
Dev tampak menggerutu kesal,dimana Aza hanya fokus ke ponselnya dari pada wajah tampan yang di kagumi kaum hawa "Aku buang ponsel kamu!"kesalnya.
Aza lamgsung meremang dengan tatapan menusuk dari Dev,mematikan ponselnya menampilkan senyum manisnya "Ngak lagi deh,hehe"
Dev kembali fokus ke depan,jalanan tampak ramai karena di mana orang-orang pulang bekerja.
Aza mengarahkan tangannya ke dashboard mobil di mana ponsel Dev berada,mengamati ponsel ber-cassing hitam "Kamu jarang pakai ponsel kayaknya? paling kalau hal-hal penting kan?"tanyanya.
Dev menoleh singkat "Hm,kalau lagi mood"
Aza memggeleng tak percaya "Aku jauh dari benda ini aja semenit seraya setahun"ujarnya menggerak-gerakkan ponsel suaminya.
"Buka aja!"Aza beo tak kalah mendengar ucapan Dev. Bukankah tadi dia menyuruh berhenti memainkan ponsel,tapi sekarang malah menyuruhnya.
Aza mengangguk menyalakan ponsel berlogo apple itu,ponsel Dev berpaswoard. Ia sudah hapal dengan paswoard ponsel suaminya. Dimana dulu ia langsung salah tingkah saat mendengar paswoard ponsel pria tampan yang tengah menyetir di sampingnya. Tanggal lahir dirinya! sebucin itukah seorang Devano?
Senyum di bibirnya mengembang tak kala melihat layar walpaper berisi foto dirinya. Tangannya memencet aplikasi kamera,aplikasi pertama yang selalu Aza kunjungi saat memegang ponsel Dev.
Aza sangat suka memenuhi memori Dev,gimana ngak?foto Aza lebih mendominasi di ponsel Dev dari pada si pemilik ponsel.
Memgarahkan kamera ke wajah dirinya,membenarkan rambutnya untuk memotret "Secantik itukah diriku?"katanya sambil tertawa.
Dev tertawa kecil mendengar perkataan istrinya.
Meletakkan kembali ponsel Dev ke tempat semula setelah ia berhasil mengambil beberapa jepretan di ponsel suaminya.
Mobil Dev sudah memasuki gang rumah mereka. Aza menurunkan jendela menyapa orang-orang yang sedang mengobrol di depan supermarket depan rumahnya.
Mengangguk seraya tersenyum sebagai gerakan menyapa kepada mereka,agar tidak sombong! yakali orang baru ngak ramah,bisa-bisa di jadikan bahan gosip di perumahaan ini. Belum seminggu lagi tinggal di sini.
Aza tampak turun ingin membukakan gerbang,ia peka kalau pasangan suami istri yang bekerja di rumahnya sudah pulang. Wajar karena sudah jam 5 sore.
Gerbang terbuka mobil hitam Dev masuk. Aza menutupnya lagi "Mari"teriaknya diiringi senyum dk bibir. Para gerombolan yang masih muda itu mengangguk dengan senyum ramahnya juga.
Dev tampak tersenyum tak kala melihat Aza berlari kecil kearahnya "Olahraga,Sing!"godanya saat Aza sudah sampai di depannya.
"Ck! lagian kenapa juga halaman rumah lebar banget,heran!"
Dev mendekat mendusel-duselkan wajahnya di kepala Aza gemas,tinggi Aza yang sedagunya membuatnya tak terlalu menunduk.
"Udah ah ayo masuk!"ucapnya sambil menggandeng tangan Dev.
...***...
Brak!
"Serius Vi?"gebrakan di meja ruang tamu milik Vio yang langsung diikuti pertanyaan lantang Aza membuat Vio mengelus dada.
"Istigfar"
"Jawab! ini serius? gue--"
"Lo bakalan punya ponakan dari gue"potong Vio cepat merasa naik darah dengan drama Aza.
Saat tadi selesai membersihkan dirinya,Vio mengabari kalau dirinya positif,positif hamil! Tanpa babibu Aza langsung berlari menyusul Vio yang berada di samping rumahnya,ngak memperdulikan Dev hanya kata dengan teriakan yang membuat Dev ikut menyusuk di belakangnya "Si Vio hamil,aku mau kesana"
Jadilah mereka berempat di sini duduk di sofa bersebrangan dengan pasangan masing-masing.
"Gue masih ngak percaya! coba katakan lagi yang keras Vi!"desis Aza kesal.
_
_
_
_