
Tiga hari sudah Aza bekerja di perusahaan sang papa,tiga hari juga Aza menghindari Dev. Dev yang selalu menghubunginya tiba-tiba,datang ke kantor untuk mengajak makan siang.
Seperti halnya siang ini,tiba-tiba Dev datang dan langsung menerobos masuk tanpa mengetuk pintu atau berbasa-basi. Dev bersandar di meja kerja Aza,bersedekap tangannya di dada dengan kaki yang di silangkan dengan tatapan kesal melihat wanitanya tampak tak memperdulikan laki-laki di sampingnya itu.
"Kenapa menghindariku hm?"Tanya Dev dengan mata yang mengintimidasi sambil menatap gadisnya itu
Aza tampak masih tak memperdulikan pria di sampingnya itu "Siapa juga yang menghindarimu! buat apa juga"jawabnya dengan tangan yang masih mengetik pada keyboard laptopbdan mata yang masih tertuju di depan layar laptopnya.
Dev benar-benar kesal dan langsung menutup laptop Aza dengan paksa
Aza langsung mendongak menatap tajam pria di sampingnya itu dengan siap meledakkan amarahnya
"Apa?kenapa melotot?"Tanya Dev santai tanpa memperdulikan wajah Aza yang sudah merah padam
Aza memalingkan wajahnya ke sisi lain dengan amarah yang sudah ingin ia luapkan "Mau kamu apasih hah? capek tahu ngak aku begini!" ucap Aza yang masih memalingkan wajahnya
Dev tahu apa yang sedang gadisnya itu rasakan,ia mencoba sabar karena tahu kesalahan masalalunya itu bukanlah hak yang mudah untuk di maafkan
Dev menghela napasnya kasar "Apa kau menghindariku?kenapa aku telfon tidak pernah kau angkat,bahkan saat aku datang kau selalu begini banyak alasan yang tak masuk akal Sing"ujarnya sambil menatap gadisnya itu yang masih memalingkan mukanya
Mendengar kata-kata yang dulu sering di pakai Dev untuk memanggilnya Aza langsung menoleh mendongak menatap mata elang pria di depannya itu
"Apa aku bisa minta satu permintaan ke kamu?"pinta Aza dengan mata yang menatap lekat pria dj depannya itu
Dev memalingkan wajahnya karena gugup dengab tatapan itu "Jika kau menyuruhku untuk menjauhimu,maaf sampai kapanpun tidak akan aku lakukan! aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi lag!"Tegas Dev dengan sorot mata tajam lurus kedepan
Aza tercengang mendengar kata-kata Dev,karena seolah-olah dia tahu apa yang akan Aza minta. Aza menetralkan wajahnya lagi dan menatap datar ke depan menghela napasnya kasar dan menyandarkan punggungnya ke kursi
Hening beberapa detik sampai suara Aza membuyarkan lamunan Dev dan langsung menatap ke arah orang yang berbicara
"Bagaimana dengan Laura Dev?"Tanya Aza dengan tatapan tak terbaca ke depan dengan tangan yang memegangi bibirnya
"Aku akan ceritakan semuanya asal kamu siap mendengarkan kalau semua itu kesalah pahaman belaka!"
Aza menghela napasnya dan memalingkan wajahnya sampai-sampai bunyi dering di ponsel Aza menandakan ada panggilan masuk menyelamatkan situasi senyam ini
Aza mengambil ponselnya dan melihat tertera nama Vio di sana,dia langsung menggeser tombol hijau untuk menyambungkan panggilan itu
"Za tolongin gue!ahhh shitt"teriak Vio dari seberang telpon
"Sialan!gue denger Vi,ngak usah teriak-teriak"Ucap Aza sambil menjauhkan ponselnya dan mengusap telinganya,menaruh ponselnya di meja dan memencet speker karena dia tidak mau membuat telinganya bermasalah jika berhadapan dengan Vio yang sudah berteriak seperti kucing itu
Dev melirik siapa nama yang tertera di ponsel itu mendengarkan secara seksama
"Za lo kan baik hati dan tidak sombong"
"To the point,geli gue denger lo muji gue"ucap Aza sambil melirik Dev yang tengah menaikkan alisnya Aza mengangkat bahunya 'entah' itulah isaratnya
"Lo tahu kan kalau Tania hamil?"Tanya Vio di sebrang sana
"Tania ngak-papa kan Vi? dia baik-baik aja kan?"Tannya Aza balik dengan nada panik
"Santai sis! dia baik-baik aja. Malah kita yang akan untung eh sorry gue deh jangan bagi sama rata" ujar Vio sambil terkekeh
Aza mengrenyitkan dahinya bingung "Tugas?"
