
Aza benar-benar sangat menyukai interior rumah suaminya ini. Benar-benar interior yang sangat ia inginkan,di mana letak-letak dari setiap sudut rumah membuatya takjub.
Dia masih mengingat di kala dulu ia masih bersama dengan Dev di jaman mereka masih mengenakan seragam putih abu-abu.
"Sedang apa"ucap Dev sambil mendudukkan pantatnya di samping kekasihnya.
Aza menoleh menampilkan senyum manisnya "Bagus ya rumahnya?"tunjuk Aza sambil memoerlihatkan sebuah desagn rumah di ponselnya.
Dev mengambil ponsel Aza menatap gambar rumah di ponselnya,mengamatimya "Hm"
Aza mendongak menatap langit yang cerah "Jikalau nanti kita menikah,aku ingin punya rumah seperti ini"ucapnya dengan pancaran mata yang berbinar.
Dev mengamati wajah kekasihnya yang wanita yang sangat-sangat cantik setelah Bundanya "Kamu suka?"
Aza mengangguk dengan pandangan masih menatap langit yang cerah "He'em"
Dev diam-diam tersenyum lenuh arti,memalingkan wajahnya kearah langit yang cerah seperti kekasihnya.
"Mau lihat kearas ngak?"Tanya Dev membuyarkan lamunan istrinya.
Aza terlonjak kaget menatap Dev dengan dengusan kesal "Ngagetin tahu ngak!"
Dev terkekeh,menggandeng tangan Aza menaikki tangga menuju lantai atas "Ada enam kamar disini! lantai dua ada empat kamar sedangkan lantai bawah dua kamar"terang Dev sambil menaikki satu-persatu anak tangga.
"Banyak banget"gumam Aza lirih tapi masih di dengar oleh Dev.
"Aku pengen punya banyak anak"celetuk Dev dengan senyum miringnya.
Aza membulatkan matanya,bisa-bisanya ia sampai tidak kepikiran sampai kearah sana. Ia tahu seperti apa Dev dengan anak kecil. Ia sangat-sangat menginginkan anak banyak,karena ia tahu gimana rasa kesepian karena menjadi anak tunggal.
"Ehm ngomong-ngomong kamu pengen punya anak berapa?"Tanya Aza dengan hati-hati,takut kecelosan bisa berabe dia"
Dev tersenyum "Mungkin delapan"jawabnya enteng.
Aza melototkan matanya tak percaya dengan kata yang baru saja keluar dari mulut suaminya. Perkataannya kelewat santai! delapan anak di kira mudah apa melahirkannya pikirnya.
Rahim aku bisa jadi pabrik anak mungkin batin Aza sambil menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Ngak bisa di nego?melahirkan ngak susah lho Ay!"peringat Aza.
"Banyak anak banyak rejeki"
Lebih memilih mengabaikannya dari pada nanti arah pembicaraan makin kemana-mana.
"Kamar utamanya,Sing"ucap Dev sambil membuka handle pintu kamar.
Aza memasuki kamar yang begitu luas kira-kira sebesar kamar Dev. Perpaduan warna hitam putih sama dengan kamar Dev,tapi disini lebih di dominasi warna putih,netral.
"Den,ini kopernya! di taruh dimana?"Tanya Ujang tiba-tiba.
"Ouh taruh situ aja,Mang! nanti biar saya yang beresin"titah Dev.
Mang Ujang mengangguk,menaruh tiga koper milik majikannya itu di pojok kamar.
"Mang Ujang pamit dulu ke bawah ya,Den?lanjutin pekerjaan"pamitnya. Dev mengangguk membuatnya melangkahkan kaki pamit undur diri.
"Udah lama kerja disini Mang Ujang,Ay?"Tanya Aza.
Dev mengangguk "Hm,semenjak beli rumah. Sama istrinya Bi Asti,tapi beliau lagi belanja bahan-bahan kayaknya"ujar Dev.
"Pnates aku ngak lihat"
Dev mengangkat keriga kopernya secara bergantian menuju walk in closet kamar mereka "Mandi dulu gih! seteleh itu istirahat. Beresin nanti"
Aza mengangguk menhambil handuk dirinya dan juga suami di dalam koper "Kamu mau kemana?"
"Ke bawah bentar! kamu mandi dulu"titahnya.
Aza mengangguk berjalan kearah kamar mandi yang di dominasi warna hitam membersihkan dirinya selagi Dev kebawah. Jika mereka mandi bersama lain cerita nanti.
_
_
_
_