
Aza menyusuri pandangannya mencari cemilan untuk setok di rumah yang udah habis. Tangannya terus mengambil barang-barang yang ia perlukan dan memasukkannya ke troli.
Setelah cukup dengan apa yang ia cari,melangkahkan kakinya kearah kasir untuk membayar. Ia sudah cukup akrab dengan para warga sekitar,termasuk sang penjaga kasir supermarket depan rumahnya.
"Udah pada sedikit kosong ya,Sar?"tanya Aza pada Sari penjaga kasir.
"Iya mbak! belum di isi lagi raknya,di gudang udah pada habis soalnya"ucapnya sambil menscrol belanjaan istri Tuan Devano itu.
Aza mengangguk menyerahkan uang sesuai total belanjaannya "Makasih ya,duluan!"Sari mengangguk diiringi senyumman.
Aza meletakkan belanjaannya ke meja pantry menyusunnya ke tempat-tempat yang biasa ia letakkan. Setelah semuanya beres ia mendekat ke lemari pendingin,tangannya terarah mengambil desert box miliknya yang kemarin di belikan oleh Dev.
Menaikki tangga menuju kamarnya tanpa mengetuk pintu ia masuk ke dalam,pandangannya langsung terarah pada Dev yang sedang memangku laptopnya di atas paha sambil duduk bersandar pada heardboard ranjang.
Dev menoleh sekilas melihat istrinya yang asik dengan desert box dan mendekat kearahnya.
"Belum selesai?"tanya Aza duduk di samping suaminya yang masih sibuk berkutat dengan laptop sedari pulang bekerja tadi.
"Belum. Maaf ya,tapi ini harus selesai buat presentasi meeting besok"ucapnya merasa bersalah membawa pekerjaan ke rumah.
Padahal mereka sudah sepakat untuk tidak membawa pekerjaan ke rumah apapun itu jika bukan hal mendesak. Walau mereka pebisnis tapi mereka tetap tidak akan mencampur adukkan urusan pekerjaan dan masalah pribadi keduanya.
Dengan seutas senyum manisnya di bibirnya,ia menepuk-nepuk lengan Dev "Enggak-papa lanjut kan aja! aku masak dulu buat makan malam"berdiri dari duduknya ia melangkah menjauh dari suaminya.
Tapi tangannya langsung di tarik paksa oleh Dev hingga dirinya duduk kembali,tapi posisi tubuhnya lebih intim membuat dirinya membulat. Bagaimana tidak dirinya terjatuh membentur dada bidang Dev yang hanya terbalut kaos putih yang dia kenakan "Hei...desertnya kalau jatuh gimana?"desisinya menatap sinis kearah Dev yang hanya tersenyum.
Mengambil alih desert box yang tadi di makan oleh sang istri,di letakannya ke nakas samping ranjang. Mengeratkan pelukannya ke pinggang ramping Aza "Kenapa,hm?"
"Lepas,Ay! aku mau masak"titah Aza sambil menjauhkan tangan Dev yang berada di pinggangnya.
"Kiss lah"dua kata keluar dari mulut tanpa dosa,dengan entengnya. Jangan lupakan senyum smriknya yang membuat Aza bergidik ngeri. Bisa bahanya kalau dirinya diam saja. Mungkin dirinya bisa membiarkan,tapi Dev?mungkin akan merengek marah-marah ngak jelas jika kebablas. Contohnya pagi tadi?!
"Ngak ada! Inget ya,aku lagi datang bulan. Jadi jangan main-main,apalagi memancing"peringat Aza dengan tatapan tajam.
"Bodo! kamu kan bisa bantu kayak tadi!" godanya sambil menaik turunkan alisnya. Ia jadi senyum-senyum sendiri tak kala tadi Aza melakukan ucapan pagi tadi untuk memuaskannya tanpa sarang.
Aza langsung membuang muka kearah lain,wajahnya sudah memerah seperti kepiting baru di rebus. Kalau bisa dia akan menjerit sekarang juga,pikiran kotornya menerawang kejadian sepulang kerja tadi. Malu! sangat malu mau di taruh di mana mukanya?! astagfirallah.
"Aku mau nanya deh,Sing? yang tadi tutuorial dari siapa sih,hm?!"
Menjauhkan tubuhnya saat ada kesempatan Aza malah berbalik tanpa menatap suaminya "A-paan sih!"
"Kenapa berdiri? sini,sayang!"
Membalikkan badannya dia menggeleng kuat,pandangannya terarah kearah desert box yang ada di nakas. Mengambilnya cepat berbalik arah berlari keluar kamar. Sial dia benar-benar malu,jika mengingat keganasan dirinya.
Yang di rasakan Dev hanya tertawa terbahak-bahak mendapati sikap malu-malu istrinya. Dia masih heran? padahal dirinya dan Aza sudah saling kenal lama,mengetahui sisi baik dan buruknya! tapi aneh kenapa Aza masih sering malu-malu?!
_
_
_
_
Like,komennya