"Cih! pikiran lo langsung tancap gas aja!"cibir Vio
Aza terkekeh sambil menatap Dev yang lagi-lagi menatap dengan sorot mata dengan sejuta tanya. Aza tersenyum dengan manis sambil menatap Dev. Dev membalas senyuman Aza sambil mengacak rambut Aza yang di kuncir kuda dengan poni agak panjang di sisi kanan dan kiri wajah
Aza memberungut kesal dan menabok lengan Dev sambil menatap tajam Dev. Dev hanya tersenyum melihat bibir Aza yang sudah maju lima senti itu
"So..."ucap Aza
"Gantiin Bagas ketemu klien pentingnya dia!"jelas Vio dari sebrang sana
"Apa yang gue dapat? ogah gue kalau cuma di traktir makanan kek dulu"Aza kesal dengan kejadian dulu yang sudah membantu Bagas bertemu klien karena dulu Tania pernah di rawat di rumah sakit. Dan imbalan yang dia terima hanya di traktir makanan restaurant mewah sekali
"Cih! lo ngak pinter kayak gue sih,yang penting ntar pulang dari kantor langsung ke rumah Tania aja dulu! berkas-berkas semuanya ada di sana. Nanti gue ceritain semuanya" Terang Vio kepada Aza
"Terus??"Tanya Aza enteng tanpa beban
"Ck!gue bilang ke Bagas kartu card limit 100"
"Apa?? lo serius? jangan bercanda Vi?"Teriak Aza kaget. Sampai-sampai membuat Dev menutup telingabya karena teriakan Aza
Aza menatap Dev yang sedang menutup telinganya dengan nyengir kuda menampakkan deretan giginya
"Sorry"ucapnya lirih
"Hmm"hanya di balas deheman oleh Dev
"Iya itung-itung sedekah atas kehamilannya Tania,ketemu di rumah Tania ya! Bye sayangku cintaku manisku"ucap Vio sambil tertawa
"Cih! gila lo"cibir Aza sambil mematikan panggilan itu
Aza meletakkan tangannya di meja menautkan jari-jarinya untuk menopang dagunya. Dev menatap Aza dengan begitu kagum akan kecantikannya,apakah yang di depan ini bidadari yabg di turunkan untuknya jika benar Dev sangat-sangat bersyukur kepada Tuhan telah menurunkan bidadari se-cantik dan se-sempurna ini
Dev mengelus puncak kepala Aza dengan lembut sambil tersenyum manis. Aza reflek menoleh ke arah laki-laki di sampingnya itu
"Ada apa hm?"Tanya Dev yang masih mengelus puncak rambut Aza
"Ngak-papa"jawab Aza singkat dan memalingkan wajahnya ke depan
"Apa kau sudah tidak punya pekerjaan Dev?"
Dev reflek menjauhkan tangannya dari puncak kepala Aza dan menghela napas kasarnya "Apa?kau mau mengusirku?kenapa sih menghindariku tiga hari ini?"ucap Dev beruntun
"Aku tidak meng--"belum sempat Aza menyelesaikan ucapannya
Dev sudah berdiri "Terserah"ucap Dev sambil berjalan keluar ruangan meninggalkan Aza di ruangan itu sendiri tanpa menoleh kebelakang
Aza terkejut kenapa tiba-tiba
apa dia marah? batinnya sambil menatap punggung Dev yang menjauh dan sudah hilang di balik pintu
Aza menghela napasnya kasar "Apa aku salah jika menghindarinya? aku hanya menjaga hati agar tidak kecewa untuk kedua kalinya! tapi aku tahu aku juga salah tanpa mendengarkan penjelasannya,aku belum siap!"gumam Aza sambil menatap pintu dengan pandangan kosong
**
Jika seseorang memiliki masalah selesaikan dengan cara baik janganlah menghindari masalah. Sebab sejauh apapun itu kau menjauh dari masalah,dia yang akan datang sendiri kepadamu.
_
_
_
_
Yang tanya kenapa dengan masalalunya Dev dan Aza nanti aku flasback ya!! so tunggu aja ya!!