After The Breakup

After The Breakup
BAB 95 Bucin



Aza merasa terenyuh dengan jawaban suaminya,tapi mau bagaimana pun Aza bukanlah wanita matre yang ia katakan sebagai candaan waktu itu. Ia selalu di ajarkan oleh papanya untuk selalu hidup sederhana,walau kebutuhan cukup sesuai materi, ia adalah cewek yang tak terlalu membuang uang dengan sering ber-belanja. Lagian ia selalu sadar bahwa kehidupan selalu berputar seperti roda,memang kita sekarang bisa dikatakan mampu tapi nanti? apa kita tahu kalau kita masih diatas? atau kebawah? Manusia tidak akan tahu jalan takdir kedepannya.


Aza memeluk tubuh Dev dengan erat "Jadi makin sayang samu kamu"


Dev membalas pelukan Aza sambil mengelus punggung belakang Aza lembut "Jangan pergi-pergi dari aku lagi ya,Sing?!"ucapnya lirih sambil berbisik tepat di telinga istrinya.


Aza mengangguk dengan kepala yang bersandar di bahu kekar Dev "Ngak akan! kita akan nglewatin semua masalah sama-sama. Dan aku akan meninggalkanmu jika kamu berseling--"ucapan Aza terpotong oleh omongan cepat Dev.


"Ngak akan! berpikir untuk selingkuh saja tidak pernah terlintas di kepala-ku,sayang! kamu wanita satu-satunya yang aku cintai dan ngak akan pernah menyakitimu"ucapnya reflek memgetahui arah pembicaraan Aza. Sambil melepaskan pelukannya,menangkup kedua pipi Aza menatap lekat ke dalam manik mata Aza "Jangan pernah berpikir seperti itu!"pintanya.


Aza mengangguk mengusap puncak kepala suami tampannya lembut "Iya sayang iya"ucapnya dengan senyum manis yang mampu membuat Dev terpikat lebih dalam oleh wanita cantik di depannya yang sudah menyandang sebagai istrinya.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu ruangan Dev membuat aktivitas melow-melow drama pasangan suami istri itu terganggu. Dev menyuruh masuk orang yang ternyata asistennya yang mengingatkan kalau ruang rapat sudah siap dengan semua orang yang hadir.


Dev mengangguk "Baiklah"ucapnya menatap Aza menautkan tangannya ke tangan kecil Aza.


"Eh-- mau kemana?"tanyanya kaget dengan tarikan di tangannya,dengan reflek tubuhnya ikut berdiri mengikuti Dev.


"Ikut rapat!"


"Hah? rapat?"beo Aza.


Dev mengangguk acuh menuntut Aza untuk berjalan keluar ruangannya menuju ruang rapat. Dengan spontan Aza menarik-narik tangannya membuat langkah Dev terhenti dan berbalik menatap Aza "Kenapa,sayang?"


"Ih..kenapa aku harus ikut sih? aku balik kantor aja deh"usulnya tak mau mengikuti Dev.


Dev menggeleng tegas menatap Aza dengan sorot mata tanpa penolakan "Ngak ada! paling cuma dua jam"


Aza melotot relfek memukul tangan Dev yang masih menggegammnya "Dua jam dikira sebentar!"desisnya.


Dev mengangkat bahunya acuh melanjutkan jalannya yang di ikuti oleh Dimas di belakangnya,tanpa mau melihat wajah kesal istrinya.


Semua orang yang ada di dalam rungan tampak menatap bos mereka yang baru saja masuk tengah menggandeng istrinya posesiv. Semua orang berdiri menundukkan kepalanya sebagai hormat kepada atasan.


"Duduk"titah Dev kepada semua pegawainya,yang langsung di ikuti oleh semua yang ada di situ.


Dev menarik kursi di sampingnya melirik Aza sebagai kode untuk duduk,Aza mengangguk dan duduk di sana. Ia tersenyum kikuk saat semua pegawai menatapnya dengan tatapan iri yang sangat terlihat di pancaran mata mereka. Menampilkan senyumnya sekilas sebagai tanda ramah sekaligus menyadarkan para pegawainya yang tengah menatap iri kepadanya. Dan benar saja semuanya langsung gelagapan langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan ada juga yang menampilkan senyum. Tapi Aza mencoba acuh dengan semua itu.


Aza tersenyum menatap kagum Dev yang tak merasa terganggung dengan keadaan sekitar jika sudah menyangkut dengan pekerjaan. Ia mencoba mengalihkan pandangannya mengikuti arah seseorang yang tengah berpresentasi,mencoba menelaah isi rapat siang ini.


...___...


Dua jam sudah berlalu rapat sudah selesai. Aza berjalan meninggalkan ruangan itu dengan tangan yang masih di genggam hangat sedari tadi oleh sang suami. Se bucin apakah Dev? sampai-sampai ia menggerakkan tangannya sedikit langsung mendapat hadiah lirikan tajam suami.


Aza mengapit lengan kiri Dev,wajahnya menatap Dev dengan alis terangkat,menggoda "Bucin banget perasaan ya mas?"guraunya.


Dev melirik kebawah untuk melihat wajah sang istri tanganya terulur mengacak rambut istrinya yang terurai "Biarin bucin sama istri sendiri!"


"Haha...iya deh iya percaya"


Sebelum masuk kedalam Dev sudah memerintah Dimas untuk memesankan makan siang untuknya dan sang istri.


Aza langsung menghempaskan dirinya di sofa lelah rasanya padahal dia sudah memutari satu Mall besar ditambah hanya duduk selama dua jam tanpa minat.


Arah pandang Aza menatap Dev yang sedang membuka jasnya dan menyandarkannya ke sandaran kursi kerjanya. Laki-laki tampan itu mendekat kearah Aza yang sedang tiduran di sofa "Capek,hm?"


Aza mengangguk,menggeser tubuhnya agar suaminya bisa duduk "Hkem"


Dev tersenyum menunduk mengecup kening Aza singkat,tangannya bergerak mengulur pipi mulus istrinya "Mau istirahat ngak? di dalem?!"


Aza menggeleng "Ngak! habis makan nanti balik kantor,masih ada pekerjaan yang harus di urus"jelasnya.


Dev hanya mengangguk pasrah dirinya tak tega saat melihat wajah lelah istrinya,ia menyuruh Aza untuk berhenti bekerja pun nihil karena istrinya itu sangat menyukai pekerjaannya sekarang.


"Ngak usah capek-capek! kalau udah capek jangan di paksa buat kerja!"pintanya yang langsung dapat anggukan kepala oleh sang istri.


Suara ketokan pintu membuat keduanya menoleh,tampak seorang OB membawa makan siang mereka. Mereka menyantapnya makanan dengab nikmat,lebih tepatnya Aza yang lebih manja menggelayuti suaminya.


_


_


_


_