"Aza bangkit dari duduknya mendekat kearah Maya,memeluknya erat "Aza sayang sama mama,jangan pernah merasa sendiri ya?"


Maya membalas pelukan putrinya mengulas senyum hangatnya "Mama bangga punya anak kayak kamu,Za"


...***...


Aza tampak bahagia menikmati makan siang di rooftop rumahnya bersama Dev. Mamanya sudah pulang tadi setelah dari sini,diantar oleh Samuel.


Menikmati semilir angin yang menerpa tubuhnya.



"Besok udah kerja kan?"Tanya Aza di sela-sela makan siangnya.


Dev tersenyum "Masih mau kerjakan kan kamu?"


Aza menunduk menatap makanannya "Masih boleh kan?"Tanyanya hati-hati. Ia merasa kalau keinginannya untuk bekerja akan bertentangan dengan statusnya,ia tahu kalau sebagai istri biasanya di rumah.


"Hei! angkat keplanya aku di sini. Denger ya,sayang aku ngak pernah larang kamu kan,hm?"


Aza reflek mengangkat kepalanya menatap Dev sambil menggelengkan kepalanya.


"So kalau kamu masih ingin bekerja aku ngak pernah larang kamu"


Aza tersenyum menatap bahagia Dev "Makasih ya,suami"Dev tersenyum mengacak rambut Aza lembut.


_


_


_


_